Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 9





Author POV

Di waktu yang bersamaan, saat Liona sedang merasakan kepahitan nya, di sisi lain ada Lucy yang sedang menyanyi sambil menutupi kesedihan nya akan patah hati. 4 tahun Lucy mencintai sahabat kakak nya, tetapi cinta nya tak pernah terbalas sedikit pun. Lucy akan menetapkan hatinya untuk move on. Ia telah bertekad, ia telah memilih, ia telah berniat. Ia tahu bahwa move on tak akan berjalan tanpa niat.  Dan dunia ini penuh pilihan, dunia mengajarkan kita untuk memilih, memaksa kita untuk mengambil keputusan kearah mana selanjutnya kita akan melangkah. Bahkan memaksa kita untuk memilih pada pilihan-pilihan yang kita tidak inginkan.

“Selama 4 tahun cintaku bertepuk sebelah tangan.” Gurau nya sambil tetap memperhatikan panggung. Liona dan Shimizu menoleh. “Semua ada batas nya bukan?”

“Tentu saja Lucy, kau pantas bahagia. Kau memiliki hak untuk itu.” Jawab Shimizu.

“Kalau begitu, aku akan mengambil keputusan.”

“Apa keputusan mu?” Tanya Shimizu menunggu jawaban Lucy.

“Aku akan berpindah ke lain hati.” Jawab nya dengan tenang. 

“Dengan siapa?” Tanyaku Liona penasaran. 

“Sepertinya dengan dia.” Lucy menunjuk Juna yang sedang bernyanyi. Liona tersedak, hampir saja dia menyemburkan minuman yang sedang ia hirup.

“Bagaimana bisa? Tidak Lucy, kau salah. Jangan gegabah.” Ujarku mengingatkan. Lucy terdiam, rahang nya mengeras.

“Lalu, aku harus bagaimana?” Suara Lucy terdengar serak, ia berusaha menahan tangisan nya dengan mengepalkan tangan nya. Akan tetapi usahanya tidak berhasil. Air matanya jatuh hingga terisak. Untung saja suara Juna dan musik saat itu menutupi suara tangis nya. Liona sadar, ada yang lebih patah hati dari nya. Ia pun memeluk sahabat nya itu.

“Ku rasa itu memang salah, tapi bisa menjadi benar jika dilakukan dengan cara lain.” Ujar Shimizu tiba-tiba membuat kami kebingungan.

“Maksud mu?” Tanya Lucy dan Liona serempak.

“Mungkin kita bisa memanfaatkan pria itu. Aku dengar dia playboy kelas atas. Kau hanya perlu mendekatinya saat ada Adimas, hanya untuk membuat nya cemburu. Seola-olah kau tidak lagi mempedulikan nya. Kau tidak perlu mengencani nya, aku yakin Juna akan bersikap lembut pada semua wanita.” Ujar Shimizu menjelaskan sambil memesan sebuah minuman kepada pelayan. Tetapi kata-kata nya terdengar seperti mempertahankan sesuatu, menjaga sesuatu yang penting. Sedikit protective.

“Ide yang bagus. Kau tak perlu mengencani nya Lucy. Kau tidak perlu melakukan tindakan bodoh itu. Kau cukup memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada. Aku akan mencoba membujuknya agar sering mengunjungi kedai kita. Itu juga akan menambahkan penghasilan untuk kedai.” Seru Liona menyeringai. Ia selalu bersemangat dengan sesuatu yang bisa menghasilkan pendapatan kedai nenek nya.

“Lagi pula, aku dengar seseorang akan merasa kehilangan ketika sesuatu yang terbiasa itu menghilang. Seseorang akan sadar dengan perasaan nya saat ditinggal oleh si subjek. Seseorang akan sadar ketika ia sudah kehilangan. Begitulah manusia. Tetapi itu hanya sekedar pengetahuanku.” Jelas Shimizu dengan panjang. Liona menelan ludah mendengar penjelasan sahabat nya itu. Kembali teringat pada nasib nya. 

Di atas panggung, Juna telah selesai membawakan lagu nya. Kini ia turun melangkah ke meja kami. Ia menyunggingkan sebuah senyuman yang dapat membuat para wanita lemah. Akan tetapi, mendengar ia adalah seorang playboy membuat ketiga wanita di meja itu tidak terpengaruh. Hanya saja Liona masih berpikir, mengapa sahabat blasteran nya itu bisa tahu banyak tentang Juna.
 Beberapa saat kemudian Liona beranjak izin ke toilet, bersamaan dengan DJ yang kembali tampil membawakan lagu trap nya. Di kerumunan orang yang berjoget, tak sengaja ia menyenggol seorang pria bertubuh tinggi tegap, dengan setelan jas coklat muda yang cukup simple tetapi elegant. 

                “Ups, maaf.” Ujar Liona pada pria tersebut. Pria itu menoleh kepadanya. Tampak mata berwarna hazel sama seperti warna mata Liona. Dengan rambut disisir amat sangat rapih, ia tampak seperti pria teladan. Dari tampang dan berewok tipis nya, terlihat bahwa pria tersebut berumur 3 tahun lebih tua dari Liona. Sesaat pria itu hening melihat Liona. Dari raut wajah nya terlihat bahwa pria itu seperti tidak percaya melihat kehadiran Liona. Ia mengucek mata nya seperti memastikan bahwa gadis yang berada di hadapan nya benar-benar Liona. Tetapi sikap nya membuat Liona sedikit risih dan mulai menjauh pergi ke toilet. Pria tersebut kembali dengan kesadaran nya dan cepat-cepat menghabiskan minuman yang ada di gelas nya, lalu berlari mengejar Liona. Akan tetapi terlambat, Liona sudah pergi dan tidak terlihat lagi disekitar pria itu. Disaat yag bersamaan, Liona yang berada di dalam toilet mulai merasa amat sangat pusing. Sakit kepala yang ia alami mulai kumat lagi. Tetapi kali ini terasa dua kali lipat lebih parah. Ia mencoba menghubungi Lucy dengan ponsel nya. Tetapi yang mengangkat adalah Juna.

                Halo, ada apa Liona? Lucy sedang mengambil bill”

                “Juna, tolong aku.”  Sekeliling nya terlihat mulai gelap.

                “Tolong? Ada apa? Kau dimana sekarang?”

                “Segeralah kesini, suruh siapapun. Aku tunggu di depan toilet wanita. Ku mohon cepatlah.”
                Sambungan pun terputus. Liona berhasil pergi keluar toilet dan menunggu seseorang menjemput nya. Sesaat kemudian, ia mulai tidak sadar dan tak mengingat apa apa lagi. Ia tenggelam dalam ketidaksadaran. Lalu kemudian seseorang mengguncangkan tubuh nya.  Liona tidak dapat melihat jelas sosok yang berusaha menyadarkan nya, akan tetapi ia tahu orang tersebut menggendong nya. 

                “Liona, bangunlah. Ku mohon.” Suara itu lembut dan hangat tapi terdengar cemas. Membuat Liona tersadar bahwa ia sedang berada di dalam mobil. Matanya masih mencoba mencerna semua yang ada dihadapan nya, tetapi hembusan nafas pria membuat nya terlonjak kaget.

“Liona, hei, ini aku Leo.” Deg. Sesaat jantung Liona berpacu cepat. Ia tidak menyangka bahwa seorang Leo tiba-tiba saja berada disini menolong nya, Suatu kemustahilan. Dari sekian banyak orang kenapa harus Leo?

“Dimana teman-teman ku?” Suara serak Liona yang baru saja sadar begitu terdengar lemah.

“Akan ku jelaskan nanti, sekarang biar aku mengantarmu pulang. Kau tidur saja.” Ujar Leo dengan penuh kecemasan. Suaranya membuat Liona tenang.

“Jangan! Jangan bawa aku pulang kerumah, ku mohon.” Seru Liona bersikeras tidak ingin pulang, membuat Leo sedikit kaget tetapi kembali tenang. Hancur sudah rencana Liona malam ini utnuk menghabiskan waktu dengan sahabat sahabat wanita nya. Ia bermaksud menginap dirumah Shimizu akan tetapi keadaan tidak mendukung. Ia tidak mungkin pulang sekarang, ayah nya pasti akan marah besar. Terutama mengetahui bahwa Liona menghabiskan beberapa uang tabungan nya untuk pergi ke cafe mahal.

“Lalu, aku harus membawa mu kemana? Ke Hotel?” Tanya Leo dengan lembut tetapi terdengar tidak senonoh dan tidak pantas. Pipi Liona merona. Tetapi ia tidak bisa menjawab pertanyaan pria yang ia sayangi itu.

“Baiklah, kita pergi kerumah ku. Kau akan aman disana. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam. Lagipula aku Boss mu.” Ujar Leo dengan memberikan senyuman seindah bulan saat itu. Tetapi mendengar kata bahwa Leo adalah Boss nya membuat Liona jengkel. Ia lelah harus terus diperingati bahwa hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja. Bawahan dengan atasan.

“Kalau begitu turunkan aku sekarang.” Ujar Liona dengan sakit hati. Kepala nya terasa berdenyut. Sesaat ia yakin bahwa ia akan terserang demam.

“Kau gila ya? Tidak akan. Aku Boss mu. Aku berkewajiban memberikan keselamatan karyawan ku.”

                “Apakah pantas seorang office girl satu mobil dengan Boss nya? Tidak ada office girl yang duduk bersebelahan dengan Boss nya di dalam mobil nya yang mewah. Sudah lah Leo aku muak mendengarmu mengatakan bahwa kau adalah bos ku dan bagaimana kewajiban-kewajiban mu. Itu semua Bullshit!” Seru ku sedikit membentak tetapi tetap terdengar lemah. Energi belum kembali pulih. Bertengkar dengan nya justru membuat kepalaku semakin sakit. Leo terperangah mendengar kata-kata ku. Ia tidak percaya aku yang terkulai ini mengatakan hal seperti itu.

                “Lagipula ini bukan jam kerja. Kau adalah teman ku sekarang.” Ujar Liona melanjutkan. Ia memegangi kepala nya yang sakit dan tetap menghadap jendela tanpa melihat Leo.

                “Bagus, kalau begitu kau pantas duduk didalam mobil ku. Kita pulang kerumah ku sekarang dan tutup mulut bawel mu itu.” Ujar Leo dengan ketus membuat Liona skakmat. Secara tidak langsung Liona membantu Leo menjawab pernyataan nya. Liona yang bodoh. Tetapi pertengkaran itu membuat energi nya habis. Ia mulai tertidur pulas dengan cepat. Leo memandangi gadis itu dengan penuh rasa kecemasan. Dengan perlahan ia mengusap kepala gadis itu saat ia sedang tertidur. Lalu lanjut mengendarai hingga tiba dirumah nya.

Leo membopong Liona ke dalam sebuah kamar besar penuh nuansa coklat dan krem.  Ia meletakkan gadis itu ranjang lalu melepaskan sepatu dan jaket Liona. Leo merasakan demam yang dialami Liona dan menyuruh seorang asisten rumah tangga nya untuk membawakan sebuah baskom berisikan air panas beserta kain kompres. Dengan penuh kelembutan, ia mengompres Liona hingga tertidur pulas tepat disebelahnya.

***  

Sinar matahari pagi terpancar dari sela-sela jendela. Membuat Liona terbangun.  Ia kaget sekaligus takjub melihat pria muda yang tampan terpapar sinar matahari pagi. Sungguh indah. Liona mengelus kepala pria itu dengan lembut. Berharap ia dilahirkan menjadi wanita yang pantas untuk Leo. Pria itu pun terbangun dari tidur pulas nya, cepat-cepat Liona menjauhkan tangan nya dari kepala Leo.

                “Selamat pagi” Ujar Liona tersenyum. Leo masih menguap dan mencoba mengumpulkan energi.

                “Kau sudah bangun rupanya, apa kau baik-baik saja sekarang?” Tanya Leo penuh kekhawatiran.

                “Sudah sangat baik. Terima kasih telah menolong ku. Aku tidak seharusnya berada disini.” Ujar Liona dengan perasaan tidak enak.

                “Tidak masalah. tak perlu berpikir macam-macam,  untuk sekarang ini beristirahat lah. Aku sudah terlambat pergi ke kantor, aku harus bekerja sekarang.”

                “Aku ikut,”

                “Tidak Liona. Kau istirahat disini sampai aku kembali pulang. Nanti sore aku akan mengantarmu pulang, oke?” Ujar Leo dengan nada agak memerintah.

                “Kau selalu seperti Mr.Autocracy” Jawab Liona agak kesal.

                “Mungkin memang begitulah aku,” Leo tersenyum tanpa merasa salah sedikit pun. “Kau harus makan. Kau bisa mandi di kamar ku nanti. Makanan akan disediakan oleh Asisten rumah tangga ku. Bunyikan bel nya bila membutuhkan sesuatu, lalu dia akan datang.” Leo pun pergi setelah menjelaskan. Liona tidak pernah menyangka bahwa bos arogan nya itu bisa menjadi amat baik seperti ini. Ia berusaha menghilangkan pikiran bahwa Leo telah memberikan perhatian lebih, Leo melakukan ini semua hanya karena dia memang orang yang baik. Hanya itu.

                Sarapan telah disiapkan oleh Asisten rumah tangga Leo, meja makan yang cukup besar untuk ukuran enam orang. Rumah ini begitu luas namun tampak sepi. Liona bertanya-tanya kemana perginya penghuni rumah, namun sang asisten rumah tangga alias Bibi Suri mengatakan bahwa Leo hanya tinggal sendirian disini. Seharusnya Leo tinggal dengan ayah nya, akan tetapi ayah nya pindah kerja ke luar negeri dengan alasan proyek yang lebih besar dan membutuhkan waktu beberapa tahun yang membuat Leo harus menangani perusahaan ayah nya, mengambil alih sementara meskipun mungkin sepertinya Leo tidak mau, tetapi itu adalah kewajiban nya. Satu-satunya putra semata wayang yang akan menjadi penerus ayah nya.Ibu Leo telah meninggal beberapa tahun silam. Tetapi Bibi Suri tidak menjelaskan penyebab kematian ibu nya. Sejak Bibi Suri pertama datang ke rumah ini, Leo sudah tidak memiliki ibu. Bibi Suri di pekerjakan ayah Leo untuk mengurus kebutuhan Leo sehari-hari. Tiba-tiba saja Liona dapat merasakan kesepian yang Leo pasti rasakan. Dan mereka berdua sama-sama tidak memiliki ibu. Liona bisa mengerti mengapa Leo terlalu arogan, ia tidak pernah diajarkan menjadi  seorang pria dengan kehangatan, dan naluri seorang ibu. Tetapi sungguh salut bahwa Leo bisa menjadi pria yang hebat dan sangat bertanggung jawab. Liona yakin itu hasil didikan ayah nya. 

                “Bi, biarkan saya yang memasak makan malam untuk Leo.” Ujar Liona dengan senyuman cantik hingga Bibi Suri mempersilahkan gadis  itu melakukan keinginan nya. Bibi Suri pun menabak-nebak apakah gadis di hadapan nya adalah kekasih dari majikan nya, karena selama ini majikan nya itu tidak pernah membawa satupun perempuan ke rumah nya.

***   

Liona memarut keju diatas roti lapis berisi telur mata sapi dan sosis goreng. Sarapan yang disedakan Bibi Suri itu disuguhi dengan segelas kopi susu hangat.Tiba-tiba saja ponsel nya berdering, memunculkan sebuah nomor yang tidak dikenal.

“Halo?”

“Ku mohon makan lah yang banyak dan minum obat mu.” Liona tersedak saat mendengar suara Leo darbicara dari sebrang sana.
Bagaimana kau tahu nomer ponsel ku?”

“Aku selalu bisa mendapatkan apa yang aku mau Liona.” Ujar Leo terkekeh.

“Aku serius” Suara tegas Liona membuat Leo berhenti tertawa.

Tentu saja dengan mudah ku dapatkan dari teman-teman mu. Dan aku yakin mereka bahkan dengan mudah, secara gratis mau menyebarkan nomer mu ke om-om genit.”
“Sialan” Maki Liona sambil menusuk sosis goreng nya. Leo kembali tertawa.

“ Kau boleh mandi dikamar ku”

“Tidak akan.” Jawab Liona dengan cepat dan ketus.

“Mengapa? Aku sudah membayangkan itu akan terjadi.”

“Aku harap rem mobil mu rusak.”

“Astaga, kau wanita terkejam yang pernah ku temui. Ucapan adalah do’a Liona, kau akan menyesal dan menangisi kepergian ku jika itu terjadi.” Ujar Leo terdengar kecewa. Liona berpikir mungkin perkataan nya tadi memang kelewatan. Ia menelan ludah.

“Maafkan aku.  Aku mohon berhati-hati lah, kau akan selamat sampai tujuan.” Suaranya melembut penuh perhatian.

Kalau begitu makan lah, minum obat, dan mandi di kamar ku. Maka aku akan berhati-hati.” Perintah Leo sambil terkekeh. Ia begitu menjebak.

“Aku sedang makan dan kau sangat mengganggu ku sekarang.” Liona berbicara sambil mengunyah roti lapis nya.

“Baiklah akan ku matikan telfon nya.”

“Eh, Tunggu!” 

“Apa?”

“Kau belum memberitahuku kejadian semalam.”  

“Akan ke ceritakan setelah aku pulang kerja nanti.” Telfon pun berakhir.



-Next Chapter-

Comments

  1. First of all... suka banget sama chapter ini!! Ada "proses" gitu :) Makin ke sini makin suka sama karakter Liona, karena dia digambarkan sebagai gadis mandiri, social, dan cerdas meskipun pekerjaannya belum di tingkat profesional. Di chapter ini juga ada sisi "playful"nya jadi makin sukaaaa wkwk
    Suka sama transisi cerita dari Liona yang cenderung memikirkan kesedihannya sendiri, fokus cerita lalu menceritakan perhatian Liona ke teman - temannya juga ( yang ternyata ada yang "lebih" sedih dari dia )

    Line fav di chap ini :
    " Dan dunia ini penuh pilihan, dunia mengajarkan kita untuk memilih, memaksa kita untuk mengambil keputusan kearah mana selanjutnya kita akan melangkah. Bahkan memaksa kita untuk memilih pada pilihan-pilihan yang kita tidak inginkan. "

    Suka juga sama karakter Leo. Profesional, playful, clever wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun ga nyangka ada yang bakal nilai seteliti itu! Kamu bener-bener menyimak dan menghayati. Aku sangat tersanjung dan berterima kasih kepada kamu yang mau memberikan waktunya untuk memberikan apresiasi dan pandangan kamu terahdap cerita ini :) - Big love from the writer X

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...