Skip to main content

This Is Love or Not? (Part 1)



Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu.
*back to memories*
            Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.
            Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, tetapi tidak setelah aku menyadari dibelakangku, duduk seorang pria yang begitu familiar, Leon. Aku merasakan jantungku berdetak cepat. Dan untuk pertama kalinya Leon memperkenalkan diri ketika Mr.Keith menyuruh kami bergabung dalam satu kelompok biologi.
            “Halo, aku Leon. Dan kau?” Ucapnya tersenyum manis.
            “Jane”
            “Senang berkenalan denganmu Jane.” Ujarnya tersenyum lagi sambil terus menatapku. Keeseokan harinya kelas begitu sepi karena aku datang terlalu pagi. Aku mengotak-atik playlist di ipodku dan tidak kusadari Leon telah berdiri di samping meja. Akupun tersentak kaget!
            “Apa yang kau lakukan disitu? Berdiam diri tanpa berekspresi itu menakutkan.”
            “Apa aku terlihat horror?” Tanya nya dengan ekspresi masih datar.
            “Tentu saja! Ini masih terlalu pagi dan sepi. Dan kau bertingkah seolah-olah kau vampire yang datang dari abad lalu.” Seketika dia tertawa.
            “Aku sudah mengucapkan selamat pagi tapi kau serius dengan benda kecilmu itu. Apasih yang kau lakukan?” Dia duduk mendekatiku lalu merebut ipod dari tanganku.
            “Astaga Jane, playlist mu sangat mirip dengan playlist ku. Selera kita sama atau hanya kebetulan? Menarik!”
Sejak saat itu aku dan Leon semakin dekat, sering bertukar humor, bahkan rutin melakukan chat tiap malam, dan kami semakin mengenali satu sama lain. Aku semakin mencintainya tetapi terhenti ketika tidak sengaja aku membuka sebuah pesan di hp nya. Sebuah conversation bersama seorang wanita bernama Rose membuat hatiku hancur. Rose adalah teman wanitanya yang sering ia temui disekumpulan teman-teman nya. Mereka selalu bersama setiap pulang sekolah dan conversation tersebut memperlihatkan kedekatan mereka berdua. Apakah Leon menyukai Rose? Ya Tuhan aku benar-benar sedih. Ujarku dalam hati. Aku mencoba untuk menghapus perasaanku pada Leon sebelum aku benar-benar jatuh kejurang nya yang begitu dalam, tetapi perasaan ini tidak bisa ku kendalikan.
“Jane, ada apa?” Suara itu mengejutkan ku dan aku langsung mengembalikan hp Leon.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin ke toilet, permisi.” Ujarku cepat-cepat pergi karena tidak kuat menahan mataku yang mulai meneteskan rintihan kekecewaan. Dalam perjalanan ke toilet tiba-tiba aku memaki diriku sendiri yang sudah bodohnya mengembalikan hp Leon dalam keadaan masih terpampang jelas di layar, conversation dia dengan  Rose. Aku ketahuan.
                                                                        ***
            Aku duduk tanpa menoleh kebelakang, aku tahu Leon pasti sudah mengetahui perasaanku.
            “Jane...” Panggilnya dengan nada biasa.
            Aku tetap tidak menoleh.
            “Jane, mengapa kau tidak mengangkat telfonku semalam?”
            Aku berusaha untuk tetap tidak menoleh.
            “Jane, kumohon berbaliklah” karena tidak kuat mendengar permohonan nya, aku pergi meninggalkan dia tanpa menoleh sedikitpun. Jam menunjukkan waktu pulang dan aku masih mencorat-coret buku ku. Aku menggambar sesosok Leon tetapi menghapusnya lagi.
            “Kenapa di hapus? Buat lagi.”
            “Tidak”
            “Buat lagi atau aku yang akan menggambarmu”
            “Apa?” Dia merebut pensil dan buku ku lalu mencoba menggambarku, sesekali dia memperhatikanku dengan teliti, membuat aku salah tingkah. Tanpa sadar aku tersenyum, aku berpikir mengapa aku harus marah? Aku bukan siapa-siapa di hidupnya. Walaupun begitu kecewa tetapi aku tidak bisa membencinya, aku terlalu mencintainya.
            “Selesai” Ujar Leon menyadarkan lamunanku. Tampak seorang wanita berambut panjang tersenyum manis sambil memakai headset ditelinga nya. Gambar yang indah. Akupun merebut kembali buku ku dan dengan serius menggambar sosok Leon lagi. Aku memberikan nya lalu Leon melihatnya, dengan tatapan kosong ia menatapku.
            “Ku antar kau pulang”
            “Apa? Tidak aku bisa sendiri”
            “Ku antar.” Dengan terpaksa aku mengikutinya. Hari itu Leon membawa motor. Sesampainya dirumah, Leon tersenyum.
            “Jane, apa kau menyukaiku?” Aku kaget mendengar pertanyaan nya.
            Leon menarik napas. “Jane , apa kau mau mencobanya?”
            “Apa?”
            “Mencoba menjalin hubungan denganku?”
            “Apa?” Tanyaku balik. Apa maksudnya dengan mencoba? Apa dia masih meragukan ku?
            “Jane, berhentilah berpura-pura. Aku serius, jadilah kekasihku.” Ia menatapku lekat dan intens.
            “Baiklah, mari kita mencobanya.” Jawabku tersenyum. Meskipun masih ada kejanggalan di hatiku yang masih meragukan perasaan nya.
            “Biarkan ini cukup menjadi rahasia kita berdua saja, oke?”
            “Oke”
            Aku pun kini menjadi kekasihnya, sungguh tidak ku sangka. Tidak ada yang mengetahui hubungan kami kecuali teman-teman terdekat. Aku menghargai keprivasian Leon, dan aku pikir itu cukup menolong ku dari para haters yang mengidolakan Leon. Suatu hari aku datang menghampiri apartemen Leon berniat membawakan masakan buatanku tetapi apartemen itu sepi. Leon hanya meninggalkan pesan untuk mengambil kunci di tempat biasa. Aku pun masuk dan menunggunya berjam-jam di ruang makan, dan Leon belum juga muncul. Hari semakin sore, dengan kecewa akhirnya aku pulang meninggalkan masakan ku yang semakin dingin. Keeseokan hari di kampus, aku menghampiri Leon.
            “Leon..”
            “Oh Jane, ada apa?” Tanya nya dengan santai.
            “Dimana kau kemarin?”
            “Pergi”
            “Apa kau memakan makanan nya?”
            “Makanan apa?”
            “Kau tidak memakan nya?”
            “Aku tidak mengerti”
            “Kemarin aku membawakan makanan untukmu, tapi kau tidak ada di apartemen mu. Aku menunggumu berjam-jam hingga makanan itu menjadi tidak berguna. Apa itu cukup jelas?” Jelasku dengan sangat kecewa lalu pergi meninggalkan nya. Aku benar-benar marah. Leon mengejarku lalu menarik diriku agar mendekatinya.
            “Jangan marah” ujarnya menyesal.
            “Aku tidak marah”
            “Jane maaf, maafkan aku..” Ia memelas. Aku menghela napas lalu tersenyum.
            “Tidak apa-apa”
            “Sebagai gantinya bagaimana kalau besok kita pergi bersama?”
            “Ide yang bagus” ujarku semakin tersenyum.
 Akhirnya kekecewaan ku tergantikan. Tetapi ternyata tidak. Sesuai planning yang dijanjikan, aku menunggu di kursi taman. Begitu lama. Tetapi ia tidak muncul. Hari semakin gelap, aku tetap menunggu nya dalam kegelapan. Tetapi Leon tetap tidak muncul. Rintik hujan mulai turun seiring dengan air mataku yang mulai mengalir. Lagi-lagi aku menangis karena nya. Segera akupun berlari pulang. Aku menelfon temanku Alice, untuk datang menemaniku. Ketika ia datang aku langsung memeluknya dan menangis.
“Oh sweety, what happend to you?”
“Hurt...”
“Kau dingin Jane, siapa yang membuatmu seperti ini?”
“He does”
“Oh... i know. Be patient sweety.” Ujar Alice menenangkan sambil memelukku.
“Always”
“Aku melihat Leon bersama teman-teman nya tadi di sebuah mall” Cerita Alice dengan pelan.
“Apa? Kau yakin?”
“Maaf Jane, tapi aku sangat yakin.”
                                                            ***
Malam harinya aku mengendarai mobilku dengan laju cepat kerumah Leon. Leon terkejut melihatku yang tiba-tiba datang lalu menyuruh ku masuk.
“Aku bisa jelaskan” katanya singkat tanpa menatapku. Aku mencoba menahan emosiku dan menghela nafas.
“Tanpa kau jelaskan aku tahu”
“Kalau begitu apa yang kau lakukan disini?”
“Mencoba menyelesaikan masalah.” Jawabku dengan sangat sabar.
“Jane, jangan sekarang. Aku lelah.”
“Istirahatlah, aku akan membuatkan cokelat panas” ujarku menenangkan. Dia hanya menatapku kosong lalu menurutinya. Aku membawakan secangkir cokelat panas ke kamarnya, dan tiba-tiba saja aku tersandung. Cokelat panas itu jatuh keselimut tempat tidur. Aku panik. Leon terlihat sangat jengkel dengan kejadian barusan.
“Sial, apa yang kau lakukan Jane? Oh Tuhan, sudah ku bilang lebih baik kau pulang saja!” Kehadiran mu semakin membuatku lelah!” Tegasnya dengan nada membentak.
“Maafkan aku, aku tidak sengaja.” Ujarku menaan tangis. Sakit. Cepat-cepat aku mengambil selimut tersebut dan membawanya kebawah untuk dicuci dan menggantinya dengan yang baru . Aku masuk ke kamar Leon lagi dan ku lihat ia sudah tertidur pulas. Mungkin dia benar-benar lelah. Ku lihat layar hp nya yang sudah tergeletak di meja memunculkan nomer Rose. Hatiku semakin sakit.
“Jane...” Ku dengar Leon mengigau dalam tidur. “Jane, dimana kau?” Aku pun menghiraukan hp nya dan langsung menghapus air mataku.
“Aku disini” jawabku lalu mencium kening nya dan menutupi dirinya dengan selimut yang baru. Akupun pulang dengan mata sembab. Kini akhirnya Anniversary pun tiba. Aku dan Leon akan menghabiskan waktu seharian bersama. Hari ini begitu indah, Leon bersikap sangat lembut dan memperlakukan ku layaknya seorang putri. Aku merasa tenang akhirnya Leon bersikap seperti dulu. Aku melupakan kejadian buruk yang akhir-akhir ini terjadi. Mungkin Leon sedang banyak pikiran dan emosi malam itu dan aku memakluminya. Aku sangat merindukan dirinya seperti ini. Aku senang. Tidak ada yang tahu bahwa akan terjadi “Sesuatu” esok hari. Masalah yang akan timbul selanjutnya. 

Iseng. Cerpen karya gue haha. Gimana menurut kalian? Tunggu Part 2 nya oke?;)

Comments

Popular posts from this blog

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...