Aku melihat
pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan
nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti
seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua
tahun lalu.
*back to
memories*
Aku melihat seorang pria tampan dengan
mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh
kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang
angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi
aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki
dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari
kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.
Aku memasukkan ipod kedalam saku
jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, tetapi tidak setelah
aku menyadari dibelakangku, duduk seorang pria yang begitu familiar, Leon. Aku
merasakan jantungku berdetak cepat. Dan untuk pertama kalinya Leon memperkenalkan
diri ketika Mr.Keith menyuruh kami bergabung dalam satu kelompok biologi.
“Halo, aku Leon. Dan kau?” Ucapnya
tersenyum manis.
“Jane”
“Senang berkenalan denganmu Jane.”
Ujarnya tersenyum lagi sambil terus menatapku. Keeseokan harinya kelas begitu
sepi karena aku datang terlalu pagi. Aku mengotak-atik playlist di ipodku dan
tidak kusadari Leon telah berdiri di samping meja. Akupun tersentak kaget!
“Apa yang kau lakukan disitu?
Berdiam diri tanpa berekspresi itu menakutkan.”
“Apa aku terlihat horror?” Tanya nya
dengan ekspresi masih datar.
“Tentu saja! Ini masih terlalu pagi
dan sepi. Dan kau bertingkah seolah-olah kau vampire yang datang dari abad
lalu.” Seketika dia tertawa.
“Aku sudah mengucapkan selamat pagi
tapi kau serius dengan benda kecilmu itu. Apasih yang kau lakukan?” Dia duduk
mendekatiku lalu merebut ipod dari tanganku.
“Astaga Jane, playlist mu sangat
mirip dengan playlist ku. Selera kita sama atau hanya kebetulan? Menarik!”
Sejak
saat itu aku dan Leon semakin dekat, sering bertukar humor, bahkan rutin
melakukan chat tiap malam, dan kami semakin mengenali satu sama lain. Aku
semakin mencintainya tetapi terhenti ketika tidak sengaja aku membuka sebuah
pesan di hp nya. Sebuah conversation bersama seorang wanita bernama Rose
membuat hatiku hancur. Rose adalah teman wanitanya yang sering ia temui
disekumpulan teman-teman nya. Mereka selalu bersama setiap pulang sekolah dan
conversation tersebut memperlihatkan kedekatan mereka berdua. Apakah Leon
menyukai Rose? Ya Tuhan aku benar-benar sedih. Ujarku dalam hati. Aku mencoba
untuk menghapus perasaanku pada Leon sebelum aku benar-benar jatuh kejurang nya
yang begitu dalam, tetapi perasaan ini tidak bisa ku kendalikan.
“Jane,
ada apa?” Suara itu mengejutkan ku dan aku langsung mengembalikan hp Leon.
“Tidak,
tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin ke toilet, permisi.” Ujarku cepat-cepat
pergi karena tidak kuat menahan mataku yang mulai meneteskan rintihan
kekecewaan. Dalam perjalanan ke toilet tiba-tiba aku memaki diriku sendiri yang
sudah bodohnya mengembalikan hp Leon dalam keadaan masih terpampang jelas di
layar, conversation dia dengan Rose. Aku
ketahuan.
***
Aku duduk tanpa menoleh kebelakang,
aku tahu Leon pasti sudah mengetahui perasaanku.
“Jane...” Panggilnya dengan nada
biasa.
Aku tetap tidak menoleh.
“Jane, mengapa kau tidak mengangkat
telfonku semalam?”
Aku berusaha untuk tetap tidak
menoleh.
“Jane, kumohon berbaliklah” karena
tidak kuat mendengar permohonan nya, aku pergi meninggalkan dia tanpa menoleh
sedikitpun. Jam menunjukkan waktu pulang dan aku masih mencorat-coret buku ku.
Aku menggambar sesosok Leon tetapi menghapusnya lagi.
“Kenapa di hapus? Buat lagi.”
“Tidak”
“Buat lagi atau aku yang akan
menggambarmu”
“Apa?” Dia merebut pensil dan buku
ku lalu mencoba menggambarku, sesekali dia memperhatikanku dengan teliti,
membuat aku salah tingkah. Tanpa sadar aku tersenyum, aku berpikir mengapa aku
harus marah? Aku bukan siapa-siapa di hidupnya. Walaupun begitu kecewa tetapi
aku tidak bisa membencinya, aku terlalu mencintainya.
“Selesai” Ujar Leon menyadarkan
lamunanku. Tampak seorang wanita berambut panjang tersenyum manis sambil
memakai headset ditelinga nya. Gambar yang indah. Akupun merebut kembali buku
ku dan dengan serius menggambar sosok Leon lagi. Aku memberikan nya lalu Leon melihatnya,
dengan tatapan kosong ia menatapku.
“Ku antar kau pulang”
“Apa? Tidak aku bisa sendiri”
“Ku antar.” Dengan terpaksa aku
mengikutinya. Hari itu Leon membawa motor. Sesampainya dirumah, Leon tersenyum.
“Jane, apa kau menyukaiku?” Aku kaget
mendengar pertanyaan nya.
Leon menarik napas. “Jane , apa kau
mau mencobanya?”
“Apa?”
“Mencoba menjalin hubungan denganku?”
“Apa?” Tanyaku balik. Apa maksudnya
dengan mencoba? Apa dia masih meragukan ku?
“Jane, berhentilah berpura-pura. Aku
serius, jadilah kekasihku.” Ia menatapku lekat dan intens.
“Baiklah, mari kita mencobanya.”
Jawabku tersenyum. Meskipun masih ada kejanggalan di hatiku yang masih
meragukan perasaan nya.
“Biarkan ini cukup menjadi rahasia
kita berdua saja, oke?”
“Oke”
Aku pun kini menjadi kekasihnya,
sungguh tidak ku sangka. Tidak ada yang mengetahui hubungan kami kecuali
teman-teman terdekat. Aku menghargai keprivasian Leon, dan aku pikir itu cukup
menolong ku dari para haters yang mengidolakan Leon. Suatu hari aku datang
menghampiri apartemen Leon berniat membawakan masakan buatanku tetapi apartemen itu
sepi. Leon hanya meninggalkan pesan untuk mengambil kunci di tempat biasa. Aku pun
masuk dan menunggunya berjam-jam di ruang makan, dan Leon belum juga muncul.
Hari semakin sore, dengan kecewa akhirnya aku pulang meninggalkan masakan ku
yang semakin dingin. Keeseokan hari di kampus, aku menghampiri Leon.
“Leon..”
“Oh Jane, ada apa?” Tanya nya dengan
santai.
“Dimana kau kemarin?”
“Pergi”
“Apa kau memakan makanan nya?”
“Makanan apa?”
“Kau tidak memakan nya?”
“Aku tidak mengerti”
“Kemarin aku membawakan makanan
untukmu, tapi kau tidak ada di apartemen mu. Aku menunggumu berjam-jam hingga
makanan itu menjadi tidak berguna. Apa itu cukup jelas?” Jelasku dengan sangat
kecewa lalu pergi meninggalkan nya. Aku benar-benar marah. Leon mengejarku lalu
menarik diriku agar mendekatinya.
“Jangan marah” ujarnya menyesal.
“Aku tidak marah”
“Jane maaf, maafkan aku..” Ia
memelas. Aku menghela napas lalu tersenyum.
“Tidak apa-apa”
“Sebagai gantinya bagaimana kalau
besok kita pergi bersama?”
“Ide yang bagus” ujarku semakin
tersenyum.
Akhirnya kekecewaan ku tergantikan. Tetapi
ternyata tidak. Sesuai planning yang dijanjikan, aku menunggu di kursi taman.
Begitu lama. Tetapi ia tidak muncul. Hari semakin gelap, aku tetap menunggu nya
dalam kegelapan. Tetapi Leon tetap tidak muncul. Rintik hujan mulai turun
seiring dengan air mataku yang mulai mengalir. Lagi-lagi aku menangis karena
nya. Segera akupun berlari pulang. Aku menelfon temanku Alice, untuk datang
menemaniku. Ketika ia datang aku langsung memeluknya dan menangis.
“Oh
sweety, what happend to you?”
“Hurt...”
“Kau
dingin Jane, siapa yang membuatmu seperti ini?”
“He
does”
“Oh...
i know. Be patient sweety.” Ujar Alice menenangkan sambil memelukku.
“Always”
“Aku
melihat Leon bersama teman-teman nya tadi di sebuah mall” Cerita Alice dengan
pelan.
“Apa?
Kau yakin?”
“Maaf
Jane, tapi aku sangat yakin.”
***
Malam
harinya aku mengendarai mobilku dengan laju cepat kerumah Leon. Leon terkejut
melihatku yang tiba-tiba datang lalu menyuruh ku masuk.
“Aku
bisa jelaskan” katanya singkat tanpa menatapku. Aku mencoba menahan emosiku dan
menghela nafas.
“Tanpa
kau jelaskan aku tahu”
“Kalau
begitu apa yang kau lakukan disini?”
“Mencoba
menyelesaikan masalah.” Jawabku dengan sangat sabar.
“Jane,
jangan sekarang. Aku lelah.”
“Istirahatlah,
aku akan membuatkan cokelat panas” ujarku menenangkan. Dia hanya menatapku
kosong lalu menurutinya. Aku membawakan secangkir cokelat panas ke kamarnya, dan
tiba-tiba saja aku tersandung. Cokelat panas itu jatuh keselimut tempat tidur.
Aku panik. Leon terlihat sangat jengkel dengan kejadian barusan.
“Sial,
apa yang kau lakukan Jane? Oh Tuhan, sudah ku bilang lebih baik kau pulang
saja!” Kehadiran mu semakin membuatku lelah!” Tegasnya dengan nada membentak.
“Maafkan
aku, aku tidak sengaja.” Ujarku menaan tangis. Sakit. Cepat-cepat aku mengambil
selimut tersebut dan membawanya kebawah untuk dicuci dan menggantinya dengan
yang baru . Aku masuk ke kamar Leon lagi dan ku lihat ia sudah tertidur pulas.
Mungkin dia benar-benar lelah. Ku lihat layar hp nya yang sudah tergeletak di
meja memunculkan nomer Rose. Hatiku semakin sakit.
“Jane...”
Ku dengar Leon mengigau dalam tidur. “Jane, dimana kau?” Aku pun menghiraukan
hp nya dan langsung menghapus air mataku.
“Aku
disini” jawabku lalu mencium kening nya dan menutupi dirinya dengan selimut
yang baru. Akupun pulang dengan mata sembab. Kini akhirnya Anniversary pun
tiba. Aku dan Leon akan menghabiskan waktu seharian bersama. Hari ini begitu
indah, Leon bersikap sangat lembut dan memperlakukan ku layaknya seorang putri.
Aku merasa tenang akhirnya Leon bersikap seperti dulu. Aku melupakan kejadian
buruk yang akhir-akhir ini terjadi. Mungkin Leon sedang banyak pikiran dan emosi
malam itu dan aku memakluminya. Aku sangat merindukan dirinya seperti ini. Aku
senang. Tidak ada yang tahu bahwa akan terjadi “Sesuatu” esok hari. Masalah
yang akan timbul selanjutnya.
Iseng. Cerpen karya gue haha. Gimana menurut kalian? Tunggu Part 2 nya oke?;)
Comments
Post a Comment