Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah.
Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya.
Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan
Bulan. Bukan kisah ku.
Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari
manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap
ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar.
Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku
sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada
beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai
bertanya-tanya, apa itu?
Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”?
Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang
sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia
menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh,
ku dapati sebuah objek yang sangat luar biasa indah nya. Dia adalah, Bulan.
Aku selalu melihat mu sebagai sebuah Bulan. Mungkin disini
agak terbalik, bahwa Yin harusnya melambangkan sebuah objek yang feminitas
sedangkan Yang melambangkan objek yang maskulin. Tapi memang begitulah adanya
sifat kita. Kamu bagaikan sebuah Bulan. Kita sama-sama bersinar dan sama-sama menyinari. Akan tetapi sinar mu
berbeda dengan sinar ku. Sinar mu membuat kenyamanan, kenyamanan untuk semua
manusia, bahkan aku. Kamu indah. Sedangkan aku, sinar ku untuk membangkitkan
dan memberikan mereka energi. Tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya menyinari
diri sendiri sampai akhirnya aku menyadari kehadiran mu.
Selama ini aku tidak pernah menyadari kehadiran mu.
Keberadaan mu yang ternyata selalu bersamaku. Selama ini aku tidak pernah
melihat mu. Dan pada akhirnya, aku menyadarimu. Pertemuan kita saat itu membuat
ku tertawa karena kamu terus menatapku dan mencoba untuk meledekku yang saat
itu sedang memakan sebuah bekal. Dan untuk pertama kalinya kamu duduk di
sampingku. Tunggu, bagaimana caranya Matahari bisa makan?
Dan aku menyadari, bahwa saat itu kamu masih redup. Sinar mu
masih terlalu redup. Dan kamu menceritakan padaku bagaimana kisah-kisah redup
mu itu. Saat itu entah mengapa aku bertekad, untuk membuat mu bersinar. Untuk
membuat redup mu menjadi cahaya yang paling indah melebihi diriku. Meskipun aku
tidak tahu bagaimana caranya untuk menyinari diri sendiri, tetapi akhirnya aku
mengerti, cara untuk membuatku menyinari diri sendiri dengan membuatmu
bersinar. Karena sinar mu lah yang nantinya akan menyinariku. Sejak saat itu
Matahari dan Bulan saling melengkapi. Lalu Gerhana pun terjadi dan tumbuh cinta
dari keduanya. Matahari mencintai Bulan,
dan Bulan mencintai Matahari.
Hingga akhirnya kamu mulai bersinar ketika malam datang. Aku
melihatmu dari kejauhan. Kini sinarmu lebih indah melebihi sinarku. Meskipun
kita selalu berdampingan, tetapi kita tidak pernah menemukan sebuah cara
bagaimana menemukan titik perpotongan dari dua garis lurus. Apakah karena
sebuah ego? Ataukah karena sebuah rasa takut dari masa lalu? Atau malah karena
sebuah kesalah pahaman? Hanya kamu dan Tuhan yang tahu.
Meski begitu, aku masih mengingat aroma parfum mu. Dan aroma
itu masih terus menyelimuti ku tiap hari. karena memang nyatanya jarak kita
masih terlalu dekat, bagaimana tidak, kau selalu berada di depanku sampai ingin
menangis sambil tertawa rasanya menghadapi kenyataan yang aneh ini. Tunggu,
bagaimana Bulan bisa menggunakan parfum?
Aku masih mengingat jemari mu yang menggenggam telunjuk ku.
Kini jemari itu selalu memainkan senar di gitar mu, mengiringi nyanyian mu yang
entah untuk siapa. Aku masih mengingat kelakuan mu yang membuatku terpingkal
ketika kamu menelfon hanya untuk berkata “halo” dan langsung menutupnya. Lalu melakukan
nya lagi berulang-ulang kali hingga aku marah-marah. Aku masih mengingat
bagaimana kamu mengganggu ku saat aku sedang serius bermain beat-beat mp3 atau
serius mengerjakan tugas. Aku masih mengingat bagaimana kamu selalu memintaku
untuk mengirimkan sebuah foto sebelum tidur. Tetapi itu hanya kisah Matahari
dan Bulan, bukan kisah ku.
Kini Matahari bersandiwara. Aku sang Matahari, mencoba
besikap biasa dan menutupi semua rahasia hati. Kenyataan nya, Matahari memang
mencintai Bulan. Meskipun suatu saat Bulan itu akan bersama bintang-bintang,
karena yang dapat menemani sang Bulan di malam hari hanyalah para Bintang yang
gemulai. Setidaknya aku bahagia karena kamu telah menyinari ku wahai Bulan.
Kamu telah menemaniku di tata surya yang gelap ini. Dan aku bersyukur telah
diberikan kesempatan untuk memperlihatkan sebuah Gerhana kepada manusia bersama
mu. Aku bersyukur karena dapat mewujudkan tekad ku yaitu membuat sinarmu yang
redup kini menjadi sangat bersinar melebihi aku. Maafkan aku karena
ketidaksempurnaan ku. Aku pikir kamu akan menerima itu, walaupun kenyataan nya
kamu tidak.
Kini Matahari sedang bersandiwara, dan Bulan tidak tahu.
Bulan tidak tahu apa yang di pendam oleh Matahari. Hanya Matahari dan Tuhan nya
lah yang tahu. Lewat doa-doa yang Matahari panjatkan pada Tuhan nya. Doa-doa
yang selalu diselipi dengan nama Bulan. Matahari akan tetap mencintai Bulan,
dan ia tidak peduli. Karena ia hanya ingin mencintai tanpa mengharapkan untuk
dicintai kembali. Tetapi pertanyaanku pada jalan setapak yang berujung jurang
adalah, bagaimana Matahari kini menyinari dirinya sendiri lagi? Ia tidak bisa.
Ia tidak tahu caranya. Karena langit, tata surya, dan jagat raya terlalu gelap
untuk dijelajahi. Karena kini, keredupan dimiliki Matahari. Tetapi tenang saja
Bulan, karena Matahari pandai berbohong. Bukan berbohong untuk unsur negatif ku
tetapi untuk unsur positif mu. Sandiwara demi kebaikan mu adalah keahlian ku.
Tetapi ketika aku menatap langit, ada sebekas cahaya
diantara abu-abu gelapnya langit. Terang meski kecil. Lalu cahaya itu mulai
meretas dengan abu-abunya dan menjadi luas. Aku tersenyum dan bergumam.
Seandainya aku menyiapkan sebuah kopi hitam untuk kau hirup adalah kenyataan.
Seandainya cahaya di langit itu adalah aku. Lalu sang blogger menulis kisah ini
tanpa tahu milik siapa kisah ini. Hanya Matahari, Bulan, dan Tuhan yang tahu.
Comments
Post a Comment