Skip to main content

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.



Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya.
Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku.


Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu? 

Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh, ku dapati sebuah objek yang sangat luar biasa indah nya. Dia adalah, Bulan.

Aku selalu melihat mu sebagai sebuah Bulan. Mungkin disini agak terbalik, bahwa Yin harusnya melambangkan sebuah objek yang feminitas sedangkan Yang melambangkan objek yang maskulin. Tapi memang begitulah adanya sifat kita. Kamu bagaikan sebuah Bulan. Kita sama-sama bersinar dan  sama-sama menyinari. Akan tetapi sinar mu berbeda dengan sinar ku. Sinar mu membuat kenyamanan, kenyamanan untuk semua manusia, bahkan aku. Kamu indah. Sedangkan aku, sinar ku untuk membangkitkan dan memberikan mereka energi. Tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya menyinari diri sendiri sampai akhirnya aku menyadari kehadiran mu.

Selama ini aku tidak pernah menyadari kehadiran mu. Keberadaan mu yang ternyata selalu bersamaku. Selama ini aku tidak pernah melihat mu. Dan pada akhirnya, aku menyadarimu. Pertemuan kita saat itu membuat ku tertawa karena kamu terus menatapku dan mencoba untuk meledekku yang saat itu sedang memakan sebuah bekal. Dan untuk pertama kalinya kamu duduk di sampingku. Tunggu, bagaimana caranya Matahari bisa makan?

Dan aku menyadari, bahwa saat itu kamu masih redup. Sinar mu masih terlalu redup. Dan kamu menceritakan padaku bagaimana kisah-kisah redup mu itu. Saat itu entah mengapa aku bertekad, untuk membuat mu bersinar. Untuk membuat redup mu menjadi cahaya yang paling indah melebihi diriku. Meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menyinari diri sendiri, tetapi akhirnya aku mengerti, cara untuk membuatku menyinari diri sendiri dengan membuatmu bersinar. Karena sinar mu lah yang nantinya akan menyinariku. Sejak saat itu Matahari dan Bulan saling melengkapi. Lalu Gerhana pun terjadi dan tumbuh cinta dari keduanya. Matahari mencintai Bulan, dan Bulan mencintai Matahari.

Hingga akhirnya kamu mulai bersinar ketika malam datang. Aku melihatmu dari kejauhan. Kini sinarmu lebih indah melebihi sinarku. Meskipun kita selalu berdampingan, tetapi kita tidak pernah menemukan sebuah cara bagaimana menemukan titik perpotongan dari dua garis lurus. Apakah karena sebuah ego? Ataukah karena sebuah rasa takut dari masa lalu? Atau malah karena sebuah kesalah pahaman? Hanya kamu dan Tuhan yang tahu. 

Meski begitu, aku masih mengingat aroma parfum mu. Dan aroma itu masih terus menyelimuti ku tiap hari. karena memang nyatanya jarak kita masih terlalu dekat, bagaimana tidak, kau selalu berada di depanku sampai ingin menangis sambil tertawa rasanya menghadapi kenyataan yang aneh ini. Tunggu, bagaimana Bulan bisa menggunakan parfum?

Aku masih mengingat jemari mu yang menggenggam telunjuk ku. Kini jemari itu selalu memainkan senar di gitar mu, mengiringi nyanyian mu yang entah untuk siapa. Aku masih mengingat kelakuan mu yang membuatku terpingkal ketika kamu menelfon hanya untuk berkata “halo” dan langsung menutupnya. Lalu melakukan nya lagi berulang-ulang kali hingga aku marah-marah. Aku masih mengingat bagaimana kamu mengganggu ku saat aku sedang serius bermain beat-beat mp3 atau serius mengerjakan tugas. Aku masih mengingat bagaimana kamu selalu memintaku untuk mengirimkan sebuah foto sebelum tidur. Tetapi itu hanya kisah Matahari dan Bulan, bukan kisah ku.

Kini Matahari bersandiwara. Aku sang Matahari, mencoba besikap biasa dan menutupi semua rahasia hati. Kenyataan nya, Matahari memang mencintai Bulan. Meskipun suatu saat Bulan itu akan bersama bintang-bintang, karena yang dapat menemani sang Bulan di malam hari hanyalah para Bintang yang gemulai. Setidaknya aku bahagia karena kamu telah menyinari ku wahai Bulan. Kamu telah menemaniku di tata surya yang gelap ini. Dan aku bersyukur telah diberikan kesempatan untuk memperlihatkan sebuah Gerhana kepada manusia bersama mu. Aku bersyukur karena dapat mewujudkan tekad ku yaitu membuat sinarmu yang redup kini menjadi sangat bersinar melebihi aku. Maafkan aku karena ketidaksempurnaan ku. Aku pikir kamu akan menerima itu, walaupun kenyataan nya kamu tidak. 

Kini Matahari sedang bersandiwara, dan Bulan tidak tahu. Bulan tidak tahu apa yang di pendam oleh Matahari. Hanya Matahari dan Tuhan nya lah yang tahu. Lewat doa-doa yang Matahari panjatkan pada Tuhan nya. Doa-doa yang selalu diselipi dengan nama Bulan. Matahari akan tetap mencintai Bulan, dan ia tidak peduli. Karena ia hanya ingin mencintai tanpa mengharapkan untuk dicintai kembali. Tetapi pertanyaanku pada jalan setapak yang berujung jurang adalah, bagaimana Matahari kini menyinari dirinya sendiri lagi? Ia tidak bisa. Ia tidak tahu caranya. Karena langit, tata surya, dan jagat raya terlalu gelap untuk dijelajahi. Karena kini, keredupan dimiliki Matahari. Tetapi tenang saja Bulan, karena Matahari pandai berbohong. Bukan berbohong untuk unsur negatif ku tetapi untuk unsur positif mu. Sandiwara demi kebaikan mu adalah keahlian ku.

Tetapi ketika aku menatap langit, ada sebekas cahaya diantara abu-abu gelapnya langit. Terang meski kecil. Lalu cahaya itu mulai meretas dengan abu-abunya dan menjadi luas. Aku tersenyum dan bergumam. Seandainya aku menyiapkan sebuah kopi hitam untuk kau hirup adalah kenyataan. Seandainya cahaya di langit itu adalah aku. Lalu sang blogger menulis kisah ini tanpa tahu milik siapa kisah ini. Hanya Matahari, Bulan, dan Tuhan yang tahu.



Ying yang matahari dan bulanhttp://segiempat.com/wp-content/uploads/2013/12/Gambar-Keempat-Beberapa-Mitos-Asal-Tentang-Siang-dan-Malam-Hari-Oleh-Unik-Segiempat.png

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...