Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 8


Liona termenung sambil mengarsir binder kampus nya. Ia memperhatikan dosen nya yang sedang berbicara akan tetapi pikiran nya melayang kemana-mana. Ia tahu, dirinya tidak boleh mencintai Leo. Tetapi kata-kata Leo minggu lalu membuat dirinya sadar bahwa ternyata dia memang mencintai pria itu. Kata-kata nya justru menyadarkan Liona, bahwa selama ini ia tidak sadar telah menyimpan perasaan pada sang boss muda. Namun ia tahu diri. Walupun Leo tidak memiliki gadis sekalipun, ia tetap tidak akan bisa memiliki Leo. Ia tidak akan pernah bisa sepadan dengan Leo. Ia memang tahu diri. Namun tidak pernah ada larangan untuk mencintai. Perbedaan tidak pernah melarang kita untuk mencintai. Yang dilarang hanyalah memiliki.

“Lucy, apa kamu bisa menjawab pertanyaan di depan?” Seru sang dosen membuat lamunan Lucy pecah. Liona menoleh kearah teman sebelahnya itu  yang ternyata sama-sama sedang tidak memperhatikan dosen mereka. Lucy terlihat gelagapan tidak bisa menjawab.

“165 derajat pada sumbu X” Sahut suara lelaki yang duduk dibelakang. Liona dan Lucy tahu sekali bahwa itu adalah suara Leo.

“Bagus, benar sekali Leo. Mari kita bahas bersama darimana asal 165 derajat pada sumbu X tersebut.” Seru sang dosen kembali menerangkan.

“Sampaikan terima kasih ku pada gebetan mu itu.” Ujar Lucy berbisik pada Liona.

“Gebetan? Sejak kapan?” Tanya Liona sedikit emosi.

“Masa sih bukan?” Tanya Lucy kembali dengan santai.

“Sama sekali bukan. Dan sampai kapan pun bukan. Lucy, tolong jangan bahas dia.”

“Oke baiklah, semua laki-laki itu memang menjengkelkan.” Sahut  Lucy sambil mencatat kembali tulisan di proyektor.

“Jadi itu penyebab kau merenung?”

“Wah, kau memperhatikan ku.”

“Tidak. Tidak sama sekali Lucy, jangan berharap. Tapi ku rasa sepertinya kita butuh sebuah hiburan.”

“Maksudmu?” Tanya Lucy bingung. Tetapi Liona hanya memberikan sebuah senyuman jahil nya.

***

Liona POV 

Lampu kelap kelip berpijar dimana-mana, dentuman musik mengelilingi ruangan. Bukan, ini bukan sebuah clubbing. Melainkan sebuah cafe yang dekoran nya memang di rancang mirip seperti itu. Ada meja DJ tetapi tidak ada alkohol sama sekali. Kami bukan tipe wanita seperti itu.

                “Kau tidak memberitahuku bahwa kita akan pergi ke music live.” Seru Lucy setengah teriak karena suaranya harus bersaingan dengan lagu yang dibawakan. Sambil menghirup jus anggur, aku menyeringai.

                “Ini malam minggu, banyak orang pasti akan memiliki ide yang sama dengan ku. Terutama wanita-wanita patah hati seperti kita ini.” Kata-kata terakhir ku terdengar seperti mengenaskan. Aku meneguk jus anggur itu hingga habis. Dan memesan nasi goreng steak. 

                “Kau sudah gajian ya?” Tanya Lucy heran.

                “Belum, pertanyaan mu aneh sekali. Jelas-jelas ini bukan akhir bulan.”

                “Lantas?” Lucy masih keheranan karena melihatku memesan banyak menu sejak 2 jam yang lalu kami tiba disini. Ini pengobatan luka ku.

                “Ini uang tabungan ku. Aku tidak peduli, malam ini aku akan makan banyak agar bisa melupakan si arogan itu.”  Ujar ku kesal, teringat kembali bayangan-bayangan Leo di otak ku. Padahal dari awal aku sama sekali tidak tertarik padanya, dan aku sudah mewanti-wanti diriku agar tidak jatuh cinta. Hidup ku tidak memiliki waktu untuk berhadapan dengan romansa. Tetapi nyatanya, benar kata orang. Cinta memang tidak memandang waktu dan tempat, akal dan ambisi. Bahkan bisa merubah seseorang. Baik sikap maupun pola pikir. Dan tidak terkecuali merubah yang pintar menjadi bodoh.

                “Makanan itu tidak akan menghapus luka mu Liona.”

                “Setidaknya makanan enak ini bisa membuatku kenyang. Dan kenyang membuatku bahagia.” Lucy hanya menggeleng kepala mendengar jawaban ku. Kami pun kembali menyaksikan panggung yang mulai menampilkan musisi kedua, tapi kali ini bukan DJ melainkan musik jazz. Ponsel ku bergetar, memperlihatkan pesan masuk dari Shimizu.

Kau dimana?

Seperti nya malam ini akan menjadi malam para wanita.

Aku menjemput Shimizu di parkiran. Kali ini mobil yang ia bawa adalah Mercedes Benz warna merah. Aku menyuruh nya untuk tidak terlalu mencolok dan sepertinya itu tidak begitu membuahkan hasil. Tetapi setidak nya ia menuruti permintaanku untuk tidak diantar supir nya. Karena malam ini aku tidak ingin terganggu oleh supir sekaligus pengawal nya yang begitu mengintimidasi.

                “Untuk apa bulu-bulu itu?” Tanyaku heran pada sebuah syal berbulu lebat yang mengitari leher dan pundak nya.

                “Ibu menyuruh ku untuk memakainya agar tidak kedinginan.” Jawab nya begitu polos. Anak konglomerat ini terlalu lugu. Terdengar suara tawa lengking dari belakang. 

                “Astaga Shimizu, suhu disini tidak minus. Kau tidak akan mati membeku disini.” Seru Lucy sambil terbahak. Wajah Shimizu memerah.

                “Jangan menertawainya seperti itu Lucy. Kau sendiri bodoh, siapa yang menjaga meja kita jika kau sedang berdiri disini sekarang?” Ujarku menyadari bahwa aku meninggalkan tas, dan dompetku di meja.

                “Tenang tenang, sudah ada yang menjaga nya.” Jawabnya tersenyum dengan santai.

                “Siapa?”

                “Lihat saja sendiri.” Aku pun bergegas masuk menghampiri meja kami. Dan benar kata Lucy, seorang pria dengan jaket kulit hitam sedang duduk di meja kami menghadap panggung. Aku belum bisa melihat wajah nya karena posisinya memunggungiku. Menyadari kehadiran ku dan teman-temanku, ia menoleh.

                “Selamat malam barbie nya Leo.” Sapa Juna dengan memamerkan senyum manis nya. Ia menggunakan pakaian serba hitam dan tampak sebuah gitar ada di punggung nya.

                “Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku sambil kembali duduk di meja kami. Lucy dan Shimizu pun mengikutiku.

                “Tentu saja menjalankan job.”

                “Job?”

                “Iya, aku adalah vokalis sekaligus gitaris band. Band ku selalu mengisi panggung cafe music live ini tiap malam minggu. Honor nya lumayan.” Ujar Juna menjelaskan sambil memanggil pelayan untuk memesan susu vanilla.

                “Anak band minum susu?” Celetuk Shimizu. Juna spontan tertawa mendengar ucapan Shimizu. Ia mulai menatap Shimizu dan memperhatikan nya. Dari tatapan nya aku tahu ia sedang menilai penampilan Shimizu. 

                “Maaf nona cantik, meminum susu adalah kebiasaan ku sebelum tampil. Apa terlihat aneh? Atau kau ingin memberikan susu padaku? Aku sangat bersedia menghabiskan nya.” Jawab Juna sambil tertawa. Aku menginjak kakinya dengan kencang. Ia menyeringai kesakitan. 

                “Jangan mengatakan sesuatu yang terdengar ambigu, atau kau ku usir dari meja ini.” Ancam ku.

                “Maaf, maaf..”  ujarnya sambil tertawa. “Habisnya dia mengejekku, aku jadi ingin menjahili nya.” Lanjutnya masih tertawa.

                “Habisnya hanya kau di cafe ini yang memakai baju ala-ala anak band, sangat mencolok. Akan tetapi memesan susu vanilla.” Ujar Shimizu. Sebenarnya yang Juna gunakan tidak begitu mencolok. Akan tetapi aku mengerti maksud dari mencolok yang Shimizu katakan adalah berkharisma. Ia cukup manis untuk dipandangi wanita-wanita di Cage ini.

                “Mencolok? Kau pikir hanya aku yang mencolok di Cafe ini? Kau juga nona.” Ujarnya menunjuk syal bulu-bulu putih yang dikenakan Shimizu, Juna terdengar tidak mau kalah. Pipi Shimizu memerah lagi.

                “Baiklah..” Ujar Shimizu menelan ludah. “Akan ku buka.” Ia melanjutkan kata-katanya. Dengan ragu-ragu ia melepaskan syal bulu-bulunya. Tampak bagian dada dan bahu putih nya terpancar. Aku tidak menyangka bahwa baju yang ia kenakan adalah dress hitam tanpa tali di bahu dengan belahan segitiga yang cukup rendah. Aku, Lucy, tak terkecuali Juna menganga karena kaget.

                “Cepat pakai lagi!” Seru ku dan Lucy heboh sambil memakaikan syal bulu-bulunya kembali. Pantas saja ibunya menyuruh Shimizu menggunakan syal itu. Pantas saja meskipun ditertawakan Lucy, ia tetap tidak melepasnya. Ternyata syal itu untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Lucy tampak menyesal menertawakan nya di parkiran tadi.

                “Astaga, kenapa kau tidak bilang sih memakai baju itu?” Tanya Lucy keheranan. Sedangkan  aku sudah terbiasa menghadapi gadis jepang ini. Jadi aku tidak begitu kaget. Shimizu memang selalu terlihat mencolok dan elegant dimanapun. Mungkin sudah didikan ibu nya yang jago fashion. Siapapun bisa menebak bahwa ia adalah putri konglomerat. Maka dari itu pengawal pribadinya selalu menemani nya kemana-mana. Juna tidak mengucapkan sepatah katapun setelah itu. Ia hanya menghabiskan susunya. Dengan jahil aku membisiki Juna.

                “Kau tidak sadar ya?” Bisikku.

                “Tidak sadar apa?” Tanya nya bingung. Aku semakin sumringah.

                “Dia karyawan di Kedai ku tahu.”  Bisikku lagi, lalu tertawa. Belum sempat ia bertanya lebih banyak, MC sudah memanggilnya untuk segera naik ke panggung. Ia membawakan sebuah alternative rock bersama band nya. Lagu yang belum pernah ku dengar sebelum nya. Dan aku akui, kharisma nya benar-benar terpancar diatas panggung. Seperti seorang musisi profesional, ia dapat menyihir seluruh tamu disini. Semua orang memberi tepuk tangan yang sangat meriah untuk band mereka. Dan untuk penampilan keduanya, kali ini Juna akan membawakan lagu solo dengan gitar akustik nya, tanpa ditemani para personil band nya.

                “Selamat malam ladies and gentleman...” Juna memberikan sebuah sambutan hangat kepada para tamu. “Malam ini, saya akan membawakan sebuah lagu dari James Blunt berjudul You’re Beautiful, yang diperuntukkan untuk gadis Jepang yang telah memberikan sindiran pahit tapi begitu mempengaruhi pikiran hingga menyita perhatian saya.” Juna tersenyum dengan sangat manis sambil melihat kearah Shimizu. Semua penonton bersorak heboh dan memberikan tepuk tangan. Sedangkan Shimizu, aku, dan Lucy, hanya dapat terperangah tidak percaya dengan apa yang terjadi.  Ku lirik Shimizu benar-benar merona saat itu juga.

My love is brilliant
My love is pure
Semua bernyanyi mengikuti Juna.

I saw an angel, of that im sure.
She smiled at me on the subway
She was with another man.
Entah mengapa ditengah lagu itu, ditengah suasana romantis itu, aku justru merasakan hampa. Bayangan Leo kembali muncul. Lirik yang indah itu berusaha menusuk ku.

But i won’t lose no sleep on that, Cause i’ve got a plan.
You’re beautiful, you’re beautiful
You’re beautiful, it’s true..
I saw your face in a crowded place
And i don’t know what to do,  Cause i’ll never be with you.

Ya, lirik ini pas sekali. Setiap lirik nya membuka luka ku. Teruskan begini, biarkan lirik ini mencabikku. Karena aku lebih suka jatuh sekaligus dari pada setengah-setengah. Agar aku bisa menyadari betapa bodoh nya aku. Aku menatap panggung dengan tersenyum. Yang aku sendiri tahu bahwa senyuman yang ku sunggingkan adalah senyuman ironis menahan kenyataan yang pahit.

***

-Next Chapter-

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...