Liona termenung sambil
mengarsir binder kampus nya. Ia memperhatikan dosen nya yang sedang
berbicara akan tetapi pikiran nya melayang kemana-mana. Ia tahu, dirinya tidak
boleh mencintai Leo. Tetapi kata-kata Leo minggu lalu membuat dirinya sadar
bahwa ternyata dia memang mencintai pria itu. Kata-kata nya justru menyadarkan Liona,
bahwa selama ini ia tidak sadar telah menyimpan perasaan pada sang boss muda. Namun ia tahu diri. Walupun Leo
tidak memiliki gadis sekalipun, ia tetap tidak akan bisa memiliki Leo. Ia tidak
akan pernah bisa sepadan dengan Leo. Ia memang tahu diri. Namun tidak pernah
ada larangan untuk mencintai. Perbedaan
tidak pernah melarang kita untuk mencintai. Yang dilarang hanyalah memiliki.
“Lucy, apa kamu bisa menjawab
pertanyaan di depan?” Seru sang dosen membuat lamunan Lucy pecah. Liona menoleh
kearah teman sebelahnya itu yang
ternyata sama-sama sedang tidak memperhatikan dosen mereka. Lucy terlihat
gelagapan tidak bisa menjawab.
“165 derajat pada sumbu X” Sahut
suara lelaki yang duduk dibelakang. Liona dan Lucy tahu sekali bahwa itu adalah
suara Leo.
“Bagus, benar sekali Leo. Mari
kita bahas bersama darimana asal 165 derajat pada sumbu X tersebut.” Seru sang
dosen kembali menerangkan.
“Sampaikan terima kasih ku pada
gebetan mu itu.” Ujar Lucy berbisik pada Liona.
“Gebetan? Sejak kapan?” Tanya
Liona sedikit emosi.
“Masa sih bukan?” Tanya Lucy
kembali dengan santai.
“Sama sekali bukan. Dan sampai
kapan pun bukan. Lucy, tolong jangan bahas dia.”
“Oke baiklah, semua laki-laki itu
memang menjengkelkan.” Sahut Lucy sambil
mencatat kembali tulisan di proyektor.
“Jadi itu penyebab kau merenung?”
“Wah, kau memperhatikan ku.”
“Tidak. Tidak sama sekali Lucy,
jangan berharap. Tapi ku rasa sepertinya kita butuh sebuah hiburan.”
“Maksudmu?” Tanya Lucy bingung.
Tetapi Liona hanya memberikan sebuah senyuman jahil nya.
***
Liona POV
Lampu kelap kelip berpijar dimana-mana, dentuman musik
mengelilingi ruangan. Bukan, ini bukan sebuah clubbing. Melainkan sebuah cafe
yang dekoran nya memang di rancang mirip seperti itu. Ada meja DJ tetapi tidak
ada alkohol sama sekali. Kami bukan tipe wanita seperti itu.
“Kau
tidak memberitahuku bahwa kita akan pergi ke music live.” Seru Lucy setengah
teriak karena suaranya harus bersaingan dengan lagu yang dibawakan. Sambil
menghirup jus anggur, aku menyeringai.
“Ini
malam minggu, banyak orang pasti akan memiliki ide yang sama dengan ku.
Terutama wanita-wanita patah hati seperti kita ini.” Kata-kata terakhir ku
terdengar seperti mengenaskan. Aku meneguk jus anggur itu hingga habis. Dan memesan
nasi goreng steak.
“Kau
sudah gajian ya?” Tanya Lucy heran.
“Belum,
pertanyaan mu aneh sekali. Jelas-jelas ini bukan akhir bulan.”
“Lantas?”
Lucy masih keheranan karena melihatku memesan banyak menu sejak 2 jam yang lalu
kami tiba disini. Ini pengobatan luka ku.
“Ini
uang tabungan ku. Aku tidak peduli, malam ini aku akan makan banyak agar bisa
melupakan si arogan itu.” Ujar ku kesal,
teringat kembali bayangan-bayangan Leo di otak ku. Padahal dari awal aku sama
sekali tidak tertarik padanya, dan aku sudah mewanti-wanti diriku agar tidak
jatuh cinta. Hidup ku tidak memiliki waktu untuk berhadapan dengan romansa. Tetapi
nyatanya, benar kata orang. Cinta memang tidak memandang waktu dan tempat, akal
dan ambisi. Bahkan bisa merubah seseorang. Baik sikap maupun pola pikir. Dan
tidak terkecuali merubah yang pintar menjadi bodoh.
“Makanan
itu tidak akan menghapus luka mu Liona.”
“Setidaknya
makanan enak ini bisa membuatku kenyang. Dan kenyang membuatku bahagia.” Lucy
hanya menggeleng kepala mendengar jawaban ku. Kami pun kembali menyaksikan
panggung yang mulai menampilkan musisi kedua, tapi kali ini bukan DJ melainkan musik jazz. Ponsel ku bergetar, memperlihatkan pesan masuk dari Shimizu.
Kau dimana?
Seperti nya malam ini akan
menjadi malam para wanita.
Aku menjemput Shimizu di parkiran. Kali ini mobil yang ia
bawa adalah Mercedes Benz warna merah. Aku menyuruh nya untuk tidak terlalu
mencolok dan sepertinya itu tidak begitu membuahkan hasil. Tetapi setidak nya ia menuruti
permintaanku untuk tidak diantar supir nya. Karena malam ini aku tidak ingin
terganggu oleh supir sekaligus pengawal nya yang begitu mengintimidasi.
“Untuk
apa bulu-bulu itu?” Tanyaku heran pada sebuah syal berbulu lebat yang mengitari
leher dan pundak nya.
“Ibu menyuruh ku untuk memakainya agar tidak kedinginan.” Jawab nya begitu polos.
Anak konglomerat ini terlalu lugu. Terdengar suara tawa lengking dari belakang.
“Astaga
Shimizu, suhu disini tidak minus. Kau tidak akan mati membeku disini.” Seru
Lucy sambil terbahak. Wajah Shimizu memerah.
“Jangan
menertawainya seperti itu Lucy. Kau sendiri bodoh, siapa yang menjaga meja kita
jika kau sedang berdiri disini sekarang?” Ujarku menyadari bahwa aku
meninggalkan tas, dan dompetku di meja.
“Tenang
tenang, sudah ada yang menjaga nya.” Jawabnya tersenyum dengan santai.
“Siapa?”
“Lihat
saja sendiri.” Aku pun bergegas masuk menghampiri meja kami. Dan benar kata
Lucy, seorang pria dengan jaket kulit hitam sedang duduk di meja kami menghadap
panggung. Aku belum bisa melihat wajah nya karena posisinya memunggungiku.
Menyadari kehadiran ku dan teman-temanku, ia menoleh.
“Selamat
malam barbie nya Leo.” Sapa Juna dengan memamerkan senyum manis nya. Ia
menggunakan pakaian serba hitam dan tampak sebuah gitar ada di punggung nya.
“Apa
yang kau lakukan disini?” Tanyaku sambil kembali duduk di meja kami. Lucy dan
Shimizu pun mengikutiku.
“Tentu
saja menjalankan job.”
“Job?”
“Iya,
aku adalah vokalis sekaligus gitaris band. Band ku selalu mengisi panggung cafe
music live ini tiap malam minggu. Honor nya lumayan.” Ujar Juna menjelaskan
sambil memanggil pelayan untuk memesan susu vanilla.
“Anak
band minum susu?” Celetuk Shimizu. Juna spontan tertawa mendengar ucapan
Shimizu. Ia mulai menatap Shimizu dan memperhatikan nya. Dari tatapan nya aku
tahu ia sedang menilai penampilan Shimizu.
“Maaf nona
cantik, meminum susu adalah kebiasaan ku sebelum tampil. Apa terlihat aneh?
Atau kau ingin memberikan susu padaku? Aku sangat bersedia menghabiskan nya.”
Jawab Juna sambil tertawa. Aku menginjak kakinya dengan kencang. Ia menyeringai
kesakitan.
“Jangan
mengatakan sesuatu yang terdengar ambigu, atau kau ku usir dari meja ini.”
Ancam ku.
“Maaf,
maaf..” ujarnya sambil tertawa.
“Habisnya dia mengejekku, aku jadi ingin menjahili nya.” Lanjutnya masih
tertawa.
“Habisnya
hanya kau di cafe ini yang memakai baju ala-ala anak band, sangat mencolok.
Akan tetapi memesan susu vanilla.” Ujar Shimizu. Sebenarnya yang Juna gunakan
tidak begitu mencolok. Akan tetapi aku mengerti maksud dari mencolok yang
Shimizu katakan adalah berkharisma. Ia cukup manis untuk dipandangi
wanita-wanita di Cage ini.
“Mencolok?
Kau pikir hanya aku yang mencolok di Cafe ini? Kau juga nona.” Ujarnya menunjuk
syal bulu-bulu putih yang dikenakan Shimizu, Juna terdengar tidak mau kalah.
Pipi Shimizu memerah lagi.
“Baiklah..”
Ujar Shimizu menelan ludah. “Akan ku buka.” Ia melanjutkan kata-katanya. Dengan
ragu-ragu ia melepaskan syal bulu-bulunya. Tampak bagian dada dan bahu putih
nya terpancar. Aku tidak menyangka bahwa baju yang ia kenakan adalah dress
hitam tanpa tali di bahu dengan belahan segitiga yang cukup rendah. Aku, Lucy,
tak terkecuali Juna menganga karena kaget.
“Cepat
pakai lagi!” Seru ku dan Lucy heboh sambil memakaikan syal bulu-bulunya
kembali. Pantas saja ibunya menyuruh Shimizu menggunakan syal itu. Pantas saja
meskipun ditertawakan Lucy, ia tetap tidak melepasnya. Ternyata syal itu untuk
menutupi bagian atas tubuhnya. Lucy tampak menyesal menertawakan nya di
parkiran tadi.
“Astaga,
kenapa kau tidak bilang sih memakai baju itu?” Tanya Lucy keheranan.
Sedangkan aku sudah terbiasa menghadapi
gadis jepang ini. Jadi aku tidak begitu kaget. Shimizu memang selalu terlihat
mencolok dan elegant dimanapun. Mungkin sudah didikan ibu nya yang jago
fashion. Siapapun bisa menebak bahwa ia adalah putri konglomerat. Maka dari itu
pengawal pribadinya selalu menemani nya kemana-mana. Juna tidak mengucapkan
sepatah katapun setelah itu. Ia hanya menghabiskan susunya. Dengan jahil aku
membisiki Juna.
“Kau
tidak sadar ya?” Bisikku.
“Tidak
sadar apa?” Tanya nya bingung. Aku semakin sumringah.
“Dia
karyawan di Kedai ku tahu.” Bisikku
lagi, lalu tertawa. Belum sempat ia bertanya lebih banyak, MC sudah
memanggilnya untuk segera naik ke panggung. Ia membawakan sebuah alternative
rock bersama band nya. Lagu yang belum pernah ku dengar sebelum nya. Dan aku
akui, kharisma nya benar-benar terpancar diatas panggung. Seperti seorang
musisi profesional, ia dapat menyihir seluruh tamu disini. Semua orang memberi
tepuk tangan yang sangat meriah untuk band mereka. Dan untuk penampilan
keduanya, kali ini Juna akan membawakan lagu solo dengan gitar akustik nya,
tanpa ditemani para personil band nya.
“Selamat
malam ladies and gentleman...” Juna memberikan sebuah sambutan hangat kepada
para tamu. “Malam ini, saya akan membawakan sebuah lagu dari James Blunt berjudul
You’re Beautiful, yang diperuntukkan untuk gadis Jepang yang telah memberikan
sindiran pahit tapi begitu mempengaruhi pikiran hingga menyita perhatian saya.” Juna tersenyum dengan sangat manis sambil melihat kearah Shimizu.
Semua penonton bersorak heboh dan memberikan tepuk tangan. Sedangkan Shimizu,
aku, dan Lucy, hanya dapat terperangah tidak percaya dengan apa yang
terjadi. Ku lirik Shimizu benar-benar
merona saat itu juga.
My love is brilliant
My love is pure
Semua bernyanyi mengikuti Juna.
I saw an angel, of that im sure.
She smiled at me on the subway
She was with another man.
Entah mengapa ditengah lagu itu, ditengah suasana romantis
itu, aku justru merasakan hampa. Bayangan Leo kembali muncul. Lirik yang indah
itu berusaha menusuk ku.
But i won’t lose no sleep on that,
Cause i’ve got a plan.
You’re beautiful, you’re beautiful
You’re beautiful, it’s true..
I saw your face in a crowded place
And i don’t know what to
do, Cause i’ll never be with you.
Ya, lirik ini pas sekali. Setiap lirik nya membuka luka ku.
Teruskan begini, biarkan lirik ini mencabikku. Karena aku lebih suka jatuh
sekaligus dari pada setengah-setengah. Agar aku bisa menyadari betapa bodoh nya
aku. Aku menatap panggung dengan tersenyum. Yang aku sendiri tahu bahwa
senyuman yang ku sunggingkan adalah senyuman ironis menahan kenyataan yang
pahit.
***
-Next Chapter-

Comments
Post a Comment