Author POV
Di waktu yang bersamaan, saat
Liona sedang merasakan kepahitan nya, di sisi lain ada Lucy yang sedang
menyanyi sambil menutupi kesedihan nya akan patah hati. 4 tahun Lucy mencintai
sahabat kakak nya, tetapi cinta nya tak pernah terbalas sedikit pun. Lucy akan
menetapkan hatinya untuk move on. Ia telah bertekad, ia telah memilih, ia telah
berniat. Ia tahu bahwa move on tak akan berjalan tanpa niat. Dan dunia ini penuh pilihan, dunia
mengajarkan kita untuk memilih, memaksa kita untuk mengambil keputusan kearah
mana selanjutnya kita akan melangkah. Bahkan memaksa kita untuk memilih pada pilihan-pilihan yang kita tidak inginkan.
“Selama 4 tahun cintaku bertepuk
sebelah tangan.” Gurau nya sambil tetap memperhatikan panggung. Liona dan
Shimizu menoleh. “Semua ada batas nya bukan?”
“Tentu saja Lucy, kau pantas
bahagia. Kau memiliki hak untuk itu.” Jawab Shimizu.
“Kalau begitu, aku akan mengambil
keputusan.”
“Apa keputusan mu?” Tanya Shimizu
menunggu jawaban Lucy.
“Aku akan berpindah ke lain
hati.” Jawab nya dengan tenang.
“Dengan siapa?” Tanyaku Liona
penasaran.
“Sepertinya dengan dia.” Lucy
menunjuk Juna yang sedang bernyanyi. Liona tersedak, hampir saja dia
menyemburkan minuman yang sedang ia hirup.
“Bagaimana bisa? Tidak Lucy, kau
salah. Jangan gegabah.” Ujarku mengingatkan. Lucy terdiam, rahang nya mengeras.
“Lalu, aku harus bagaimana?”
Suara Lucy terdengar serak, ia berusaha menahan tangisan nya dengan mengepalkan
tangan nya. Akan tetapi usahanya tidak berhasil. Air matanya jatuh hingga
terisak. Untung saja suara Juna dan musik saat itu menutupi suara tangis nya.
Liona sadar, ada yang lebih patah hati dari nya. Ia pun memeluk sahabat nya
itu.
“Ku rasa itu memang salah, tapi
bisa menjadi benar jika dilakukan dengan cara lain.” Ujar Shimizu tiba-tiba
membuat kami kebingungan.
“Maksud mu?” Tanya Lucy dan Liona
serempak.
“Mungkin kita bisa memanfaatkan
pria itu. Aku dengar dia playboy kelas atas. Kau hanya perlu mendekatinya saat
ada Adimas, hanya untuk membuat nya cemburu. Seola-olah kau tidak lagi
mempedulikan nya. Kau tidak perlu mengencani nya, aku yakin Juna akan bersikap
lembut pada semua wanita.” Ujar Shimizu menjelaskan sambil memesan sebuah
minuman kepada pelayan. Tetapi kata-kata nya terdengar seperti mempertahankan
sesuatu, menjaga sesuatu yang penting. Sedikit protective.
“Ide yang bagus. Kau tak perlu
mengencani nya Lucy. Kau tidak perlu melakukan tindakan bodoh itu. Kau cukup
memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada. Aku akan mencoba membujuknya agar
sering mengunjungi kedai kita. Itu juga akan menambahkan penghasilan untuk kedai.”
Seru Liona menyeringai. Ia selalu bersemangat dengan sesuatu yang bisa
menghasilkan pendapatan kedai nenek nya.
“Lagi pula, aku dengar seseorang
akan merasa kehilangan ketika sesuatu yang terbiasa itu menghilang. Seseorang
akan sadar dengan perasaan nya saat ditinggal oleh si subjek. Seseorang akan
sadar ketika ia sudah kehilangan. Begitulah manusia. Tetapi itu hanya sekedar
pengetahuanku.” Jelas Shimizu dengan panjang. Liona menelan ludah mendengar
penjelasan sahabat nya itu. Kembali teringat pada nasib nya.
Di atas panggung, Juna telah selesai membawakan lagu nya.
Kini ia turun melangkah ke meja kami. Ia menyunggingkan sebuah senyuman yang
dapat membuat para wanita lemah. Akan tetapi, mendengar ia adalah seorang
playboy membuat ketiga wanita di meja itu tidak terpengaruh. Hanya saja Liona
masih berpikir, mengapa sahabat blasteran nya itu bisa tahu banyak tentang Juna.
Beberapa saat
kemudian Liona beranjak izin ke toilet, bersamaan dengan DJ yang kembali tampil
membawakan lagu trap nya. Di kerumunan orang yang berjoget, tak sengaja ia
menyenggol seorang pria bertubuh tinggi tegap, dengan setelan jas coklat muda
yang cukup simple tetapi elegant.
“Ups,
maaf.” Ujar Liona pada pria tersebut. Pria itu menoleh kepadanya. Tampak mata
berwarna hazel sama seperti warna mata Liona. Dengan rambut disisir amat sangat
rapih, ia tampak seperti pria teladan. Dari tampang dan berewok tipis nya, terlihat bahwa pria
tersebut berumur 3 tahun lebih tua dari Liona. Sesaat pria itu hening melihat
Liona. Dari raut wajah nya terlihat bahwa pria itu seperti tidak percaya
melihat kehadiran Liona. Ia mengucek mata nya seperti memastikan bahwa gadis
yang berada di hadapan nya benar-benar Liona. Tetapi sikap nya membuat Liona
sedikit risih dan mulai menjauh pergi ke toilet. Pria tersebut kembali dengan
kesadaran nya dan cepat-cepat menghabiskan minuman yang ada di gelas nya, lalu
berlari mengejar Liona. Akan tetapi terlambat, Liona sudah pergi dan tidak
terlihat lagi disekitar pria itu. Disaat yag bersamaan, Liona yang berada di
dalam toilet mulai merasa amat sangat pusing. Sakit kepala yang ia alami mulai
kumat lagi. Tetapi kali ini terasa dua kali lipat lebih parah. Ia mencoba
menghubungi Lucy dengan ponsel nya. Tetapi yang mengangkat adalah Juna.
“Halo, ada apa Liona? Lucy sedang mengambil
bill”
“Juna, tolong aku.” Sekeliling nya terlihat mulai gelap.
“Tolong? Ada apa? Kau dimana sekarang?”
“Segeralah
kesini, suruh siapapun. Aku tunggu di depan toilet wanita. Ku mohon cepatlah.”
Sambungan
pun terputus. Liona berhasil pergi keluar toilet dan menunggu seseorang
menjemput nya. Sesaat kemudian, ia mulai tidak sadar dan tak mengingat apa apa
lagi. Ia tenggelam dalam ketidaksadaran. Lalu kemudian seseorang mengguncangkan
tubuh nya. Liona tidak dapat melihat
jelas sosok yang berusaha menyadarkan nya, akan tetapi ia tahu orang tersebut
menggendong nya.
“Liona,
bangunlah. Ku mohon.” Suara itu lembut dan hangat tapi terdengar cemas. Membuat Liona tersadar bahwa
ia sedang berada di dalam mobil. Matanya masih mencoba mencerna semua yang ada
dihadapan nya, tetapi hembusan nafas pria membuat nya terlonjak kaget.
“Liona, hei, ini aku Leo.” Deg.
Sesaat jantung Liona berpacu cepat. Ia tidak menyangka bahwa seorang Leo
tiba-tiba saja berada disini menolong nya, Suatu kemustahilan. Dari sekian
banyak orang kenapa harus Leo?
“Dimana teman-teman ku?” Suara
serak Liona yang baru saja sadar begitu terdengar lemah.
“Akan ku jelaskan nanti, sekarang
biar aku mengantarmu pulang. Kau tidur saja.” Ujar Leo dengan penuh kecemasan.
Suaranya membuat Liona tenang.
“Jangan! Jangan bawa aku pulang
kerumah, ku mohon.” Seru Liona bersikeras tidak ingin pulang, membuat Leo
sedikit kaget tetapi kembali tenang. Hancur sudah rencana Liona malam ini utnuk
menghabiskan waktu dengan sahabat sahabat wanita nya. Ia bermaksud menginap
dirumah Shimizu akan tetapi keadaan tidak mendukung. Ia tidak mungkin pulang
sekarang, ayah nya pasti akan marah besar. Terutama mengetahui bahwa Liona
menghabiskan beberapa uang tabungan nya untuk pergi ke cafe mahal.
“Lalu, aku harus membawa mu
kemana? Ke Hotel?” Tanya Leo dengan lembut tetapi terdengar tidak senonoh dan
tidak pantas. Pipi Liona merona. Tetapi ia tidak bisa menjawab pertanyaan pria
yang ia sayangi itu.
“Baiklah, kita pergi kerumah ku.
Kau akan aman disana. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam. Lagipula aku Boss mu.” Ujar Leo dengan memberikan senyuman seindah bulan saat itu. Tetapi
mendengar kata bahwa Leo adalah Boss nya membuat Liona jengkel. Ia lelah harus
terus diperingati bahwa hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja. Bawahan
dengan atasan.
“Kalau begitu turunkan aku
sekarang.” Ujar Liona dengan sakit hati. Kepala nya terasa berdenyut. Sesaat ia
yakin bahwa ia akan terserang demam.
“Kau gila ya? Tidak akan. Aku Boss
mu. Aku berkewajiban memberikan keselamatan karyawan ku.”
“Apakah
pantas seorang office girl satu mobil dengan Boss nya? Tidak ada office girl
yang duduk bersebelahan dengan Boss nya di dalam mobil nya yang mewah. Sudah lah
Leo aku muak mendengarmu mengatakan bahwa kau adalah bos ku dan bagaimana
kewajiban-kewajiban mu. Itu semua Bullshit!” Seru ku sedikit membentak tetapi
tetap terdengar lemah. Energi belum kembali pulih. Bertengkar dengan nya justru
membuat kepalaku semakin sakit. Leo terperangah mendengar kata-kata ku. Ia
tidak percaya aku yang terkulai ini mengatakan hal seperti itu.
“Lagipula
ini bukan jam kerja. Kau adalah teman ku sekarang.” Ujar Liona melanjutkan. Ia
memegangi kepala nya yang sakit dan tetap menghadap jendela tanpa melihat Leo.
“Bagus,
kalau begitu kau pantas duduk didalam mobil ku. Kita pulang kerumah ku sekarang
dan tutup mulut bawel mu itu.” Ujar Leo dengan ketus membuat Liona skakmat.
Secara tidak langsung Liona membantu Leo menjawab pernyataan nya. Liona yang
bodoh. Tetapi pertengkaran itu membuat energi nya habis. Ia mulai tertidur
pulas dengan cepat. Leo memandangi gadis itu dengan penuh rasa kecemasan.
Dengan perlahan ia mengusap kepala gadis itu saat ia sedang tertidur. Lalu
lanjut mengendarai hingga tiba dirumah nya.
Leo membopong Liona ke dalam sebuah kamar besar penuh nuansa
coklat dan krem. Ia meletakkan gadis itu
ranjang lalu melepaskan sepatu dan jaket Liona. Leo merasakan demam yang
dialami Liona dan menyuruh seorang asisten rumah tangga nya untuk membawakan
sebuah baskom berisikan air panas beserta kain kompres. Dengan penuh
kelembutan, ia mengompres Liona hingga tertidur pulas tepat disebelahnya.
***
Sinar matahari pagi terpancar dari sela-sela jendela.
Membuat Liona terbangun. Ia kaget
sekaligus takjub melihat pria muda yang tampan terpapar sinar matahari pagi.
Sungguh indah. Liona mengelus kepala pria itu dengan lembut. Berharap ia
dilahirkan menjadi wanita yang pantas untuk Leo. Pria itu pun terbangun dari
tidur pulas nya, cepat-cepat Liona menjauhkan tangan nya dari kepala Leo.
“Selamat
pagi” Ujar Liona tersenyum. Leo masih menguap dan mencoba mengumpulkan energi.
“Kau
sudah bangun rupanya, apa kau baik-baik saja sekarang?” Tanya Leo penuh
kekhawatiran.
“Sudah
sangat baik. Terima kasih telah menolong ku. Aku tidak seharusnya berada
disini.” Ujar Liona dengan perasaan tidak enak.
“Tidak
masalah. tak perlu berpikir macam-macam,
untuk sekarang ini beristirahat lah. Aku sudah terlambat pergi ke
kantor, aku harus bekerja sekarang.”
“Aku
ikut,”
“Tidak
Liona. Kau istirahat disini sampai aku kembali pulang. Nanti sore aku akan
mengantarmu pulang, oke?” Ujar Leo dengan nada agak memerintah.
“Kau
selalu seperti Mr.Autocracy” Jawab Liona agak kesal.
“Mungkin
memang begitulah aku,” Leo tersenyum tanpa merasa salah sedikit pun. “Kau harus
makan. Kau bisa mandi di kamar ku nanti. Makanan akan disediakan oleh Asisten rumah
tangga ku. Bunyikan bel nya bila membutuhkan sesuatu, lalu dia akan datang.”
Leo pun pergi setelah menjelaskan. Liona tidak pernah menyangka bahwa bos
arogan nya itu bisa menjadi amat baik seperti ini. Ia berusaha menghilangkan
pikiran bahwa Leo telah memberikan perhatian lebih, Leo melakukan ini semua
hanya karena dia memang orang yang baik. Hanya itu.
Sarapan
telah disiapkan oleh Asisten rumah tangga Leo, meja makan yang cukup besar
untuk ukuran enam orang. Rumah ini begitu luas namun tampak sepi. Liona
bertanya-tanya kemana perginya penghuni rumah, namun sang asisten rumah tangga
alias Bibi Suri mengatakan bahwa Leo hanya tinggal sendirian disini. Seharusnya
Leo tinggal dengan ayah nya, akan tetapi ayah nya pindah kerja ke luar negeri
dengan alasan proyek yang lebih besar dan membutuhkan waktu beberapa tahun yang
membuat Leo harus menangani perusahaan ayah nya, mengambil alih sementara
meskipun mungkin sepertinya Leo tidak mau, tetapi itu adalah kewajiban nya.
Satu-satunya putra semata wayang yang akan menjadi penerus ayah nya.Ibu Leo
telah meninggal beberapa tahun silam. Tetapi Bibi Suri tidak menjelaskan
penyebab kematian ibu nya. Sejak Bibi Suri pertama datang ke rumah ini, Leo sudah
tidak memiliki ibu. Bibi Suri di pekerjakan ayah Leo untuk mengurus kebutuhan
Leo sehari-hari. Tiba-tiba saja Liona dapat merasakan kesepian yang Leo pasti
rasakan. Dan mereka berdua sama-sama tidak memiliki ibu. Liona bisa mengerti
mengapa Leo terlalu arogan, ia tidak pernah diajarkan menjadi seorang pria dengan kehangatan, dan naluri
seorang ibu. Tetapi sungguh salut bahwa Leo bisa menjadi pria yang hebat dan
sangat bertanggung jawab. Liona yakin itu hasil didikan ayah nya.
“Bi,
biarkan saya yang memasak makan malam untuk Leo.” Ujar Liona dengan senyuman cantik
hingga Bibi Suri mempersilahkan gadis itu
melakukan keinginan nya. Bibi Suri pun menabak-nebak apakah gadis di hadapan
nya adalah kekasih dari majikan nya, karena selama ini majikan nya itu tidak
pernah membawa satupun perempuan ke rumah nya.
***
Liona memarut keju diatas roti lapis berisi telur mata sapi
dan sosis goreng. Sarapan yang disedakan Bibi Suri itu disuguhi dengan segelas
kopi susu hangat.Tiba-tiba saja ponsel nya berdering, memunculkan sebuah nomor
yang tidak dikenal.
“Halo?”
“Ku mohon makan lah
yang banyak dan minum obat mu.” Liona tersedak saat mendengar suara Leo
darbicara dari sebrang sana.
“Bagaimana kau tahu
nomer ponsel ku?”
“Aku selalu bisa
mendapatkan apa yang aku mau Liona.” Ujar Leo terkekeh.
“Aku serius” Suara
tegas Liona membuat Leo berhenti tertawa.
“Tentu saja dengan
mudah ku dapatkan dari teman-teman mu. Dan aku yakin mereka bahkan dengan mudah,
secara gratis mau menyebarkan nomer mu ke om-om genit.”
“Sialan” Maki
Liona sambil menusuk sosis goreng nya. Leo kembali tertawa.
“ Kau boleh mandi
dikamar ku”
“Tidak akan.”
Jawab Liona dengan cepat dan ketus.
“Mengapa? Aku sudah
membayangkan itu akan terjadi.”
“Aku harap rem mobil
mu rusak.”
“Astaga, kau wanita
terkejam yang pernah ku temui. Ucapan adalah do’a Liona, kau akan menyesal dan
menangisi kepergian ku jika itu terjadi.” Ujar Leo terdengar kecewa. Liona
berpikir mungkin perkataan nya tadi memang kelewatan. Ia menelan ludah.
“Maafkan aku. Aku mohon berhati-hati lah, kau akan selamat
sampai tujuan.” Suaranya melembut penuh perhatian.
“Kalau begitu makan
lah, minum obat, dan mandi di kamar ku. Maka aku akan berhati-hati.”
Perintah Leo sambil terkekeh. Ia begitu menjebak.
“Aku sedang makan dan
kau sangat mengganggu ku sekarang.” Liona berbicara sambil mengunyah roti
lapis nya.
“Baiklah akan ku
matikan telfon nya.”
“Eh, Tunggu!”
“Apa?”
“Kau belum
memberitahuku kejadian semalam.”
“Akan ke ceritakan
setelah aku pulang kerja nanti.” Telfon pun berakhir.
-Next Chapter-

First of all... suka banget sama chapter ini!! Ada "proses" gitu :) Makin ke sini makin suka sama karakter Liona, karena dia digambarkan sebagai gadis mandiri, social, dan cerdas meskipun pekerjaannya belum di tingkat profesional. Di chapter ini juga ada sisi "playful"nya jadi makin sukaaaa wkwk
ReplyDeleteSuka sama transisi cerita dari Liona yang cenderung memikirkan kesedihannya sendiri, fokus cerita lalu menceritakan perhatian Liona ke teman - temannya juga ( yang ternyata ada yang "lebih" sedih dari dia )
Line fav di chap ini :
" Dan dunia ini penuh pilihan, dunia mengajarkan kita untuk memilih, memaksa kita untuk mengambil keputusan kearah mana selanjutnya kita akan melangkah. Bahkan memaksa kita untuk memilih pada pilihan-pilihan yang kita tidak inginkan. "
Suka juga sama karakter Leo. Profesional, playful, clever wkwk
Ya ampun ga nyangka ada yang bakal nilai seteliti itu! Kamu bener-bener menyimak dan menghayati. Aku sangat tersanjung dan berterima kasih kepada kamu yang mau memberikan waktunya untuk memberikan apresiasi dan pandangan kamu terahdap cerita ini :) - Big love from the writer X
Delete