Apa kalian tahu apa itu abu-abu? Bagaimana definisi kalian tentang abu-abu? Bagiku, Abu-Abu seperti warna hidupku. Abu-Abu itu tidak konsisten. Tidak memiliki tempat, ia berada diantara hitam dan putih, suci dan kotor, iya dan tidak. Abu-Abu adalah warna langit yang mendung, kelabu dan redup. Abu-Abu bagaikan sebuah tanda tanya yang selalu bertanya “Kemana aku harus melangkah?” bahkan Abu-Abu dapat melambangkan pertanyaan “Siapakah diriku?” Abu-Abu adalah ketidakpastian, ketidakstabilan, kebimbangan. Ia tidak pernah jelas. Ia tidak tahu jati diri.
Abu-Abu
adalah lambang hidupku. Entah sejak kapan aku mulai memiliki penilaian seperti
ini akan hidup ku sendiri. Tetapi memang begitulah kenyataan nya. Aku tidak pernah
ingat bagaimana aku dibesarkan, bahkan aku tidak pernah ingat bagaimana wajah
ibuku. Aku hanya pernah melihat fotonya, ia cantik. Kadang aku selalu
merindukan sosok seorang ibu. Aku telah lupa bagaimana rasanya kasih sayang.
Aku tinggal dengan nenek dan ayahku. Nenek ku adalah pemilik kedai kopi, ia
mengelola kedai itu sejak ayahku masih berkuliah, itulah yang ia ceritakan.
Entah bagaimana sepertinya aku memiliki penyakit pikun yang amat parah. Karena
aku benar-benar lupa bagaimana masa lalu ku. Bagaimana cerita tentang kehidupan
ku dari kecil. Nenek selalu bilang bahwa aku mengidap syndrom berat saat ibuku
meninggal, sehingga aku lupa bagaimana “sejarah” ku. Yang aku ingat hanyalah
aku terbangun dari mimpi panjang ku dan saat itu aku telah menginjak usia 12
tahun. Rasanya berat bukan? Memory dari seperempat hidup mu terhapus begitu
saja. Tidak tahu rasanya masa kecil.
Dan itu
adalah sekian abu dari abu-abu hidupku. Yang lebih abu-abu lagi adalah, aku
memiliki seorang ayah yang kejam. Ayah ku adalah pria yang tidak memiliki
pekerjaan. Aku tidak pernah tahu apa yang ia kerjakan di luar sana. Ia selalu
berangkat malam dan pulang siang. Ia tidak pernah memberikan waktunya untuk ku.
Tidak pernah sama sekali. Dan itu juga sejak ibuku meninggal. Aku tahu mungkin
itu semua adalah sebab dari kepergian ibu. Aku tahu ia merasa amat sangat
terpukul. Tetapi pernah kah ia menyadari bahwa aku lebih terpukul daripada dia?
Aku adalah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua nya.
Aku selalu memimpikan sebuah keluarga yang lengkap dan bahagia. Tetapi nasib
berkata lain untuk hidup ku, aku hanya dapat memandang mereka yang tertawa dan
menghabiskan waktu liburan mereka bersama dengan kedua orang tua mereka di luar
kota, di taman bermain, bahkan di acara Sekolah.
Hatiku
hancur. Aku merasa amat sangat sedih. Di dalam dunia yang penuh jutaan bahkan
milyaran orang ini, aku bahkan merasa kesepian. Aku selalu berdoa suatu saat
nanti ketika aku terbangun dari tidur ku, ternyata ini semua hanyalah mimpi,
tapi kenyataan nya tidak. Kenyataan nya justru adalah sebaliknya. Aku bermimpi
menghabiskan waktu dan mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua ku, dan
ketika aku terbangun, aku menangis terisak memeluk guling. Sakit, ya rasanya
sakit sekali. Setiap acara kelulusan, yang datang hanyalah nenek ku. Setiap
mengambil rapot dan piala yang hadir selalu nenek ku. Ketika aku banyak
memenangkan lomba, yang hadir hanyalah nenek ku. Tidak ada kehadiran ayahku
sama sekali. Tidak pernah. Padahal selama ini aku berjuang, belajar
mati-matian, berusaha mendapatkan banyak piala dan mendali hanya agar ayahku
dapat melihat ku. Agar ayahku sadar bahwa ia masih memiliki anak yang berusaha
membanggakan dia.
Tetapi
usahaku selalu saja sia-sia, ia hanya berkata “oh” ketika nenek menceritakan
prestasiku. Bahkan hingga aku kuliah dan mulai mencari kerja part-time. Aku
sempat senang ketika ayahku lebih sering datang kerumah semenjak aku kerja.
Tetapi nyata nya, alasan ia datang kerumah hanyalah untuk meminta uang gajian
ku. Setiap aku gajian, ia selalu pulang kerumah lebih cepat dan segera menagih
gaji ku layak nya seorang rentenir atau pemalak. Ia selalu berkata bahwa ia
tidak memiliki pekerjaan dan uang saku nya selalu habis. Untuk mencari
pekerjaan, ia butuh ongkos. Pernah aku menolak untuk memberi kan uang ku, dan
pada akhirnya aku mendapatkan banyak luka di tubuhku. Ia selalu memukul ku
dengan ikat pinggang nya, atau sapu lidi, dan melemparku dengan rokok nya yang
masih menyala, sehingga banyak memar disekujur tubuh ku. Karena aku takut itu
akan terulang lagi, akhirnya aku selalu menurut tiap ia menagih uang. Nenek
selalu berusaha membantu ku, akan tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa dan
menangis melihat ku. Karena aku tidak ingin dia terkena serangan jantung atau
stres karena tingkah laku putra nya, aku selalu tersenyum ketika ia mengkhawatirkan
aku, dengan memar ditubuh dan wajahku, aku memberinya senyuman dan berkata “Aku
baik-baik saja, aku sudah biasa dengan semua ini”.
***
Adimas POV.
Aku menelfon nomer ponselnya
tetapi tidak diangkat-angkat. Sudah dua jam aku menunggu kabar dari nya, tetapi
tidak ada jawaban sama sekali. Tidak biasanya Lucy seperti ini. Aku telah
mengenal Lucy sejak 5 tahun yang lalu, saat ia masih SMP. Aku ingat sekali saat
pertama kali bertemu dengan nya, ia masih sangat lugu dan polos. Aku selalu
mengusap kepala nya karena ia terlihat imut. Lucy adalah adik dari sahabat ku.
Tetapi semakin ia beranjak dewasa, kelakuan nya semakin berubah. Ia sudah lebih
berani melawanku. Meskipun aku tahu aku bukan kakak nya. Aku tahu Lucy tidak akan
selamanya lugu dan polos seperti dulu, ia akan berubaha seiring dengan waktu.
Lucy yang sekarang bukan lah Lucy yang dulu. Bahkan sekarang ia sudah berani
tidak mengangkat telfon ku. Aku mondar-mandir melihat jam, jika ia tidak segera
memberiku kabar untuk dijemput, kami akan telat bekerja. Dengan tidak peduli
aku pun mengambil kunci motor ku yang dihiasi gantungan boneka bebek berwarna
merah muda pemberian Lucy, lalu mulai meluncur kerumah Lucy.
“Ting..Tong..” Sudah lima kali
aku memencet bel tetapi tidak ada yang keluar. Aku menekan nomor Aldi.
“Halo?”
“Halo, di? Dirumah mu tidak ada orang ya?”
“Orang rumah? Ada Lucy kok.”
“Kok tidak ada yang keluar?”
“Serius, ada Lucy. Coba masuk, tadi sepertinya dia merasa tidak enak
badan.”
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi sih? Aku masuk ya.”
“Jangan nakal dengan adik ku ya.”
“Berisik.”
Aku menutup telefon. Lucy.. Aku
khawatir.
Aku masuk ke dalam rumah Lucy dan bergegas menuju ke kamar
nya dengan panik.
“Lucy?
Kau di dalam? Ini aku Adimas.”
“Masuk
saja.” Lucy menjawab sahutan ku. Dengan berhati-hati aku masuk kedalam kamar
nya, meski sudah sering kali aku berada dirumah ini, tetapi tetap saja kamar
Lucy adalah tempat yang paling asing untuk ku injak. Ku lihat Lucy sedang
berbaring dengan ditutupi selimut tebal. Ia bersembunyi di dalam selimut
seperti sebuah kepompong, betapa lucu nya. Ia menatap ku, wajahnya merah karena
demam. Aku mengecek suhu tubuh nya yang sekarang mencapai 38,5 derajat.
“Astaga Lucy, demam mu tinggi sekali. Tunggu
disini aku akan segera kembali.” Aku menuju ruang tamu dan menelfon Liona
sekaligus Aldi untuk memberitahukan keadaan Lucy.
“Ada apalagi dim? Sudah bertemu adik ku?”
“Kau gila ya? Dia demam 38,5
derajat man!”
“What the hell are you? Ok, i”ll
be there in two hours.”
“Lamban”
“Ini kota macet dan aku harus
membatalkan janji dengan klien dulu.”
“Cepatlah, aku khawatir dengan
keadaan nya.”
“Hmm.. Kau menyukai adik ku ya?”
***
Lucy POV.
Aku tahu sekarang sudah telat jika aku harus berangkat
kerja. Aku ingin menghubungi Adimas tetapi kepala ku terasa sangat berat,
wajahku terasa panas, nafas ku terasa panas, bahkan mataku terus mengeluarkan
air . Aku tidak sanggup mencari hp ku yang entah kemana. Pagi tadi demam ku
tidak separah ini, bahkan aku berniat untuk tetap masuk kerja, kakakku Aldi dan
kedua orangtua ku sudah pergi menjalani aktivitas mereka sehari-hari. Aku hanya
bisa pasrah menunggu seseorang datang. Dan beberapa saat kemudian, aku
mendengar suara bel. Tetapi aku tidak bisa membukakan pintu. Selang beberapa
saat, Adimas sudah berada didepan
kamarku dan menemui aku yang terbaring lemah. Syukurlah.
Aku
sangat senang Adimas yang datang. Memang yang aku butuhkan sekarang ini adalah
dirinya, dan ketika aku mendengar Adimas di ruang tamu, ia sedang menelfon
Liona. Bahkan disaat aku sakit seperti ini, ia masih sempat menghubungi Liona.
Aku tahu aku tidak boleh berpikiran seperti itu, tetapi saat ini demam telah
membuatku terlalu sensitif.
“Halo Liona?”
“...”
“Maaf aku dan Lucy tidak bisa
membantumu bekerja hari ini. Lucy demam tinggi.”
“...”
“Jangan merindukan aku ya
sweetheart.”
“...”
“Baiklah terima kasih Lion, akan
ku sampaikan pada Lucy.”
Ia menutup telefon.Dan mulai
menelfon kakak ku.
Jangan memanggil nya sweetheart aku mohon. Gumamku dalam
hati dan aku mulai batuk-batuk. Adimas datang sepuluh menit kemudian membawa
sebuah baskom berisi air hangat dan kain kompres, lalu segelas teh manis panas
beraroma apel.
“Aku
kembali, maaf telah membuat mu menunggu.” Ujarnya tersenyum, aku hanya mengangguk.
Ia mulai meng-kompres kening ku,dan sesekali menyuruhku bangun untuk menghirup
teh manis panas buatan nya. Bahkan ketika aku demam tinggi, aku masih bisa
merasakan kehangatan dari tangan nya. Tangan yang selalu memperlakukan aku
lembut, tangan yang selalu mengusap kepalaku. Ia menatap ku penuh arti, untuk
beberapa lama. Ia terlihat sangat khawatir, rambut nya acak-acakan. Usai
meng-kompresku, ia memberikan senyum yang indah.
“Mau
kemana kau?” Tanya ku menahan nya bangkit dari kamar ku. Ia kembali duduk dan
mendekatiku.
“Aku tidak akan kemana-mana, aku akan menemani mu disini.
Jangan khawatir Lucy.” Ujar Adimas lembut sambil mengusap-usap kepalaku. Lalu
perlahan ia mengecup kening ku.
“Adimas,
bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Katakan
saja”
“Kenapa
kau begitu baik dan lembut kepadaku?”
Ia
tersenyum hangat.
“Itu
karena kau sudah aku anggap seperti adikku sendiri.”
Aku terdiam. Kata-kata barusan membuat hatiku hancur berekeping-keping. Tiba-tiba saja aku merasa sesak dan pedih. Tetapi sebisa mungkin aku tersenyum dan menahan air mataku. Tak berapa lama kemudian ia izin ke dapur untuk membersihkan piring makan ku. Dan aku mengiyakan.
Aku terdiam. Kata-kata barusan membuat hatiku hancur berekeping-keping. Tiba-tiba saja aku merasa sesak dan pedih. Tetapi sebisa mungkin aku tersenyum dan menahan air mataku. Tak berapa lama kemudian ia izin ke dapur untuk membersihkan piring makan ku. Dan aku mengiyakan.
Mengapa kau tidak bisa mencintaiku Adimas? Mengapa?
Air mata yang ku bendung kini
tak bisa ku cegah lagi, aku menangis. Aku menangis terisak. Tangisan dari lima
tahun yang lalu hingga sekarang.
15 menit kemudia Adimas kembali ke kamarku. Sebisa mungkin
aku menutupi sisa tangisan ku. Aku mencoba menghadap jendela, berusaha
menghindari tatapan nya.
“Lucy?
Berbaliklah, aku disini bersamamu.”
“Ya,
aku tahu.” Ujarku dengan suara masih pilu.
“Lucy?
Kau menangis?”
“Tidak.”
“Lucy!
Berbaliklah menghadapku! Tatap aku!”
“Tidak
mau”
“Lucy!”
Seru nya sambil menarik tubuhku berbalik, ia terkejut melihatku menangis. Lalu
terdiam tidak berbicara apa-apa. Ia seperti tidak dapat berkutik.
“Mengapa
kau menangis? Apa yang sakit?” Ia terdengar khawatir dan penuh perhatian. Aku
tahu apa yang harus ku lakukan sekarang.
“Aku
baik-baik saja” Jawabku sambil berusaha memberikan sebuah senyuman untuk
menutupi kesedihan ku ini. Raut wajah
Adimas seketika berubah, layaknya seorang pria yang terpukul dan merasa
bersalah atas perbuatan nya. Aku tahu, Adimas menyadari bahwa senyum yang ku berikan adalah
palsu.
-Next Chapter-

Comments
Post a Comment