Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 6


Apa kalian tahu apa itu abu-abu? Bagaimana definisi kalian tentang abu-abu? Bagiku, Abu-Abu seperti warna hidupku. Abu-Abu itu tidak konsisten. Tidak memiliki tempat, ia berada diantara hitam dan putih, suci dan kotor, iya dan tidak. Abu-Abu adalah warna langit yang mendung, kelabu dan redup. Abu-Abu bagaikan sebuah tanda tanya yang selalu bertanya “Kemana aku harus melangkah?” bahkan Abu-Abu dapat melambangkan pertanyaan “Siapakah diriku?” Abu-Abu adalah ketidakpastian, ketidakstabilan, kebimbangan. Ia tidak pernah jelas. Ia tidak tahu jati diri.

                Abu-Abu adalah lambang hidupku. Entah sejak kapan aku mulai memiliki penilaian seperti ini akan hidup ku sendiri. Tetapi memang begitulah kenyataan nya. Aku tidak pernah ingat bagaimana aku dibesarkan, bahkan aku tidak pernah ingat bagaimana wajah ibuku. Aku hanya pernah melihat fotonya, ia cantik. Kadang aku selalu merindukan sosok seorang ibu. Aku telah lupa bagaimana rasanya kasih sayang. Aku tinggal dengan nenek dan ayahku. Nenek ku adalah pemilik kedai kopi, ia mengelola kedai itu sejak ayahku masih berkuliah, itulah yang ia ceritakan. Entah bagaimana sepertinya aku memiliki penyakit pikun yang amat parah. Karena aku benar-benar lupa bagaimana masa lalu ku. Bagaimana cerita tentang kehidupan ku dari kecil. Nenek selalu bilang bahwa aku mengidap syndrom berat saat ibuku meninggal, sehingga aku lupa bagaimana “sejarah” ku. Yang aku ingat hanyalah aku terbangun dari mimpi panjang ku dan saat itu aku telah menginjak usia 12 tahun. Rasanya berat bukan? Memory dari seperempat hidup mu terhapus begitu saja. Tidak tahu rasanya masa kecil. 

                Dan itu adalah sekian abu dari abu-abu hidupku. Yang lebih abu-abu lagi adalah, aku memiliki seorang ayah yang kejam. Ayah ku adalah pria yang tidak memiliki pekerjaan. Aku tidak pernah tahu apa yang ia kerjakan di luar sana. Ia selalu berangkat malam dan pulang siang. Ia tidak pernah memberikan waktunya untuk ku. Tidak pernah sama sekali. Dan itu juga sejak ibuku meninggal. Aku tahu mungkin itu semua adalah sebab dari kepergian ibu. Aku tahu ia merasa amat sangat terpukul. Tetapi pernah kah ia menyadari bahwa aku lebih terpukul daripada dia? Aku adalah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua nya. Aku selalu memimpikan sebuah keluarga yang lengkap dan bahagia. Tetapi nasib berkata lain untuk hidup ku, aku hanya dapat memandang mereka yang tertawa dan menghabiskan waktu liburan mereka bersama dengan kedua orang tua mereka di luar kota, di taman bermain, bahkan di acara Sekolah. 

                Hatiku hancur. Aku merasa amat sangat sedih. Di dalam dunia yang penuh jutaan bahkan milyaran orang ini, aku bahkan merasa kesepian. Aku selalu berdoa suatu saat nanti ketika aku terbangun dari tidur ku, ternyata ini semua hanyalah mimpi, tapi kenyataan nya tidak. Kenyataan nya justru adalah sebaliknya. Aku bermimpi menghabiskan waktu dan mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua ku, dan ketika aku terbangun, aku menangis terisak memeluk guling. Sakit, ya rasanya sakit sekali. Setiap acara kelulusan, yang datang hanyalah nenek ku. Setiap mengambil rapot dan piala yang hadir selalu nenek ku. Ketika aku banyak memenangkan lomba, yang hadir hanyalah nenek ku. Tidak ada kehadiran ayahku sama sekali. Tidak pernah. Padahal selama ini aku berjuang, belajar mati-matian, berusaha mendapatkan banyak piala dan mendali hanya agar ayahku dapat melihat ku. Agar ayahku sadar bahwa ia masih memiliki anak yang berusaha membanggakan dia.

                Tetapi usahaku selalu saja sia-sia, ia hanya berkata “oh” ketika nenek menceritakan prestasiku. Bahkan hingga aku kuliah dan mulai mencari kerja part-time. Aku sempat senang ketika ayahku lebih sering datang kerumah semenjak aku kerja. Tetapi nyata nya, alasan ia datang kerumah hanyalah untuk meminta uang gajian ku. Setiap aku gajian, ia selalu pulang kerumah lebih cepat dan segera menagih gaji ku layak nya seorang rentenir atau pemalak. Ia selalu berkata bahwa ia tidak memiliki pekerjaan dan uang saku nya selalu habis. Untuk mencari pekerjaan, ia butuh ongkos. Pernah aku menolak untuk memberi kan uang ku, dan pada akhirnya aku mendapatkan banyak luka di tubuhku. Ia selalu memukul ku dengan ikat pinggang nya, atau sapu lidi, dan melemparku dengan rokok nya yang masih menyala, sehingga banyak memar disekujur tubuh ku. Karena aku takut itu akan terulang lagi, akhirnya aku selalu menurut tiap ia menagih uang. Nenek selalu berusaha membantu ku, akan tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa dan menangis melihat ku. Karena aku tidak ingin dia terkena serangan jantung atau stres karena tingkah laku putra nya, aku selalu tersenyum ketika ia mengkhawatirkan aku, dengan memar ditubuh dan wajahku, aku memberinya senyuman dan berkata “Aku baik-baik saja, aku sudah biasa dengan semua ini”. 

***


Adimas POV.

Aku menelfon nomer ponselnya tetapi tidak diangkat-angkat. Sudah dua jam aku menunggu kabar dari nya, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Tidak biasanya Lucy seperti ini. Aku telah mengenal Lucy sejak 5 tahun yang lalu, saat ia masih SMP. Aku ingat sekali saat pertama kali bertemu dengan nya, ia masih sangat lugu dan polos. Aku selalu mengusap kepala nya karena ia terlihat imut. Lucy adalah adik dari sahabat ku. Tetapi semakin ia beranjak dewasa, kelakuan nya semakin berubah. Ia sudah lebih berani melawanku. Meskipun aku tahu aku bukan kakak nya. Aku tahu Lucy tidak akan selamanya lugu dan polos seperti dulu, ia akan berubaha seiring dengan waktu. Lucy yang sekarang bukan lah Lucy yang dulu. Bahkan sekarang ia sudah berani tidak mengangkat telfon ku. Aku mondar-mandir melihat jam, jika ia tidak segera memberiku kabar untuk dijemput, kami akan telat bekerja. Dengan tidak peduli aku pun mengambil kunci motor ku yang dihiasi gantungan boneka bebek berwarna merah muda pemberian Lucy, lalu mulai meluncur kerumah Lucy.

“Ting..Tong..” Sudah lima kali aku memencet bel tetapi tidak ada yang keluar. Aku menekan nomor Aldi. 

“Halo?”
“Halo, di? Dirumah mu tidak ada orang ya?”
“Orang rumah? Ada Lucy kok.”
“Kok tidak ada yang keluar?”
“Serius, ada Lucy. Coba masuk, tadi sepertinya dia merasa tidak enak badan.”
“Kenapa kau tidak bilang dari tadi sih? Aku masuk ya.”
“Jangan nakal dengan adik ku ya.”
“Berisik.”
Aku menutup telefon.  Lucy.. Aku khawatir.

Aku masuk ke dalam rumah Lucy dan bergegas menuju ke kamar nya dengan panik.

                “Lucy? Kau di dalam? Ini aku Adimas.”

                “Masuk saja.” Lucy menjawab sahutan ku. Dengan berhati-hati aku masuk kedalam kamar nya, meski sudah sering kali aku berada dirumah ini, tetapi tetap saja kamar Lucy adalah tempat yang paling asing untuk ku injak. Ku lihat Lucy sedang berbaring dengan ditutupi selimut tebal. Ia bersembunyi di dalam selimut seperti sebuah kepompong, betapa lucu nya. Ia menatap ku, wajahnya merah karena demam. Aku mengecek suhu tubuh nya yang sekarang mencapai 38,5 derajat.

                “Astaga Lucy, demam mu tinggi sekali. Tunggu disini aku akan segera kembali.” Aku menuju ruang tamu dan menelfon Liona sekaligus Aldi untuk memberitahukan keadaan Lucy. 

                “Ada apalagi dim? Sudah bertemu adik ku?”
                “Kau gila ya? Dia demam 38,5 derajat man!”
                “What the hell are you? Ok, i”ll be there in two hours.”
                “Lamban”
                “Ini kota macet dan aku harus membatalkan janji dengan klien dulu.”
                “Cepatlah, aku khawatir dengan keadaan nya.”
                “Hmm.. Kau menyukai adik ku ya?”

***


Lucy POV.

             



            Aku tahu sekarang sudah telat jika aku harus berangkat kerja. Aku ingin menghubungi Adimas tetapi kepala ku terasa sangat berat, wajahku terasa panas, nafas ku terasa panas, bahkan mataku terus mengeluarkan air . Aku tidak sanggup mencari hp ku yang entah kemana. Pagi tadi demam ku tidak separah ini, bahkan aku berniat untuk tetap masuk kerja, kakakku Aldi dan kedua orangtua ku sudah pergi menjalani aktivitas mereka sehari-hari. Aku hanya bisa pasrah menunggu seseorang datang. Dan beberapa saat kemudian, aku mendengar suara bel. Tetapi aku tidak bisa membukakan pintu. Selang beberapa saat, Adimas  sudah berada didepan kamarku dan menemui aku yang terbaring lemah. Syukurlah.

                Aku sangat senang Adimas yang datang. Memang yang aku butuhkan sekarang ini adalah dirinya, dan ketika aku mendengar Adimas di ruang tamu, ia sedang menelfon Liona. Bahkan disaat aku sakit seperti ini, ia masih sempat menghubungi Liona. Aku tahu aku tidak boleh berpikiran seperti itu, tetapi saat ini demam telah membuatku terlalu sensitif. 


                “Halo Liona?”
                “...”
                “Maaf aku dan Lucy tidak bisa membantumu bekerja hari ini. Lucy demam tinggi.”
                “...”
                “Jangan merindukan aku ya sweetheart.”
                “...”
                “Baiklah terima kasih Lion, akan ku sampaikan pada Lucy.”
                Ia menutup telefon.Dan mulai menelfon kakak ku.


Jangan memanggil nya sweetheart aku mohon. Gumamku dalam hati dan aku mulai batuk-batuk. Adimas datang sepuluh menit kemudian membawa sebuah baskom berisi air hangat dan kain kompres, lalu segelas teh manis panas beraroma apel.

                “Aku kembali, maaf telah membuat mu menunggu.” Ujarnya tersenyum, aku hanya mengangguk. Ia mulai meng-kompres kening ku,dan sesekali menyuruhku bangun untuk menghirup teh manis panas buatan nya. Bahkan ketika aku demam tinggi, aku masih bisa merasakan kehangatan dari tangan nya. Tangan yang selalu memperlakukan aku lembut, tangan yang selalu mengusap kepalaku. Ia menatap ku penuh arti, untuk beberapa lama. Ia terlihat sangat khawatir, rambut nya acak-acakan. Usai meng-kompresku, ia memberikan senyum yang indah.

                “Mau kemana kau?” Tanya ku menahan nya bangkit dari kamar ku. Ia kembali duduk dan mendekatiku.

                “Aku tidak akan kemana-mana, aku akan menemani mu disini. Jangan khawatir Lucy.” Ujar Adimas lembut sambil mengusap-usap kepalaku. Lalu perlahan ia mengecup kening ku.

                “Adimas, bolehkah aku bertanya sesuatu?”
                “Katakan saja”
                “Kenapa kau begitu baik dan lembut kepadaku?”

                Ia tersenyum hangat.

                “Itu karena kau sudah aku anggap seperti adikku sendiri.”

Aku terdiam. Kata-kata barusan membuat hatiku hancur berekeping-keping.  Tiba-tiba saja aku merasa sesak dan pedih. Tetapi sebisa mungkin aku tersenyum dan menahan air mataku. Tak berapa lama kemudian ia izin ke dapur untuk membersihkan piring makan ku. Dan aku mengiyakan.


Mengapa  kau tidak bisa mencintaiku Adimas? Mengapa?

 Air mata yang ku bendung kini tak bisa ku cegah lagi, aku menangis. Aku menangis terisak. Tangisan dari lima tahun yang lalu hingga sekarang.


15 menit kemudia Adimas kembali ke kamarku. Sebisa mungkin aku menutupi sisa tangisan ku. Aku mencoba menghadap jendela, berusaha menghindari tatapan nya.
                “Lucy? Berbaliklah, aku disini bersamamu.”
                “Ya, aku tahu.” Ujarku dengan suara masih pilu.
                “Lucy? Kau menangis?”
                “Tidak.”
                “Lucy! Berbaliklah menghadapku! Tatap aku!”
                “Tidak mau”
                “Lucy!” Seru nya sambil menarik tubuhku berbalik, ia terkejut melihatku menangis. Lalu terdiam tidak berbicara apa-apa. Ia seperti tidak dapat berkutik.

                “Mengapa kau menangis? Apa yang sakit?” Ia terdengar khawatir dan penuh perhatian. Aku tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. 

                “Aku baik-baik saja” Jawabku sambil berusaha memberikan sebuah senyuman untuk menutupi kesedihan ku ini.  Raut wajah Adimas seketika berubah, layaknya seorang pria yang terpukul dan merasa bersalah atas perbuatan nya. Aku tahu, Adimas  menyadari bahwa senyum yang ku berikan adalah palsu.

-Next Chapter-



Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...