Skip to main content

Ingatan Abu-abu - Chapter 4



Pagi ini aku akan bertemu dengan sahabat lama ku, Shimizu. Ia adalah gadis blasteran jepang indonesia. Ibu nya adalah orang jepang, dan ayah nya adalah orang indonesia. Sangat langka. Dua insan yang berasal dari negara yang pernah membuat sejarah perang di pelajaran Sejarah ku. Sambil menunggu nya di restoran ini, aku membuka hp dan memainkan sebuah social game. Dasar Introvert. Gumamku pada diri sendiri.

“Lionaaa!!” Suara dari kejauhan memanggilku, tidak salah lagi itu pasti Shimizu. Aku menoleh kebelakang. Shimizu berlari ke arahku sambil tertawa dengan menggunakan mantel berwarna maroon, tas merk Gucci, jam tangan merk Alexander Christie, dan sepatu sandal merk Stuart Weitzman. Aku yakin sekali parfum nya merk channel. Wangi yang khas. Dasar gadis konglomerat. Kacamata dan rambut kepang satu nya masih sama seperti dulu, menampilkan seorang gadis yang sangat polos dan lugu.

“Shimizu!! Aku sangat merindukan mu, astaga!” Aku memeluk nya. 

“Aku lebih merindukanmu Liona sayangku!  Kau semakin cantik saja.”

“Dan kau semakin terlihat glamour.”

“Glamour tapi tidak punya teman, untuk apa semua ini?” Raut wajah nya berubah sedih. Aku ingat sekali pertama kali aku bertemu dengan nya, ketika aku menolong ia dari sekelompok cewek-cewek yang sering kali membully Shimizu di sekolah. Karena Shimizu adalah seorang gadis lugu dan kaya raya, ia sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang. Apalagi ia blasteran Jepang. Ia terlalu mencolok untuk orang-orang yang rasis.

“Oh Shimizu sayang, apakah kehidupan kuliah mu menyenangkan? Apa ada yang membully mu lagi? Katakan saja padaku biar ku hajar mereka!” Seru ku kesal.

“Tidak, tidak apa-apa Liona. Setidak nya kehidupan kuliah ku lebih baik daripada zaman SMA dulu. Aku tahu aku tidak boleh terus-terusan bergantung padamu.” Katanya sambil tersenyum manis. Aku memeluknya.

“Lalu, apa kau serius ingin melamar kerja sambilan di Kedai Kopi Nenek?”

“Tentu saja”

“Untuk apa Shimizu? Kau sudah berkecukupan, kau tidak perlu melakukan ini. Lebih baik kau belajar yang benar dan kelola apa yang sudah kau miliki.”

“Aku tahu Liona, aku sudah menebak kau akan berkata begitu. Orang tua ku pun begitu. Tetapi mengertilah Liona, yang aku butuhkan adalah kehidupan sosial dan kemandirian. Aku butuh teman dan aku butuh belajar untuk tidak bergantung pada kekayaan ku. Aku butuh dirimu.”

Aku terselak minuman ku dan batuk.

“ZZZZZ... Aku tidak Lesbi Liona, aku normal.”

“Habisnya kata-katamu agak sedikit menjijikan.” Ujarku lalu tertawa.

“Sial, kau selalu to the point dan jujur seperti biasanya.”

“Dan kau selalu memaafkan ku bukan?” Kami pun tertawa bersama.

“Baiklah Shimizu, aku akan sampaikan surat lamaran mu ini ke nenek. Aku yakin nenek akan mengerti.”

“Tentu saja, meskipun kedai itu milik nenek mu, tetapi kau yang hampir sepenuhnya mengelola tempat itu. Aku yakin nanti nya Kedai itu akan diwariskan padamu.” Ujar Shimizu memakan sandwitch nya.

“Entah lah, kau mengenal ayahku seperti apa kan.” Shimizu terdiam mendengar kata-kata ku. Tiba-tiba seorang pria berjas hitam formal datang menghampiri meja kami.

“Nona Shimizu, anda sudah ditunggu tuan besar dirumah.” Ujar pria itu.

“Sial, kau membawa pengawal baru.”  Shimizu tertawa melihat ku yang terperangah.

“Dia supir ku, bukan pengawal ku. Aku tidak butuh pengawal jika aku bersama dengan mu. Aku yakin aikido mu lebih kuat daripada pukulan pengawalku.” Ia berceloteh sambil tertawa dengan riang. Aku sangat senang melihat nya tertawa daripada menangis seperti dulu. Melihat Shimizu seperti melihat Leo. Anak-anak bertakdir kaya raya yang tidak mau memanfaatkan uang orang tua nya. Karena bagi mereka, kekayaan itu adalah milik orang tua mereka, bukan milik mereka. Aku salut. Tetapi kenapa aku jadi memikirkan Leo sih?

***
Lucy POV.

Aku memperhatikan nya yang sedang memasak. Ia adalah chef yang sangat ahli. Harusnya ia bekerja di restaurant bintang lima. Dan harusnya harga menu makanan disini lebih dinaikkan karena rasa yang cafe kami berikan tidak jauh berbeda dengan cafe-cafe mahal. Aku heran kenapa ia memilih kerja sambilan disini. Sejak aku bercerita padanya tentang ketertarikan ku pada Kedai Kopi ini, ia pun mengantarkan ku di hari pertamaku bekerja disini dan bertemu dengan Liona selaku kepala pelayan sekaligus manajer Kedai Kopi Nenek. Lalu tiba-tiba saja ia berniat ikut bekerja disini. Awalnya aku memang senang, tetapi aku baru menyadari bahwa alasan Adimas bekerja disini adalah Liona. 

Adimas memanggilku, “Apa yang kau lakukan Lucy? Cepat kesini bantu aku.”

“Baik” Jawabku dengan segera. Sambil membantu nya memotong buah, aku mengingat pertama kali aku bertemu dengan nya. Aku sudah mengenal Adimas sejak 5 tahun yang lalu. Saat aku pulang sekolah dan memanggil kakakku yang ternyata membawa teman nya kerumah.  Adimas adalah sahabat kakak ku. Ia sering sekali bermain dirumah, bahkan menginap. Dan sudah 5 tahun juga aku menyukai nya. Tetapi Adimas tidak menyadari itu. Ia tak pernah melihatku sebagai wanita.

“Lucy?” Panggil nya memecah lamunan ku.

“Ah, ya ada apa?”

“Kau sakit?”

“Tidak, aku..” Belum sempat aku menyelesaikan kata-kata ku, Adimas sudah menaruh tangan nya di dahi ku untuk mengecek suhu tubuh ku.

“Sepertinya kau demam, badan mu hangat dan wajahmu memerah.” Aku langsung menepis tangan nya.

“Itu karena kau terlalu dekat bodoh! Menjauhlah, dasar om-om genit!” Omel ku karena salah tingkah. Irama jantung ku tidak beraturan.

“Hah? Om-om genit? Aku itu berniat baik ingin menolong mu Lucy.”

“Sudahlah tak usah peduli kan aku.”

“Tak usah pedulikan kamu? Baiklah, aku tak akan mengantar mu pulang hari ini.” Ujar Adimas tak acuh sambil menghias parfait.

 Sial.

“Aduh kak Adimas, rasanya aku memang demam.” Sahutku cepat-cepat menarik kata-kataku barusan dan berpura-pura sakit. Jika tidak ada dia bagaimana caranya aku pulang kalau shift sampai malam.

“Cih, dasar anak ini. Sini ku beri hukuman!” Ujar nya kesal tetapi tersenyum jahil.  Dan benar dugaan ku, dia mencubit hidung ku hingga merah sambil tertawa-tawa dan mengataiku hidung tomat.

***
Liona POV.

Pekerjaanku semakin hari semakin bertambah banyak dan berat. Apalagi sebentar lagi perusahaan ini akan merayakan ulang tahun nya. Pesta apa yang akan dibuat oleh perusahaan ini?

Selesai berkerja, aku pun bergegas ke Kedai Kopi untuk part-time. Tidak sengaja aku melihat Leo yang sedang berbicara dengan Klien di Loby utama dan mata kami pun berpapasan. Aku memalingkan wajahku dan langsung berlari keluar. Samar-samar aku seperti mendengar suara Leo memanggil namaku dari kejauhan. Apa aku mulai gila hingga mendengar suaranya di pikiranku?
Tiba di Kedai Kopi, aku langsung mengganti seragam ku. Hari ini aku bertugas menjadi Kasir. 

“Heh, kenapa kau kabur?” Aku sangat syok melihat Leo yang tiba-tiba sudah berada di depanku.

“Bagaimana kau bisa ada disini secepat itu?!”

“Jawab dulu pertanyaan bos mu ini.”

“Di tempat ini kau bukan bos ku. Jadi tidak ada hak mu untuk memerintah ku.”

“Benar-benar wanita ini.... Oke baiklah, besok akan ku tanyakan. Jika kau tidak menjawab, gajimu ku potong.” Ujarnya kesal. Mataku membelalak.

“Mana adasih peraturan seperti itu? Jangan asal menggunakan hak kekuasaan mu! Jika begitu kau tidak pantas menjadi pemimpin!” Amarah ku keluar.

Ia terdiam.

“Oh, begitu ya. Kamu memang benar. Tetapi aku tidak peduli.. Karena aku memang tidak cocok menjadi seorang pemimpin.” Ia tersenyum lalu pergi menuju meja dekat jendela, tidak lagi mececarku.

Sepertinya aku telah salah bicara.


-Next Chapter


 


Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...