Pagi ini aku akan bertemu dengan sahabat lama ku, Shimizu.
Ia adalah gadis blasteran jepang indonesia. Ibu nya adalah orang jepang, dan
ayah nya adalah orang indonesia. Sangat langka. Dua insan yang berasal dari
negara yang pernah membuat sejarah perang di pelajaran Sejarah ku. Sambil
menunggu nya di restoran ini, aku membuka hp dan memainkan sebuah social game. Dasar Introvert. Gumamku pada diri
sendiri.
“Lionaaa!!” Suara dari kejauhan memanggilku, tidak salah
lagi itu pasti Shimizu. Aku menoleh kebelakang. Shimizu berlari ke arahku
sambil tertawa dengan menggunakan mantel berwarna maroon, tas merk Gucci, jam
tangan merk Alexander Christie, dan sepatu sandal merk Stuart Weitzman. Aku
yakin sekali parfum nya merk channel. Wangi yang khas. Dasar gadis konglomerat.
Kacamata dan rambut kepang satu nya masih sama seperti dulu, menampilkan
seorang gadis yang sangat polos dan lugu.
“Shimizu!! Aku sangat merindukan mu, astaga!” Aku memeluk
nya.
“Aku lebih merindukanmu Liona sayangku! Kau semakin cantik saja.”
“Dan kau semakin terlihat glamour.”
“Glamour tapi tidak punya teman, untuk apa semua ini?” Raut
wajah nya berubah sedih. Aku ingat sekali pertama kali aku bertemu dengan nya,
ketika aku menolong ia dari sekelompok cewek-cewek yang sering kali membully
Shimizu di sekolah. Karena Shimizu adalah seorang gadis lugu dan kaya raya, ia
sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang. Apalagi ia blasteran Jepang. Ia
terlalu mencolok untuk orang-orang yang rasis.
“Oh Shimizu sayang, apakah kehidupan kuliah mu menyenangkan?
Apa ada yang membully mu lagi? Katakan saja padaku biar ku hajar mereka!” Seru
ku kesal.
“Tidak, tidak apa-apa Liona. Setidak nya kehidupan kuliah ku
lebih baik daripada zaman SMA dulu. Aku tahu aku tidak boleh terus-terusan
bergantung padamu.” Katanya sambil tersenyum manis. Aku memeluknya.
“Lalu, apa kau serius ingin melamar kerja sambilan di Kedai
Kopi Nenek?”
“Tentu saja”
“Untuk apa Shimizu? Kau sudah berkecukupan, kau tidak perlu
melakukan ini. Lebih baik kau belajar yang benar dan kelola apa yang sudah kau
miliki.”
“Aku tahu Liona, aku sudah menebak kau akan berkata begitu.
Orang tua ku pun begitu. Tetapi mengertilah Liona, yang aku butuhkan adalah
kehidupan sosial dan kemandirian. Aku butuh teman dan aku butuh belajar untuk
tidak bergantung pada kekayaan ku. Aku butuh dirimu.”
Aku terselak minuman ku dan batuk.
“ZZZZZ... Aku tidak Lesbi Liona, aku normal.”
“Habisnya kata-katamu agak sedikit menjijikan.” Ujarku lalu
tertawa.
“Sial, kau selalu to the point dan jujur seperti biasanya.”
“Dan kau selalu memaafkan ku bukan?” Kami pun tertawa
bersama.
“Baiklah Shimizu, aku akan sampaikan surat lamaran mu ini ke
nenek. Aku yakin nenek akan mengerti.”
“Tentu saja, meskipun kedai itu milik nenek mu, tetapi kau
yang hampir sepenuhnya mengelola tempat itu. Aku yakin nanti nya Kedai itu akan
diwariskan padamu.” Ujar Shimizu memakan sandwitch nya.
“Entah lah, kau mengenal ayahku seperti apa kan.” Shimizu
terdiam mendengar kata-kata ku. Tiba-tiba seorang pria berjas hitam formal
datang menghampiri meja kami.
“Nona Shimizu, anda sudah ditunggu tuan besar dirumah.” Ujar
pria itu.
“Sial, kau membawa pengawal baru.” Shimizu tertawa melihat ku yang terperangah.
“Dia supir ku, bukan pengawal
ku. Aku tidak butuh pengawal jika aku bersama dengan mu. Aku yakin aikido mu
lebih kuat daripada pukulan pengawalku.” Ia berceloteh sambil tertawa dengan
riang. Aku sangat senang melihat nya tertawa daripada menangis seperti dulu.
Melihat Shimizu seperti melihat Leo. Anak-anak bertakdir kaya raya yang tidak
mau memanfaatkan uang orang tua nya. Karena bagi mereka, kekayaan itu adalah
milik orang tua mereka, bukan milik mereka. Aku salut. Tetapi kenapa aku jadi
memikirkan Leo sih?
***
Lucy POV.
Aku memperhatikan nya yang sedang
memasak. Ia adalah chef yang sangat ahli. Harusnya ia bekerja di restaurant
bintang lima. Dan harusnya harga menu makanan disini lebih dinaikkan karena
rasa yang cafe kami berikan tidak jauh berbeda dengan cafe-cafe mahal. Aku
heran kenapa ia memilih kerja sambilan disini. Sejak aku bercerita padanya
tentang ketertarikan ku pada Kedai Kopi ini, ia pun mengantarkan ku di hari
pertamaku bekerja disini dan bertemu dengan Liona selaku kepala pelayan
sekaligus manajer Kedai Kopi Nenek. Lalu tiba-tiba saja ia berniat ikut bekerja
disini. Awalnya aku memang senang, tetapi aku baru menyadari bahwa alasan
Adimas bekerja disini adalah Liona.
Adimas memanggilku, “Apa yang kau lakukan Lucy? Cepat kesini
bantu aku.”
“Baik” Jawabku dengan segera. Sambil membantu nya memotong
buah, aku mengingat pertama kali aku bertemu dengan nya. Aku sudah mengenal
Adimas sejak 5 tahun yang lalu. Saat aku pulang sekolah dan memanggil kakakku
yang ternyata membawa teman nya kerumah.
Adimas adalah sahabat kakak ku. Ia sering sekali bermain dirumah, bahkan
menginap. Dan sudah 5 tahun juga aku menyukai nya. Tetapi Adimas tidak
menyadari itu. Ia tak pernah melihatku sebagai wanita.
“Lucy?” Panggil nya memecah lamunan ku.
“Ah, ya ada apa?”
“Kau sakit?”
“Tidak, aku..” Belum sempat aku menyelesaikan kata-kata ku,
Adimas sudah menaruh tangan nya di dahi ku untuk mengecek suhu tubuh ku.
“Sepertinya kau demam, badan mu hangat dan wajahmu memerah.”
Aku langsung menepis tangan nya.
“Itu karena kau terlalu dekat bodoh! Menjauhlah, dasar om-om
genit!” Omel ku karena salah tingkah. Irama jantung ku tidak beraturan.
“Hah? Om-om genit? Aku itu berniat baik ingin menolong mu
Lucy.”
“Sudahlah tak usah peduli kan aku.”
“Tak usah pedulikan kamu? Baiklah, aku tak akan mengantar mu
pulang hari ini.” Ujar Adimas tak acuh sambil menghias parfait.
Sial.
“Aduh kak Adimas, rasanya aku memang demam.” Sahutku
cepat-cepat menarik kata-kataku barusan dan berpura-pura sakit. Jika tidak ada
dia bagaimana caranya aku pulang kalau shift sampai malam.
“Cih, dasar anak ini. Sini ku
beri hukuman!” Ujar nya kesal tetapi tersenyum jahil. Dan benar dugaan ku, dia mencubit hidung ku
hingga merah sambil tertawa-tawa dan mengataiku hidung tomat.
***
Liona POV.
Pekerjaanku semakin hari semakin bertambah banyak dan berat.
Apalagi sebentar lagi perusahaan ini akan merayakan ulang tahun nya. Pesta apa
yang akan dibuat oleh perusahaan ini?
Selesai berkerja, aku pun bergegas ke Kedai Kopi untuk
part-time. Tidak sengaja aku melihat Leo yang sedang berbicara dengan Klien di
Loby utama dan mata kami pun berpapasan. Aku memalingkan wajahku dan langsung
berlari keluar. Samar-samar aku seperti mendengar suara Leo memanggil namaku dari
kejauhan. Apa aku mulai gila hingga mendengar suaranya di pikiranku?
Tiba di Kedai Kopi, aku langsung mengganti seragam ku. Hari
ini aku bertugas menjadi Kasir.
“Heh, kenapa kau kabur?” Aku sangat syok melihat Leo yang
tiba-tiba sudah berada di depanku.
“Bagaimana kau bisa ada disini secepat itu?!”
“Jawab dulu pertanyaan bos mu ini.”
“Di tempat ini kau bukan bos ku. Jadi tidak ada hak mu untuk
memerintah ku.”
“Benar-benar wanita ini.... Oke baiklah, besok akan ku
tanyakan. Jika kau tidak menjawab, gajimu ku potong.” Ujarnya kesal. Mataku
membelalak.
“Mana adasih peraturan seperti itu? Jangan asal menggunakan hak
kekuasaan mu! Jika begitu kau tidak pantas menjadi pemimpin!” Amarah ku keluar.
Ia terdiam.
“Oh, begitu ya. Kamu memang benar. Tetapi aku tidak peduli..
Karena aku memang tidak cocok menjadi seorang pemimpin.” Ia tersenyum lalu
pergi menuju meja dekat jendela, tidak lagi mececarku.
Sepertinya aku telah
salah bicara.
-Next Chapter
Comments
Post a Comment