Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 5



Ia tidak menghiraukan aku. Tidak berbicara, tidak menyapa, bahkan tidak menatap ku sama sekali. Aku selalu mencoba untuk mengajak nya berbicara, di kampus, di kantor, bahkan di kedai, tidak ada kesempatan sama sekali untuk ku menyampaikan kata maaf. Apakah aku sudah keterlaluan? Tetapi apakah dia sampai sebegitu marahnya hanya karena aku kelepasan bicara seperti itu? Terlalu banyak terkaan di kepalaku. Semenjak Leo marah, ia tidak pernah berkunjung lagi ke Kedai. Sudah lima hari berlalu, sudah lima hari juga aku tidak berbicara dengan nya.

“Hei Shimizu, jika ada seseorang yang mendiami aku selama lima hari, apa yang harus aku lakukan?” Tanyaku kepada anggota pelayan baru ini.

“Tentu saja kau harus mengajaknya bicara, meluruskan hal yang berliku.” Shimizu membenarkan posisi kacamata nya. 

“Tapi ia tidak mau berbicara dengan ku Shimizu.”

“Dia hanya perlu waktu Liona, semua orang butuh waktu untuk memaafkan.”

                                                                       ***

Author POV. 

Pukul 10.00 pagi, Leo menghubungi salah satu sahabat nya sejak masa sekolah dulu. Sambil mengetuk-ngetuk meja dengan pena, ia sesekali mondar-mandir dengan wajah panik.

Halo?”
“Juna sahabatku! Aku butuh bantuan mu.”
“Apasih sob, langsung saja ke inti nya.”
“Ke kantorku sekarang. Aku akan kedatangan tamu besar, aku butuh bantuan mu. Segera.”
“Baik Mr. Autocracy.” 

Raut wajah Leo kembali tenang. Ia selalu mempercayakan hal-hal seperti ini kepada sahabat nya yang satu itu. Ia menghela napas, dan bergumam,  kenapa ia harus datang sekarang sih?
  
Pukul 11.15, Juna keluar dari ruangan Leo sambil berlari menuju parkiran. Ia bergegas pergi membawa memo yang Leo berikan. Ia sampai di sebuah tempat bernama  Kedai Kopi Nenek. 

“Jadi ini kedai yang menjadi langganan nya Leo? Seenak apasih kopi disini?” Gumam Juna dalam hati. Tetapi dari parkiran saja, aroma manis dari Kedai tersebut sudah tercium oleh Juna. Ia langsung dapat menilai bahwa Kedai ini memang memiliki sesuatu yang khas. Ia berjalan menuju ke arah tempat barista yang sedang menghias cappucino latte.

“Ehem, permisi nona.”

Wanita berkepang satu itu berbalik. Juna terkejut bahwa barista ini adalah seorang blasteran Jepang. Hal kedua yang dia nilai unik dari tempat itu.

“Ada yang bisa saya bantu tuan? Ah maaf, tetapi untuk pemesanan bukan di sini tempat nya.  Tuan bisa  tunggu sebentar di kursi, nanti pelayan disini yang akan melayani tuan.” Ujar Shimizu menjelaskan. Mendengar kata-kata Shimizu, Juna mulai memamerkan senyum iblis nya. Ia menarik simpul kepang rambut Shimizu dan mendekati nya.

“Saya ingin di layani segera.” Mata mesum Juna sangat terlihat jelas di mata Shimizu. Wajahnya mulai memerah.

“Ba-baik.. Lima puluh detik pelayan kami akan datang.” Shimizu langsung menghindar dari pria itu, dibalik kacamata besar nya, ia sedang menutupi pipi merah merona nya. Baru hari pertama bekerja, Shimizu sudah mengalami kejadian aneh. 

“Katakan pada kepala pelayan mu, Calon wakil direktur Phoenix ATX meminta hidangan dan kopi paling enak di sini, untuk dijadikan hidangan tamu emas nya!” Seru Juna sedikit berteriak dari tempat ia menunggu.

Shimizu ingin memberitahu Liona, tetapi ia baru sadar bahwa Liona setiap pagi hingga siang bekerja di tempat lain. Akhirnya dia pergi ke dapur dan menemui  Lucy yang saat itu kebetulan sedang bersama Adimas. 

“Ada orang mesum dari Phoenix ATX meminta kita untuk menyediakan hidangan terbaik disini.” Seru Shimizu menjelaskan dengan panik, sontak Adimas dan Lucy tertawa. Lalu mereka kembali dengan wajah serius. Mereka sudah terbiasa dan tahu apa yang harus dilakukan, Adimas pun langsung memakai topi chef nya dan mulai serius membuat sesuatu sedangkan Lucy pergi menemui orang yang di sebut-sebut mesum itu.

Liona selesai dari jam makan siang nya dan bergegas kembali bekerja sebagai Office Girl. Ia merapihkan beberapa alat pembersih yang berserakan di gudang kantor, dan mendorong sebuah tabung roda berisikan sampah-sampah kertas ke depan, untuk segera dibuang. Ketika berjalan menuju Loby, ia melihat seorang wanita cantik, tinggi, dan bergaya seperti model dengan kacamata hitam dan mini dress bertali nya, sedang keluar dari mobil. Wanita itu terlihat semakin tinggi dengan high heels 10 cm nya. Liona menelan ludah. Baru kali ini ia melihat wanita tinggi yang begitu amat sangat percaya diri menggunakan high heels, bahkan setinggi itu. Liona yang masuk dalam kategori wanita-wanita tinggi  tidak pernah memakai high heels setinggi itu, karena ia merasa bahwa itu akan membuat nya semakin terlihat sangat mencolok dan seram seperti monster. Entah itu karena ketidakpercayaan dirinya, atau memang kenyataan nya. Selang tidak beberapa lama dari wanita itu masuk, seorang pria yang berpakaian seperti anak-anak DJ jaman sekarang sedang  membawa bungkusan bertuliskan Kedai Kopi Nenek. 

Tepat pukul 13.00, Liona mendapat tugas untuk mengantarkan hidangan ke ruangan Leo. Ia sedikit bingung ketika melihat bahwa hidangan yang disajikan adalah hidangan yang berasal dari Kedai Kopi tempatnya bekerja. Ia teringat pria yang baru saja ia lihat di Loby. Liona baru menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak ia ketahui dan hal tersebut membuat nya penasaran. Ditambah lagi, ia harus berhadapan dengan Leo yang masih marah atas kejadian lima hari yang lalu. Liona merasa sangat gugup akan tetapi ia memberanikan diri untuk berbicara dengan Leo. Pikirnya, ini adalah kesempatan untuk meminta maaf pada bos arogan nya itu. 

Tetapi ia tidak menyangka bahwa akan melihat suatu moment yang amat sangat membuat nya terkejut dan risih. Kini, bos yang selama ini ia anggap adalah pria terhormat, sedang memangku wanita yang ia lihat di Loby. Leo sama terkejut nya melihat ku datang, tetapi wanita itu hanya tersenyum. Liona yang beberapa saat terpaku langsung menaruh nampan berisikan hidangan yang ia bawa diatas meja. Ia berusaha untuk tidak melihat Leo dan wanita itu.

“Mohon maaf saya tidak bermaksud mengganggu, ini hidangan yang bapak pesan. Permisi.” Liona berbicara sambil menunduk.

“Tunggu, lain kali budidayakan mengetuk pintu terlebih dahulu.” Ujar Leo dengan tenang.

“Mohon maaf atas kelancangan saya, tetapi pintu tadi dalam keadaan setengah terbuka dan kebetulan saya kesulitan membawa hidangan ini  sehingga tangan saya tidak cukup untuk mengetuk pintu. Saya janji hal ini tidak akan terulang lagi. Saya permisi.” Liona keluar ruangan dengan raut wajah muram. Ia mengurung niat nya untuk menyampaikan maaf, bahkan ia merasa tidak perlu meminta maaf lagi kepada bos yang sekarang ia anggap tidak terhormat.

                                                                      ***


Liona POV.

Anak laki-laki berumur 11 tahun itu kembali lagi. Ia menghampiri anak perempuan yang lebih muda dari nya. Anak perempuan itu duduk meringkuk di sudut lemari pakaian.

“Aku berjanji akan menjaga mu, aku berjanji. Kau tidak perlu takut lagi, aku janji tidak akan pergi meninggalkan mu.” Ujar anak laki-laki itu sambil mengelus kepala adik nya. Perempuan berumur 7 tahun itu pun mengangguk. Lalu mengikuti kakak nya pergi menyusuri taman. Di taman, terlihat anak laki-laki lain berumur 9 tahun sedang menunggu mereka. 

“Halo” Sapa anak laki-laki itu sambil tersenyum. Senyum nya sangat manis dan hangat. 

Bayangan itu muncul lagi. Kepala ku sakit.

Aku memegang kepalaku yang mulai terasa seperti di hantam sebuah batu sungai yang besar. Tangan kiri ku menahan tangga lipat yang menopang ku diatas, aku sedang membersihkan kaca-kaca bagian atas. 

“Kenapa bayangan itu muncul di saat yang tidak tepat begini sih! Posisi ku sedang sulit saat ini. Ah, si bos tidak tahu diri itu juga menyebalkan! Ekspektasi ku padanya ternyata terlalu tinggi. Aku salah menilai nya. Bagaimana bisa ia melakukan asusila di kantor nya sendiri? Ia masih menjadi calon wakil direktur! Masih menjadi calon! Astaga!” Celoteh ku berbicara sendiri dengan kaca-kaca di depan ku. Aku membersihkan kaca tersebut dengan gusar. 

Tiba-tiba rasa sakit kembali menyerang kepalaku. Tangan ku menyenggol ember berisi air yang berada disebelahku hingga jatuh kebawah, bersamaan dengan Leo yang sedang lewat bersama beberapa karyawan. Aku terkejut setengah mati, takut untuk melihat kebawah. Dan benar dugaan ku, ember itu jatuh tepat menimpa Leo beserta air-air keruh nya. Dari atas tangga lipat, aku melihat Leo yang basah kuyup dengan air keruh. Kemeja dan jas nya kotor. Aku sudah siap menerima cacian dari nya. Tetapi Leo hanya menatapku dengan datar, tanpa berekspresi. Perlahan aku turun dari tangga, menghadapi Leo yang masih menatapku. Kini tatapan nya mulai mengganas. 

“Gaji kamu saya potong.” Tiba-tiba ia berbicara tanpa basa-basi. Mataku membelalak mendengarnya.

“Apa? Tolong pak jangan! Saya mohon, hukum saya apa saja asalkan tidak berhubungan dengan uang. Karena ayah saya..” Aku berhenti bicara, sepertinya aku sudah terlalu jauh.

“Baiklah, kalau begitu..” ia berhenti sejenak.

“Kamu harus meneraktir saya makan malam.” Lanjut nya dengan tenang. Aku terperangah tidak berkutik, tidak percaya dengan apa yang ku dengar. Beberapa karyawan yang berada disana juga ikut terperangah dan terkejut menyaksikan pembicaraan kami berdua. 

Apalagi ini. 

-Next Chapter-


 

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...