Ia tidak menghiraukan aku. Tidak
berbicara, tidak menyapa, bahkan tidak menatap ku sama sekali. Aku selalu
mencoba untuk mengajak nya berbicara, di kampus, di kantor, bahkan di kedai,
tidak ada kesempatan sama sekali untuk ku menyampaikan kata maaf. Apakah aku
sudah keterlaluan? Tetapi apakah dia sampai sebegitu marahnya hanya
karena aku kelepasan bicara seperti itu? Terlalu banyak terkaan di kepalaku.
Semenjak Leo marah, ia tidak pernah berkunjung lagi ke Kedai. Sudah lima hari
berlalu, sudah lima hari juga aku tidak berbicara dengan nya.
“Hei Shimizu, jika ada seseorang
yang mendiami aku selama lima hari, apa yang harus aku lakukan?” Tanyaku kepada
anggota pelayan baru ini.
“Tentu saja kau harus mengajaknya
bicara, meluruskan hal yang berliku.” Shimizu membenarkan posisi kacamata nya.
“Tapi ia tidak mau berbicara
dengan ku Shimizu.”
“Dia hanya perlu waktu Liona,
semua orang butuh waktu untuk memaafkan.”
***
Author POV.
Pukul 10.00 pagi, Leo menghubungi salah satu sahabat nya
sejak masa sekolah dulu. Sambil mengetuk-ngetuk meja dengan pena, ia sesekali
mondar-mandir dengan wajah panik.
“Halo?”
“Juna sahabatku! Aku
butuh bantuan mu.”
“Apasih sob, langsung
saja ke inti nya.”
“Ke kantorku sekarang.
Aku akan kedatangan tamu besar, aku butuh bantuan mu. Segera.”
“Baik Mr. Autocracy.”
Pukul 11.15, Juna keluar dari ruangan Leo sambil berlari
menuju parkiran. Ia bergegas pergi membawa memo yang Leo berikan. Ia sampai di
sebuah tempat bernama Kedai Kopi Nenek.
“Jadi ini kedai yang menjadi langganan nya Leo? Seenak
apasih kopi disini?” Gumam Juna dalam hati. Tetapi dari parkiran saja, aroma
manis dari Kedai tersebut sudah tercium oleh Juna. Ia langsung dapat menilai
bahwa Kedai ini memang memiliki sesuatu yang khas. Ia berjalan menuju ke arah
tempat barista yang sedang menghias cappucino latte.
“Ehem, permisi nona.”
Wanita berkepang satu itu berbalik. Juna terkejut bahwa
barista ini adalah seorang blasteran Jepang. Hal kedua yang dia nilai unik
dari tempat itu.
“Ada yang bisa saya bantu tuan? Ah maaf, tetapi untuk
pemesanan bukan di sini tempat nya. Tuan
bisa tunggu sebentar di kursi, nanti
pelayan disini yang akan melayani tuan.” Ujar Shimizu menjelaskan. Mendengar
kata-kata Shimizu, Juna mulai memamerkan senyum iblis nya. Ia menarik simpul
kepang rambut Shimizu dan mendekati nya.
“Saya ingin di layani segera.” Mata mesum Juna sangat
terlihat jelas di mata Shimizu. Wajahnya mulai memerah.
“Ba-baik.. Lima puluh detik pelayan kami akan datang.” Shimizu
langsung menghindar dari pria itu, dibalik kacamata besar nya, ia sedang
menutupi pipi merah merona nya. Baru hari pertama bekerja, Shimizu sudah
mengalami kejadian aneh.
“Katakan pada kepala pelayan mu, Calon wakil direktur Phoenix
ATX meminta hidangan dan kopi paling enak di sini, untuk dijadikan hidangan
tamu emas nya!” Seru Juna sedikit berteriak dari tempat ia menunggu.
Shimizu ingin memberitahu Liona, tetapi ia baru sadar bahwa
Liona setiap pagi hingga siang bekerja di tempat lain. Akhirnya dia pergi ke
dapur dan menemui Lucy yang saat itu
kebetulan sedang bersama Adimas.
“Ada orang mesum dari Phoenix ATX meminta kita untuk menyediakan
hidangan terbaik disini.” Seru Shimizu menjelaskan dengan panik, sontak Adimas
dan Lucy tertawa. Lalu mereka kembali dengan wajah serius. Mereka sudah
terbiasa dan tahu apa yang harus dilakukan, Adimas pun langsung memakai topi
chef nya dan mulai serius membuat sesuatu sedangkan Lucy pergi menemui orang
yang di sebut-sebut mesum itu.
Liona selesai dari jam makan
siang nya dan bergegas kembali bekerja sebagai Office Girl. Ia merapihkan
beberapa alat pembersih yang berserakan di gudang kantor, dan mendorong sebuah tabung
roda berisikan sampah-sampah kertas ke depan, untuk segera dibuang. Ketika berjalan
menuju Loby, ia melihat seorang wanita cantik, tinggi, dan bergaya seperti
model dengan kacamata hitam dan mini dress bertali nya, sedang keluar dari
mobil. Wanita itu terlihat semakin tinggi dengan high heels 10 cm nya. Liona
menelan ludah. Baru kali ini ia melihat wanita tinggi yang begitu amat sangat
percaya diri menggunakan high heels, bahkan setinggi itu. Liona yang masuk
dalam kategori wanita-wanita tinggi tidak pernah memakai high heels setinggi itu,
karena ia merasa bahwa itu akan membuat nya semakin terlihat sangat mencolok dan
seram seperti monster. Entah itu karena ketidakpercayaan dirinya, atau memang
kenyataan nya. Selang tidak beberapa lama dari wanita itu masuk, seorang pria
yang berpakaian seperti anak-anak DJ jaman sekarang sedang membawa bungkusan bertuliskan Kedai Kopi
Nenek.
Tepat pukul 13.00, Liona mendapat
tugas untuk mengantarkan hidangan ke ruangan Leo. Ia sedikit bingung ketika
melihat bahwa hidangan yang disajikan adalah hidangan yang berasal dari Kedai
Kopi tempatnya bekerja. Ia teringat pria yang baru saja ia lihat di Loby. Liona
baru menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak ia ketahui dan hal tersebut membuat
nya penasaran. Ditambah lagi, ia harus berhadapan dengan Leo yang masih marah
atas kejadian lima hari yang lalu. Liona merasa sangat gugup akan tetapi ia
memberanikan diri untuk berbicara dengan Leo. Pikirnya, ini adalah kesempatan
untuk meminta maaf pada bos arogan nya itu.
Tetapi ia tidak menyangka bahwa
akan melihat suatu moment yang amat sangat membuat nya terkejut dan risih.
Kini, bos yang selama ini ia anggap adalah pria terhormat, sedang memangku
wanita yang ia lihat di Loby. Leo sama terkejut nya melihat ku datang, tetapi
wanita itu hanya tersenyum. Liona yang beberapa saat terpaku langsung menaruh nampan
berisikan hidangan yang ia bawa diatas meja. Ia berusaha untuk tidak melihat
Leo dan wanita itu.
“Mohon maaf saya tidak bermaksud
mengganggu, ini hidangan yang bapak pesan. Permisi.” Liona berbicara sambil
menunduk.
“Tunggu, lain kali budidayakan
mengetuk pintu terlebih dahulu.” Ujar Leo dengan tenang.
“Mohon maaf atas kelancangan
saya, tetapi pintu tadi dalam keadaan setengah terbuka dan kebetulan saya
kesulitan membawa hidangan ini sehingga
tangan saya tidak cukup untuk mengetuk pintu. Saya janji hal ini tidak akan
terulang lagi. Saya permisi.” Liona keluar ruangan dengan raut wajah muram. Ia
mengurung niat nya untuk menyampaikan maaf, bahkan ia merasa tidak perlu
meminta maaf lagi kepada bos yang sekarang ia anggap tidak terhormat.
***
Liona POV.
Anak laki-laki berumur 11 tahun itu kembali lagi. Ia
menghampiri anak perempuan yang lebih muda dari nya. Anak perempuan itu duduk
meringkuk di sudut lemari pakaian.
“Aku berjanji akan menjaga mu, aku berjanji. Kau tidak perlu
takut lagi, aku janji tidak akan pergi meninggalkan mu.” Ujar anak laki-laki
itu sambil mengelus kepala adik nya. Perempuan berumur 7 tahun itu pun
mengangguk. Lalu mengikuti kakak nya pergi menyusuri taman. Di taman, terlihat
anak laki-laki lain berumur 9 tahun sedang menunggu mereka.
“Halo” Sapa anak laki-laki itu sambil tersenyum. Senyum nya
sangat manis dan hangat.
Bayangan itu muncul
lagi. Kepala ku sakit.
Aku memegang kepalaku yang mulai terasa seperti di hantam
sebuah batu sungai yang besar. Tangan kiri ku menahan tangga lipat yang menopang
ku diatas, aku sedang membersihkan kaca-kaca bagian atas.
“Kenapa bayangan itu muncul di saat yang tidak tepat begini
sih! Posisi ku sedang sulit saat ini. Ah, si bos tidak tahu diri itu juga
menyebalkan! Ekspektasi ku padanya ternyata terlalu tinggi. Aku salah menilai
nya. Bagaimana bisa ia melakukan asusila di kantor nya sendiri? Ia masih
menjadi calon wakil direktur! Masih menjadi calon! Astaga!” Celoteh ku
berbicara sendiri dengan kaca-kaca di depan ku. Aku membersihkan kaca tersebut
dengan gusar.
Tiba-tiba rasa sakit kembali
menyerang kepalaku. Tangan ku menyenggol ember berisi air yang berada
disebelahku hingga jatuh kebawah, bersamaan dengan Leo yang sedang lewat bersama
beberapa karyawan. Aku terkejut setengah mati, takut untuk melihat kebawah. Dan
benar dugaan ku, ember itu jatuh tepat menimpa Leo beserta air-air keruh nya. Dari
atas tangga lipat, aku melihat Leo yang basah kuyup dengan air keruh. Kemeja
dan jas nya kotor. Aku sudah siap menerima cacian dari nya. Tetapi Leo hanya
menatapku dengan datar, tanpa berekspresi. Perlahan aku turun dari tangga,
menghadapi Leo yang masih menatapku. Kini tatapan nya mulai mengganas.
“Gaji kamu saya potong.”
Tiba-tiba ia berbicara tanpa basa-basi. Mataku membelalak mendengarnya.
“Apa? Tolong pak jangan! Saya
mohon, hukum saya apa saja asalkan tidak berhubungan dengan uang. Karena ayah
saya..” Aku berhenti bicara, sepertinya aku sudah terlalu jauh.
“Baiklah, kalau begitu..” ia
berhenti sejenak.
“Kamu harus meneraktir saya makan
malam.” Lanjut nya dengan tenang. Aku terperangah tidak berkutik, tidak percaya
dengan apa yang ku dengar. Beberapa karyawan yang berada disana juga ikut
terperangah dan terkejut menyaksikan pembicaraan kami berdua.
Apalagi ini.
-Next Chapter-

Comments
Post a Comment