Sore itu aku memandang tiga wanita cantik sedang memakan
parfait dan asik mengobrol sambil tertawa. Pakaian mereka sangat fashionable
dan wajah mereka seperti model.
Kapan ya aku bisa seperti mereka? Gumamku dalam hati.
Perasaan iri itu muncul lagi.
“Kamu sudah cantik kok.” Tiba-tiba Adimas sudah berada di
samping ku sambil mengusap-usap kepala ku.
“Bagaimana kau tahu aku sedang memikirkan itu?”
“Kau tahu kita berdua ini bisa telepati dari hati ke hati
bukan?” Ia terkekeh.
“Cih, rayuan maut lagi.”
Tanpa kami sadari, Leo sedang berada di depan pintu masuk
kedai sambil memandangi kami yang bercanda. Selain itu, seorang wanita dari
arah dapur tampak sedang memperhatikan kami dari belakang sejak awal.
“Sudah sana lanjutkan pekerjaan mu atau aku akan memberi
tahu nenek agar gaji mu di potong.” Perintah ku kepada Adimas.
“Baik, baik bos.” Adimas masih saja tertawa hingga masuk ke
dalam dapur dan berpapasan dengan Lucy.
“Eh, Lucy. Mau ku buatkan parfait khusus lagi?” Tanya Adimas
sambil tersenyum.
“Tidak terima kasih.” Lucy menjawab dengan dingin. Mood nya
sedang hancur saat itu. Dan Adimas sangat menyukai Lucy yang sedang badmood, ia
menganggap bahwa Lucy saat itu sangat imut.
“Ada apa lagi? Kamu lucu sekali sih kalau sedang badmood.”
Adimas berniat mencubit hidung Lucy.
PLAKKKK
“Jangan sentuh. Mau sampai kapan kau menganggap ku sebagai
anak kecil? Aku bukan anak kecil lagi Adimas. Ingat itu.” Ujar Lucy dengan
ketus dan pergi meninggalkan Adimas yang tampak terkejut melihat Lucy yang
tidak biasanya.
Jalanan sore minggu ini terasa
sangat menyejukkan. Aroma sehabis hujan mengelilingi kota ini. Pelangi sedang menampakkan
dirinya di langit yang biru. Dan para pengamen sedang bernyanyi di Taman itu.
Aku menyusuri kota dan masuk ke dalam sebuah Taman lingkaran yang cukup besar, dengan dihiasi
air mancur dan bunga warna-warni. Para
ibu sedang berbicara sambil membawa anak mereka di kereta dorong bayi maupun
digandeng. Anak-anak kecil sedang berlarian memutari air mancur sambil tertawa
riang. Dan beberapa pasangan sedang duduk di kursi taman sambil mengabadikan
foto mereka bersama pasangan nya. Suara
tangis anak kecil tiba-tiba memecah keheningan ku. Ku lihat seorang anak
kecil sedang duduk di rumput sambil sambil menangis, dan di hadapan nya
terdapat seorang pria dengan memakai pakaian running sedang panik dan
kebingungan.
Aku mengucek mataku, karena menyadari bahwa pria itu adalah
orang yang ku kenal.
Leo? Gumam ku dalam hati. Aku melangkah menghampiri mereka.
“Adik jangan menangis dong, aduh, mama nya kemana sih?”
Gerutu Leo sambil menggaruk kepala nya.
“Leo, ada apa?” Leo tersentak kaget ketika melihat ku berada
disana.
“Adik ini terjatuh, kebetulan aku sedang jogging di belakang
nya. Aku ingin menolong nya, tetapi ia malah menangis semakin kencang. Apa yang salah ya?” Tanya Leo dengan sangat
polos. Aku tertawa mendangar ucapan nya.
“Apasih, kenapa kamu tertawa?” Tampang nya mulai tidak
karuan. Seorang pria tampan kaya raya ternyata bisa kebingungan dan sangat
polos ketika menghadapi anak kecil.
“Habis kamu lucu sih..” Aku masih tertawa, wajah Leo mulai
memerah karena malu.
Aku menghentikan tawaku dan jongkok mendekati anak laki-laki
berumur lima tahun itu.
“Adik kecil, jangan menangis. Kakak cowok ini tidak tidak
jahat kok, tampang nya saja yang seram.” Anak kecil itu mengangguk, tetapi
masih menangis meskipun sudah agak reda. Aku melihat lutut nya yang berdarah.
Aku tersenyum. Lalu merogoh tas ku.
“Anak cowok harus kuat, tidak boleh menangis hanya karena
luka. Lihat ini, kakak bawa plester.” Aku membersihkan sedikit darah di lutut
anak itu dengan tissue basah, lalu menempelkan plester nya. Anak itu berhenti
menangis.
“Lihat, sudah tidak sakit kan? Wuuusss! Luka nya sudah
terbang sekarang.” Aku mengusap kepala nya. Ia mulai tersenyum lucu. Karena
gemas, aku menggendong nya. Leo tersenyum melihat kami berdua.
“Makasih.. kak..”
“Moment nya lagi bagus, kita foto yuk?” Tiba-tiba Leo
merangkul ku dan mengarahkan ku menghadap kamera depan hp nya.
“Say cheese little boy!”
“CHEEESSSSEEEEEE” Kami bertiga menyerukakan kata itu
bersama-sama. Entah kenapa aku merasa sangat senang dan tegang. Apa ini?
“Rioooooo, nak! Ya ampun nak, maafkan mama tadi antrian es
krim nya ramai sekali.” Aku memberika anak cowok itu kepada ibu nya. Oh,
namanya Rio.
“Tadi anak ibu terjatuh dan menangis, jadi kami
menghampirinya.” Ujar Leo menjelaskan.
“Ya ampun, terima kasih sekali mas dan mbak ini sudah
menolong anak saya. Semoga langgeng dan cepat menikah ya..” Ujar ibu itu
tersenyum.
“Menikah? Kami masih kuliah bu. Eh.. Lagi pula saya dan mas
ini tidak ada hubungan apa-apa.” Aku dan Leo menjadi salah tingkah. Ibu itu
lalu berpamitan dan pergi. Suasana tiba-tiba menjadi tegang. Tetapi aku langsung
tertawa lagi mengingat wajah Leo yang panik karena anak kecil.
“Kamu lucu banget sih tadi..”
“Kamu juga telaten sekali, sesaat aku kaget. Orang jelek dan
Office girl pemalas seperti mu bisa keibuan.” Ucap Leo dengan muka datar. Tawa
ku berhenti.
“Apa kata mu? Pemalas? Enak saja! Aku tidak pemalas! Kamu
saja yang kerajinan!” Seru ku membela diriku yang dianggap pemalas oleh pria
ini.
“Ya sudahlah, yang peting kamu cocok menjadi ibu. Terima
kasih atas kata-kata nya.”
“Kata-kata apa?”
“Tidak boleh menangis hanya karena luka.”
“Hah?” Aku kebingungan. Leo pergi melanjutkan jogging nya
meninggalkan aku yang masih kebingungan. Apa-apaan sih orang itu gajelas
banget! Gumam ku dalam hati.
Aku baru menyadari, jika Leo jogging di sekitar sini, itu
berarti rumah nya tidak begitu jauh dari sini. Pantas ia sering pergi ke Kedai
Kopi Nenek.
Aku berjalan pulang dengan sepatu converse yang sudah kotor
dan massa nya untuk diganti. Sesampainya di rumah, nenek sedang menyiapkan
bubur sum-sum untuk seorang pria berumur 46 yang sedang asik merokok.
Ah, ada dia lagi rupanya.
“Ayah, sudah pulang?”
“Uang ku habis, aku butuh uang. Aku dengar kau gajian
kemarin.”
Seperti biasanya.
“Ya, tunggu sebentar.” Aku bergegas menaiki tangga menuju
kamarku untuk mengambil kotak berisi tabungan dari gaji-gaji ku yang selalu ku
simpan. Nenek hanya prihatin melihat nasib ku yang miris ini.
Next Chapter -
maaf agak pendek, sang blogger nya lagi uas wkwk.
Comments
Post a Comment