Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 3



Sore itu aku memandang tiga wanita cantik sedang memakan parfait dan asik mengobrol sambil tertawa. Pakaian mereka sangat fashionable dan wajah mereka seperti model.

Kapan ya aku bisa seperti mereka? Gumamku dalam hati. Perasaan iri itu muncul lagi. 

“Kamu sudah cantik kok.” Tiba-tiba Adimas sudah berada di samping ku sambil mengusap-usap kepala ku.

“Bagaimana kau tahu aku sedang memikirkan itu?”

“Kau tahu kita berdua ini bisa telepati dari hati ke hati bukan?” Ia terkekeh.

“Cih, rayuan maut lagi.”

Tanpa kami sadari, Leo sedang berada di depan pintu masuk kedai sambil memandangi kami yang bercanda. Selain itu, seorang wanita dari arah dapur tampak sedang memperhatikan kami dari belakang sejak awal.

“Sudah sana lanjutkan pekerjaan mu atau aku akan memberi tahu nenek agar gaji mu di potong.” Perintah ku kepada Adimas.

“Baik, baik bos.” Adimas masih saja tertawa hingga masuk ke dalam dapur dan berpapasan dengan Lucy.

“Eh, Lucy. Mau ku buatkan parfait khusus lagi?” Tanya Adimas sambil tersenyum.

“Tidak terima kasih.” Lucy menjawab dengan dingin. Mood nya sedang hancur saat itu. Dan Adimas sangat menyukai Lucy yang sedang badmood, ia menganggap bahwa Lucy saat itu sangat imut.

“Ada apa lagi? Kamu lucu sekali sih kalau sedang badmood.” Adimas berniat mencubit hidung Lucy.

PLAKKKK

“Jangan sentuh. Mau sampai kapan kau menganggap ku sebagai anak kecil? Aku bukan anak kecil lagi Adimas. Ingat itu.” Ujar Lucy dengan ketus dan pergi meninggalkan Adimas yang tampak terkejut melihat Lucy yang tidak biasanya.

Jalanan sore minggu ini terasa sangat menyejukkan. Aroma sehabis hujan mengelilingi kota ini. Pelangi sedang menampakkan dirinya di langit yang biru. Dan para pengamen sedang bernyanyi di Taman itu. Aku menyusuri kota dan masuk ke dalam sebuah Taman  lingkaran yang cukup besar, dengan dihiasi air mancur dan bunga warna-warni.  Para ibu sedang berbicara sambil membawa anak mereka di kereta dorong bayi maupun digandeng. Anak-anak kecil sedang berlarian memutari air mancur sambil tertawa riang. Dan beberapa pasangan sedang duduk di kursi taman sambil mengabadikan foto mereka bersama pasangan nya. Suara  tangis anak kecil tiba-tiba memecah keheningan ku. Ku lihat seorang anak kecil sedang duduk di rumput sambil sambil menangis, dan di hadapan nya terdapat seorang pria dengan memakai pakaian running sedang panik dan kebingungan.
Aku mengucek mataku, karena menyadari bahwa pria itu adalah orang yang ku kenal.

Leo? Gumam ku dalam hati. Aku melangkah menghampiri mereka.

“Adik jangan menangis dong, aduh, mama nya kemana sih?” Gerutu Leo sambil menggaruk kepala nya.

“Leo, ada apa?” Leo tersentak kaget ketika melihat ku berada disana.

“Adik ini terjatuh, kebetulan aku sedang jogging di belakang nya. Aku ingin menolong nya, tetapi ia malah menangis semakin kencang.  Apa yang salah ya?” Tanya Leo dengan sangat polos. Aku tertawa mendangar ucapan nya.

“Apasih, kenapa kamu tertawa?” Tampang nya mulai tidak karuan. Seorang pria tampan kaya raya ternyata bisa kebingungan dan sangat polos ketika menghadapi anak kecil.

“Habis kamu lucu sih..” Aku masih tertawa, wajah Leo mulai memerah karena malu.

Aku menghentikan tawaku dan jongkok mendekati anak laki-laki berumur lima tahun itu.

“Adik kecil, jangan menangis. Kakak cowok ini tidak tidak jahat kok, tampang nya saja yang seram.” Anak kecil itu mengangguk, tetapi masih menangis meskipun sudah agak reda. Aku melihat lutut nya yang berdarah. Aku tersenyum. Lalu merogoh tas ku.

“Anak cowok harus kuat, tidak boleh menangis hanya karena luka. Lihat ini, kakak bawa plester.” Aku membersihkan sedikit darah di lutut anak itu dengan tissue basah, lalu menempelkan plester nya. Anak itu berhenti menangis.

“Lihat, sudah tidak sakit kan? Wuuusss! Luka nya sudah terbang sekarang.” Aku mengusap kepala nya. Ia mulai tersenyum lucu. Karena gemas, aku menggendong nya. Leo tersenyum melihat kami berdua.

“Makasih.. kak..”

“Moment nya lagi bagus, kita foto yuk?” Tiba-tiba Leo merangkul ku dan mengarahkan ku menghadap kamera depan hp nya.

“Say cheese little boy!”

“CHEEESSSSEEEEEE” Kami bertiga menyerukakan kata itu bersama-sama. Entah kenapa aku merasa sangat senang dan tegang. Apa ini?

“Rioooooo, nak! Ya ampun nak, maafkan mama tadi antrian es krim nya ramai sekali.” Aku memberika anak cowok itu kepada ibu nya. Oh, namanya Rio.

“Tadi anak ibu terjatuh dan menangis, jadi kami menghampirinya.” Ujar Leo menjelaskan.

“Ya ampun, terima kasih sekali mas dan mbak ini sudah menolong anak saya. Semoga langgeng dan cepat menikah ya..” Ujar ibu itu tersenyum.

“Menikah? Kami masih kuliah bu. Eh.. Lagi pula saya dan mas ini tidak ada hubungan apa-apa.” Aku dan Leo menjadi salah tingkah. Ibu itu lalu berpamitan dan pergi. Suasana tiba-tiba menjadi tegang. Tetapi aku langsung tertawa lagi mengingat wajah Leo yang panik karena anak kecil.
 
“Kamu lucu banget sih tadi..”

“Kamu juga telaten sekali, sesaat aku kaget. Orang jelek dan Office girl pemalas seperti mu bisa keibuan.” Ucap Leo dengan muka datar. Tawa ku berhenti.

“Apa kata mu? Pemalas? Enak saja! Aku tidak pemalas! Kamu saja yang kerajinan!” Seru ku membela diriku yang dianggap pemalas oleh pria ini.

“Ya sudahlah, yang peting kamu cocok menjadi ibu. Terima kasih atas kata-kata nya.”

“Kata-kata apa?”

“Tidak boleh menangis hanya karena luka.”

“Hah?” Aku kebingungan. Leo pergi melanjutkan jogging nya meninggalkan aku yang masih kebingungan. Apa-apaan sih orang itu gajelas banget! Gumam ku dalam hati.

Aku baru menyadari, jika Leo jogging di sekitar sini, itu berarti rumah nya tidak begitu jauh dari sini. Pantas ia sering pergi ke Kedai Kopi Nenek.

Aku berjalan pulang dengan sepatu converse yang sudah kotor dan massa nya untuk diganti. Sesampainya di rumah, nenek sedang menyiapkan bubur sum-sum untuk seorang pria berumur 46 yang sedang asik merokok.

Ah, ada dia lagi rupanya.

“Ayah, sudah pulang?”

“Uang ku habis, aku butuh uang. Aku dengar kau gajian kemarin.”

Seperti biasanya.

“Ya, tunggu sebentar.” Aku bergegas menaiki tangga menuju kamarku untuk mengambil kotak berisi tabungan dari gaji-gaji ku yang selalu ku simpan. Nenek hanya prihatin melihat nasib ku yang miris ini.


 Next Chapter -

maaf agak pendek, sang blogger nya lagi uas wkwk.

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...