Skip to main content

Ingatan Abu-abu - Chapter 1



“Putri pun hidup bahagia selamanya bersama Pangeran” Ucap seorang wanita berumur 40an kepada anak perempuan nya yang sedang berada di pangkuan nya.
“Cih, gak ada kisah yang seindah dongeng di dunia nyata” Sahut seorang anak laki-laki berumur 11 tahun sambil memegang bola basket. Tiba-tiba suara tangisan anak perempuan terdengar begitu nyaring.
“Mama!! Kakak jahat!!” Seru anak perempuan tersebut memeluk ibu nya sambil meraung raung.
“Kakak, ayo minta maaf sama adik mu”
“Gak mau, itu emang bener kan? Buktinya...”

KRIIIINGGGGGG

Suara alarm berbunyi. Aku mencari-cari hp ku sambil menguap. “Ah.. lagi-lagi mimpi itu.” Ujarku dalam hati. Akhir-akhir ini aku sering sekali bermimpi random, mungkin karena terlalu lelah bekerja. Sekarang tepat pukul 5 pagi, aku pun bergegas mempersiapkan diri menjalani hari-hari ku yang biasa berat. Aku mengecek email yang memberitahukan bahwa aku diterima bekerja sebagai Office Girl di Perusahaan ternama di kota ini, Phoenix ATX (P.A). 

Tentu saja karena perusahaan ini adalah perusahaan besar, gaji Office Girl disini cukup tinggi. Tiga kali lipat dari gaji Office Girl di perusahaan biasa. Tetapi resiko yang harus ku terima adalah, pekerjaan nya cukup berat karena ini adalah perusahaan besar, otomatis ruangan disini begitu banyak dan tugas ku untuk bersih-bersih semakin meningkat. Sebuah keberuntungan bahwa pada saat itu perusahaan ini sedang membutuhkan banyak petugas pembersih karena mereka kekurangan orang yang handal dalam hal bersih-bersih dan apik. Sistem disini menggunakan shift, aku bisa memilih jam kerja ku dan disesuaikan dengan jam kuliah. Dan aku adalah orang yang beruntung karena mereka mau menerima ku yang masih kuliah semester 5 ini. Tentu saja mereka mempekerjakan ku karena aku adalah wanita pekerja keras.

“Selamat pagi semua, mulai saat ini kalian telah menjadi bagian dari Phoenix ATX. Jadi saya harap kalian sebagai karyawan baru selalu mematuhi aturan-aturan disini. Meskipun sebagai petugas kebersihan, kalian harus menjaga nama baik perusahaan. Kebersihan perusahaan dan pelayanan adalah hal yang sangat utama, karena ini menyangkut kenyamanan atasan kita dan para nasabah. Mengerti?”
“Baik bu, kami mengerti”
“Bagus. Sekarang kalian bisa mengganti seragam baru. Seragam ini di rancang khusus untuk Petugas kebersihan di perusahaan ini. Dan untuk informasi, mulai saat ini direktur utama Phoenix ATX telah digantikan oleh anak dari pemilik perusahaan. Jadi, saya harap kalian tidak mengecewakan nya.”
“Baik bu.”

                                                                          ***

“Aku dengar-dengar, direktur utama nya masih muda banget loh. Semuda itu, yakin bisa mengelola perusahaan?” Tanya seorang office girl baru sama sepertiku, rambutnya dikuncir cepol.
“Hmm benarkah? Aku tidak tahu soal itu, bertemu saja belum pernah. Semuda apa?”
“Eh maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Karenina. Kamu?” Tanya nya dengan senyum manis. Giginya berbehel bening.
“Liona”
“Senang berkenalan dengan mu Liona. Kamu mau tahu dia semuda apa?”
“Ya, tentu”
“Besok kita akan bertemu dengan nya.”
“Hah, bagaimana bisa?” Tanyaku bingung.
“Pak Leo punya kebiasaan nya sendiri. Ia selalu minta dibuatkan teh dan makanan oleh petugas seperti kita. Kebersihan ruangan nya juga sangat terjaga. Dia sangat intimidate dan teliti dalam segala hal nya.”
“Lalu, apa guna nya sekertaris di kantor ini?” Tanyaku semakin heran.
“Entah lah, hati-hati dia sangat angkuh. Jadi jangan sampai memiliki masalah dengan nya.”
“Terima kasih untuk informasinya Karen.” Ujarku tersenyum singkat. Sepertinya aku akan menghadapi bos yang ribet. 

                                                                         ***

Kerja paruh waktu memang menyulitkan. Sekarang tugas ku semakin bertambah, keadaan memang memaksaku melakukan sesuatu yang tidak ku inginkan.
Aku berjalan melintasi pinggiran jalan beraspal dengan sepatu boots hitam bertali rumit. Jarum jam menunjukkan pukul 3  sore. Shift ku sebagai Office Girl telah usai siang hari tadi, waktunya ke Kedai Kopi Nenek. 

Tiba disana, aku mengganti seragam ku dengan seragam lain nya. Menguncir rambut ku yang pendek, lalu menggunakan bandana maid berwarna putih. Ya, Kedai ini mengharuskan pelayan nya menggunakan seragam maid layaknya cosplayer.

“Selamat sore kakek, ingin pesan apa?” Tanyaku ramah kepada pelanggan yang umurnya sudah cukup tua berkisar 70 tahun.
“Siang Liona, saya butuh yang seperti biasa saja.” Ujarnya dengan pelan dan ramah.
“Baik lah kek, Kopi hitam tanpa gula dengan roti madu akan datang 7 menit lagi.”
“Terima kasih Liona, semoga harimu menyenangkan.” Ujar kakek itu sambil memberikan jempol. Tiba-tiba teman sepekerjaan ku menarik ku ke belakang dengan tergesa.
“Ku mohon bantu aku.” Serunya panik.
“Apa sih? Ada apa?”
“Tolong layani tamu di meja no. 9”
“Kenapa harus aku?” Tanyaku kesal.
“Dia teman kampus kita.”
“Lalu, kenapa?”
“Kau kan tidak mengenalnya, dan dia tidak mengenalmu. Jadi kau saja ya” Ujar vero memohon dengan muka memelas nya.
“Haduh, baik lah.” Terima ku dengan terpaksa dan beranjak pergi menghampiri meja no.9.
“Liona, hati-hati. Dia kejam.” Peringatan Vero tidak sampai pada telinga ku.
                                                                        ***
“Selamat sore tuan, ingin pesan apa?” Tanyaku memberikan senyum ku.
Pria itu hanya diam sambil membaca koran tanpa sedikit pun menolehku.
“Ehem. Permisi tuan, saya ingin mencatat pesanan anda.”
Pria itu masih diam tidak bergeming.
“Tuan, saya..”
“Saya mendengar. Kamu pikir saya tuli?” Ujar nya dengan tenang tetapi terasa seperti menantang ku untuk bertengkar. Aku menghela napas untuk mengendalikan emosiku.
“Maaf tuan, saya pikir..”
“Kamu pikir saya tuli kan?” Tanya nya memotong kata-kata ku.
“Apa? Tidak tuan, saya sama sekali tidak berpikir bahwa anda..”
“Tuli?” Lagi-lagi ia memotong kata-kataku.
“Tidak.” Jawabku singkat karena merasa percuma berbicara panjang. Tetapi, tamu tetaplah raja.
“Saya pesan coktail satu.”
“Ada lagi?” Tanya ku memastikan.
Ia diam sambil membaca koran nya.
“Maaf tuan, ada....”
“Bisa tolong diam? Anda mengganggu saya membaca. Kalau saya menyebutkan hanya coktail ya coktail saja.” Jawab nya dengan jutek, tetapi mukanya tetap terlihat tenang dan datar. Aku mengepalkan tangan ku.
“Baiklah, 10 menit lagi pesanan anda akan datang. Terima kasih dan permisi.” 

BRAKKK!! 

Aku memukul meja di dapur dengan kesal. ORANG MACAM APA ITU? Rasanya ingin ku banting. Keluhku dalam hati.

“Sudah ku bilang, dia kejam.” Ujar Vero yang baru saja melewati ku. Sial, aku tidak mendengar kata-kata nya di awal.
"Kau harus mengajarkan teman mu itu bagaimana sopan santun!"
“Tenang lah, kau selalu bisa diandalkan. Orang itu akan ramah padamu suatu saat, aku yakin. Semua pelanggan disini menyukai mu bukan. Karena kau telaten.” Vero menepuk pundak ku.
“Jangan memanfaatkan ku, dasar penjilat.” Kataku datar. Ia hanya tertawa sambil memelukku dari samping. Ya, namanya nya juga sahabat, ya begini. Entahlah, apakah orang-orang sadar bahwa sahabat adalah manusia menjengkelkan yang sangat kita sayangi.

Aku mengantarkan coktail pesanan pria itu dengan tepat waktu. Ia menggunakan kemeja flanel hitam dan celana jeans berwarna putih. Topi hitam di kepala nya menutupi bagian rambutnya. Ia pun menaruh koran yang sedang ia baca, lalu menatapku. Tiba-tiba ia tampak kaget seperti melihat hantu di hadapan nya ketika memandang ku. Mata nya berwarna hijau abu-abu. Mata yang belum pernah ku lihat sebelum nya, indah. Tetapi kacamata bening dengan frame coklat sedikit menutupi keindahan mata nya.

“Kamu...” Ujarnya terperangah. Aku semakin panik. Apa ada yang salah dari diriku? Apa ada yang aneh? Apa ada cabai di gigiku?
“Ya? Tuan? Ada apa?” Tanyaku salah tingkah. Ia memerhatikan ku sejenak, lalu bersikap seperti biasa lagi. Aku tahu ada yang ia pikirkan.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Sekilas kau hanya mirip seseorang. Tapi sepertinya tidak.” Jawab nya lalu menyeruput koktail. Aku pun pergi.

Orang gak jelas, Keluhku dalam hati.

Jam part time ku telah usai. Kedai ini adalah penyelamatku dalam membayar kuliah. Aku mencintai kedai ini, entah kenapa. Kerja sebagai kepala maid sekaligus baristra di kedai ini begitu menyenangkan. Aroma kopi selalu membuatku tenang. Hal yang tidak orang-orang ketahui adalah, kebiasaan ku yang selalu memperhatikan semua pelanggan ku. Mempelajari mereka adalah hal yang unik. Semua orang yang berdatangan kesini memiliki aneka ragam kehidupan. Dari mulai wanita yang sering bersolek memamerkan bibir merah merona dan baju-baju necis nya, ada yang datang kesini hanya untuk bergaya, ada yang mengalami kencan pertama dengan gebetan baru nya, berusaha untuk menarik perhatian pasangan nya. Ada yang datang dengan frustasi karena memiliki beban dalam kehidupan nya lalu berusaha mencari ketenangan di Kedai ini, ada pasangan kakek dan nenek yang masih sangat harmonis, ada anak – anak sekolah yang mengerjakan tugas mereka, ada kumpulan para pecinta kopi, ada yang sedang galau karena hubungan percintaan nya telah kandas, bahkan ada pemalas yang tidak punya tujuan arah hidup menjadi pelanggan di kedai ini. Dari semua itu aku bisa mempelajari bagaimana keaneka ragaman kehidupan yang terjadi di dunia ini. Semua memiliki nasib yang berbeda-beda. Ada yang beruntung, dan ada yang tidak. Dan sepertinya aku termasuk dalam yang tidak beruntung. 

Aku pun baru menyadari, belum pernah kutemukan pelanggan semacam dia.

Kereta pun datang, aku bergegas masuk menuju ke kampus.

                                                                         ***

Anak lelaki berumur 11 tahun itu menyodorkan sebuah permen coklat payung.
“Sudah jangan cengeng, maafkan kakak”

Maafkan kakak..

“Liona!”
Aku terkejut mendengar suara Karenina dengan lantang membangunkan ku.
“Astaga, bagaimana bisa kau tertidur? Liona, hari ini kita bertugas membersihkan ruangan Pak Leo!”
“Ah iya, maaf Karen aku benar-benar lelah kemarin.” Iya hanya menghela nafas. Lalu menarik ku mengambil alat-alat kebersihan.
Kami menaiki lift ke lantai 15. Tempat dimana ruangan Pak Leo berada. Begitu kami mengetuk pintu. Pak Leo telah berdiri di dalam ruangan. Aku melihat jam masih menunjukkan pukul 6.30 pagi. Direktur macam apa yang datang ke Kantor nya sepagi ini? Pikirku keheranan.
“Sangat lamban!” Seru nya sambil berbalik menghadap aku dan Karen. Aku dan pria yang dipanggil Pak Leo itu sama-sama terlonjak kaget.

“Loh.. kamu?”

                                                                    Next Chapter





Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...