“Putri pun hidup bahagia selamanya bersama Pangeran” Ucap
seorang wanita berumur 40an kepada anak perempuan nya yang sedang berada di
pangkuan nya.
“Cih, gak ada kisah yang seindah dongeng di dunia nyata”
Sahut seorang anak laki-laki berumur 11 tahun sambil memegang bola basket.
Tiba-tiba suara tangisan anak perempuan terdengar begitu nyaring.
“Mama!! Kakak jahat!!” Seru anak perempuan tersebut memeluk
ibu nya sambil meraung raung.
“Kakak, ayo minta maaf sama adik mu”
“Gak mau, itu emang bener kan? Buktinya...”
KRIIIINGGGGGG
Suara alarm berbunyi. Aku mencari-cari hp ku sambil menguap.
“Ah.. lagi-lagi mimpi itu.” Ujarku dalam hati. Akhir-akhir ini aku sering
sekali bermimpi random, mungkin karena terlalu lelah bekerja. Sekarang tepat
pukul 5 pagi, aku pun bergegas mempersiapkan diri menjalani hari-hari ku yang
biasa berat. Aku mengecek email yang memberitahukan bahwa aku diterima bekerja
sebagai Office Girl di Perusahaan ternama di kota ini, Phoenix ATX (P.A).
Tentu saja karena perusahaan ini
adalah perusahaan besar, gaji Office Girl disini cukup tinggi. Tiga kali lipat
dari gaji Office Girl di perusahaan biasa. Tetapi resiko yang harus ku terima
adalah, pekerjaan nya cukup berat karena ini adalah perusahaan besar, otomatis
ruangan disini begitu banyak dan tugas ku untuk bersih-bersih semakin
meningkat. Sebuah keberuntungan bahwa pada saat itu perusahaan ini sedang
membutuhkan banyak petugas pembersih karena mereka kekurangan orang yang handal
dalam hal bersih-bersih dan apik. Sistem disini menggunakan shift, aku bisa
memilih jam kerja ku dan disesuaikan dengan jam kuliah. Dan aku adalah orang
yang beruntung karena mereka mau menerima ku yang masih kuliah semester 5 ini.
Tentu saja mereka mempekerjakan ku karena aku adalah wanita pekerja keras.
“Selamat pagi semua, mulai saat ini kalian telah menjadi
bagian dari Phoenix ATX. Jadi saya harap kalian sebagai karyawan baru selalu
mematuhi aturan-aturan disini. Meskipun sebagai petugas kebersihan, kalian
harus menjaga nama baik perusahaan. Kebersihan perusahaan dan pelayanan adalah
hal yang sangat utama, karena ini menyangkut kenyamanan atasan kita dan para
nasabah. Mengerti?”
“Baik bu, kami mengerti”
“Bagus. Sekarang kalian bisa mengganti seragam baru. Seragam
ini di rancang khusus untuk Petugas kebersihan di perusahaan ini. Dan untuk
informasi, mulai saat ini direktur utama Phoenix ATX telah digantikan oleh anak
dari pemilik perusahaan. Jadi, saya harap kalian tidak mengecewakan nya.”
“Baik bu.”
***
“Aku dengar-dengar, direktur utama nya masih muda banget
loh. Semuda itu, yakin bisa mengelola perusahaan?” Tanya seorang office girl
baru sama sepertiku, rambutnya dikuncir cepol.
“Hmm benarkah? Aku tidak tahu soal itu, bertemu saja belum
pernah. Semuda apa?”
“Eh maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Karenina.
Kamu?” Tanya nya dengan senyum manis. Giginya berbehel bening.
“Liona”
“Senang berkenalan dengan mu Liona. Kamu mau tahu dia semuda
apa?”
“Ya, tentu”
“Besok kita akan bertemu dengan nya.”
“Hah, bagaimana bisa?” Tanyaku bingung.
“Pak Leo punya kebiasaan nya sendiri. Ia selalu minta
dibuatkan teh dan makanan oleh petugas seperti kita. Kebersihan ruangan nya
juga sangat terjaga. Dia sangat intimidate dan teliti dalam segala hal nya.”
“Lalu, apa guna nya sekertaris di kantor ini?” Tanyaku
semakin heran.
“Entah lah, hati-hati dia sangat angkuh. Jadi jangan sampai
memiliki masalah dengan nya.”
“Terima kasih untuk informasinya Karen.” Ujarku tersenyum
singkat. Sepertinya aku akan menghadapi bos yang ribet.
***
Kerja paruh waktu memang menyulitkan. Sekarang tugas ku
semakin bertambah, keadaan memang memaksaku melakukan sesuatu yang tidak ku
inginkan.
Aku berjalan melintasi pinggiran jalan beraspal dengan
sepatu boots hitam bertali rumit. Jarum jam menunjukkan pukul 3 sore. Shift ku sebagai Office Girl telah usai
siang hari tadi, waktunya ke Kedai Kopi Nenek.
Tiba disana, aku mengganti seragam ku dengan seragam lain
nya. Menguncir rambut ku yang pendek, lalu menggunakan bandana maid berwarna
putih. Ya, Kedai ini mengharuskan pelayan nya menggunakan seragam maid layaknya
cosplayer.
“Selamat sore kakek, ingin pesan apa?” Tanyaku ramah kepada
pelanggan yang umurnya sudah cukup tua berkisar 70 tahun.
“Siang Liona, saya butuh yang seperti biasa saja.” Ujarnya dengan
pelan dan ramah.
“Baik lah kek, Kopi hitam tanpa gula dengan roti madu akan
datang 7 menit lagi.”
“Terima kasih Liona, semoga harimu menyenangkan.” Ujar kakek
itu sambil memberikan jempol. Tiba-tiba teman sepekerjaan ku menarik ku ke
belakang dengan tergesa.
“Ku mohon bantu aku.” Serunya panik.
“Apa sih? Ada apa?”
“Tolong layani tamu di meja no. 9”
“Kenapa harus aku?” Tanyaku kesal.
“Dia teman kampus kita.”
“Lalu, kenapa?”
“Kau kan tidak mengenalnya, dan dia tidak mengenalmu. Jadi
kau saja ya” Ujar vero memohon dengan muka memelas nya.
“Haduh, baik lah.” Terima ku dengan terpaksa dan beranjak
pergi menghampiri meja no.9.
“Liona, hati-hati. Dia kejam.” Peringatan Vero tidak sampai
pada telinga ku.
***
“Selamat sore tuan, ingin pesan apa?” Tanyaku memberikan
senyum ku.
Pria itu hanya diam sambil membaca koran tanpa sedikit pun
menolehku.
“Ehem. Permisi tuan, saya ingin mencatat pesanan anda.”
Pria itu masih diam tidak bergeming.
“Tuan, saya..”
“Saya mendengar. Kamu pikir saya tuli?” Ujar nya dengan
tenang tetapi terasa seperti menantang ku untuk bertengkar. Aku menghela napas
untuk mengendalikan emosiku.
“Maaf tuan, saya pikir..”
“Kamu pikir saya tuli kan?” Tanya nya memotong kata-kata ku.
“Apa? Tidak tuan, saya sama sekali tidak berpikir bahwa
anda..”
“Tuli?” Lagi-lagi ia memotong kata-kataku.
“Tidak.” Jawabku singkat karena merasa percuma berbicara
panjang. Tetapi, tamu tetaplah raja.
“Saya pesan coktail satu.”
“Ada lagi?” Tanya ku memastikan.
Ia diam sambil membaca koran nya.
“Maaf tuan, ada....”
“Bisa tolong diam? Anda mengganggu saya membaca. Kalau saya
menyebutkan hanya coktail ya coktail saja.” Jawab nya dengan jutek, tetapi
mukanya tetap terlihat tenang dan datar. Aku mengepalkan tangan ku.
“Baiklah, 10 menit lagi pesanan anda akan datang. Terima
kasih dan permisi.”
BRAKKK!!
Aku memukul meja di dapur dengan kesal. ORANG MACAM APA ITU?
Rasanya ingin ku banting. Keluhku dalam hati.
“Sudah ku bilang, dia kejam.” Ujar Vero yang baru saja
melewati ku. Sial, aku tidak mendengar kata-kata nya di awal.
"Kau harus mengajarkan teman mu itu bagaimana sopan santun!"
"Kau harus mengajarkan teman mu itu bagaimana sopan santun!"
“Tenang lah, kau selalu bisa diandalkan. Orang itu akan
ramah padamu suatu saat, aku yakin. Semua pelanggan disini menyukai mu bukan.
Karena kau telaten.” Vero menepuk pundak ku.
“Jangan memanfaatkan ku, dasar penjilat.” Kataku datar. Ia
hanya tertawa sambil memelukku dari samping. Ya, namanya nya juga sahabat, ya
begini. Entahlah, apakah orang-orang sadar bahwa sahabat adalah manusia
menjengkelkan yang sangat kita sayangi.
Aku mengantarkan coktail pesanan pria itu dengan tepat
waktu. Ia menggunakan kemeja flanel hitam dan celana jeans berwarna putih. Topi
hitam di kepala nya menutupi bagian rambutnya. Ia pun menaruh koran yang sedang
ia baca, lalu menatapku. Tiba-tiba ia tampak kaget seperti melihat hantu di
hadapan nya ketika memandang ku. Mata nya berwarna hijau abu-abu. Mata yang
belum pernah ku lihat sebelum nya, indah. Tetapi kacamata bening dengan frame
coklat sedikit menutupi keindahan mata nya.
“Kamu...” Ujarnya terperangah. Aku semakin panik. Apa ada
yang salah dari diriku? Apa ada yang aneh? Apa ada cabai di gigiku?
“Ya? Tuan? Ada apa?” Tanyaku salah tingkah. Ia memerhatikan
ku sejenak, lalu bersikap seperti biasa lagi. Aku tahu ada yang ia pikirkan.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Sekilas kau hanya mirip seseorang.
Tapi sepertinya tidak.” Jawab nya lalu menyeruput koktail. Aku pun pergi.
Orang gak jelas, Keluhku dalam hati.
Jam part time ku telah usai. Kedai ini adalah penyelamatku
dalam membayar kuliah. Aku mencintai kedai ini, entah kenapa. Kerja sebagai
kepala maid sekaligus baristra di kedai ini begitu menyenangkan. Aroma kopi
selalu membuatku tenang. Hal yang tidak orang-orang ketahui adalah, kebiasaan
ku yang selalu memperhatikan semua pelanggan ku. Mempelajari mereka adalah hal
yang unik. Semua orang yang berdatangan kesini memiliki aneka ragam kehidupan.
Dari mulai wanita yang sering bersolek memamerkan bibir merah merona dan
baju-baju necis nya, ada yang datang kesini hanya untuk bergaya, ada yang
mengalami kencan pertama dengan gebetan baru nya, berusaha untuk menarik
perhatian pasangan nya. Ada yang datang dengan frustasi karena memiliki beban
dalam kehidupan nya lalu berusaha mencari ketenangan di Kedai ini, ada pasangan
kakek dan nenek yang masih sangat harmonis, ada anak – anak sekolah yang
mengerjakan tugas mereka, ada kumpulan para pecinta kopi, ada yang sedang galau
karena hubungan percintaan nya telah kandas, bahkan ada pemalas yang tidak
punya tujuan arah hidup menjadi pelanggan di kedai ini. Dari semua itu aku bisa
mempelajari bagaimana keaneka ragaman kehidupan yang terjadi di dunia ini.
Semua memiliki nasib yang berbeda-beda. Ada yang beruntung, dan ada yang tidak.
Dan sepertinya aku termasuk dalam yang tidak beruntung.
Aku pun baru menyadari, belum pernah kutemukan pelanggan
semacam dia.
Kereta pun datang, aku bergegas masuk menuju ke kampus.
***
Anak lelaki berumur 11 tahun itu menyodorkan sebuah permen
coklat payung.
“Sudah jangan cengeng, maafkan kakak”
Maafkan kakak..
“Liona!”
Aku terkejut mendengar suara Karenina dengan lantang
membangunkan ku.
“Astaga, bagaimana bisa kau tertidur? Liona, hari ini kita
bertugas membersihkan ruangan Pak Leo!”
“Ah iya, maaf Karen aku benar-benar lelah kemarin.” Iya
hanya menghela nafas. Lalu menarik ku mengambil alat-alat kebersihan.
Kami menaiki lift ke lantai 15. Tempat dimana ruangan Pak
Leo berada. Begitu kami mengetuk pintu. Pak Leo telah berdiri di dalam ruangan.
Aku melihat jam masih menunjukkan pukul 6.30 pagi. Direktur macam apa yang
datang ke Kantor nya sepagi ini? Pikirku keheranan.
“Sangat lamban!” Seru nya sambil berbalik menghadap aku dan
Karen. Aku dan pria yang dipanggil Pak Leo itu sama-sama terlonjak kaget.
“Loh.. kamu?”
Next Chapter
Comments
Post a Comment