Leo POV.
Pagi ini aku sengaja datang lebih cepat dari biasanya. Bisa
dibilang aku memang orang yang disiplin. Entah itu menjadi kebiasaan yang bagus
atau buruk, karena orang-orang berkata bahwa aku terlalu rajin, perfectionist,
dan ambisius. Hari pertama ku harus
sempurna, pikirku. Tetapi apa yang kulihat di dalam kantorku pagi ini begitu
kacau. Ruangan ku masih dalam keadaan kotor. Kantor macam apa ini?
Pintu terbuka, beberapa orang masuk ke dalam ruanganku.
Office Girl.
Aku membalikkan badan dan tampak seorang wanita kepala
pelayan di “Kedai Kopi Nenek” berdiri dihadapanku dengan seorang teman wanita nya.
“Loh.. kamu?”
Kami berdua mengucapkan kata yang sama secara
bersamaan. Ekspresi wajahnya berubah terkejut sama sepertiku. Rambut pendek
sebahu nya tidak dikuncir, memperlihatkan dengan jelas warna coklat kehitaman
rambut dan poni panjang nya. Kacamata bertengger di mata indah nya. Sesaat aku
merasakan kehangatan dari tatapan nya. Entah kenapa, dari awal aku melihat nya
di Kedai, aku seakan melihat sesosok wanita yang pernah ku cintai di masa lalu.
Atau mungkin hingga sekarang aku masih mencintai nya.
“Apa yang kau katakan? Dia bos kita!” Aku
mendengar teman wanita nya membisiki telinga wanita itu dan raut wajah nya
berubah menegang. Aku tersenyum licik.
“Perkenalkan nama saya Leo. Benar yang kamu katakan barusan,
saya adalah bos baru kalian.”
“Maafkan kami mas.. eh, pak. Ini juga hari dan shift pertama
kami bekerja disini.” Ujar wanita berambut pendek itu.
“Hmm.. Liona? Dan, Karenina ya?” Aku mencoba membaca name
tag mereka.
“Ya pak”
“Tolong bereskan ruangan saya sesegera mungkin tanpa ada
debu sedikit pun. Dan kamu khusus nya Liona, saya mau kopi hitam di Kedai Kopi
Nenek sudah berada di meja saya sore ini.”
“Tapi pak, bukan kah yang bertugas menyiapkan kopi anda
adalah sekertaris disini?” Tanya nya agak geram.
“Saya tidak menerima keluhan secara tidak langsung. Kerjakan
kewajiban mu.” Aku pergi meninggalkan ruangan.
***
Liona POV.
Aku mengganti seragam maid ku dengan sweater hoodie merah.
Rambut terurai ku ditutupi oleh tudung nya. Aku memasukkan tangan ke dalam saku
dan mulai menaiki kereta ke arah kampus. Malam itu udara sangat terasa dingin.
Alunan lagu Ed Sheeran mengalir dari headset yang ku pakai.
Pria berumur sekitar 40 tahun sedang mengajari mahasiswa nya
di kelas malam. Kepala nya setengah botak. Beliau mondar-mandir sambil
berceloteh panjang lebar. Aku hanya menyimak sedikit yang penting, lalu ku
catat dalam binder. Tiba-tiba sang dosen berhenti berbicara lalu memanggil
seorang mahasiswa dibelakang.
“Hei kamu yang memakai jaket kulit hitam. Cuci muka mu lalu
kembali bergabung dalam kelas saya.” Sahut sang dosen. Pria itu terbangun dari
tidur nya, dan mulai mengucek mata nya.
“Maaf pak.” Pria itu keluar dari kursinya dengan raut wajah
masih setengah mengantuk dan berantakan. Beberapa kali ia menguap. Aku
memperhatikan pria itu lebih jelas. Tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Ia menoleh ke arahku, merasa terintimidasi. Aku bergegas
menunduk dan bersembunyi didalam tudung hoodie ku.
Sial. Sang Bos ada dimana-mana.
***
Leo POV.
Bosan. Kebosanan ini
menghantuiku. Dunia ini terlalu flat dan aku tidak suka. Tetapi aku lebih
membenci drama dimana-mana. Hidupku terasa seperti seseorang yang menganut
paham individualis. Bagiku, dunia ini hanya rekayasa yang dibentuk untuk
membentuk manusia seperti kita. Dan
hidup yang ku jalani hanya untuk diriku sendiri. Bisa dikatakan, aku ini Introvert. Tetapi pada kenyataan nya,
orang-orang mengenaliku sebagai seorang pria yang mudah bergaul dengan siapa
saja. Daripada Introvert, sepertinya aku lebih mendekati ciri-ciri seorang
Faker.
Banyak sekali orang-orang yang
membicarakan ku dari belakang, banyak yang
tidak percaya bagaimana bisa anak muda seperti ku memiliki jabatan di perusahaan
ini. Ya benar, aku adalah pewaris kekayaan ayahku. Tetapi semua yang ku raih
ini, bukan berdasarkan atas hak istimewa itu. Aku tidak pernah bergantung
dengan kekayaan ku. Aku selalu mencapai sesuatu atas usaha ku sendiri, prestasi
ku, kerja keras ku. Aku selalu ikut kelas akselerasi. Bahkan sekarang aku telah
menjadi sarjana. Hanya saja aku berkuliah lagi dengan jurusan yang berbeda.
Menambah bidang keahlian ku selagi aku masih memiliki banyak waktu. Selagi aku
belum resmi menjadi Direktur Utama disini,
menggantikan posisi kakak ku.
Soal cinta, banyak
yang bertanya mengapa hingga sekarang aku belum mendapatkan kekasih. Aku sedang
tidak butuh itu. Bahkan
aku lupa bagaimana rasanya dicintai dan mencintai. Dulu aku pernah mencintai,
tetapi aku di campakkan.
Aku
merogoh jas kerja ku. Dan mengeluarkan
handphone yang selalu ku bawa kemana-mana. Kubuka sebuah game yang
selalu mengisi rasa jenuh ku. Sebuah social game online yang dapat berhubungan
dengan orang-orang luar yang sama-sama memainkan nya. Seperti the sims, game ini seperti hidup di
dunia virtual. Aku menjalankan avatarku sesuka hati tanpa ada larangan ini itu,
hal yang tak bisa ku lakukan di dunia nyata, dapat ku lakukan di game ini. Aku
membalas sebuah pesan masuk dari seseorang yang juga memainkan game ini.
Siang ini terasa
membosankan bukan?
Ia membalasnya.
Ya, bos ku yang arogan
membuatku terlalu sibuk. Aku harap aku bisa makan siang dengan mu.
Aku pun berharap
begitu.
Liona POV.
Ia selalu datang kesini. Hanya pernah absen sekali.
Bagaimana aku tidak pusing, ketika bos ku selalu berada di tempat dimana aku
bekerja sampingan. Bahkan ketika bos ku memiliki umur yang tidak beda jauh
dengan ku.
“Tolong antar waffle ini ke meja nomer lima ya” Perintahku
pada Adimas.
“Baik nona, kau terlihat cantik jika sedang pusing seperti
itu.”
“Jangan menggoda ku dasar buaya.” Ujarku sambil tertawa.
“Kau terlalu pantas untuk di goda.” Dimas mengacak acak
rambutku.
“Cepat antarkan atau aku laporkan kau pada atasan.” Ia
tertawa sambil mengambil nampan berisi waffle dari tangan ku.
“Galak sekali.”
Aku memperhatikan para pelanggan yang sedang menikmati
santapan nya, tak terkecuali Leo. Ia meneguk Caramel Machiato nya sambil
membaca sebuah buku sejarah politik. Keren dan tampan. Sayang nya terlalu
arogan dan galak.
Tiap kali aku mengantarkan pesanan ke meja nya, ia tidak
pernah mengungkit pekerjaan kami di Kantor. Ia tidak pernah mengungkit aku
sebagai bawahan nya. Ia hanya menatapku, mempehatikan ku setiap aku melayani
pelanggan. Tetapi diam ketika aku mendatangi nya. Ia bersikap seolah-olah kami
tidak saling mengenal satu sama lain. Dan aku tetap menjaga etika ku sebagai
karyawan nya.
Aku mengkancing kemeja ku dan bergegas menuju kampus. Malam
ini hujan, dan aku tidak dapat meng-skip kelas karena aku harus presentasi hari
ini. Aku berjalan mengitari kota malam ditemani rintik hujan dan payung
transparan. Ketika aku menengok ke arah parkiran, aku melihat Leo sedang
memarkirkan sepeda nya. Aku tertawa melihat apa yang berada di depan mataku.
Orang aneh macam apa yang menggunakan jas hujan sambil membawa sepeda
malam-malam. Kemana mobil nya?
Dosen ku tekah berada di kelas dan mempersilahkan aku
mempresentasikan hasil tugas ku. Aku sedikit gugup karena ternyata aku satu
kelas lagi dengan Leo dan kali ini dia tidak tidur. Matanya fokus ke arah
depan. Aku berdeham dan memulai presentasi ku. Seperti biasa aku melakukan nya
dengan sangat lancar. Aku suka sekali berbicara di depan publik seperti ini,
rasanya menyenangkan menjadi titik fokus orang-orang. Dan aku berharap aku
sudah totalitas karena usaha yang ku lakukan seminggu ini untuk mengerjakan
tugas ini sangatlah maksimal. Lima menit pun usai, aku menutup presentasi ku
dan orang-orang bertepuk tangan.
“Luar biasa Liona, kamu memang tidak pernah mengecewakan
saya. Hasil kerja dan cara penyampaian mu sangat bagus.” Sahut dosen ku yang
memiliki rambut setengah botak.
“Terima kasih pak, itu tidak akan berhasil jika bukan karena
kerja keras”
“Bagus. Untuk saat ini kamu unggul dari yang lain.”
“Untuk saat ini saja pak.” Ujarku.
“Maksud mu?”
“Ah, bukan apa-apa pak.” Aku tersenyum. Mengingat Leo adalah
seorang calon direktur perusahaan dan betapa perfectionist nya dia, aku pasti
tergusur dari posisi unggul ku itu. Dari gaya hidup nya saja aku sudah tahu,
hal seperti ini adalah spele untuk nya. Ia pernah melewati yang lebih sulit
dari tugas ini.
Aku menoleh ke arah Leo, dan ia memperhatikan ku sambil
memberikan sebuah senyuman manis. Membuatku merasa terserang diabetes.
Comments
Post a Comment