Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 2



Leo POV.

Pagi ini aku sengaja datang lebih cepat dari biasanya. Bisa dibilang aku memang orang yang disiplin. Entah itu menjadi kebiasaan yang bagus atau buruk, karena orang-orang berkata bahwa aku terlalu rajin, perfectionist, dan ambisius.  Hari pertama ku harus sempurna, pikirku. Tetapi apa yang kulihat di dalam kantorku pagi ini begitu kacau. Ruangan ku masih dalam keadaan kotor. Kantor macam apa ini?

Pintu terbuka, beberapa orang masuk ke dalam ruanganku. Office Girl.

Aku membalikkan badan dan tampak seorang wanita kepala pelayan di “Kedai Kopi Nenek” berdiri dihadapanku dengan seorang teman wanita nya.

“Loh.. kamu?”
 Kami berdua mengucapkan kata yang sama secara bersamaan. Ekspresi wajahnya berubah terkejut sama sepertiku. Rambut pendek sebahu nya tidak dikuncir, memperlihatkan dengan jelas warna coklat kehitaman rambut dan poni panjang nya. Kacamata bertengger di mata indah nya. Sesaat aku merasakan kehangatan dari tatapan nya. Entah kenapa, dari awal aku melihat nya di Kedai, aku seakan melihat sesosok wanita yang pernah ku cintai di masa lalu. Atau mungkin hingga sekarang aku masih mencintai nya.

“Apa yang kau katakan? Dia bos kita!” Aku mendengar teman wanita nya membisiki telinga wanita itu dan raut wajah nya berubah menegang. Aku tersenyum licik.

“Perkenalkan nama saya Leo. Benar yang kamu katakan barusan, saya adalah bos baru kalian.”

“Maafkan kami mas.. eh, pak. Ini juga hari dan shift pertama kami bekerja disini.” Ujar wanita berambut pendek itu.

“Hmm.. Liona? Dan, Karenina ya?” Aku mencoba membaca name tag mereka.

“Ya pak”

“Tolong bereskan ruangan saya sesegera mungkin tanpa ada debu sedikit pun. Dan kamu khusus nya Liona, saya mau kopi hitam di Kedai Kopi Nenek sudah berada di meja saya sore ini.”

“Tapi pak, bukan kah yang bertugas menyiapkan kopi anda adalah sekertaris disini?” Tanya nya agak geram.

“Saya tidak menerima keluhan secara tidak langsung. Kerjakan kewajiban mu.” Aku pergi meninggalkan ruangan.
                                                                                                ***

Liona POV.

Aku mengganti seragam maid ku dengan sweater hoodie merah. Rambut terurai ku ditutupi oleh tudung nya. Aku memasukkan tangan ke dalam saku dan mulai menaiki kereta ke arah kampus. Malam itu udara sangat terasa dingin. Alunan lagu Ed Sheeran mengalir dari headset yang ku pakai.
Pria berumur sekitar 40 tahun sedang mengajari mahasiswa nya di kelas malam. Kepala nya setengah botak. Beliau mondar-mandir sambil berceloteh panjang lebar. Aku hanya menyimak sedikit yang penting, lalu ku catat dalam binder. Tiba-tiba sang dosen berhenti berbicara lalu memanggil seorang mahasiswa dibelakang.

“Hei kamu yang memakai jaket kulit hitam. Cuci muka mu lalu kembali bergabung dalam kelas saya.” Sahut sang dosen. Pria itu terbangun dari tidur nya, dan mulai mengucek mata nya.

“Maaf pak.” Pria itu keluar dari kursinya dengan raut wajah masih setengah mengantuk dan berantakan. Beberapa kali ia menguap. Aku memperhatikan pria itu lebih jelas. Tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

Ia menoleh ke arahku, merasa terintimidasi. Aku bergegas menunduk dan bersembunyi didalam tudung hoodie ku.  

Sial. Sang Bos ada dimana-mana.

                                                                                                ***

Leo POV.

Bosan. Kebosanan ini menghantuiku. Dunia ini terlalu flat dan aku tidak suka. Tetapi aku lebih membenci drama dimana-mana. Hidupku terasa seperti seseorang yang menganut paham individualis. Bagiku, dunia ini hanya rekayasa yang dibentuk untuk membentuk manusia seperti kita.  Dan hidup yang ku jalani hanya untuk diriku sendiri. Bisa dikatakan, aku ini Introvert. Tetapi pada kenyataan nya, orang-orang mengenaliku sebagai seorang pria yang mudah bergaul dengan siapa saja. Daripada Introvert, sepertinya aku lebih mendekati ciri-ciri seorang Faker.

Banyak sekali orang-orang yang membicarakan ku dari belakang, banyak  yang tidak percaya bagaimana bisa anak muda seperti ku memiliki jabatan di perusahaan ini. Ya benar, aku adalah pewaris kekayaan ayahku. Tetapi semua yang ku raih ini, bukan berdasarkan atas hak istimewa itu. Aku tidak pernah bergantung dengan kekayaan ku. Aku selalu mencapai sesuatu atas usaha ku sendiri, prestasi ku, kerja keras ku. Aku selalu ikut kelas akselerasi. Bahkan sekarang aku telah menjadi sarjana. Hanya saja aku berkuliah lagi dengan jurusan yang berbeda. Menambah bidang keahlian ku selagi aku masih memiliki banyak waktu. Selagi aku belum resmi menjadi  Direktur Utama disini, menggantikan posisi kakak ku.

 Soal cinta, banyak yang bertanya mengapa hingga sekarang aku belum mendapatkan kekasih. Aku sedang tidak butuh itu. Bahkan aku lupa bagaimana rasanya dicintai dan mencintai. Dulu aku pernah mencintai, tetapi aku di campakkan.

                Aku merogoh jas kerja ku. Dan mengeluarkan  handphone yang selalu ku bawa kemana-mana. Kubuka sebuah game yang selalu mengisi rasa jenuh ku. Sebuah social game online yang dapat berhubungan dengan orang-orang luar yang sama-sama memainkan nya.  Seperti the sims, game ini seperti hidup di dunia virtual. Aku menjalankan avatarku sesuka hati tanpa ada larangan ini itu, hal yang tak bisa ku lakukan di dunia nyata, dapat ku lakukan di game ini. Aku membalas sebuah pesan masuk dari seseorang yang juga memainkan game ini.

Siang ini terasa membosankan bukan?

Ia membalasnya.

Ya, bos ku yang arogan membuatku terlalu sibuk. Aku harap aku bisa makan siang dengan mu.

Aku pun berharap begitu.



Liona POV.

Ia selalu datang kesini. Hanya pernah absen sekali. Bagaimana aku tidak pusing, ketika bos ku selalu berada di tempat dimana aku bekerja sampingan. Bahkan ketika bos ku memiliki umur yang tidak beda jauh dengan ku. 

“Tolong antar waffle ini ke meja nomer lima ya” Perintahku pada Adimas.

“Baik nona, kau terlihat cantik jika sedang pusing seperti itu.” 

“Jangan menggoda ku dasar buaya.” Ujarku sambil tertawa.

“Kau terlalu pantas untuk di goda.” Dimas mengacak acak rambutku.

“Cepat antarkan atau aku laporkan kau pada atasan.” Ia tertawa sambil mengambil nampan berisi waffle dari tangan ku.

“Galak sekali.”

Aku memperhatikan para pelanggan yang sedang menikmati santapan nya, tak terkecuali Leo. Ia meneguk Caramel Machiato nya sambil membaca sebuah buku sejarah politik. Keren dan tampan. Sayang nya terlalu arogan dan galak.

Tiap kali aku mengantarkan pesanan ke meja nya, ia tidak pernah mengungkit pekerjaan kami di Kantor. Ia tidak pernah mengungkit aku sebagai bawahan nya. Ia hanya menatapku, mempehatikan ku setiap aku melayani pelanggan. Tetapi diam ketika aku mendatangi nya. Ia bersikap seolah-olah kami tidak saling mengenal satu sama lain. Dan aku tetap menjaga etika ku sebagai karyawan nya.
Aku mengkancing kemeja ku dan bergegas menuju kampus. Malam ini hujan, dan aku tidak dapat meng-skip kelas karena aku harus presentasi hari ini. Aku berjalan mengitari kota malam ditemani rintik hujan dan payung transparan. Ketika aku menengok ke arah parkiran, aku melihat Leo sedang memarkirkan sepeda nya. Aku tertawa melihat apa yang berada di depan mataku. Orang aneh macam apa yang menggunakan jas hujan sambil membawa sepeda malam-malam. Kemana mobil nya?

Dosen ku tekah berada di kelas dan mempersilahkan aku mempresentasikan hasil tugas ku. Aku sedikit gugup karena ternyata aku satu kelas lagi dengan Leo dan kali ini dia tidak tidur. Matanya fokus ke arah depan. Aku berdeham dan memulai presentasi ku. Seperti biasa aku melakukan nya dengan sangat lancar. Aku suka sekali berbicara di depan publik seperti ini, rasanya menyenangkan menjadi titik fokus orang-orang. Dan aku berharap aku sudah totalitas karena usaha yang ku lakukan seminggu ini untuk mengerjakan tugas ini sangatlah maksimal. Lima menit pun usai, aku menutup presentasi ku dan orang-orang bertepuk tangan.

“Luar biasa Liona, kamu memang tidak pernah mengecewakan saya. Hasil kerja dan cara penyampaian mu sangat bagus.” Sahut dosen ku yang memiliki rambut setengah botak.

“Terima kasih pak, itu tidak akan berhasil jika bukan karena kerja keras”

“Bagus. Untuk saat ini kamu unggul dari yang lain.”

“Untuk saat ini saja pak.” Ujarku.

“Maksud mu?”

“Ah, bukan apa-apa pak.” Aku tersenyum. Mengingat Leo adalah seorang calon direktur perusahaan dan betapa perfectionist nya dia, aku pasti tergusur dari posisi unggul ku itu. Dari gaya hidup nya saja aku sudah tahu, hal seperti ini adalah spele untuk nya. Ia pernah melewati yang lebih sulit dari tugas ini.

Aku menoleh ke arah Leo, dan ia memperhatikan ku sambil memberikan sebuah senyuman manis. Membuatku merasa terserang diabetes.



Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...