Skip to main content

Kamu kepada Kami

Untuk yang tidak pernah tahu diri.

Anda memang hebat. Ya, saya hargai itu.
Bahkan saya pun terkagum kagum pada anda.
Tapi apa anda sekarang?
Saya salah mengenal anda.
Saya tahu anda orang yang baik, tetapi anda terlalu nyaman dalam permainan jahat anda.

Hei, sadarkah kamu?
Kami yang menemani mu dari awal.
Dari mulai kamu bukan menjadi siapa siapa.
Aku. Aku yang mengenalkan duniaku padamu.
Mengajarkan mu bagaimana caranya percaya diri meski aku sendiri tidak percaya diri.
Tak ingin pamrih. Tapi apa jadinya kamu sekarang?

Dasar monster tidak berperasaan.
Anda hanya menginginkan semua situasi sesuai dengan yg anda harapkan.
Hei, ini bumi bersama. Bukan bumi mu saja.
Ini langitku bukan langitmu saja.

Apasih yang merubah mu?
Bahkan aku sama sekali tak mengenali mu sekarang.
Bahagiakah kamu seperti ini wahai sang kacang yang melupakan kulitnya?
Jika ingin berhitung, yang saya lakukan untuk kamu jauh lebih banyak daripada yang kamu lakukan untuk saya.
Sadarkah kamu itu?
Astaga, permohonan tolong ku saja tidak kau tanggapi.
Tangan ku saja tidak kau gapai.
Sedangkan mereka dengan mudah kau utamakan.

Kamu adalah penghuni masa lalu bukan?
Lalu mengapa kamu tidak mengingat masa lalu mu yg lain nya?
Yang kamu ingat hanya masa lalu yg itu itu dan itu saja.
Saya muak.
Rasanya saya ingin mengeluarkan semua amarah saya di depan kamu.
Bahkan yang selalu hadir untukmu saja tidak pernah kau syukuri itu.
Bahagia kah kamu seperti ini wahai sang penakluk akademik?

Kami ada untukmu.
Kami yang tertawa bersamamu.
Kami yang mendekor semua untukmu.
Kami yang berniat memberi kejutan kejutan manis untukmu.
Kami yang selalu mengajakmu.
Bahkan kami yang mendukungmu!!
Tapi apa kamu kepada kami?
Kejam.

Benar kata orang, ribuan kebaikan seseorang tidak pernah di ingat. Tetapi satu kesalahan seseorang di ingat ribuan kali. Ironis.
Kamulah ke ironisan itu.
Sial, aku benar benar marah sekarang.
Akalmu memang dewasa. Tetapi hatimu jauh dari dewasa.
Kami, terutama aku.. memang amat sangat membutuhkan mu. Tetapi jika kamu seperti ini, kami pun juga sakit hati.

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...