Skip to main content

Anda bukan Matematika dan Fisika



Gunanya kejujuran adalah untuk menghindari kesalahpahaman.
Seandainya kejujuran itu selalu di terapkan, maka tak ada yang namanya salah terka.
Kebanyakan konflik timbul dari kesalahpahaman, kesalahpahaman timbul karena ketidak jujuran.

Ketika dari kedua pihak saling tidak jujur, maka masing-masing dari mereka akan memunculkan perspektif yang di buat buat tanpa memikirkan fakta sebenarnya.

Masih lebih baik antara dua pihak, bagaimana jika dua kelompok? Atau bahkan lebih? Akan semakin besar pertikaian yang awalnya hanya sepercik api itu.

Dia tidak pernah tahu bagaimana saya. Sebenarnya kenapa saya. Dia hanya menggunakan perspektifnya. Dan mulai termakan oleh lingkungan luar.

Bahkan sebuah niatan baik dipandang buruk.

Serius, saya tidak pernah berniat buruk. Meskipun terlihat fake, bahkan sekali pun fake itu benar adanya, saya tidak akan menjahati.

Ketahuilah, kata-kata tajam dari mulut anda justru memperlihatkan bahwa begitulah anda yang sebenarnya.

Jangan iri, anda masih jauh lebih terdepan daripada saya. Saya bukan apa-apa. Haruskah ada kompetisi? 

Atau bagaimana dengan konflik lain nya? Seperti antara wanita dengan pria.

Ketika sang pria selalu merasa salah, padahal sang wanita pun merasa bahwa dirinya lah yang selalu salah. Dan keduanya saling menyalahkan diri masing-masing.

Atau dari sebuah kegengsian seseorang ketika sebenarnya ia tidak bermaksud menyakiti, hanya karena gengsi yang tinggi ia melontarkan kata-kata yang keterlaluan. Niatnya hanya untuk menutupi kegengsian nya, akan tetapi sang lawan bicara akan mengambil perspektifnya sendiri tanpa mengetahui bagaimana faktanya. Sehingga sang lawan bicara pun juga akan melontarkan kata-kata “jual mahal” nya yang dapat menyakiti balik. Alhasil keduanya hanya saling menyakiti perasaan satu sama lain.

Cobalah bersikap to the point, jika iya katakan iya. Jika tidak katakan tidak. Jangan iya tetapi tidak dan tidak tetapi iya. 
Jika ingin tahu bertanyalah, jika ingin di mengerti ungkapkanlah. 

Ingat, anda bukan Matematika atau pun Fisika. Dan mereka bukan lah Albert Einsten ataupun Issac Newton.

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...