Skip to main content

BAYANGAN KEHIDUPAN DUNIA





Terkadang ketika meneguk secangkir kopi hangat, timbul pemikiran “seandainya aja dunia ini seperti yang ada di bayangan gue”

Dunia seperti apatuh?

Oke oke, sekarang coba kalian tutup mata kalian dan lihat bagaimana dunia kita sekarang ini? Yak, jawaban nya adalah tidak jelas. Berantakan.

Sekarang coba kalian hapus dunia tersebut menjadi dunia yang polos kembali, dan mulai bayangkan gambaran dunia yang gue deskripsikan. 

Bayangkan, jika anak-anak kecil di masa sekarang mengganti “tab dan hp” yang mereka genggam menjadi sebuah lego, congklak, scrable, monopoli, ular tangga, hama, dan sebagainya. Betapa sehatnya mereka tanpa radiasi, betapa sehatnya mereka karena kemampuan mereka diasah untuk berpikir cerdik dari taktik bermain.

Bayangkan, jika anak-anak sd di masa sekarang mengganti “sinetron” yang mereka tonton dengan acara drama atau opera karya anak-anak bangsa. Tentunya mereka secara harfiah akan mengasah imajinasi mereka dengan sesuatu yang lebih ber value. Tapi sayangnya sekarang seni drama panggung yang dulu sering dimunculkan sekarang sudah tidak ada lagi. Tidak ada.

Bayangkan, jika acara tv di masa sekarang diganti dari “ftv-ftv lebay” menjadi film-film sejarah seperti G30S/PKI. Tentunya orang-orang semakin mengenal negara mereka sendiri. Sekarang? Ah apalah daya, mana ada yang mau berjiwa nasionalisme menghabiskan sedikit waktunya untuk menonton sejarah negara nya sendiri.  Gue suka mikir, betapa hebatnya negara-negara asing membuat sejarah-sejarah mereka di kemas menjadi sebuah film bioskop action yang seru. Contohnya The Furry dan National Treasure. Juga negara Jepang yang membuat film-film anime dengan maksud memberikan sebuah makna, pelajaran, rasa tekad yang tinggi, dan kejeniusan.  Contohnya, Detective Conan, Death Note, Zankyou no Terror, Joker Game, Naruto, Attack on Titan,  Arslan Senki, dan Assasination Classroom. Meskipun sebuah anime itu hanyalah gambar bergerak biasa yang mungkin agak mustahil, akan tetapi pesan moral yang diberikan sangat berpengaruh. Mereka tahu,  bagaimana caranya membuat masyarakat mendapatkan ilmu tanpa kejenuhan untuk mempelajari ilmu tersebut.

Gue tahu belajar memang jenuh kan? Tetapi sebenarnya ada solusi yang bisa membuat belajar menjadi tidak menjenuhkan adalah belajar  dengan datang langsung ke museum atau menonton film-film bersejarah, atau ya... seperti cara-cara yang gue sebutkan tadi.

Oke kembali kita bayangkan lagi.

Bayangkan, jika pengamen-pengamen berandal dijalan, dan orang minta-minta yang masih sehat atau masih dikatakan mampu untuk bekerja, di berikan pekerjaan untuk menanam pohon diseluruh pinggir jalan dan membersihkan sampah-sampah yang berserakan dijalan, lalu pemerintah memberikan gaji kepada mereka. Bukankah itu sangat membantu? Bukan kah hidup mereka lebih bermakna dengan itu? Selain mendapat uang dengan hasil jerih payah mereka, mereka juga membantu melestarikan bumi yang mulai porak-poranda ini.

Bayangkan, jika pemuda-pemudi bangsa di masa sekarang ikut berpartisipasi membangun negeri bersama pemerintah dengan memikirkan cita-cita bangsa ini kedepan nya. Bukan kah lebih inovatif?
Bayangkan, jika pemuda-pemudi di masa sekarang lebih memikirkan bagaimana caranya merancang sebuah teknologi canggih seperti di film-film era globalisasi. Memberikan ide-ide mereka untuk membuat sebuah alat-alat yang dapat merevolusi dunia. Seperti film Project Almanac dan Big Hero 6. Daripada menghabiskan waktunya untuk “Hedon” lalu menghabiskan duit orangtua mereka.

Bayangkan, jika para guru di dunia dapat membantu anak-anak berbakat mengasah kemampuan mereka hingga tajam dengan memberikan dorongan dan arahan juga pengalaman agar mereka tidak berdiam diri tanpa maju dan malu, bahkan takut untuk memulai sesuatu.

Bayangkan, jika hubungan orang tua dengan anak-anak mereka dapat seakrab hubungan sahabat sehingga orangtua dapat mengerti anaknya. Anak-anak mereka pun akan merasa nyaman dan terbuka sehingga orang tua tidak akan khawatir dan dapat mempercayai anaknya, lalu tidak ada lagi yang namanya “salah didikan orangtua”. Dan sang anak juga dapat menentukan pilihan nya sendiri tanpa di forsir ini itu, tanpa mengharuskan anak melakukan sesuatu yang berasal dari ego orang tua.

Bayangkan, jika pemerintah masa sekarang lebih profesional seperti Pak Soekarno dan Pak Soeharto dalam membangun negeri. Seandainya pemerintah mempunyai rasa “ingin merubah nasib negara” yang mulai jauh dari cita-cita awalnya. Tidak memikirkan keuntungan semata, seperti para koruptor. Seandainya kejujuran dan keadilan itu mereka tegakkan. Mungkin jiwa nasionalisme masih sangat kurang di terapkan. Apa harus menunggu di jajah dulu baru sadar? Mau mengulang sejarah perang dulu? Kalau itu terjadi, bagaimana coba? Bisa apa kita?

Bayangkan, jika masyarakat tidak hanya bisa menuduh pemerintah saja, mencemooh sana sini, tetapi tidak mau membantu dan memberikan solusinya alias “ngomong doang” apa bedanya masyarakat yang menuduh dan pemerintah yang memeberikan janji kosong? Sama saja. Harusnya pemerintah dan masyarakat dapat saling membantu dan melengkapi.  Halo, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat bukan? 

Bayangkan, jika seni lebih dihargai di masa sekarang, orang-orang tidak akan jenuh pada rutinitas nya. Emosi para ego lebih dominan terhadap keharmonisan ketimbang perselisihan.

Bayangkan, jika ada satu hari dimana tidak ada kendaraan pribadi untuk hari peringatan subsidi. Semua orang bersama sama berjalan kaki, bersepeda, atau menaiki kendaraan umum. Betapa sehatnya tubuh manusia karena terbiasa berjalan kaki dan menghirup udara segar tanpa polusi.

Bayangkan, jika ada malam dimana tanpa listrik untuk penghematan. Semua menyalakan lilin, bermain senter diluar, dan kita akan sadar bahwa malam itu begitu indah karena bulan dan bintang lebih terlihat jelas dan keindahnya lebih terpancar.

Bayangkan, jika bumi ini sehijau film The Hobbit, The Lord Of The Ring, dan Narnia. Lalu secanggih di film Tomorrowland, Divergent, dan Wall-E.

Betapa rapih nya dunia ini, jika memang itu terjadi. Seperti itulah dunia yang gue bayangkan. Dan itu adalah beberapa dari sekian banyak bayangan yang ada dibenak gue. Mungkin kalian bisa mencurahkan bayangan kalian terhadap dunia ini di comment bawah.

Ya, seseorang harus menjadi manusia yang keren dulu buat menerapkan semua itu. Karena berpikir beda itu justru yang menciptakan semua ini gak flat.






Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...