Skip to main content

Anak Pertama

Siapa yang bisa memilih untuk memenuhi takdirnya menjadi siapa?
Ada kisah yang berbeda tentunya, dari pertama seorang anak lahir. Sebagai anak pertama, tentunya separuh harapan orang tua melekat pada takdirnya, dan separuh bahagia orang tua terletak pada masa depan yang ia pilih. Karena anak pertama adalah yang pertama disematkan doa oleh kedua orang tuanya, sebagai pembuka jalan bagi adik-adiknya atau sebagai pembuka jalan untuk orang tuanya menuju surga.
Jadi jika anak pertama memiliki watak yang keras, maklumi saja. Jalan yang sudah dia tempuh tidak seringan yang anak-anak lain lalui. Ada sesuatu yang dia pikul di bahunya, titipan dari orang tua sejak ia dilahirkan.
Karena menjadi anak pertama memang tidaklah mudah. Sesuatu yang dirindukannya adalah kebanggaan yang terlihat dari wajah ibu-bapaknya.

Repost from: piring-kosong tumblr.

Memang benar kata diatas.
Menjadi anak pertama terkadang memang terasa begitu menggenggam sebuah tanggung jawab dari harapan yang besar.
Bagaimana menjadi sebuah contoh dan panutan.
Bagaimana menjadi sebuah eksperimen yang bisa dikatakan sukses.
Bagaimana menjadi sebuah pemegang kepercayaan.
Memang terkadang terasa berat. Apalagi wanita.
Aku sering sekali berpikir begini,
Aku adalah anak pertama. Maka aku harus bisa menjadi orang. Maka aku harus berusaha menjadi penerus utama. Entah seberat apa, tanggung jawab ada di pundak ku sekarang. Aku harus mencari cara agar menjadi penerus yang bisa memperbaiki segala yang belum sempurna.
Mereka menaruh kepercayaan kepadaku. Kalau bukan aku, lalu siapa lagi? Kepada siapa lagi mereka menaruh harapan pertama? Siapa lagi yang bisa membawa perubahan? Itu Aku. Dan aku harus.
Itulah yang sering menjadi portal ku untuk tidak salah melangkah mengambil jalan ku.
Karena sekali salah, maka harapan itu akan hancur. Aku tidak mau.
Aku adalah harapan besar kedua orang tuaku. Dan aku mengharuskan diriku untuk tidak gagal sedikitpun.
Kadang aku bertanya, untuk apa orang-orang yang menyianyiakan waktu mereka menjadi manusia tidak berguna? Sedangkan aku disini menjadi anak yang bersusah payah mengejar masa depan.
Mereka yang menganggap remeh tidak takut akan kesalahan yang mereka perbuat. Sedangkan aku, satu kesalahan saja yang tidak sengaja ku buat, membuat ku berpikir ribuan kali atas bodohnya menyesali diri sendiri.
Watak keras memang sudah hukum alamnya untuk anak pertama. Mereka begitu karena mereka berpikir tidak boleh terlihat lemah untuk menjadi seorang kakak. Seorang pelindung harus kuat, berani, dan tegas.
Tak peduli aku ini wanita, aku tetap akan menjadi sebuah perisai.
Kadang rindu untuk bermanja, tapi tidak ada waktu sedikit pun untuk itu.
Tidak masalah, selama aku dapat melihat wajah bangga dari kedua orang tua, itu sudah cukup mengisi kekosongan di sisi lain nya.

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...