Skip to main content

Ingatan Abu-Abu Chapter 15


Leo dengan setelan jaket jeans hitam nya masuk ke dalam sebuah club. Sudah berkali-kali ia mendatangi tempat ini. Bagi nya, tempat ini tidak terlalu bising dan “liar” seperti beberapa club ditempat lain. Club ini memberikan hiburan dengan santai tapi berkesan. Dan Leo lebih suka ketenangan. Ia berjalan mencari-cari orang yang harus ia temui, kemudian menemukan nya sedang bercanda dengan beberapa gadis.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Leo menuju sasaran. Sharron tersenyum karena tau darimana suara tersebut berasal. Ia menoleh lalu memberikan sapaan sok akrab.

“Hai teman ku Leo, lebih tepatnya adik kecil ku.” Ia tertawa menepuk pundak Leo. Sambil memperkenalkan Leo pada gadis-gadis yang berada disekitar Sharron.

“Kau tak pernah memberitahu kami bahwa kau mempunyai adik yang sangat tampan. Curang sekali.” Ujar salah seorang gadis yang memakai mini dress berwarna hitam gemerlap.

“Aku bukan teman nya. Apalagi adik nya. Jangan bercanda, aku tak sudi.” Ujar Leo dengan ketus.

“Benar kah sobat? Akan ku beritahu bahwa yang kau katakan itu omong kosong. Mari kita pindah ke meja yang sudah ku booking. Aku tahu kau tak suka meja bar.” Sharron berpamitan kepada beberapa teman gadis nya, lalu berjalan menuju meja yang rada jauh dari suara musik. Mereka pun duduk.

“Kau seorang dokter, apa kau gila? Jangan jatuhkan martabat mu.”

“Oh, ada gerangan apa kau peduli pada ku?”

Leo terdiam. Cih. Hanya itu yang ia katakan.

“Apa kau yakin tidak ingin menjadi adik kecil ku? Jika dia masih ada, aku yakin kau akan menjadi adik ku. Jadi jangan munafik Leo,  pria tidak menarik ucapan nya. ” Ujar Sharron  sambil menyeruput kopinya pelan-pelan karena masih terasa panas.

Leo terdiam menahan geram. “Jangan bahas itu.”

Roy Sharron tersenyum. “Namun yang akan aku bicarakan masih menyangkut itu.”

“Untuk apa membahas yang sudah tidak ada?”

“Jaga ucapan mu. Dia masih ada, akan selalu ada, di seumur hidup ku.” Sharron menyerahkan selembar foto. “Apa kau masih mencintai nya?”

Leo mengambil foto itu dan menatap nya. Tangan lain nya mengepal. Raut wajahnya berubah menjadi muram. “Tentu saja masih.  Tanpa perlu bertanya, kau tentu tahu aku akan terus mencintai nya.”

“Benarkah? Kalau begitu, aku akan memberitahu mu sesuatu. Besok aku akan makan malam dengan seorang wanita.”

“Wow, aku tak peduli.”

“Nama nya Liona.” Seketika mata Leo membelalak. Amarah nya mulai memuncak. Ia meremas kerah baju Sharron.

“Ups, santai brother. Kenapa kau harus semarah ini? Bukan kah kau masih mencintai Angeline?”
Mendengar ucapan Sharron, Leo mulai mengerti apa maksud dari semuanya. “Kau mengancam ku.”
Sharron tertawa. “Untuk apa?”

“BERHENTI BERMAIN-MAIN SHARRON! JIKA TERUS BEGINI, WANITA ITU DAN KITA TIDAK AKAN TENANG!”

“Aku masih berharap-”

“SUDAH KU KATAKAN DIA ORANG YANG BERBEDA. JANGAN BAWA-BAWA DIA KE DALAM MASALAH INI.”

“LALU MENGAPA KAU MENYEMBUNYIKAN  DIA DARIKU?!”  Sharron balas membentak. Emosi nya terpancing karena kemarahan Leo yang juga tidak terkontrol. Orang-orang disekitar pun mulai memperhatikan.

“Apa? Aku tidak menyembunyikan nya.” Amarah Leo mulai meredam. Tangan nya melepas kerah Sharron yang sejak tadi ia tarik. Aku hanya menghindari kau berbuat bodoh seperti ini.”
Sharron terdiam.

“Kita berdua tahu, hanya saja kita belum ikhlas.” Leo pun beranjak dari kursinya, lalu pergi. Sedangkan musik jazz masih memenuhi ruangan, mengalir bersama kenangan-kenangan lama. 

Sharron tahu, yang dikatakan Leo memang benar. Hanya saja hal tersebut terlalu menyakitkan untuk diterima. Ia telah dewasa, bahkan umurnya lebih tua dari pada Leo. Namun ia tetap saja bodoh, dan Leo lebih pintar dari nya. Alasan ia menjadi Dokter adalah karena dorongan dari masa lalu nya yang sampai saat ini belum ia lupakan. Semua orang tentunya memiliki masa lalu. Hanya saja masa lalu memiliki warna nya masing-masing. Namun masa lalu yang dialami Sharron dan Leo berwarna Abu-abu. Dan akan terus menjadi abu-abu jika mereka tidak dapat menerima nya. Lantas mengapa semua nya terlalu menyedihkan? Karena kesedihan tidak dapat dihindari, namun kebahagiaan dapat dipilih.

Roy Sharron pun untuk ke empat kali dalam hidup nya, menangis dengan hebat.

“Maafkan aku...”

***

Suara klakson kereta berbunyi nyaring, sangat familiar terdengar di telinga Liona. Untuk gadis pengejar waktu seperti Liona, kereta adalah transportasi yang tepat. Ia bisa saja membeli sepeda motor dari hasil tabungan nya. Hanya saja ia tidak berminat, baginya kereta lebih cepat dan hemat. Gadis itu tidak perlu pusing dan lelah menghadapi macet lalu lintas Ibukota.


                Pagi itu kereta tidak terlalu ramai. Hujan membuat orang-orang lebih nyaman membawa mobil. Dengan seragam kerja nya yang di tutupi dengan mantel, Liona membawa tas berisi dress yang telah ia siapkan untuk makan malam bersama seorang pria bergelar Dokter. Ia merasa sangat gugup, tentu saja. Ia tidak punya dress bagus. Bagaimana mungkin di semasa hidupnya ia pernah berpikir untuk berbelanja. Mendandani diri sendiri saja ia tidak ada waktu. Alat make up terlalu mahal untuk dibeli. Selama ini, alat make up yang ia punya berkat pemberian dari Shimizu. Orang kaya itu memiliki sebuah Pabrik Make Up. Tentu saja, ibu nya adalah seorang Founder Brand Make Up terkenal.   Betapa beruntung hidup nya. Hidup Shimizu adalah impian semua gadis. Tapi Liona tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat tersebut. Shimizu mengalami masa-masa sulit dalam bersosialisasi. Kenangan pertemanan nya begitu buruk, hingga dia hadir.

                Kereta yang dinaiki Liona berhenti di Stasiun tempat ia harusnya turun. Gadis itu pun berjalan kearah kantor nya, sambil memandang gedung-gedung pencakar langit berdiri tegak dengan kokohnya. Ia membayangkan memakai setelan jas mengatur karyawan nya mencapai tujuan perusahaan. Namun hal itu hanya menjadi hayalan belaka. Kenyataan terlalu menyakitkan untuk ia hadapi, namun ia terus berjuang, karena ia yakin. Karena ia memiliki keyakinan, bahwa dirinya istimewa.

“Pagi Karenina.” Karenina terkejut melihat Liona yang hari ini tampil sedikit berbeda.

“Ya ampun, aku tidak menyangka kau akan secantik ini jika berdandan. Biar kutebak, kau akan berkencan?”

Liona memasukkan tas nya ke dalam loker. “Sepertinya itu terlalu berlebihan, aku baru dua kali bertemu dengan nya. Dan aku rasa, kami hanya akan.. makan malam saja.”

“Apa kau mengharapkan lebih?”

“Wow, tentu saja tidak. Dia Dokter, terlalu jauh untuk ku. Aku mau membersihkan halaman ruangan si bos dulu.” Liona pergi membawa troli berisi alat-alat kebersihan. Ia berharap Leo belum datang, dan harapan nya pun dikabulkan. Ruangan Leo masih kosong. Ruangan tersebut dikelilingi dengan aroma parfum Leo, aroma yang merindukan. Liona tersenyum masam. Naluri nya membuat ia ingin menjelajahi ruangan Leo. Ia memperhatikan bagaimana banyak buku-buku bacaan Leo terpajang diantara buku-buku kerja nya. Ia teringat masa-masa awal bertemu dengan Leo di Kedai. Pria itu sendirian membaca buku dengan tenang. Betapa menarik dirinya. Namun entah kenapa wajah Leo terlihat syok dan sedih pada awal menemuinya. Belum pernah ia melihat Leo serapuh itu.

“Sudah selesai melakukan room tour nya, nona Office Girl?” Suara tersebut datang dari arah pintu. Liona terkejut mendengar asal suara itu. Suara yang tidak ingin Liona dengar pagi ini.

“Maaf, saya tidak bermaksud lancang pak.” Liona menundukkan kepala nya, tidak berani menatap Leo.

“Sudah kau bersihkan ruangan saya?” Leo bersender di dinding sebelah pintu. Ia masih belum melangkah ke kursinya.

“Belum..Tapi saya akan membersihkan nya sekarang.” Liona perlahan menatap Leo yang masih bersender di dinding. Sejenak Leo terperangah melihat karyawan nya, ia baru menyadari perbedaan Liona pagi ini. Rasa takjub nya pun memudar, kini raut wajahnya terlihat dingin.

“Kau berdandan.”

Liona tidak menyangka bos nya akan membahas dandanan nya. Ia tersipu malu dan mulai salah tingkah. Berharap pria dihadapan nya akan memuji dirinya.

“Pria kaya mana yang akan kau taklukan malam ini?” Kata-kata tersebut memecah harapan Liona. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Apa?”

“Pria mana yang akan kau goda malam ini? Tidak kah kau sadar bahwa kau hanya seorang petugas kebersihan?” Leo mengucapkan nya dengan sangat santai dan raut wajah yang dingin. Ucapan nya menggores hati Liona cukup dalam. Liona tidak menyangka akan dihujat pria yang ia cintai di pagi yang sempurna ini. Sakit, dan amarah yang kini ia rasakan. Emosi nya memuncak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu, tak ada guna nya ia membela diri di depan pria brengsek seperti Leo.

Liona menghapus tangis nya, dan mengambil troli yang ia bawa. “Saya permisi.”

“Kau belum menyelesaikan tugas bersih-bersih mu.”

“Potong saja gajiku, kau bisa menyuruh orang lain, Bos.”

***

I'M BAAAACCCKKK - T

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...