Leo dengan setelan jaket jeans hitam nya masuk ke dalam
sebuah club. Sudah berkali-kali ia mendatangi tempat ini. Bagi nya, tempat ini
tidak terlalu bising dan “liar” seperti beberapa club ditempat lain. Club ini
memberikan hiburan dengan santai tapi berkesan. Dan Leo lebih suka ketenangan.
Ia berjalan mencari-cari orang yang harus ia temui, kemudian menemukan nya
sedang bercanda dengan beberapa gadis.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Leo menuju sasaran.
Sharron tersenyum karena tau darimana suara tersebut berasal. Ia menoleh lalu
memberikan sapaan sok akrab.
“Hai teman ku Leo, lebih tepatnya adik kecil ku.” Ia tertawa
menepuk pundak Leo. Sambil memperkenalkan Leo pada gadis-gadis yang berada
disekitar Sharron.
“Kau tak pernah memberitahu kami bahwa kau mempunyai adik
yang sangat tampan. Curang sekali.” Ujar salah seorang gadis yang memakai mini
dress berwarna hitam gemerlap.
“Aku bukan teman nya. Apalagi adik nya. Jangan bercanda, aku
tak sudi.” Ujar Leo dengan ketus.
“Benar kah sobat? Akan ku beritahu bahwa yang kau katakan
itu omong kosong. Mari kita pindah ke meja yang sudah ku booking. Aku tahu kau
tak suka meja bar.” Sharron berpamitan kepada beberapa teman gadis nya, lalu
berjalan menuju meja yang rada jauh dari suara musik. Mereka pun duduk.
“Kau seorang dokter, apa kau gila? Jangan jatuhkan martabat
mu.”
“Oh, ada gerangan apa kau peduli pada ku?”
Leo terdiam. Cih. Hanya itu yang ia katakan.
“Apa kau yakin tidak ingin menjadi adik kecil ku? Jika dia
masih ada, aku yakin kau akan menjadi adik ku. Jadi jangan munafik Leo, pria tidak menarik ucapan nya. ” Ujar
Sharron sambil menyeruput kopinya
pelan-pelan karena masih terasa panas.
Leo terdiam menahan geram. “Jangan bahas itu.”
Roy Sharron tersenyum. “Namun yang akan aku bicarakan masih
menyangkut itu.”
“Untuk apa membahas yang sudah tidak ada?”
“Jaga ucapan mu. Dia masih ada, akan selalu ada, di seumur
hidup ku.” Sharron menyerahkan selembar foto. “Apa kau masih mencintai nya?”
Leo mengambil foto itu dan menatap nya. Tangan lain nya
mengepal. Raut wajahnya berubah menjadi muram. “Tentu saja masih. Tanpa perlu bertanya, kau tentu tahu aku akan
terus mencintai nya.”
“Benarkah? Kalau begitu, aku akan memberitahu mu sesuatu.
Besok aku akan makan malam dengan seorang wanita.”
“Wow, aku tak peduli.”
“Nama nya Liona.” Seketika mata Leo membelalak. Amarah nya
mulai memuncak. Ia meremas kerah baju Sharron.
“Ups, santai brother. Kenapa kau harus semarah ini? Bukan
kah kau masih mencintai Angeline?”
Mendengar ucapan Sharron, Leo mulai mengerti apa maksud dari
semuanya. “Kau mengancam ku.”
Sharron tertawa. “Untuk apa?”
“BERHENTI BERMAIN-MAIN SHARRON! JIKA TERUS BEGINI, WANITA
ITU DAN KITA TIDAK AKAN TENANG!”
“Aku masih berharap-”
“SUDAH KU KATAKAN DIA ORANG YANG BERBEDA. JANGAN BAWA-BAWA
DIA KE DALAM MASALAH INI.”
“LALU MENGAPA KAU MENYEMBUNYIKAN DIA DARIKU?!”
Sharron balas membentak. Emosi nya terpancing karena kemarahan Leo yang
juga tidak terkontrol. Orang-orang disekitar pun mulai memperhatikan.
“Apa? Aku tidak menyembunyikan nya.” Amarah Leo mulai
meredam. Tangan nya melepas kerah Sharron yang sejak tadi ia tarik. Aku hanya
menghindari kau berbuat bodoh seperti ini.”
Sharron terdiam.
“Kita berdua tahu, hanya saja kita belum ikhlas.” Leo pun
beranjak dari kursinya, lalu pergi. Sedangkan musik jazz masih memenuhi
ruangan, mengalir bersama kenangan-kenangan lama.
Sharron tahu, yang dikatakan
Leo memang benar. Hanya saja hal tersebut terlalu menyakitkan untuk diterima.
Ia telah dewasa, bahkan umurnya lebih tua dari pada Leo. Namun ia tetap saja
bodoh, dan Leo lebih pintar dari nya. Alasan ia menjadi Dokter adalah karena
dorongan dari masa lalu nya yang sampai saat ini belum ia lupakan. Semua orang
tentunya memiliki masa lalu. Hanya saja masa lalu memiliki warna nya
masing-masing. Namun masa lalu yang dialami Sharron dan Leo berwarna Abu-abu.
Dan akan terus menjadi abu-abu jika mereka tidak dapat menerima nya. Lantas
mengapa semua nya terlalu menyedihkan? Karena kesedihan tidak dapat dihindari,
namun kebahagiaan dapat dipilih.
Roy Sharron pun untuk ke empat kali dalam hidup nya,
menangis dengan hebat.
“Maafkan aku...”
***
Suara klakson kereta berbunyi nyaring, sangat familiar
terdengar di telinga Liona. Untuk gadis pengejar waktu seperti Liona, kereta
adalah transportasi yang tepat. Ia bisa saja membeli sepeda motor dari hasil
tabungan nya. Hanya saja ia tidak berminat, baginya kereta lebih cepat dan
hemat. Gadis itu tidak perlu pusing dan lelah menghadapi macet lalu lintas
Ibukota.
Pagi
itu kereta tidak terlalu ramai. Hujan membuat orang-orang lebih nyaman membawa
mobil. Dengan seragam kerja nya yang di tutupi dengan mantel, Liona membawa tas
berisi dress yang telah ia siapkan untuk makan malam bersama seorang pria
bergelar Dokter. Ia merasa sangat gugup, tentu saja. Ia tidak punya dress
bagus. Bagaimana mungkin di semasa hidupnya ia pernah berpikir untuk
berbelanja. Mendandani diri sendiri saja ia tidak ada waktu. Alat make up
terlalu mahal untuk dibeli. Selama ini, alat make up yang ia punya berkat
pemberian dari Shimizu. Orang kaya itu memiliki sebuah Pabrik Make Up. Tentu
saja, ibu nya adalah seorang Founder Brand Make Up terkenal. Betapa
beruntung hidup nya. Hidup Shimizu adalah impian semua gadis. Tapi Liona tidak
sepenuhnya setuju dengan pendapat tersebut. Shimizu mengalami masa-masa sulit
dalam bersosialisasi. Kenangan pertemanan nya begitu buruk, hingga dia hadir.
Kereta
yang dinaiki Liona berhenti di Stasiun tempat ia harusnya turun. Gadis itu pun
berjalan kearah kantor nya, sambil memandang gedung-gedung pencakar langit
berdiri tegak dengan kokohnya. Ia membayangkan memakai setelan jas mengatur
karyawan nya mencapai tujuan perusahaan. Namun hal itu hanya menjadi hayalan
belaka. Kenyataan terlalu menyakitkan untuk ia hadapi, namun ia terus berjuang,
karena ia yakin. Karena ia memiliki keyakinan, bahwa dirinya istimewa.
“Pagi Karenina.” Karenina terkejut melihat Liona yang hari
ini tampil sedikit berbeda.
“Ya ampun, aku tidak menyangka kau akan secantik ini jika
berdandan. Biar kutebak, kau akan berkencan?”
Liona memasukkan tas nya ke dalam loker. “Sepertinya itu
terlalu berlebihan, aku baru dua kali bertemu dengan nya. Dan aku rasa, kami
hanya akan.. makan malam saja.”
“Apa kau mengharapkan lebih?”
“Wow, tentu saja tidak. Dia Dokter, terlalu jauh untuk ku.
Aku mau membersihkan halaman ruangan si bos dulu.” Liona pergi membawa troli
berisi alat-alat kebersihan. Ia berharap Leo belum datang, dan harapan nya pun
dikabulkan. Ruangan Leo masih kosong. Ruangan tersebut dikelilingi dengan aroma
parfum Leo, aroma yang merindukan. Liona tersenyum masam. Naluri nya membuat ia
ingin menjelajahi ruangan Leo. Ia memperhatikan bagaimana banyak buku-buku
bacaan Leo terpajang diantara buku-buku kerja nya. Ia teringat masa-masa awal
bertemu dengan Leo di Kedai. Pria itu sendirian membaca buku dengan tenang.
Betapa menarik dirinya. Namun entah kenapa wajah Leo terlihat syok dan sedih
pada awal menemuinya. Belum pernah ia melihat Leo serapuh itu.
“Sudah selesai melakukan room tour nya, nona Office Girl?”
Suara tersebut datang dari arah pintu. Liona terkejut mendengar asal suara itu.
Suara yang tidak ingin Liona dengar pagi ini.
“Maaf, saya tidak bermaksud lancang pak.” Liona menundukkan
kepala nya, tidak berani menatap Leo.
“Sudah kau bersihkan ruangan saya?” Leo bersender di dinding
sebelah pintu. Ia masih belum melangkah ke kursinya.
“Belum..Tapi saya akan membersihkan nya sekarang.” Liona
perlahan menatap Leo yang masih bersender di dinding. Sejenak Leo terperangah
melihat karyawan nya, ia baru menyadari perbedaan Liona pagi ini. Rasa takjub
nya pun memudar, kini raut wajahnya terlihat dingin.
“Kau berdandan.”
Liona tidak menyangka bos nya akan membahas dandanan nya. Ia
tersipu malu dan mulai salah tingkah. Berharap pria dihadapan nya akan memuji
dirinya.
“Pria kaya mana yang akan kau taklukan malam ini?” Kata-kata
tersebut memecah harapan Liona. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Apa?”
“Pria mana yang akan kau goda malam ini? Tidak kah kau sadar
bahwa kau hanya seorang petugas kebersihan?” Leo mengucapkan nya dengan sangat
santai dan raut wajah yang dingin. Ucapan nya menggores hati Liona cukup dalam.
Liona tidak menyangka akan dihujat pria yang ia cintai di pagi yang sempurna
ini. Sakit, dan amarah yang kini ia rasakan. Emosi nya memuncak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu, tak ada guna nya ia membela diri di depan pria
brengsek seperti Leo.
Liona menghapus tangis nya, dan mengambil troli yang ia
bawa. “Saya permisi.”
“Kau belum menyelesaikan tugas bersih-bersih mu.”
“Potong saja gajiku, kau bisa menyuruh orang lain, Bos.”
***
I'M BAAAACCCKKK - T
Comments
Post a Comment