[ALERT! Mature content. Dilarang membaca bagi yang belum cukup umur]
AUTHOR POV
Juna duduk dibelakang kedai sambil menghisap vape nya, musik
rock mengalir ke telinga nya lewat sebuah headphone beats. Ia menjetik-jetikan
tangan sambil bernyanyi dan mengepakan kakinya ke tanah.
“Sedang apa kau?” Tiba-tiba suara wanita mengagetkan
keseruan nya.
“Oh, ternyata kau gadis jepang. Aku sedang menunggu teman mu
itu.” Juna melepas headphone nya, menggantung nya di leher.
“Kau terlihat seperti seorang pria yang sangat setia
sekarang. Ku akui bakatmu dalam berakting.” Ujar Shimizu sambil mengumpulkan
beberapa sampah kedai.
“Bukan kah itu permintaan teman mu?”
“Tetapi kau terlihat mendalaminya. Seolah-olah kau sedang belajar
menjadi pria baik-baik.”
“Aku bukan pria baik-baik, sayang nya. Semua yang kau
katakan benar, aku pria mesum.” Ujar Juna sambil meniup asap vape nya, membuat
sebuah lingkaran menjadi bentuk hati. Senyum yang Juna berikan terlihat ironis.
Membuat Shimizu merasa terganggu.
“Apa kau tersinggung dengan sebutan itu? Kalau begitu maaf,
aku tidak bermaksud.”
“Aku serius Shimizu. Aku meniduri banyak wanita. Tidak,
tidak semuanya ku tiduri. Hanya beberapa yang pernah ku setubuhi, dan itu
karena mereka memaksa. Aku tidak bisa
merusak mahkota wanita dengan mudah nya. Dan aku masih manusia normal yang
takut terhadap AIDS. Sulit untuk dijelaskan, tetapi intinya aku hanya bermain
dengan mereka.” Mendengar pengakuan
Juna, entah mengapa Shimizu merasa ingin marah. Mungkin pria dihadapan nya ini
benar-benar keterlaluan. Menganggap wanita hanya untuk bersenang-senang.
“Apa kau pikir dengan hanya menyetubuhi beberapa wanita,
menjamin bahwa kau tidak akan terserang AIDS?” Tanya Shimizu ketus.
“Jahat sekali ucapan mu. Aku sudah mengecek nya ke dokter,
dan aku bersih.”
Shimizu hanya terdiam.
“Aku punya masa-masa kelam, semua manusia punya masa-masa
kelam. Yang pasti, aku bukan pria baik-baik. Wanita di kota ini tidak pantas
bersanding denganku. Maka sebaiknya mereka tidak boleh jatuh cinta denganku.”
Juna melanjutkan kata-katanya. Ia berhenti menghisap vape nya, dan memasukkan
nya kedalam ransel yang ia bawa. Ia tahu bahwa saat ini mungkin Shimizu akan
sangat membenci nya. Tetapi Shimizu tetap terdiam. Ia kembali menutup bak
sampah dengan hati-hati lalu berjalan ke arah pintu kedai. Namun langkah nya
berhenti. Ia berbalik menghadap Juna yang masih duduk memandangi nya.
“Bagiku, kau adalah pria baik-baik jauh di dalam nuranimu.
Kau masih memiliki ketakutan untuk merusak mahkota wanita. Dan tidak ada
penjahat yang mengaku dirinya kriminal. Tidak ada pria buruk yang mengaku bahwa
dirinya buruk. Jika ada, mereka adalah orang yang memiliki rasionalitas dan
kesadaran yang tinggi. Aku tidak tahu apa kerjaan mu dimalam hari, aku juga
tidak tahu apakah yang kau tiduri itu
atas dasar keinginan mu atau kau justru terpaksa melakukan nya. Aku tidak bisa
menuduhmu karena memang aku belum mengenal mu. Tetapi aku tahu bahwa ada
beberapa orang yang melakukan suatu tindakan negatif karena ia terpaksa.
Mungkin kau salah satu diantaranya. Baiklah, aku permisi.” Shimizu pun masuk
kedalam kedai. Juna hanya tercengang dan takjub akan apa yang barusan
didengarnya. Sudah lama ia tidak merasakan detak jantung yang begitu cepat. Ia
merogoh tas nya mencari sebuah ponsel, lalu menekan kontak sahabat nya.
“Halo?”
“Bro, kayanya gue kena
serangan jantung.”
“Hah? Yang bener Jun?
Jangan aneh-aneh sekarang , saya lagi banyak kerjaan.”
“Serius. Gue baru aja
melakukan hal yang bodoh. Tindakan yang gue lakuin mungkin bikin orang itu
membenci gue. Tapi orang itu justru
berpikir positif tentang gue.”
“Itu pertanda lo akan
neraktir gue wine tahun 90.”
“Leo, jangan buat saya
bangkrut. Saya belum bisa memimpin perusahaan seperti anda.”
“Anda tidak cocok
berbicara formal, terdengar menjijikkan.”
“Sialan.” Mereka
berdua pun tertawa dari saluran ponsel.
***
Jam menunjukkan waktu makan siang. Adimas mengambil sebuah
coklat yang telah ia siapkan untuk diberikan kepada seseorang. Sudah lama ia
tidak memberikan jajanan kecil untuk wanita yang sudah ia kenal sejak beberapa
tahun yang lalu. Namun, waktu sedang tidak berpihak padanya. Ia melihat wanita
nya keluar untuk pergi makan siang, akan tetapi sesosok pria yang sebelumnya
mengajukan lamaran pekerjaan datang menghampiri dan meraih tangan wanita nya.
“Sudah selesai bekerja nya Lucy?” Tanya Juna dengan lembut.
Lucy mengangguk tersenyum.
“Baiklah. Waktunya makan siang denganku, cantik."
Adimas meremas coklat yang ingin ia berikan pada Lucy.
Coklat berbentuk hati itu kini ia buang ke tempat sampah. Ia kembali teringat
perkataan Liona.
Rasanya seperti ketika
kau merasa tidak suka melihat dirinya dengan orang lain. Ketika kau hanya ingin
dirinya memperhatikan mu seorang
“Mengapa aku sekesal ini sih.” Ujar Adimas berbicara sendiri
dengan nada kesal. Adimas telah mengenal
Lucy lebih dari 4 tahun. Pertama kali ia mengenal Lucy, pada saat ia berkunjung
kerumah kakak nya Lucy. Saat itu Lucy masih sangat muda, bahkan masih sangat
terlalu polos. Ia sangat menyayangi Lucy karena ia telah menganggap Lucy
sebagai adik nya. Akan tetapi ia tidak
akan menyangka bahwa zaman berubah begitu cepat dan banyaknya waktu berlalu
merubah Lucy menjadi seorang wanita yang manis. Ia tidak akan menyangka bahwa
gadis kecil nya, berubah menjadi sosok rupawan. Dari segi postur tubuh, Lucy
memiliki tubuh yang ideal. Meski begitu, Adimas adalah seseorang yang memiliki
pendirian yang cukup kuat sehingga ia berani bertaruh bahwa ia tidak akan kalah
dengan perubahan Lucy yang rupawan. Ia tidak pernah mengira akan merasa jengkel
melihat gadis polos yang ia kenal digenggam pria lain. Adimas tidak pernah
jatuh cinta, sehingga ia tidak tahu bagaimana rasanya mencintai. Lalu saat
pendirian dan hatinya tidak sinkron saat ini, ia merasa dilema.
Di sisi lain, Lucy
dan Juna menghentikan sandiwaranya.
“Sejujurnya aku benci melakukan ini. Terkesan
kekanak-kanakan.” Ucap Lucy termenung.
“Memang kekanak-kanakan.” Ujar Juna tertawa. Lucy pun
mencubit lengan nya.
“Apa sulitnya jujur dengan perasaan sendiri?”
“Aku sudah jujur Juna.”
“Tapi kau tidak jujur dengan nya.” Lucy membelalak dan
mencubit Juna lagi.
“Kau pikir aku wanita macam apa yang menyatakan perasaan
duluan?” Bentak Lucy.
“Banyak wanita yang menyatakan perasaan padaku dan Leo kok.”
Ujar Juna menyeringai.
“Sudah melihat Liona menyatakan perasaan nya pada Leo?”
“Belum.”
“Kalau begitu tidak semua wanita seperti itu. Mengerti?”
Lucy membuka kotak makan nya bersamaan dengan kedatangan Liona.
“Bisakah kalian berhenti membicarakan ku? Berani-berani nya
kalian menyimpulkan bahwa aku menyukai pria itu. Mau ku potong gaji kalian?”
Ujar Liona bercanda tetapi memberi kesan memperingatkan.
“Ups. Aku belum menjadi karyawan mu nona.” Ujar Juna
tersenyum mengejek.
“Memang nya kau serius ingin melamar pekerjaan di
kedai?” Tanya Liona tidak percaya
seorang anak band tampan ini ingin melamar kerja di kedai yang tidak terlalu
besar. Pria seperti Juna cocok nya berada di atas panggung atau ruang studio.
“Tidak, tetapi aku ingin serius melamar pemiliknya.” Ucap Juna
mengeluarkan rayuan maut nya.
“Yang memiliki kedai ini adalah nenek ku.” Juna pun tersedak
mendengar pernyataan tersebut.
Membayangkan ia harus melamar seorang nenek tua.
Lucy pun menertawainya dengan sangat puas.
“Bagaimana coklat nya? Enak?” Tanya Liona kepada Lucy.
“Coklat apa?” Lucy tidak mengerti apa yang dimaksud sahabat
nya itu.
“Adimas tidak memberikan mu coklat?”
“Coklat apa? Tidak kok.”
“Ia tadi membawa coklat, katanya ingin diberikan kepada
seseorang. Aku pikir itu untuk mu.” Lucy
terdiam. Mood nya kembali buruk. Ia tidak tahu siapa seseorang yang dimaksud. Ternyata rencana nya tidak berhasil
membuat Adimas jatuh hati kepadanya. Justru membuat Adimas jatuh hati pada
orang lain.
***
JUNA POV
Gitar listrik adalah belahan jiwa ku, dan senar adalah
nadiku. Bagiku, gitar lebih seksi ketimbang wanita-wanita yang dengan sengaja
membuka kancing bajunya dihadapanku. Bukan nya tidak normal, hanya saja harga
gitar ku jauh lebih mahal dibandingkan tubuh mereka. Sejujurnya aku membenci
ini. Aku membenci wanita. Dan ini semua bukan salahku. Jika aku bisa meneriakkan
isi hatiku, jika aku bisa meluapkan amarahku, aku ingin menyalahkan wanita itu.
Wanita yang sudah membentuk ku menjadi seperti ini. Wanita yang sudah
menenggelamkanku pada langit yang kelabu sejak aku kecil. Jika boleh memilih,
aku lebih baik tidak dilahirkan daripada harus keluar dari asal usul yang tidak
jelas.
Wangi tubuh wanita yang ada dihadapanku menyelimuti ranjang
hotel berbintang lima ini. Ia masih setengah berpakaian, tetapi jas dan rok nya
sudah teruntai dilantai. Wanita ini adalah seorang pengacara yang baru saja
dicampakkan calon tunangan nya. Umurnya lebih tua dariku lima tahun. Ia
menghubungi ku untuk menemani tidurnya malam ini. Bibir merah nya masih
menciumi bibir ku dengan buas, seakan-akan kehausan akan kecupan. Tangan nya
perlahan membuka jaket kulit ku, ia dengan lihai membuang nya kelantai,
bertumpuk dengan rok mini nya. Kini ia menghisap leherku seperti dracula yang
kehausan darah
“Apakah semua pria seberengsek ini?” Tanya nya tiba-tiba
disela-sela hisapan nya. Aku meremas paha nya, dan ia menyeringai.
“Entahlah, menurutmu?” Aku berbisik ditelinga nya, membuat
dirinya gelisah. Aku bukan seorang pelacur lelaki. Sama sekali bukan. Aku hanya
seorang host tengah malam. Dan host bekerja untuk menyenangkan hati pelanggan
nya. Tetapi tidak dengan seks. Hanya saja sering kali, pelanggan-pelanggan ku
terlalu terbawa keadaan sehingga mereka menginginkan lebih dan lebih. Bahkan
mereka rela memasrahkan dirinya padaku. Tetapi aku bukan pria seperti itu. Aku
memang playboy, tetapi bukan pecandu seks. Aku melakukan ini hanya karena aku
melampiaskan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu ku. Aku melakukan ini
untuk balas dendam. Aku ingin memberi mereka pelajaran. Meskipun mereka tidak
memiliki kesalahan padaku, akan tetapi mereka semua mirip dengan nya.
Wanita
ini begitu kehilangan arah, ia bagai orang yang mabuk. Aku bisa merasakan
keputusasaan nya. Tetapi bukan beginilah caranya. Ia salah. Namun aku masih
mengikuti permainan nya. Aku masih menemaninya. Kini ia semakin liar, tanpa
harus aku membiarkan tanganku bekerja, ia berinisiatif melepas kancing bajunya
sendiri. Dan entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa keberatan melakukan nya.
Entah kenapa ada sesuatu yang membuatku tidak ingin melanjutkan nya. Tiba-tiba
saja aku memikirkan Shimizu. Senyum nya. Kata-kata nya tadi siang membuat otak
ku berpikir ratusan kali. Dan akupun berhenti.
“Aku tidak bisa.” Ucapku mendadak. Membuat wanita itu ikut
berhenti.
“Apa?” Wanita itu
terlihat kebingungan.
“Maaf nona cantik, aku tidak bisa melakukan nya.” Aku tahu
ia akan marah.
“Apa katamu? Kenapa? Aku akan membayarmu, aku mohon.”
“Aku bukan pelacur atau semacam nya nona, aku hanya host.
Aku bisa menemanimu tidur. Tetapi tidak menidurimu.” Ujarku tersenyum lalu meraih jaket ku
kembali.
“Aku tidak percaya kau akan berkata begitu. Aku tidak
percaya akan dicampakkan dua kali oleh pria dihari yang sama.” Kata wanita itu
dengan kecewa dan wajah jengkel. Ia marah dan aku pun menghampirinya lagi.
“Nona,” Aku mengecup tangan nya. “Maafkan aku, tetapi ini
lah tugas seorang host. Aku dibayar hanya untuk menemani bukan meniduri.
Maafkan aku. Kau adalah wanita yang baik. Tidak seharusnya kau melakukan ini.
Aku tahu rasanya menyakitkan, tetapi cobalah melampiaskan nya dengan melakukan
hal yang positif. Buat ia menyesal telah mencampakkan mu. Bukan hanya dia,
tetapi aku. Buat kami menyesal.” Mendengar kata-kataku, ia pun menangis
terisak. Aku memeluknya sesaat, lalu pergi meninggalkan nya. Memberikan waktu
untuknya berduka. Maafkan aku.
Ponsel ku tiba-tiba saja berdering.
“Kau jadi meneraktirku tidak?”
“Lo bener-bener menelpon di waktu yang tepat bro. Tetapi gue
gak bisa neraktir. Gue baru aja kehilangan pelanggan”
“Pelanggan? Lo masih jadi host?”
“Gue Jelaskan nanti. Di tempat biasa ya.” Juna mematikan
ponsel nya dan mengambil kunci motornya.
***
Author POV
Musik Jazz memenuhi seluruh bar. Leo memesan dua botol wine
khas lokal. Pekerjaan nya akhir-akhir ini membuatnya sibuk hingga tidak sempat
untuk bersantai. Malam ini, ia ingin melepaskan kejenuhan nya.
“Lo yakin minum dua botol sendirian?”
“Ya enggaklah, kan ada lo.” Leo melepas jas kerja dan dasi
nya.
“Gue ga akan bayarin ya, lo tau gue baru aja kehilangan
pelanggan.”
“Jadi bener lo masih sambilan jadi host? Emang nge-band lo
gak lancar?”
“Amat sangat lancar kok. Gue bahkan ditawarin sama produser
buat bikin lagu.” Ujar Juna dengan bangga.Pelayan mengantarkan dua botol wine khas lokal dengan satu piring
nachos.
“Lantas?”
“Inspirasi gue berasal dari pekerjaan host gue yo. Setiap
gue selesai nge-host, gue pasti langsung nulis lagu.”
“Keren. Lalu kenapa malam ini lo gak nulis lagu?” Tanya Leo
sambil menuang wine kedalam gelas.
“Itu dia yang mau gue ceritain. Hanya karena seorang
perempuan yang baru-baru ini gue kenal, gue sampai kehilangan pelanggan gue,
pengacara pula. Jadi gue juga gagal nulis lagu.”
“Perempuan?”
“Iya. Perempuan itu akhir-akhir ini mengganggu pikiran gue.
Dia penyebab perubahan gue dalam waktu pekan ini. Gue benci perempuan. Tapi gue
gak bisa benci dia.”
“Terdengar seperti cinta.”
Next Chapter, T
-
Dear readers, aku berterima kasih banyak kepada para pembaca yang sudah mengikuti cerita ku. Dan aku ingin menyampaikan info bahwa aku telah menaruh cerita Ingatan Abu-Abu di wattpad. Dengan nama id ku tiaraditaamp. Kalian bisa mengecek nya. Berhubung chapter ini dan chapter selanjutnya akan ada beberapa mature content, jadi aku move ke wattpad. Gak diterusin disini, wkwkwk.
Untuk umur dibawah 18, jangan baca ya :)
Chapter ini membawa kompleksitas karakter dan jalan ceritanya. Terutama, karakternya.
ReplyDeleteAda banyak peluang utk twist di chapter - chapter selanjutnya dan kita sebagai pembaca juga tertarik pada masa lalu karakter, pilihan - pilihan mereka sekarang, dan kemungkinan dari pilihan atau kehidupan yang bakal mereka jalani selanjutnya. Dalam beberapa sisi, cerita ini juga seolah "mempertegas" bahwa masa lalu dapat berperan dalam pembentukan karakter, atau seenggaknya pilihan seseorang yang mereka ambil.
Sebagai penutup, and as far as it concerns the writer, this is my fav part :
" Aku memang playboy, tetapi bukan pecandu seks. Aku melakukan ini hanya karena aku melampiaskan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu ku. Aku melakukan ini untuk balas dendam. Aku ingin memberi mereka pelajaran. Meskipun mereka tidak memiliki kesalahan padaku, akan tetapi mereka semua mirip dengan nya. "
X
"masa lalu mempertegas pembentukan karakter" bener banget. Dan semua punya masa lalu yang kelam masing masing. Tinggal pilihan mereka mau jadi positif atau negatif. Btw, thank you for comment! Bagus bgt komen nya♥
Delete