Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 12



[ALERT! Mature content. Dilarang membaca bagi yang belum cukup umur]


 AUTHOR POV

Juna duduk dibelakang kedai sambil menghisap vape nya, musik rock mengalir ke telinga nya lewat sebuah headphone beats. Ia menjetik-jetikan tangan sambil bernyanyi dan mengepakan kakinya ke tanah.

“Sedang apa kau?” Tiba-tiba suara wanita mengagetkan keseruan nya.

“Oh, ternyata kau gadis jepang. Aku sedang menunggu teman mu itu.” Juna melepas headphone nya, menggantung nya di leher. 

“Kau terlihat seperti seorang pria yang sangat setia sekarang. Ku akui bakatmu dalam berakting.” Ujar Shimizu sambil mengumpulkan beberapa sampah kedai.

“Bukan kah itu permintaan teman mu?” 

“Tetapi kau terlihat mendalaminya. Seolah-olah kau sedang belajar menjadi pria baik-baik.”

“Aku bukan pria baik-baik, sayang nya. Semua yang kau katakan benar, aku pria mesum.” Ujar Juna sambil meniup asap vape nya, membuat sebuah lingkaran menjadi bentuk hati. Senyum yang Juna berikan terlihat ironis. Membuat Shimizu merasa terganggu.

“Apa kau tersinggung dengan sebutan itu? Kalau begitu maaf, aku tidak bermaksud.”

“Aku serius Shimizu. Aku meniduri banyak wanita. Tidak, tidak semuanya ku tiduri. Hanya beberapa yang pernah ku setubuhi, dan itu karena mereka memaksa.  Aku tidak bisa merusak mahkota wanita dengan mudah nya. Dan aku masih manusia normal yang takut terhadap AIDS. Sulit untuk dijelaskan, tetapi intinya aku hanya bermain dengan mereka.”  Mendengar pengakuan Juna, entah mengapa Shimizu merasa ingin marah. Mungkin pria dihadapan nya ini benar-benar keterlaluan. Menganggap wanita hanya untuk bersenang-senang.

“Apa kau pikir dengan hanya menyetubuhi beberapa wanita, menjamin bahwa kau tidak akan terserang AIDS?” Tanya Shimizu ketus.

“Jahat sekali ucapan mu. Aku sudah mengecek nya ke dokter, dan aku bersih.”

Shimizu hanya terdiam.

“Aku punya masa-masa kelam, semua manusia punya masa-masa kelam. Yang pasti, aku bukan pria baik-baik. Wanita di kota ini tidak pantas bersanding denganku. Maka sebaiknya mereka tidak boleh jatuh cinta denganku.” Juna melanjutkan kata-katanya. Ia berhenti menghisap vape nya, dan memasukkan nya kedalam ransel yang ia bawa. Ia tahu bahwa saat ini mungkin Shimizu akan sangat membenci nya. Tetapi Shimizu tetap terdiam. Ia kembali menutup bak sampah dengan hati-hati lalu berjalan ke arah pintu kedai. Namun langkah nya berhenti. Ia berbalik menghadap Juna yang masih duduk memandangi nya. 

“Bagiku, kau adalah pria baik-baik jauh di dalam nuranimu. Kau masih memiliki ketakutan untuk merusak mahkota wanita. Dan tidak ada penjahat yang mengaku dirinya kriminal. Tidak ada pria buruk yang mengaku bahwa dirinya buruk. Jika ada, mereka adalah orang yang memiliki rasionalitas dan kesadaran yang tinggi. Aku tidak tahu apa kerjaan mu dimalam hari, aku juga tidak tahu  apakah yang kau tiduri itu atas dasar keinginan mu atau kau justru terpaksa melakukan nya. Aku tidak bisa menuduhmu karena memang aku belum mengenal mu. Tetapi aku tahu bahwa ada beberapa orang yang melakukan suatu tindakan negatif karena ia terpaksa. Mungkin kau salah satu diantaranya. Baiklah, aku permisi.” Shimizu pun masuk kedalam kedai. Juna hanya tercengang dan takjub akan apa yang barusan didengarnya. Sudah lama ia tidak merasakan detak jantung yang begitu cepat. Ia merogoh tas nya mencari sebuah ponsel, lalu menekan kontak sahabat nya.

“Halo?”

“Bro, kayanya gue kena serangan jantung.”

“Hah? Yang bener Jun? Jangan aneh-aneh sekarang , saya lagi banyak kerjaan.”

“Serius. Gue baru aja melakukan hal yang bodoh. Tindakan yang gue lakuin mungkin bikin orang itu membenci gue.  Tapi orang itu justru berpikir positif tentang gue.”

“Itu pertanda lo akan neraktir gue wine tahun 90.”

“Leo, jangan buat saya bangkrut. Saya belum bisa memimpin perusahaan seperti anda.”

“Anda tidak cocok berbicara formal, terdengar menjijikkan.”

“Sialan.” Mereka berdua pun tertawa dari saluran ponsel.


***

Jam menunjukkan waktu makan siang. Adimas mengambil sebuah coklat yang telah ia siapkan untuk diberikan kepada seseorang. Sudah lama ia tidak memberikan jajanan kecil untuk wanita yang sudah ia kenal sejak beberapa tahun yang lalu. Namun, waktu sedang tidak berpihak padanya. Ia melihat wanita nya keluar untuk pergi makan siang, akan tetapi sesosok pria yang sebelumnya mengajukan lamaran pekerjaan datang menghampiri dan meraih tangan wanita nya.

“Sudah selesai bekerja nya Lucy?” Tanya Juna dengan lembut. Lucy mengangguk tersenyum.

“Baiklah. Waktunya makan siang denganku, cantik."

Adimas meremas coklat yang ingin ia berikan pada Lucy. Coklat berbentuk hati itu kini ia buang ke tempat sampah. Ia kembali teringat perkataan Liona.

Rasanya seperti ketika kau merasa tidak suka melihat dirinya dengan orang lain. Ketika kau hanya ingin dirinya memperhatikan mu seorang

“Mengapa aku sekesal ini sih.”  Ujar Adimas berbicara sendiri dengan nada kesal.  Adimas telah mengenal Lucy lebih dari 4 tahun. Pertama kali ia mengenal Lucy, pada saat ia berkunjung kerumah kakak nya Lucy. Saat itu Lucy masih sangat muda, bahkan masih sangat terlalu polos. Ia sangat menyayangi Lucy karena ia telah menganggap Lucy sebagai  adik nya. Akan tetapi ia tidak akan menyangka bahwa zaman berubah begitu cepat dan banyaknya waktu berlalu merubah Lucy menjadi seorang wanita yang manis. Ia tidak akan menyangka bahwa gadis kecil nya, berubah menjadi sosok rupawan. Dari segi postur tubuh, Lucy memiliki tubuh yang ideal. Meski begitu, Adimas adalah seseorang yang memiliki pendirian yang cukup kuat sehingga ia berani bertaruh bahwa ia tidak akan kalah dengan perubahan Lucy yang rupawan. Ia tidak pernah mengira akan merasa jengkel melihat gadis polos yang ia kenal digenggam pria lain. Adimas tidak pernah jatuh cinta, sehingga ia tidak tahu bagaimana rasanya mencintai. Lalu saat pendirian dan hatinya tidak sinkron saat ini, ia merasa dilema.

 Di sisi lain, Lucy dan Juna menghentikan sandiwaranya.

“Sejujurnya aku benci melakukan ini. Terkesan kekanak-kanakan.” Ucap Lucy termenung.

“Memang kekanak-kanakan.” Ujar Juna tertawa. Lucy pun mencubit lengan nya.
 
“Apa sulitnya jujur dengan perasaan sendiri?” 

“Aku sudah jujur Juna.”

“Tapi kau tidak jujur dengan nya.” Lucy membelalak dan mencubit Juna lagi.

“Kau pikir aku wanita macam apa yang menyatakan perasaan duluan?” Bentak Lucy.

“Banyak wanita yang menyatakan perasaan padaku dan Leo kok.” Ujar Juna menyeringai.

“Sudah melihat Liona menyatakan perasaan nya pada Leo?”

“Belum.”

“Kalau begitu tidak semua wanita seperti itu. Mengerti?” Lucy membuka kotak makan nya bersamaan dengan kedatangan Liona.

“Bisakah kalian berhenti membicarakan ku? Berani-berani nya kalian menyimpulkan bahwa aku menyukai pria itu. Mau ku potong gaji kalian?” Ujar Liona bercanda tetapi memberi kesan memperingatkan.

“Ups. Aku belum menjadi karyawan mu nona.” Ujar Juna tersenyum mengejek.

“Memang nya kau serius ingin melamar pekerjaan di kedai?”  Tanya Liona tidak percaya seorang anak band tampan ini ingin melamar kerja di kedai yang tidak terlalu besar. Pria seperti Juna cocok nya berada di atas panggung atau ruang studio.

“Tidak, tetapi aku ingin serius melamar pemiliknya.” Ucap Juna mengeluarkan rayuan maut nya.

“Yang memiliki kedai ini adalah nenek ku.” Juna pun tersedak mendengar pernyataan tersebut.

Membayangkan ia harus melamar seorang nenek tua. Lucy pun menertawainya dengan sangat puas.

“Bagaimana coklat nya? Enak?” Tanya Liona kepada Lucy.

“Coklat apa?” Lucy tidak mengerti apa yang dimaksud sahabat nya itu.

“Adimas tidak memberikan mu coklat?”

“Coklat apa? Tidak kok.”

“Ia tadi membawa coklat, katanya ingin diberikan kepada seseorang. Aku pikir itu untuk mu.”  Lucy terdiam. Mood nya kembali buruk. Ia tidak tahu siapa seseorang yang dimaksud. Ternyata rencana nya tidak berhasil membuat Adimas jatuh hati kepadanya. Justru membuat Adimas jatuh hati pada orang lain.

***

JUNA POV

Gitar listrik adalah belahan jiwa ku, dan senar adalah nadiku. Bagiku, gitar lebih seksi ketimbang wanita-wanita yang dengan sengaja membuka kancing bajunya dihadapanku. Bukan nya tidak normal, hanya saja harga gitar ku jauh lebih mahal dibandingkan tubuh mereka. Sejujurnya aku membenci ini. Aku membenci wanita. Dan ini semua bukan salahku. Jika aku bisa meneriakkan isi hatiku, jika aku bisa meluapkan amarahku, aku ingin menyalahkan wanita itu. Wanita yang sudah membentuk ku menjadi seperti ini. Wanita yang sudah menenggelamkanku pada langit yang kelabu sejak aku kecil. Jika boleh memilih, aku lebih baik tidak dilahirkan daripada harus keluar dari asal usul yang tidak jelas. 

Wangi tubuh wanita yang ada dihadapanku menyelimuti ranjang hotel berbintang lima ini. Ia masih setengah berpakaian, tetapi jas dan rok nya sudah teruntai dilantai. Wanita ini adalah seorang pengacara yang baru saja dicampakkan calon tunangan nya. Umurnya lebih tua dariku lima tahun. Ia menghubungi ku untuk menemani tidurnya malam ini. Bibir merah nya masih menciumi bibir ku dengan buas, seakan-akan kehausan akan kecupan. Tangan nya perlahan membuka jaket kulit ku, ia dengan lihai membuang nya kelantai, bertumpuk dengan rok mini nya. Kini ia menghisap leherku seperti dracula yang kehausan darah

“Apakah semua pria seberengsek ini?” Tanya nya tiba-tiba disela-sela hisapan nya. Aku meremas paha nya, dan ia menyeringai.

“Entahlah, menurutmu?” Aku berbisik ditelinga nya, membuat dirinya gelisah. Aku bukan seorang pelacur lelaki. Sama sekali bukan. Aku hanya seorang host tengah malam. Dan host bekerja untuk menyenangkan hati pelanggan nya. Tetapi tidak dengan seks. Hanya saja sering kali, pelanggan-pelanggan ku terlalu terbawa keadaan sehingga mereka menginginkan lebih dan lebih. Bahkan mereka rela memasrahkan dirinya padaku. Tetapi aku bukan pria seperti itu. Aku memang playboy, tetapi bukan pecandu seks. Aku melakukan ini hanya karena aku melampiaskan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu ku. Aku melakukan ini untuk balas dendam. Aku ingin memberi mereka pelajaran. Meskipun mereka tidak memiliki kesalahan padaku, akan tetapi mereka semua mirip dengan nya.

                Wanita ini begitu kehilangan arah, ia bagai orang yang mabuk. Aku bisa merasakan keputusasaan nya. Tetapi bukan beginilah caranya. Ia salah. Namun aku masih mengikuti permainan nya. Aku masih menemaninya. Kini ia semakin liar, tanpa harus aku membiarkan tanganku bekerja, ia berinisiatif melepas kancing bajunya sendiri. Dan entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa keberatan melakukan nya. Entah kenapa ada sesuatu yang membuatku tidak ingin melanjutkan nya. Tiba-tiba saja aku memikirkan Shimizu. Senyum nya. Kata-kata nya tadi siang membuat otak ku berpikir ratusan kali. Dan akupun berhenti.

“Aku tidak bisa.” Ucapku mendadak. Membuat wanita itu ikut berhenti.

“Apa?”  Wanita itu terlihat kebingungan.

“Maaf nona cantik, aku tidak bisa melakukan nya.” Aku tahu ia akan marah.

“Apa katamu? Kenapa? Aku akan membayarmu, aku mohon.”

“Aku bukan pelacur atau semacam nya nona, aku hanya host. Aku bisa menemanimu tidur. Tetapi tidak menidurimu.”  Ujarku tersenyum lalu meraih jaket ku kembali.

“Aku tidak percaya kau akan berkata begitu. Aku tidak percaya akan dicampakkan dua kali oleh pria dihari yang sama.” Kata wanita itu dengan kecewa dan wajah jengkel. Ia marah dan aku pun menghampirinya lagi.

“Nona,” Aku mengecup tangan nya. “Maafkan aku, tetapi ini lah tugas seorang host. Aku dibayar hanya untuk menemani bukan meniduri. Maafkan aku. Kau adalah wanita yang baik. Tidak seharusnya kau melakukan ini. Aku tahu rasanya menyakitkan, tetapi cobalah melampiaskan nya dengan melakukan hal yang positif. Buat ia menyesal telah mencampakkan mu. Bukan hanya dia, tetapi aku. Buat kami menyesal.” Mendengar kata-kataku, ia pun menangis terisak. Aku memeluknya sesaat, lalu pergi meninggalkan nya. Memberikan waktu untuknya berduka. Maafkan aku.

Ponsel ku tiba-tiba saja berdering.

“Kau jadi meneraktirku tidak?”

“Lo bener-bener menelpon di waktu yang tepat bro. Tetapi gue gak bisa neraktir. Gue baru aja kehilangan pelanggan”

“Pelanggan? Lo masih jadi host?”

“Gue Jelaskan nanti. Di tempat biasa ya.” Juna mematikan ponsel nya dan mengambil kunci motornya.

***

Author POV

Musik Jazz memenuhi seluruh bar. Leo memesan dua botol wine khas lokal. Pekerjaan nya akhir-akhir ini membuatnya sibuk hingga tidak sempat untuk bersantai. Malam ini, ia ingin melepaskan kejenuhan nya.

“Lo yakin minum dua botol sendirian?”

“Ya enggaklah, kan ada lo.” Leo melepas jas kerja dan dasi nya.

“Gue ga akan bayarin ya, lo tau gue baru aja kehilangan pelanggan.”

“Jadi bener lo masih sambilan jadi host? Emang nge-band lo gak lancar?”

“Amat sangat lancar kok. Gue bahkan ditawarin sama produser buat bikin lagu.” Ujar Juna dengan bangga.Pelayan mengantarkan dua  botol wine khas lokal dengan satu piring nachos.

“Lantas?”

“Inspirasi gue berasal dari pekerjaan host gue yo. Setiap gue selesai nge-host, gue pasti langsung nulis lagu.”

“Keren. Lalu kenapa malam ini lo gak nulis lagu?” Tanya Leo sambil menuang wine kedalam gelas.

“Itu dia yang mau gue ceritain. Hanya karena seorang perempuan yang baru-baru ini gue kenal, gue sampai kehilangan pelanggan gue, pengacara pula. Jadi gue juga gagal nulis lagu.”

“Perempuan?”

“Iya. Perempuan itu akhir-akhir ini mengganggu pikiran gue. Dia penyebab perubahan gue dalam waktu pekan ini. Gue benci perempuan. Tapi gue gak bisa benci dia.”

“Terdengar seperti cinta.”


Next Chapter, T

-

Dear readers, aku berterima kasih banyak kepada para pembaca yang sudah mengikuti cerita ku. Dan aku ingin menyampaikan info bahwa aku telah menaruh cerita Ingatan Abu-Abu di wattpad. Dengan nama id ku tiaraditaamp. Kalian bisa mengecek nya. Berhubung chapter ini dan chapter selanjutnya akan ada beberapa mature content, jadi aku move ke wattpad. Gak diterusin disini, wkwkwk. 
Untuk umur dibawah 18, jangan baca ya :)

Comments

  1. Chapter ini membawa kompleksitas karakter dan jalan ceritanya. Terutama, karakternya.

    Ada banyak peluang utk twist di chapter - chapter selanjutnya dan kita sebagai pembaca juga tertarik pada masa lalu karakter, pilihan - pilihan mereka sekarang, dan kemungkinan dari pilihan atau kehidupan yang bakal mereka jalani selanjutnya. Dalam beberapa sisi, cerita ini juga seolah "mempertegas" bahwa masa lalu dapat berperan dalam pembentukan karakter, atau seenggaknya pilihan seseorang yang mereka ambil.

    Sebagai penutup, and as far as it concerns the writer, this is my fav part :

    " Aku memang playboy, tetapi bukan pecandu seks. Aku melakukan ini hanya karena aku melampiaskan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu ku. Aku melakukan ini untuk balas dendam. Aku ingin memberi mereka pelajaran. Meskipun mereka tidak memiliki kesalahan padaku, akan tetapi mereka semua mirip dengan nya. "

    X

    ReplyDelete
    Replies
    1. "masa lalu mempertegas pembentukan karakter" bener banget. Dan semua punya masa lalu yang kelam masing masing. Tinggal pilihan mereka mau jadi positif atau negatif. Btw, thank you for comment! Bagus bgt komen nya♥

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...