Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 11



Liona tersungkur di ujung ranjang nya. Hati dan pikiran nya masih kacau. Rasanya ia tidak ingin pergi ke kantor pagi ini, apalagi jika sampai bertemu dengan Leo. Ia ingin menghindari pria itu untuk saat ini. Jam menunjukkan pukul enam pagi dan dengan berat hati ia bergegas untuk prepare. Ia berjalan menyusuri kota, tampak pagi yang cerah dengan sepasang kekasih dan sebuah keluarga kecil yang sedang berbincang di depan halaman rumah. Mereka tertawa,terlihat bahagia. Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya bahagia? Liona sudah lupa dengan perasaan itu. Bahkan ia lupa bagaimana caranya untuk bahagia. Kadang seseorang menginginkan kebahagiaan orang lain tetapi tidak pernah berpikir untuk membahagiakan dirinya sendiri. Lupa bagaimana caranya membahagiakan dirinya sendiri. Saat ini tujuan hidup nya hanyalah  lulus, mendapat pekerjaan yang layak, uang yang banyak, dan membahagiakan nenek nya. 

“Liona?” Seru seorang wanita separuh baya memanggil nya. Membebaskan nya dari lamunan.

“Eh, maaf. Ada apa?”

“Kau di panggil ke ruangan Pak Leo segera.”

“Saya? Hanya saya?”

“Katanya ada berkas berkas yang harus kau urus ke percetakan. Dan ia menyebutkan nama mu untuk tugas ini. Apakah saya terlihat berbohong?”

“Sama sekali tidak, maafkan saya. Saya akan kesana sekarang.” Jawab Liona dengan lekas sebelum timbul salah paham. Perlahan ia mengetuk pintu ruangan atasan nya itu.

“Masuk.” Suara itu terdengar tegas dan sangat familiar.

“Permisi pak, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Liona dengan sopan. Melupakan status umur dan pendidikan setara nya. Saat ini, mereka hanyalah sepasang atasan dan bawahan. 

“Ada berkas berkas yang harus kau ambil di percetakan dan tolong berikan pada manajer lini.” Perintah Leo dengan pembawaan yang sungguh berkharismatik.

“Baik akan saya laksanakan segera, permisi.”

“Tunggu.” Perintah tersebut membuat Liona menghentikan langkah nya. Leo bangkit berdiri dari bangku kerja nya. Berdiri dengan tangan bertopang pada meja dan menatap Liona dengan serius.

“Ada apa dengan pipi mu?” Tanya Leo yang membuat Liona tersadar bahwa memar bekas tamparan ayah nya masih terlihat meski samar.

“Oh ini, saya terjatuh dari tempat tidur pak. Maaf jika memar ini sedikit mengganggu.” Jawab Liona dengan tenang dan percaya diri. Meski ia tahu alasan nya benar-benar kebohongan yang payah, akan tetapi ia menyampaikan nya dengan yakin, sehingga orang lain yang tidak tahu kebenaran nya akan percaya. Akan tetapi Leo tidak. Ia tahu apa yang terjadi. Ia berada disana,memperhatikan semalam.  

“Pilihan yang salah untuk membohongi orang yang memiliki IQ tertinggi di kampus nya.” Leo menyombongkan dirinya. Berusaha memberi tahu bahwa dirinya tidak sebodoh itu.

“Oh benarkah? Kalau begitu kau terlalu pintar untuk membuang-buang waktumu hanya untuk menanyakan luka ku. Bos.” Kata terakhir Liona di sampaikan dengan nada menyinyir. Ia mulai jengkel. Leo menatap nya dingin lalu mulai melangkah menghampiri gadis itu.

“Bukan kah aku sudah berhutang waktu padamu semalam? Aku sudah memakan nya.” Leo mengungkit kejadian tadi malam. Memberitahu bahwa ia sudah memakan masakan yang telah susah payah Liona buat membuat Liona sedikit terkejut dan, merona. Tetapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk tetap bersikap biasa.

“Makanan basi itu pasti sekarang tengah merusak saluran pencernaan anda, pak.” Ujar Liona kembali menyindir.

“Liona, makanan mu sama sekali tidak basi. Aku membatalkan dinner ku semalam. Dan aku mengejarmu.” Liona terdiam. Terkejut mendengar apa yang dikatakan atasan nya itu. Ia semakin merona. Untung saja memar di pipinya berhasil menutupi itu. Leo semakin memajukan langkah nya, menyebrangi jarak diantara mereka.

“Dan aku tahu semuanya Liona. Itulah sebab nya kau tidak bisa membohongiku. Aku berada disana saat memar itu diberikan.” Leo kembali melanjutkan kata-katanya dengan pelan. Akan tetapi pernyataan Leo tersebut justru membuat Liona amat sangat malu. Itu aib keluarga nya. Liona pun melangkah mudur, mencoba menjauh dari Leo. Tidak tahu harus membalas apa. Ia sudah kepalang malu.
“Liona..” Leo menyebut namanya dengan sangat lembut dan penuh perhatian. Liona merasa mata nya mulai pedih. Ia ingin menangis tetapi berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan air matanya. Akan tetapi terlambat, ia tidak bisa lebih jauh menahan emosi nya. Sangat sulit untuk memendam kenyataan yang pahit.

“Liona, aku mohon jangan menangis. Maafkan aku.” Ucap Leo dengan sangat hati-hati. Suaranya terdengar parau. Gadis di depan nya menangis terisak. Ia merasa sangat bersalah. Dengan tidak sadar ia memeluk gadis itu. Seperti ia memeluk kenangan.

***
                Aroma khas kue dan kopi dari Kedai Kopi nenek pagi ini membuat para pelanggan rela mengantri untuk mendapatkan sarapan pagi. Adimas dengan ramah menyuguhkan makanan beserta senyuman manis kepada pelanggan nya. Membuat siswi-siswi SMA berlomba menebar pesona. Adimas memang terkenal sangat baik kepada semua orang. Kulit coklat, rambut hitam, dan tubuh tinggi nya memperlihatkan maha karya asli Sunda. Lucy, Shimizu, dan karyawan lain nya telah beroperasi membuka kedai dari pagi hari. Kedai ini memang tidak mewah, bangunan nya cukup tua, kursinya hanyalah kursi kayu, tetapi dengan AC, musik klasik, hiasan payung merah, dan bermacam-macam bunga yang menghiasi lah  yang memberikan unsur estetika pada Kedai ini sehingga terlihat antik. Kedai ini memang dirancang seperti Cafe-Cafe di Italia.

                Seorang pria berpakaian serba hitam seperti anak Band datang dengan membawa gitar di punggung nya. Menarik perhatian orang-orang disekitar nya.

                “Halo mas, permisi. Kenalkan nama saya Juna.” Ia memberikan sebuah tangan untuk bersalaman.

                “Iya mas Juna, mau pesan apa?” Tanya Adimas dengan ramah.

                “Ah, maaf. Tapi saya kesini bukan untuk memesan menu disini.” Jawab Juna dengan terkekeh sambil megusap kepala nya, berlaga seperti orang polos. Adimas terlihat bingung.

                “Hmm begini, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk melamar pekerjaan.” Juna kembali melanjutkan kata-katanya. Adimas pun baru mengerti maksud dari semua ini. Ia tertawa.

                “Oh begitu mas, saya kira apa. Tapi maaf sekali kedai ini sedang tidak membuka lowongan. Karyawan disini sudah full mas.”

                “Tidak, saya disini bukan untuk melamar di posisi dapur atau pun kasir, pelayan, dan sebagainya.”

                “Lantas?”

                “Saya ingin melamar perkerjaan menjadi pengisi suara di kedai ini.” Ujar Juna menjelaskan sambil tertawa. Adimas terperangah mendengar apa yang baru saja dikatakan Juna. Ia tahu ini adalah ide yang bagus untuk menambah live music di kedai ini, strategi menarik pelanggan. Akan tetapi ia harus meminta pendapat Liona sedangkan Liona saat ini sedang bekerja di Phoenix ATX.

                “Sepertinya saya harus membicarakan nya pada atasan saya dulu. Ada kah kartu nama yang bisa dihubungi?” Juna pun menyerahkan kartu nama nya.

                “Saya sudah tahu ini pasti akan terjadi. Jadi maksud kedatangan saya bukan hanya untuk melamar saja.”

                “Maksudnya?” Tanya Adimas mulai kebingungan lagi.

                “Saya ingin bertemu dengan gadis cantik bernama Lucy, apakah dia ada?” Ujar Juna menjawab dengan tersenyum hangat. Entah kenapa Adimas terperangah dengan apa yang barusan Juna sampaikan. Ia mencari Lucy.Tiba-tiba timbul rasa mengganjal di dalam hati nya. Ia terdiam sesaat, memperhatikan Juna yang masih menunggu jawaban dari dirinya. Lalu Adimas pun memanggil Lucy.

                “Ada apa Dim?” Lucy hadir menghampiri. Wangi mawar terpancar dari tubuh nya. Membuat Adimas sedikit nyaman dengan kehadiran nya.

                “Pria ini mencarimu. Ku berikan waktu 15 menit untuk berbicara. Setelah itu kembalilah bekerja.” Ujar Adimas dengan nada dingin. Lucy meneriak kan kata berhasil di dalam hatinya. Ia ingin berjingkrak kegirangan karena rencana yang ia dan Juna buat cukup berhasil untuk membuat Adimas cemburu. Lucy melirik Juna sambil tersenyum memberikan kode bahwa mereka berhasil. Dan lirikan serta senyuman itusemakin  membuat Adimas merasa tidak nyaman. Ia pun tidak menghiraukan Lucy dan mulai kembali bekerja, sedangkan Lucy izin pergi kedepan sebentar untuk berbicara dengan Juna.

                “Bagaimana keadaan teman mu? Apakah Leo memberikan service yang bagus?” Juna terkekeh. Mendengar lelucon mesum Juna, Lucy pun mencubit lengan nya kencang hingga pria itu berteriak.
 
                “Leo tidak akan berani melakukan nya pada teman ku.”

                “Mengapa tidak? Semua pria tidak sepolos yang kau kira. Tak terkecuali si Adimas mu itu.” Juna menunjuk Adimas yang sedang menata roti manis. Lucy merona mendengar apa yang dikatakan Juna. Benar kata Shimizu, Juna adalah orang mesum.

                “Oh, kau tidak tahu? Liona itu pernah menjadi pelatih karate. Tangan sahabatmu itu akan patah jika berani macam-macam dengan nya.” Jawab Lucy mantap. Juna menelan ludah, tidak akan ada yang menyangka bahwa Liona memiliki kemampuan seperti itu. Penampilan nya sama sekali tidak memperlihatkan kemampuan nya.

                “Lalu, dimana teman mu yang satunya lagi?”

                “Wow, kau menyukai nya?”

                “Jangan cemburu. Kau akan selalu menjadi yang pertama untuk ku.”

                “Sialan.  Aku tahu kau playboy level master.” Mereka berdua pun  tertawa bersama-sama.  Membuat Adimas melirik keseruan mereka berdua hingga tak sadar bahwa ia memasukkan garam kedalam kopi nya.

***
                Panas terik matahari membuat siang itu terasa melelahkan. Liona datang ke Kedai dengan malas-malasan dan rambut berantakan. Ia masih mengingat-ingat pelukan Leo tadi pagi. Lalu ia menggeleng kepala.  Ia tidak boleh berpikir berlebihan, seorang pria yang melihat wanita menangis pasti tidak akan tega dan tentu saja mereka akan memberikan pelukan simpatik. Pelukan tadi mungkin hanya sebatas kepedulian Leo terhadap teman nya. Karena sikap Leo setelah memeluk nya terlihat biasa saja, terakhir  pria itu hanya bertanya apakah Liona bertemu dengan seorang pria asing di Bitter Shitter Lounge. Tetapi ia tidak merasa bertemu dengan siapa-siapa.

                “Muram sekali muka mu itu. Ada apasih?” Tanya Adimas yang sedang duduk sambil menyantap bekal, memanfaatkan jam istirahat nya.

                “Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa kacau sekali. Begitu banyak yang terjadi hingga membuat otak ku berputar-putar seperti roller coaster.” Adimas tertawa mendengar celotehan asal Liona itu.

                “Sini duduk, aku punya coklat untuk mu. Kata orang, coklat dapat menghilangkan stres.” Ujar Adimas menawarkan kursi kosong disebelah nya. Lucy memang sudah menganggap Adimas seperti kakak nya sendiri. Bagaimana tidak, Adimas adalah orang yang paling perhatian dan peduli pada teman-teman nya di Kedai ini. Ia bagai seorang penjaga. Sifat nya yang begitu dewasa dan selalu tenang dalam menghadapi situasi apapun membuat orang lain disekitar nya merasa nyaman. Pantas saja Lucy sangat menyukai pria ini. 

                “Kau buat sendiri?” Tanya Liona yang akhirnya mengambil kursi disebelah Adimas.

                “Iya dong”

                “Wah, lalu yang itu untuk siapa?” Liona menunjuk sebuah kotak coklat lain, tetapi yang satu itu diberikan pita berbentuk mawar.

                “Oh ini? Yang pastinya bukan untuk mu.” Jawab Adimas tersenyum sambil menyembunyikan kotak coklat tersebut dari hadapan Liona. Akan tetapi sikap nya tetap tenang dan tidak gugup meskipun ia telah dipergoki. Membuat orang lain yang memergoki nya pasti tidak akan merasa curiga. Liona tertawa, dan berharap dalam hati coklat itu akan diberikan untuk Lucy.

                “Apakah kau pernah jatuh cinta?” Mendengar pertanyaan Adimas membuat Lucy tersedak coklat nya.

                “Mengapa kau bertanya seperti itu?”

                “Karena, aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.” Adimas mengatakan nya sambil termenung melihat langit-langit. Membuat Liona terperangah dan sedikit terkejut. Tetapi ia pun menjawab pertanyaan itu. 

                “Jatuh cinta itu, apa ya? Aku juga tidak bisa menjelaskan nya. Hanya saja, rasanya seperti ketika kau merasa tidak suka melihat dirinya dengan orang lain. Ketika kau hanya ingin dirinya memperhatikan mu seorang.”

                “Terdengar egois.”

                “Ya, memang egois.”

                “Aku dengar dari Shimizu kau hampir saja pingsan di tempat umum benarkah?” Tanya Adimas merubah topik pembicaraan.

                “Anak itu tidak bisa tutup mulut ya.” Liona menggeleng kepala lalu menghembuskan napas lelah. “Iya, tetapi hanya migran biasa kok. Memang sudah tiga kali sih seperti ini, tapi dibawa tidur juga langsung sembuh.”

                “Ada baik nya jika kau pergi ke dokter. Mau ku antar?”

                “Kau memang baik sekali.” Jawab Liona sambil mengigit coklat terakhir nya.
Usai kerja mereka pun pergi ke rumah sakit terdekat. Liona sudah meminta izin kepada Lucy untuk meminjam Adimas sebentar ke dokter dengan alasan lebih irirt biaya ongkos. Dan Lucy pun mengizinkan nya karena ia juga mengkhawatirkan kondisi sahabat nya. Sesampainya di rumah sakit, Liona menyuruh Adimas untuk menunggu di kursi Lobby. Ia hanya ingin diantar bukan untuk ditemani. Selang setengah jam kemudian, setelah diperiksa dan berbincang-bincang dengan dokter, Liona pun keluar dari ruang dokter sambil membawa kertas resep.

                “Bagaimana? Apa kata dokter?” Tanya Adimas yang masih tetap duduk.

                “Apa kan aku bilang. Ini hanya migran biasa. Dokter sudah memberiku resep dan aku hanya perlu menghabiskan nya.” Jawab Liona tersenyum pasti.

                “Baiklah kalau begitu. Mau aku yang tebus obat nya?”

                “Ah, kau ini repot-repot sekali. Tunggu saja disini, tempat tebus obat nya disebelah kok.” Adimas pun mengangguk dan membiarkan Liona pergi. Liona menunggu antrian nomor urut nya dipanggil. Lalu ia melihat sesosok pria yang sepertinya tidak asing. Pria itu memakai setelan jas dokter sambil berbicara dengan kepala suster di rumah sakit. Merasa sadar diperhatikan, pria itu menoleh kearah Liona. Lalu sedikit kaget menemukan Liona  berada dirumah sakit tempat ia kerja.

                “Halo nona, kita bertemu lagi.” Sapa dokter itu tersenyum sambil menyuguhkan tangan untuk bersalaman.

                “Ah, aku ingat. Kau pria yang ku tabrak waktu malam itu?”

                “Benar sekali. Izinkan aku memperkenalkan diri. Nama ku Roy Sharron. Aku dokter spesialis otak dan syaraf di rumah sakit ini.”

                “Namaku Liona Valeshi, maaf untuk waktu itu. Aku sedang, sedikit sakit.” Ujar Liona terkekeh.

                “Apakah itu berhubungan dengan kedatangan mu sekarang?”

                “Ya, begitulah. Baik sepertinya saya harus pamit dokter.”

                “Tunggu sebentar,” Sang dokter menarik tangan  Liona. “Bolehkah aku meminta nomor ponsel mu?” Liona terkejut mendengar permintaan pria itu. Dengan bingung dan ragu, dia pun akhirnya memberikan nomor ponsel milik nya, lalu segera berpamitan.

                “Oh iya satu lagi nona Valeshi, jangan memanggil ku dokter. Panggil saja Sharron, atau Roy jika ingin lebih dekat.” Ujar pria itu tertawa.

                “Baiklah, sampai jumpa Sharron.”



-Next Chapter-

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...