Liona tersungkur di ujung ranjang
nya. Hati dan pikiran nya masih kacau. Rasanya ia tidak ingin pergi ke kantor
pagi ini, apalagi jika sampai bertemu dengan Leo. Ia ingin menghindari pria itu
untuk saat ini. Jam menunjukkan pukul enam pagi dan dengan berat hati ia
bergegas untuk prepare. Ia berjalan menyusuri kota, tampak pagi yang cerah
dengan sepasang kekasih dan sebuah keluarga kecil yang sedang berbincang di
depan halaman rumah. Mereka tertawa,terlihat bahagia. Ngomong-ngomong,
bagaimana rasanya bahagia? Liona sudah lupa dengan perasaan itu. Bahkan ia lupa
bagaimana caranya untuk bahagia. Kadang seseorang menginginkan kebahagiaan
orang lain tetapi tidak pernah berpikir untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Lupa bagaimana caranya membahagiakan dirinya sendiri. Saat ini tujuan hidup nya
hanyalah lulus, mendapat pekerjaan yang layak,
uang yang banyak, dan membahagiakan nenek nya.
“Liona?” Seru seorang wanita
separuh baya memanggil nya. Membebaskan nya dari lamunan.
“Eh, maaf. Ada apa?”
“Kau di panggil ke ruangan Pak
Leo segera.”
“Saya? Hanya saya?”
“Katanya ada berkas berkas yang
harus kau urus ke percetakan. Dan ia menyebutkan nama mu untuk tugas ini.
Apakah saya terlihat berbohong?”
“Sama sekali tidak, maafkan saya.
Saya akan kesana sekarang.” Jawab Liona dengan lekas sebelum timbul salah
paham. Perlahan ia mengetuk pintu ruangan atasan nya itu.
“Masuk.” Suara itu terdengar
tegas dan sangat familiar.
“Permisi pak, ada yang bisa saya
bantu?” Tanya Liona dengan sopan. Melupakan status umur dan pendidikan setara
nya. Saat ini, mereka hanyalah sepasang atasan dan bawahan.
“Ada berkas berkas yang harus kau
ambil di percetakan dan tolong berikan pada manajer lini.” Perintah Leo dengan
pembawaan yang sungguh berkharismatik.
“Baik akan saya laksanakan
segera, permisi.”
“Tunggu.” Perintah tersebut
membuat Liona menghentikan langkah nya. Leo bangkit berdiri dari bangku kerja
nya. Berdiri dengan tangan bertopang pada meja dan menatap Liona dengan serius.
“Ada apa dengan pipi mu?” Tanya
Leo yang membuat Liona tersadar bahwa memar bekas tamparan ayah nya masih
terlihat meski samar.
“Oh ini, saya terjatuh dari
tempat tidur pak. Maaf jika memar ini sedikit mengganggu.” Jawab Liona dengan
tenang dan percaya diri. Meski ia tahu alasan nya benar-benar kebohongan yang
payah, akan tetapi ia menyampaikan nya dengan yakin, sehingga orang lain yang
tidak tahu kebenaran nya akan percaya. Akan tetapi Leo tidak. Ia tahu apa yang
terjadi. Ia berada disana,memperhatikan semalam.
“Pilihan yang salah untuk
membohongi orang yang memiliki IQ tertinggi di kampus nya.” Leo menyombongkan
dirinya. Berusaha memberi tahu bahwa dirinya tidak sebodoh itu.
“Oh benarkah? Kalau begitu kau
terlalu pintar untuk membuang-buang waktumu hanya untuk menanyakan luka ku.
Bos.” Kata terakhir Liona di sampaikan dengan nada menyinyir. Ia mulai jengkel.
Leo menatap nya dingin lalu mulai melangkah menghampiri gadis itu.
“Bukan kah aku sudah berhutang
waktu padamu semalam? Aku sudah memakan nya.” Leo mengungkit kejadian tadi
malam. Memberitahu bahwa ia sudah memakan masakan yang telah susah payah Liona
buat membuat Liona sedikit terkejut dan, merona. Tetapi ia berusaha semaksimal
mungkin untuk tetap bersikap biasa.
“Makanan basi itu pasti sekarang
tengah merusak saluran pencernaan anda, pak.” Ujar Liona kembali menyindir.
“Liona, makanan mu sama sekali
tidak basi. Aku membatalkan dinner ku semalam. Dan aku mengejarmu.” Liona
terdiam. Terkejut mendengar apa yang dikatakan atasan nya itu. Ia semakin
merona. Untung saja memar di pipinya berhasil menutupi itu. Leo semakin
memajukan langkah nya, menyebrangi jarak diantara mereka.
“Dan aku tahu semuanya Liona.
Itulah sebab nya kau tidak bisa membohongiku. Aku berada disana saat memar itu
diberikan.” Leo kembali melanjutkan kata-katanya dengan pelan. Akan tetapi pernyataan
Leo tersebut justru membuat Liona amat sangat malu. Itu aib keluarga nya. Liona
pun melangkah mudur, mencoba menjauh dari Leo. Tidak tahu harus membalas apa.
Ia sudah kepalang malu.
“Liona..” Leo menyebut namanya
dengan sangat lembut dan penuh perhatian. Liona merasa mata nya mulai pedih. Ia
ingin menangis tetapi berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan air matanya.
Akan tetapi terlambat, ia tidak bisa lebih jauh menahan emosi nya. Sangat sulit
untuk memendam kenyataan yang pahit.
“Liona, aku mohon jangan
menangis. Maafkan aku.” Ucap Leo dengan sangat hati-hati. Suaranya terdengar
parau. Gadis di depan nya menangis terisak. Ia merasa sangat bersalah. Dengan
tidak sadar ia memeluk gadis itu. Seperti ia memeluk kenangan.
***
Aroma
khas kue dan kopi dari Kedai Kopi nenek pagi ini membuat para pelanggan rela
mengantri untuk mendapatkan sarapan pagi. Adimas dengan ramah menyuguhkan
makanan beserta senyuman manis kepada pelanggan nya. Membuat siswi-siswi SMA
berlomba menebar pesona. Adimas memang terkenal sangat baik kepada semua orang.
Kulit coklat, rambut hitam, dan tubuh tinggi nya memperlihatkan maha karya asli
Sunda. Lucy, Shimizu, dan karyawan lain nya telah beroperasi membuka kedai dari
pagi hari. Kedai ini memang tidak mewah, bangunan nya cukup tua, kursinya
hanyalah kursi kayu, tetapi dengan AC, musik klasik, hiasan payung merah, dan
bermacam-macam bunga yang menghiasi lah
yang memberikan unsur estetika pada Kedai ini sehingga terlihat antik.
Kedai ini memang dirancang seperti Cafe-Cafe di Italia.
Seorang
pria berpakaian serba hitam seperti anak Band datang dengan membawa gitar di
punggung nya. Menarik perhatian orang-orang disekitar nya.
“Halo
mas, permisi. Kenalkan nama saya Juna.” Ia memberikan sebuah tangan untuk
bersalaman.
“Iya
mas Juna, mau pesan apa?” Tanya Adimas dengan ramah.
“Ah,
maaf. Tapi saya kesini bukan untuk memesan menu disini.” Jawab Juna dengan
terkekeh sambil megusap kepala nya, berlaga seperti orang polos. Adimas
terlihat bingung.
“Hmm
begini, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk melamar pekerjaan.” Juna
kembali melanjutkan kata-katanya. Adimas pun baru mengerti maksud dari semua
ini. Ia tertawa.
“Oh
begitu mas, saya kira apa. Tapi maaf sekali kedai ini sedang tidak membuka
lowongan. Karyawan disini sudah full mas.”
“Tidak,
saya disini bukan untuk melamar di posisi dapur atau pun kasir, pelayan, dan
sebagainya.”
“Lantas?”
“Saya
ingin melamar perkerjaan menjadi pengisi suara di kedai ini.” Ujar Juna
menjelaskan sambil tertawa. Adimas terperangah mendengar apa yang baru saja
dikatakan Juna. Ia tahu ini adalah ide yang bagus untuk menambah live music di
kedai ini, strategi menarik pelanggan. Akan tetapi ia harus meminta pendapat
Liona sedangkan Liona saat ini sedang bekerja di Phoenix ATX.
“Sepertinya
saya harus membicarakan nya pada atasan saya dulu. Ada kah kartu nama yang bisa
dihubungi?” Juna pun menyerahkan kartu nama nya.
“Saya
sudah tahu ini pasti akan terjadi. Jadi maksud kedatangan saya bukan hanya
untuk melamar saja.”
“Maksudnya?”
Tanya Adimas mulai kebingungan lagi.
“Saya
ingin bertemu dengan gadis cantik bernama Lucy, apakah dia ada?” Ujar Juna
menjawab dengan tersenyum hangat. Entah kenapa Adimas terperangah dengan apa
yang barusan Juna sampaikan. Ia mencari Lucy.Tiba-tiba timbul rasa mengganjal
di dalam hati nya. Ia terdiam sesaat, memperhatikan Juna yang masih menunggu
jawaban dari dirinya. Lalu Adimas pun memanggil Lucy.
“Ada
apa Dim?” Lucy hadir menghampiri. Wangi mawar terpancar dari tubuh nya. Membuat
Adimas sedikit nyaman dengan kehadiran nya.
“Pria
ini mencarimu. Ku berikan waktu 15 menit untuk berbicara. Setelah itu
kembalilah bekerja.” Ujar Adimas dengan nada dingin. Lucy meneriak kan kata
berhasil di dalam hatinya. Ia ingin berjingkrak kegirangan karena rencana yang
ia dan Juna buat cukup berhasil untuk membuat Adimas cemburu. Lucy melirik Juna
sambil tersenyum memberikan kode bahwa mereka berhasil. Dan lirikan serta senyuman
itusemakin membuat Adimas merasa tidak
nyaman. Ia pun tidak menghiraukan Lucy dan mulai kembali bekerja, sedangkan Lucy
izin pergi kedepan sebentar untuk berbicara dengan Juna.
“Bagaimana
keadaan teman mu? Apakah Leo memberikan service yang bagus?” Juna terkekeh.
Mendengar lelucon mesum Juna, Lucy pun mencubit lengan nya kencang hingga pria
itu berteriak.
“Leo
tidak akan berani melakukan nya pada teman ku.”
“Mengapa
tidak? Semua pria tidak sepolos yang kau kira. Tak terkecuali si Adimas mu
itu.” Juna menunjuk Adimas yang sedang menata roti manis. Lucy merona mendengar
apa yang dikatakan Juna. Benar kata Shimizu, Juna adalah orang mesum.
“Oh,
kau tidak tahu? Liona itu pernah menjadi pelatih karate. Tangan sahabatmu itu
akan patah jika berani macam-macam dengan nya.” Jawab Lucy mantap. Juna menelan
ludah, tidak akan ada yang menyangka bahwa Liona memiliki kemampuan seperti
itu. Penampilan nya sama sekali tidak memperlihatkan kemampuan nya.
“Lalu,
dimana teman mu yang satunya lagi?”
“Wow,
kau menyukai nya?”
“Jangan
cemburu. Kau akan selalu menjadi yang pertama untuk ku.”
“Sialan. Aku tahu kau playboy level master.” Mereka
berdua pun tertawa bersama-sama. Membuat Adimas melirik keseruan mereka berdua
hingga tak sadar bahwa ia memasukkan garam kedalam kopi nya.
***
Panas
terik matahari membuat siang itu terasa melelahkan. Liona datang ke Kedai
dengan malas-malasan dan rambut berantakan. Ia masih mengingat-ingat pelukan
Leo tadi pagi. Lalu ia menggeleng kepala.
Ia tidak boleh berpikir berlebihan, seorang pria yang melihat wanita
menangis pasti tidak akan tega dan tentu saja mereka akan memberikan pelukan
simpatik. Pelukan tadi mungkin hanya sebatas kepedulian Leo terhadap teman nya.
Karena sikap Leo setelah memeluk nya terlihat biasa saja, terakhir pria itu hanya bertanya apakah Liona bertemu
dengan seorang pria asing di Bitter Shitter Lounge. Tetapi ia tidak merasa
bertemu dengan siapa-siapa.
“Muram
sekali muka mu itu. Ada apasih?” Tanya Adimas yang sedang duduk sambil
menyantap bekal, memanfaatkan jam istirahat nya.
“Entah
kenapa akhir-akhir ini aku merasa kacau sekali. Begitu banyak yang terjadi
hingga membuat otak ku berputar-putar seperti roller coaster.” Adimas tertawa
mendengar celotehan asal Liona itu.
“Sini
duduk, aku punya coklat untuk mu. Kata orang, coklat dapat menghilangkan
stres.” Ujar Adimas menawarkan kursi kosong disebelah nya. Lucy memang sudah
menganggap Adimas seperti kakak nya sendiri. Bagaimana tidak, Adimas adalah
orang yang paling perhatian dan peduli pada teman-teman nya di Kedai ini. Ia
bagai seorang penjaga. Sifat nya yang begitu dewasa dan selalu tenang dalam
menghadapi situasi apapun membuat orang lain disekitar nya merasa nyaman.
Pantas saja Lucy sangat menyukai pria ini.
“Kau
buat sendiri?” Tanya Liona yang akhirnya mengambil kursi disebelah Adimas.
“Iya
dong”
“Wah,
lalu yang itu untuk siapa?” Liona menunjuk sebuah kotak coklat lain, tetapi
yang satu itu diberikan pita berbentuk mawar.
“Oh
ini? Yang pastinya bukan untuk mu.” Jawab Adimas tersenyum sambil
menyembunyikan kotak coklat tersebut dari hadapan Liona. Akan tetapi sikap nya
tetap tenang dan tidak gugup meskipun ia telah dipergoki. Membuat orang lain
yang memergoki nya pasti tidak akan merasa curiga. Liona tertawa, dan berharap
dalam hati coklat itu akan diberikan untuk Lucy.
“Apakah
kau pernah jatuh cinta?” Mendengar pertanyaan Adimas membuat Lucy tersedak
coklat nya.
“Mengapa
kau bertanya seperti itu?”
“Karena,
aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.” Adimas mengatakan nya sambil
termenung melihat langit-langit. Membuat Liona terperangah dan sedikit
terkejut. Tetapi ia pun menjawab pertanyaan itu.
“Jatuh
cinta itu, apa ya? Aku juga tidak bisa menjelaskan nya. Hanya saja, rasanya
seperti ketika kau merasa tidak suka melihat dirinya dengan orang lain. Ketika
kau hanya ingin dirinya memperhatikan mu seorang.”
“Terdengar
egois.”
“Ya,
memang egois.”
“Aku
dengar dari Shimizu kau hampir saja pingsan di tempat umum benarkah?” Tanya
Adimas merubah topik pembicaraan.
“Anak
itu tidak bisa tutup mulut ya.” Liona menggeleng kepala lalu menghembuskan
napas lelah. “Iya, tetapi hanya migran biasa kok. Memang sudah tiga kali sih
seperti ini, tapi dibawa tidur juga langsung sembuh.”
“Ada
baik nya jika kau pergi ke dokter. Mau ku antar?”
“Kau
memang baik sekali.” Jawab Liona sambil mengigit coklat terakhir nya.
Usai kerja mereka pun pergi ke rumah sakit terdekat. Liona
sudah meminta izin kepada Lucy untuk meminjam Adimas sebentar ke dokter dengan
alasan lebih irirt biaya ongkos. Dan Lucy pun mengizinkan nya karena ia juga
mengkhawatirkan kondisi sahabat nya. Sesampainya di rumah sakit, Liona menyuruh
Adimas untuk menunggu di kursi Lobby. Ia hanya ingin diantar bukan untuk
ditemani. Selang setengah jam kemudian, setelah diperiksa dan
berbincang-bincang dengan dokter, Liona pun keluar dari ruang dokter sambil
membawa kertas resep.
“Bagaimana?
Apa kata dokter?” Tanya Adimas yang masih tetap duduk.
“Apa
kan aku bilang. Ini hanya migran biasa. Dokter sudah memberiku resep dan aku
hanya perlu menghabiskan nya.” Jawab Liona tersenyum pasti.
“Baiklah
kalau begitu. Mau aku yang tebus obat nya?”
“Ah,
kau ini repot-repot sekali. Tunggu saja disini, tempat tebus obat nya disebelah
kok.” Adimas pun mengangguk dan membiarkan Liona pergi. Liona menunggu antrian
nomor urut nya dipanggil. Lalu ia melihat sesosok pria yang sepertinya tidak
asing. Pria itu memakai setelan jas dokter sambil berbicara dengan kepala
suster di rumah sakit. Merasa sadar diperhatikan, pria itu menoleh kearah
Liona. Lalu sedikit kaget menemukan Liona
berada dirumah sakit tempat ia kerja.
“Halo
nona, kita bertemu lagi.” Sapa dokter itu tersenyum sambil menyuguhkan tangan
untuk bersalaman.
“Ah,
aku ingat. Kau pria yang ku tabrak waktu malam itu?”
“Benar
sekali. Izinkan aku memperkenalkan diri. Nama ku Roy Sharron. Aku dokter
spesialis otak dan syaraf di rumah sakit ini.”
“Namaku
Liona Valeshi, maaf untuk waktu itu. Aku sedang, sedikit sakit.” Ujar Liona
terkekeh.
“Apakah
itu berhubungan dengan kedatangan mu sekarang?”
“Ya,
begitulah. Baik sepertinya saya harus pamit dokter.”
“Tunggu
sebentar,” Sang dokter menarik tangan Liona.
“Bolehkah aku meminta nomor ponsel mu?” Liona terkejut mendengar permintaan
pria itu. Dengan bingung dan ragu, dia pun akhirnya memberikan nomor ponsel milik
nya, lalu segera berpamitan.
“Oh iya
satu lagi nona Valeshi, jangan memanggil ku dokter. Panggil saja Sharron, atau
Roy jika ingin lebih dekat.” Ujar pria itu tertawa.
“Baiklah,
sampai jumpa Sharron.”
-Next Chapter-
Comments
Post a Comment