Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 10






Malam Sebelumnya.

“Man, your girl!”
“Jun, tolong lah saya baru aja selesai meeting.”  Jawab Leo dari sambungan lain.
“I’m serious . Ini urgent! Liona pingsan. Kami ada di Bitter Shitter Lounge.”
“Hah? Ngapain kalian disitu?!”
“Cerita nya panjang bro, tenang aku gak melakukan hal-hal aneh. Cepat kesini.”

Telefon terputus.  

Leo berlari tergesa-gesa ke arah parkiran dan membawa mobilnya ke tempat tujuan. Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang menari sambil bernyanyi, ia mencari-cari teman nya dan Liona. Tidak sengaja ia menabrak seorang pria dengan tinggi yang sama dengan nya. Hanya saja, pria tersebut lebih tua satu tahun dari nya. 

        “Sorry..”  Ujar pria tersebut sambil berbalik arah menghadap Leo. Tiba-tiba pria tersebut tercengang melihat Leo yang sama tercengang nya. Mereka terdiam sesaat lalu sama-sama memasang wajah masam.

        “Sudah berapa lama kita tidak bertemu ya? Sekarang kau sudah besar, dan lebih.. Maskulin.” Ujar pria tersebut sambil tersenyum. Entah senyum tulus atau senyum sinis yang ia berikan pada Leo.

        “Tidak ada waktu untuk berbincang. Aku harus mencari teman ku.”

        “Sepertinya kita mencari orang yang sama.” Ucap pria tersebut sambil menghabiskan anggur putih nya. Rahang Leo mengeras.

       “Ku peringatkan padamu, dia bukan lah orang yang kau cari!” Gertak Leo sambil mengepalkan tangan nya.

       “Benarkah?”

      “Aku bersumpah, dia bukan lah orang itu! Kita berdua tahu masa lalu sudah mati bersama kenangan. Terima lah kenyataan.” Bentak Leo sambil melangkah pergi meninggalkan pria tersebut.

       Kau lah yang belum menerima kenyataan. Pria tersebut ingin mengatakan nya, akan tetapi Leo sudah lebih dulu pergi. Di sisi lain, akhirnya Juna menemukan Leo yang sedang berjalan menghampiri mereka di parkiran atas.

      “Kenapa kau tak bilang kalau kalian ada di atas sini sih?” Ujar Leo kesal masih terbawa emosi.

      “Kita terlalu sibuk mengurus Liona, tidak ada waktu untuk menghubungi mu kembali. Lagi pula kau pintar dan kau bisa mencari.” Ujar Lucy menjawab pertanyaan Leo yang sebenarnya diberikan kepada Juna. Juna harus berterima kasih untuk itu, karena Leo langsung meredam amarah nya. Dan Leo pun tahu tidak seharus nya dirinya melampiaskan amarah nya pada teman-teman nya hanya karena bertemu dengan seorang kenalan lama yang membuat nya kembali mengingat masa-masa kelam.

       “Maafkan aku, biar aku yang membawa nya.” Ujar Leo dengan tenang.

      “Tentu saja, kami menghubungi mu karena memang kau yang harus membawanya.” Jawab Lucy tersenyum jahil.

      “Mengapa aku?”

      “Tidak usah berpura-pura tidak tahu man, lo tahu jawaban nya. “ Timpal Juna sambil tertawa seolah-olah mereka memang sudah merencanakan nya dari awal. Leo pun terdiam lalu membuka pintu mobil Juna tempat Liona beristirahat.

       “Liona..” Ucap Leo sangat pelan dan pernuh kecemasan. Liona hanya mengangguk.

       “Apa dia minum?” Tanya Leo pada teman-teman nya.

       “Sedikit.” Jawab Lucy.

       “Mengapa kau tidak melarang nya?”

       “Aku bercanda Leo, kami tidak minum alkohol sama sekali.”

       “Bagus. Liona, kau bisa berjalan?” Tanya Leo kepada Liona. Dan lagi-lagi Liona hanya mengangguk. Dirinya saat ini sedang setengah sadar. Kepala nya seperti sedang diombang ambing kesana kesini. Leo pun membantu Liona berjalan dengan hati-hati dan menaruhnya di jok depan lalu menutup pintu mobil nya. 

      “Terima kasih sudah mempercayakan dia padaku. Sekarang aku butuh nomor ponsel nya.” Ujar Leo dengan sopan.

      “Bagaimana seorang atasan tidak tahu informasi tentang bawahan nya?”

      “Memang nya kau pikir aku secara langsung memegang berkas-berkas karyawan ku? Itu bukan tugas ku. Liona masih memiliki atasan-atasan lain nya yang memegang pangkat dibawahku. Oh lagi pula, aku bukan bos tetap disana. Aku hanya menggantikan ayahku sampai ia selesai dengan cabang nya di luar negeri.”

       “Seram.” Jawab Lucy lalu memberikan nomor ponsel teman nya. 

***


Diiringi sebuah musik, Liona menyiapkan makan malam dengan perasaan berbunga-bunga. Tiada yang lebih cantik dari pesona seorang wanita yang sedang jatuh cinta. Ia menunggu Leo pulang. Dengan dandanan rapih ia sudah siap bertemu Leo, makan malam bersama, dan pulang kerumah dengan selamat. Akan tetapi semua memang tidak selalu berjalan mulus sesuai yang diharapkan. Sudah 4 jam Liona menunggu kedatangan Leo akan tetapi ia belum juga datang. Makanan mulai mendingin, lilin mulai mengecil. Kini sudah pukul 9 malam dan Leo belum juga datang. Pada akhirnya gadis itu pun tertidur pulas di meja makan, namun selang satu jam kemudian ponsel nya bergetar, membangunkan nya, dan memberikan sebuah pesan dari pria yang ditunggu nya sejak 5 jam yang lalu.

         “Maaf, mendadak aku ada meeting dan dinner dengan teman ku. Dia wanita yang ribet. Jika kau tidak keberatan, bisakah kau menginap dirumah ku lagi untuk semalam? Aku akan mengantar mu besok.”

Wanita...

Perasaan kecewa menyeruak dalam hati Lona. Panas. Ia cepat-cepat mengetik balasan pesan untuk Leo. 

         “Aku tidak bisa, aku akan pulang sekarang.”

        “Baiklahaku tak akan memaksa, kau bisa pulang dengan supirku, aku akan menghubunginya untuk mengantarkan mu pulang sampai rumah dengan selamat.”

        “Tidak perlu, terima kasih. Dan terima kasih juga atas tumpangan kamar serta hidangan makanan nya.”

       “Liona. Kau tidak boleh pulang sendiri. Ini sudah jam 10 malam.”

Tetapi Liona menghiraukan pesan tersebut. Rasa kecewa nya sudah menguasai hatinya sekarang. Ia bergegas merapihkan barang-barang nya dan pergi. Sebelum pergi, ia menuliskan sebuah memo kecil untuk Leo.

Aku rasa makanan ini sudah tidak enak atau sudah basi saat kau pulang esok pagi. Jadi, buanglah demi kesehatan mu.

Liona pun pergi dari kediaman Leo.

***

Selang beberapa lama kemudian, Leo sampai dirumah dengan tergesa-gesa. Ia mengecek sekeliling rumah tetapi tidak ditemukan sosok wanita yang ia cari. Ia pun memanggil asisten rumah nya.

        “Bibi, kemana Liona?”

        “Loh, sudah pulang Tuan. Baru saja.”

        “Bersama supir?”

        “Tidak tuan, nona Liona pergi sendiri sepertinya tadi memesan taksi.”

       “Baiklah terima kasih bi.” Leo pun bergegas mengambil kunci mobilnya lalu dengan setengah berlari ia pergi mengejar Liona.
   
Di sisi lain, Liona menahan rasa kecewanya di dalam taksi hingga ia sampai di depan rumah nya. Sudah 2 malam ia tidak pulang dan uang tabungan nya sudah dipakainya sebagian. Ketika ia membuka pintu, terlihat sosok ayah nya sedang merokok di sofa ruang tamu. Liona melirik meja yang penuh dengan botol alkohol. 

       “Dari mana saja kamu anak sialan!” Liona terdiam. Ayah nya langsung menghampiri Liona dan menamparnya dengan keras.

       “Dasar anak tidak tahu diri! Di rawat dari kecil, sudah besarnya malah jadi wanita jalang! Harusnya kau jadi mesin pencetak uang. Membantu biaya sehari-hari keluarga kita. Bukan malah membebankan ku! Karena kau aku tidak bisa berjudi malam ini. Bagaimana aku bisa melunasi hutang-hutangku!”  Liona tetap diam sambil memegangi luka bekas tamparan ayah nya.

      “Kenapa diam saja hah? Apa kau bawa uang? Mana uang hasil bermalam mu itu?” Tanya ayah Liona sambil menarik rambutnya.

      “Tidak ada ayah. Aku tidak melacur dan sama sekali bukan wanita jalang seperti  yang kau sebutkan.” Liona menjawab pertanyaan ayah nya sambil meringis kesakitan. Ayah nya pun melepas tarikan nya pada rambut Liona.

      “Punya anak tetapi tidak berguna sama sekali. Aku tidak peduli kau mau pulang kapan pun asalkan kau membawa uang, aku tidak akan marah. Ingat itu baik-baik!” Bentak Ayah Liona yang langsung meneguk alkohol nya.

      “Baik Ayah, maafkan aku.” Ujar Liona menahan tangis. Lalu bergegas pergi ke kamarnya. Di atas tangga, sang nenek berdiri menunggu Liona sambil menangis.

      “Maafkan aku yang tidak bisa membantu mu apa-apa cucuku. Ayah mu terlalu keras.” Ujar nenek Liona terisak.

      “Tidak apa-apa nek, tidak apa-apa. Dengan kau memberikan ku posisi sebagai kepala kedai itu sudah sangat membantu ku.” Jawab Liona sambil tersenyum. 

      “Seharusnya kedai itu dikelola oleh Ayah mu. Umurku sudah tidak cukup untuk menjadi seorang Owner. Tetapi Ayah mu tidak pernah mau bekerja.”

      “Aku senang bekerja disana nek, dan itu tidak mempengaruhi nilai ku sama sekali. Aku tetap meraih beasiswa kan buktinya? Lagi pula aku menemukan teman-teman yang baik. Percayalah aku akan menjadikan kedai kita terkenal dan menambah cabang  di banyak tempat.” Liona pun memeluk neneknya. 

        Sedangkan di seberang jalan, ada Leo yang telah menyaksikan semua kekerasan itu. Entah mengapa melihat Liona disakiti menimbulkan amarah di dalam diri Leo. Mobil nya melaju cepat menuju rumah. Sesampainya disana, ia baru menyadari bahwa meja makan nya penuh dengan berbagai hidangan makan malam dan ia membuka sepucuk memo yang berada di ujung meja makan tersebut. Ia meremas kertas itu dengan penuh penyesalan, lalu melihat jam yang menujukkan pukul satu pagi. Ini semua salah nya. Melihat makanan yang begitu banyak dan di hias begitu rapih, ia dapat membayangkan betapa tulusnya Liona menyiapkan semua ini. Lilin-lilin yang ia pasang kini telah menjadi lelehan tak berarti. Leo bahkan sudah membatalkan janjinya, akan tetapi ia sudah terlambat. Ia pun duduk di meja makan, lalu mencicipi makanan yang Liona buat. Memakan masakan Liona membuat ia mengingat masa lalu nya. Setiap rasa nya membuka lembar demi lembar kisah singkat nya. Membuat Leo merindukan sebuah kehangatan dari orang yang sangat ia cintai. 

         “Bagaimana bisa aku melupakan nya? Jika kau selalu berhasil membuat ku mengingat dirinya.” Ujar Leo berbicara sendiri menatap masa lalu.


-Next Chapter-


Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...