Malam Sebelumnya.
“Man, your girl!”
“Jun, tolong lah saya
baru aja selesai meeting.” Jawab Leo
dari sambungan lain.
“I’m serious . Ini
urgent! Liona pingsan. Kami ada di Bitter Shitter Lounge.”
“Hah? Ngapain kalian
disitu?!”
“Cerita nya panjang
bro, tenang aku gak melakukan hal-hal aneh. Cepat kesini.”
Telefon terputus.
Leo
berlari tergesa-gesa ke arah parkiran dan membawa mobilnya ke tempat tujuan. Di
tengah hiruk pikuk orang-orang yang menari sambil bernyanyi, ia mencari-cari
teman nya dan Liona. Tidak sengaja ia menabrak seorang pria dengan tinggi yang
sama dengan nya. Hanya saja, pria tersebut lebih tua satu tahun dari nya.
“Sorry..” Ujar pria tersebut sambil berbalik arah menghadap
Leo. Tiba-tiba pria tersebut tercengang melihat Leo yang sama tercengang nya.
Mereka terdiam sesaat lalu sama-sama memasang wajah masam.
“Sudah berapa lama kita tidak bertemu ya? Sekarang kau sudah
besar, dan lebih.. Maskulin.” Ujar pria tersebut sambil tersenyum. Entah senyum
tulus atau senyum sinis yang ia berikan pada Leo.
“Tidak ada waktu untuk berbincang. Aku harus mencari teman
ku.”
“Sepertinya kita mencari orang yang sama.” Ucap pria
tersebut sambil menghabiskan anggur putih nya. Rahang Leo mengeras.
“Ku peringatkan padamu, dia bukan lah orang yang kau cari!”
Gertak Leo sambil mengepalkan tangan nya.
“Benarkah?”
“Aku bersumpah, dia bukan lah orang itu! Kita berdua tahu
masa lalu sudah mati bersama kenangan. Terima lah kenyataan.” Bentak Leo sambil
melangkah pergi meninggalkan pria tersebut.
Kau lah yang belum
menerima kenyataan. Pria tersebut ingin mengatakan nya, akan tetapi Leo
sudah lebih dulu pergi. Di sisi lain, akhirnya Juna menemukan Leo yang sedang
berjalan menghampiri mereka di parkiran atas.
“Kenapa kau tak bilang kalau kalian ada di atas sini sih?”
Ujar Leo kesal masih terbawa emosi.
“Kita terlalu sibuk mengurus Liona, tidak ada waktu untuk
menghubungi mu kembali. Lagi pula kau pintar dan kau bisa mencari.” Ujar Lucy
menjawab pertanyaan Leo yang sebenarnya diberikan kepada Juna. Juna harus
berterima kasih untuk itu, karena Leo langsung meredam amarah nya. Dan Leo pun
tahu tidak seharus nya dirinya melampiaskan amarah nya pada teman-teman nya
hanya karena bertemu dengan seorang kenalan lama yang membuat nya kembali
mengingat masa-masa kelam.
“Maafkan aku, biar aku yang membawa nya.” Ujar Leo dengan
tenang.
“Tentu saja, kami menghubungi mu karena memang kau yang
harus membawanya.” Jawab Lucy tersenyum jahil.
“Mengapa aku?”
“Tidak usah berpura-pura tidak tahu man, lo tahu jawaban
nya. “ Timpal Juna sambil tertawa seolah-olah mereka memang sudah merencanakan
nya dari awal. Leo pun terdiam lalu membuka pintu mobil Juna tempat Liona beristirahat.
“Liona..” Ucap Leo sangat pelan dan pernuh kecemasan. Liona
hanya mengangguk.
“Apa dia minum?” Tanya Leo pada teman-teman nya.
“Sedikit.” Jawab Lucy.
“Mengapa kau tidak melarang nya?”
“Aku bercanda Leo, kami tidak minum alkohol sama sekali.”
“Bagus. Liona, kau bisa berjalan?” Tanya Leo kepada Liona.
Dan lagi-lagi Liona hanya mengangguk. Dirinya saat ini sedang setengah sadar.
Kepala nya seperti sedang diombang ambing kesana kesini. Leo pun membantu Liona
berjalan dengan hati-hati dan menaruhnya di jok depan lalu menutup pintu mobil
nya.
“Terima kasih sudah mempercayakan dia padaku. Sekarang aku
butuh nomor ponsel nya.” Ujar Leo dengan sopan.
“Bagaimana seorang atasan tidak tahu informasi tentang
bawahan nya?”
“Memang nya kau pikir aku secara langsung memegang
berkas-berkas karyawan ku? Itu bukan tugas ku. Liona masih memiliki
atasan-atasan lain nya yang memegang pangkat dibawahku. Oh lagi pula, aku bukan
bos tetap disana. Aku hanya menggantikan ayahku sampai ia selesai dengan cabang
nya di luar negeri.”
“Seram.” Jawab Lucy lalu memberikan nomor ponsel teman nya.
***
Diiringi sebuah musik, Liona
menyiapkan makan malam dengan perasaan berbunga-bunga. Tiada yang lebih cantik
dari pesona seorang wanita yang sedang jatuh cinta. Ia menunggu Leo pulang.
Dengan dandanan rapih ia sudah siap bertemu Leo, makan malam bersama, dan
pulang kerumah dengan selamat. Akan tetapi semua memang tidak selalu berjalan
mulus sesuai yang diharapkan. Sudah 4 jam Liona menunggu kedatangan Leo akan
tetapi ia belum juga datang. Makanan mulai mendingin, lilin mulai mengecil.
Kini sudah pukul 9 malam dan Leo belum juga datang. Pada akhirnya gadis itu pun
tertidur pulas di meja makan, namun selang satu jam kemudian ponsel nya
bergetar, membangunkan nya, dan memberikan sebuah pesan dari pria yang ditunggu
nya sejak 5 jam yang lalu.
“Maaf, mendadak aku
ada meeting dan dinner dengan teman ku. Dia wanita yang ribet. Jika kau tidak
keberatan, bisakah kau menginap dirumah ku lagi untuk semalam? Aku akan
mengantar mu besok.”
Wanita...
Perasaan kecewa menyeruak dalam hati Lona. Panas. Ia cepat-cepat
mengetik balasan pesan untuk Leo.
“Aku tidak bisa, aku
akan pulang sekarang.”
“Baiklahaku tak akan
memaksa, kau bisa pulang dengan supirku, aku akan menghubunginya untuk
mengantarkan mu pulang sampai rumah dengan selamat.”
“Tidak perlu, terima
kasih. Dan terima kasih juga atas tumpangan kamar serta hidangan makanan nya.”
“Liona. Kau tidak
boleh pulang sendiri. Ini sudah jam 10 malam.”
Tetapi Liona menghiraukan pesan tersebut. Rasa kecewa nya
sudah menguasai hatinya sekarang. Ia bergegas merapihkan barang-barang nya dan
pergi. Sebelum pergi, ia menuliskan sebuah memo kecil untuk Leo.
Aku rasa makanan ini sudah tidak enak atau sudah basi saat kau pulang
esok pagi. Jadi, buanglah demi kesehatan mu.
Liona pun pergi dari kediaman Leo.
Selang beberapa lama kemudian, Leo sampai dirumah dengan
tergesa-gesa. Ia mengecek sekeliling rumah tetapi tidak ditemukan sosok wanita
yang ia cari. Ia pun memanggil asisten rumah nya.
“Bibi, kemana Liona?”
“Loh, sudah pulang Tuan. Baru saja.”
“Bersama supir?”
“Tidak tuan, nona Liona pergi sendiri sepertinya tadi
memesan taksi.”
“Baiklah terima kasih bi.” Leo pun bergegas mengambil kunci
mobilnya lalu dengan setengah berlari ia pergi mengejar Liona.
Di sisi lain, Liona menahan rasa kecewanya di dalam taksi
hingga ia sampai di depan rumah nya. Sudah 2 malam ia tidak pulang dan uang
tabungan nya sudah dipakainya sebagian. Ketika ia membuka pintu, terlihat sosok
ayah nya sedang merokok di sofa ruang tamu. Liona melirik meja yang penuh
dengan botol alkohol.
“Dari mana saja kamu anak sialan!” Liona terdiam. Ayah nya
langsung menghampiri Liona dan menamparnya dengan keras.
“Dasar anak tidak tahu diri! Di rawat dari kecil, sudah
besarnya malah jadi wanita jalang! Harusnya kau jadi mesin pencetak uang.
Membantu biaya sehari-hari keluarga kita. Bukan malah membebankan ku! Karena
kau aku tidak bisa berjudi malam ini. Bagaimana aku bisa melunasi
hutang-hutangku!” Liona tetap diam
sambil memegangi luka bekas tamparan ayah nya.
“Kenapa diam saja hah? Apa kau bawa uang? Mana uang hasil
bermalam mu itu?” Tanya ayah Liona sambil menarik rambutnya.
“Tidak ada ayah. Aku tidak melacur dan sama sekali bukan
wanita jalang seperti yang kau sebutkan.”
Liona menjawab pertanyaan ayah nya sambil meringis kesakitan. Ayah nya pun
melepas tarikan nya pada rambut Liona.
“Punya anak tetapi tidak berguna sama sekali. Aku tidak
peduli kau mau pulang kapan pun asalkan kau membawa uang, aku tidak akan marah.
Ingat itu baik-baik!” Bentak Ayah Liona yang langsung meneguk alkohol nya.
“Baik Ayah, maafkan aku.” Ujar Liona menahan tangis. Lalu
bergegas pergi ke kamarnya. Di atas tangga, sang nenek berdiri menunggu Liona
sambil menangis.
“Maafkan aku yang tidak bisa membantu mu apa-apa cucuku.
Ayah mu terlalu keras.” Ujar nenek Liona terisak.
“Tidak apa-apa nek, tidak apa-apa. Dengan kau memberikan ku posisi
sebagai kepala kedai itu sudah sangat membantu ku.” Jawab Liona sambil
tersenyum.
“Seharusnya kedai itu dikelola oleh Ayah mu. Umurku sudah tidak
cukup untuk menjadi seorang Owner. Tetapi Ayah mu tidak pernah mau bekerja.”
“Aku senang bekerja disana nek, dan itu tidak mempengaruhi
nilai ku sama sekali. Aku tetap meraih beasiswa kan buktinya? Lagi pula aku
menemukan teman-teman yang baik. Percayalah aku akan menjadikan kedai kita
terkenal dan menambah cabang di banyak
tempat.” Liona pun memeluk neneknya.
-Next Chapter-

Comments
Post a Comment