Skip to main content

Manusiawi dan Nurani

Aku merindukan diriku yg dulu.
Ketika diriku menjadi aku.
Dimana lebih banyak diam.
Menikmati dunia sendiri.

Aku merindukan diriku yg dulu.
Yang selalu menggunakan headset kemanapun.
Yang selalu memasukkan tangan kedalam saku jaket.
Yang selalu menyukai dance dan musik dj.
Dan tak peduli dengan apapun yang menyulitkan.
Dan hanya diam ketika melihat sesuatu yg tidak disukai.
Dan tak memiliki segala macam penyakit hati.

Kini aku tak mengenali diriku.
Ada sosok yang bukan diriku di dalam diriku.
Ini bukan aku.
Bukan.
Entah ini justru diriku yang sebenarnya?
Ataukah Alter ego ku?


MANUSIAWI DAN NURANI


Aku tak mengenali dunia yang ku pijaki sekarang.
Terlalu asing untuk dipijak.
Dimana letak kesalahan nya?
Aku mencari, masih mencari.
Aku bereteriak dalam hati, tuntunlah aku.

Tetapi bukan sebuah tuntunan yang ku dapat.
Melainkan, aku malah ditunjukkan pada sebuah realita.
Serpihan serpihan dunia mulai membelah mataku.
Astaga.
Betapa kejam nya manusia.
Hancur lah negeri dongeng masa depan.
Mereka menghancurkan segalanya.

Lagi lagi bumi ini membisik.
Yang bertahan hanyalah yang kuat.
Apakah sosok pejuang tunggal dapat berdiri tegak?
Memegang tombak dan pedang melawan kekejaman.

Gravitasi bumi mulai menghempas ke dasar.
Jiwa ini pun enyah.
Kata kata pilu itu menggores kaca yang bening.
Dunia tertawa.
Lihat lah, siapa yang jatuh.

Rotasi mengendalikan poros.
Detik pun mengejar sang menit.
Sang pejuang dipaksa melakukan hal yang di benci nya.
Semua yang diyakini dan dirancang nya, telah dirombak oleh manusia manusia tak bermanusiawi.
Manusia manusia tak berotak.
Atau manusia yang tak bernurani?

Diatas langit masih ada langit.
Tetapi banyak hal-hal yang tak setinggi ekspektasi.
Tak semua orang-orang terpercaya dapat dipercaya.
Tak semua orang orang terbaik itu baik.
Tak semua penolong itu menolong.
Tak semua yang putih itu bersih.
Tak semua yang hitam itu gelap.
Tak semua yang indah itu berkilau.
Tak semua jalan itu sejalan.
Tak semua yang diharapkan itu harapan.

Untuk orang orang yang hebat,
Apakah diri kalian merasa cukup tinggi untuk merendahkan suatu hal?
Apakah yang kalian jalani itu adalah sebuah keberkahan?
Apakah semua yang cukup itu menaikkan derajat kalian?
Salah. Kecukupan itu yang membawa kalian menjadi sosok yang kejam.
Dan yang merendahkan adalah yang paling rendah.

Bercerminlah.
Tanya pada hati, apa yang telah kalian perbuat pada orang lain?
Teori Chaos selalu ada.

Tulisan tak ter-arah ini memiliki banyak makna tersembunyi
Tulisan ini adalah bentuk amarah
Yang tidak dituju hanya untuk satu atau dua orang
Karena pada dasarnya, mereka semua adalah kekejaman yang sama
Bahkan tak pernah disangka semua itu muncul dari mereka
Sulit membedakan topeng topeng di dunia ini
Mengapa hingga "para beliau" pun setega itu?
Suatu keadaan yang memaksa dan menekan memang sulit diterima

Tapi mari kita tunjukkan siapa yang akan berdiri tegak di masa yang akan datang

Mari kita tunjukkan setinggi apapun kita berada, kita tetap tidak akan membuat derajat kita menjadi rendah seperti mereka.

Mari kita tunjukkan, hal yang dibuat rapuh itu justru yang kokoh.

Pisau yang tumpul jika diasah, akan setajam belati.



Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...