Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 14



Cahaya matahari menembus jendela kamar Lucy. Mata nya terbuka dengan perlahan. Ia tidak menyadari apa yang baru saja terjadi semalam. Kini dia memandang sekitar nya dan ia tahu ia sedang berada di dalam kamarnya. Rasa menggigil tadi malam masih sangat menikam dirinya. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa berada di dalam kamar nya. Lucy memegang kening nya dan terasa panas disentuhnya, ia demam. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu, kakak Lucy masuk kedalam kamar membawakan semangkuk bubur dan air putih hangat. 

                “Kau sudah bangun?” Tanya kakak nya merasa cemas.

                “Bagaimana aku bisa disini? Bukan kah semalam aku masih di halte?”

                “Jangan banyak berpikir dulu, sebaiknya kau makan. Kenapa kau tidak menghubungi kakak mu ini disaat kau kesulitan begitu. Aku panik sekali menunggu mu dirumah tetapi kau tidak pulang-pulang.” Kakak Lucy menaruh bubur dan air tersebut di atas meja rias. Ia masih berdiri memandang Lucy.

                “Ponsel ku baterai nya habis. Maafkan aku.” Ujar Lucy dengan suara parau. Mulutnya terasa amat kering dan panas.

                “Untung saja si brengsek itu menemui mu. Jika tidak aku pasti sudah menyalahkan dia. Karena dia kau kesulitan seperti ini.”

                “Maksudmu siapa?”

                “Ya, si Adimas. Aku menghubungi nya semalam aku pikir dia bersama mu. Namun dia sama panik nya dengan ku. Lalu ia mencarimu kemana-mana, katanya kau sudah tidak ada di kedai. Ternyata kau ada di halte. Dia terlihat sangat menyesal sekarang.”

                “Aku tidak ingin membicarakan nya sekarang. Aku ingin ke toilet kak.” Lucy pun beranjak dari tempat tidurnya. Dengan perlahan ia berjalan keluar kamar, namun apa yang dia temukan diluar membuatnya menghentikan langkah nya. Adimas sedang duduk di sana. Penampilan nya berantakan. Wajah nya terlihat cemas dan menyesal. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Mata nya memindai Lucy dari atas sampai bawah lalu menatap mata Lucy kembali dengan lekat. Lucy tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia ingin marah tetapi tidak bisa. Perasaan nya tidak bisa tersirat. Lucy pun memalingkan wajah nya dan langsung melanjutkan langkah nya ke toilet. Akan tetapi dengan cepat Adimas memanggilnya.

                “Ku mohon tunggu Lucy.” Disaat yang sama kakak Lucy keluar dari kamar.

                “Jangan menyuruh adikku harus menahan buang air kecil hanya untuk menunggu mu bicara Adimas.” Ia tertawa jahil. Wajah Adimas merona.

                “Sialan diam kau. Baiklah Lucy aku akan menunggu mu.” Adimas kembali duduk. Lucy pun masuk kedalam toilet.

                “Sepertinya aku harus pergi ke supermarket membeli obat demam. Kau jaga adik ku sebentar ya.” Kakak Lucy pun pergi membawa motor nya. Ia paham bahwa adik nya dan sahabat nya itu perlu diberi ruang berdua untuk berbicara meluruskan masalah mereka. Tak lama kemudian Lucy keluar dari toilet. Ia tidak menatap Adimas dan bergegas masuk kedalam kamar, namun Adimas kali ini mengikuti.

                “Apa yang kau lakukan? Mengapa kau ikut masuk? Keluar sana.” Bentak Lucy dengan penuh emosi. Ia terbatuk. Tanpa berkata apapun, Adimas langsung memeluk Lucy dengan sangat erat.

                “Aku takut kau kenapa-kenapa. Ya ampun Lucy aku tidak bisa tidur semalaman. Apa jadinya aku tanpa mu.” Adimas berkata sambil menenggelamkan kepalanya pada pundak Lucy.

                “Kau sudah sebulan tanpa aku. Dan kau bisa. Kau baik-baik saja. Berbeda dengan ku.” Ujar Lucy mengingat rasa sakit yang sudah lama ia rasakan.

                “Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku Lucy. Aku tidak baik-baik saja, berpisah dengan mu adalah hal yang paling berat. Aku tidak ingin kehilangan mu.” Ujar Adimas menyesal. Ia semakin mendekap Lucy seakan akan ia tidak ingin Lucy lepas dari pelukan nya.

                “Tapi kau mencampakkan aku. Mengapa kau meninggalkan aku Adimas? Kau pikir sudah berapa lama aku tersiksa dengan perasaan cinta sialan ini. Aku benci mencintaimu.” Lucy pun menangis. Ia memukul dada Adimas yang bidang.

                “Sama. Aku juga benci mencintaimu.” Adimas mencium kening Lucy yang masih demam. “Ah, kau panas sekali.”

                “Apa?” 

                “Ya, aku benci mencintaimu Lucy. Aku benci melihat kau dengan pria asing itu. Aku benci mengetahui bahwa diriku mencintaimu. Aku benci harus menjilat ludah sendiri. Aku benci mengakui bahwa aku kalah dengan perasaan ku sendiri. Aku benci mematahkan pendirian ku bahwa aku tidak mungkin jatuh hati padamu. Aku benci kau semakin dewasa dan manis. Aku benci mengakui perasaan ku, tetapi aku lebih benci jika aku harus berpisah darimu dan melepaskan mu. Aku benci jika aku tidak bisa membuatmu bahagia.”  Adimas menjelaskan dengan sungguh-sungguh. Berusaha agar Lucy mengerti isi hatinya. Berusaha agar Lucy tidak menjauh darinya. Ia masih menatap lekat Lucy, sedangkan Lucy terperangah dengan semua yang diutarakan oleh Adimas. Ia seperti bermimpi.

                “Jika ini mimpi maka aku tidak ingin terbangun.” Ujar Lucy masih menangis.

                “Tidak Lucy, kau tidak bermimpi. Aku mencintaimu.” Ia mengecup kening Lucy. Dengan mata masih berkaca-kaca, Adimas mendekatkan bibirnya dan mencium Lucy dengan lembut. Mereka berpagutan selama beberapa detik, menatap kembali satu sama lain, lalu saling mencium kembali.

                “Selama 4 tahun aku menunggu mu.” Ujar Lucy bersender di pelukan Adimas.

                “Aku tahu.”

                ***

Malam hari ketika Liona sedang bergegas merapihkan kedai, ponsel nya berdering memperlihatkan sebuah nomor yang tidak ia kenal.

“Halo?”

“Liona? Ini aku Sharron.”

“Ah, dokter.”

“Jangan memanggilku dokter di luar jam kerja ku Liona, aku sudah mengingatkan mu sebelumnya.”

“Maaf, aku belum terbiasa.”

“Tidak masalah. Mmm, Liona bisakah kita bertemu? Aku telah membaca riwayat mu dan sepertinya dengan sangat kebetulan kau akan terus bertemu denganku setiap kontrol.”

“Kau akan menjadi dokter pribadi ku?”

“Hahaha, sepertinya itu terlalu berlebihan.” Ujar sang dokter dari ponsel Liona. Wajah Liona seketika merona. Ia terdiam karena malu.

“Liona?”

“Ya, aku masih disini.” Jawab Liona dengan pelan. Sharron tertawa dari sebrang.

“Nah, bisakah kita bertemu Liona? Karena aku harus mengenal pasienku lebih dekat.”

“Sharron, penyakit ku tidak serius. Aku tidak akan sering kontrol. Bahkan akan sangat jarang.”

“Aku tidak meminta mu mengunjungiku di rumah sakit Liona. Aku meminta mu mengunjungiku untuk makan malam bersama ku.” Liona dengan spontan membuka mulutnya lebar, menandakan ekspresi tidak percaya saat sang dokter mengajak nya dinner. Tanpa menjawab ya, sang dokter telah menentukan tanggal, jam, dan tempat dimana mereka harus bertemu. Lalu beberapa saat kemudian panggilan pun berakhir. 

Di sisi lain nya, Sharron menutup telepon. Lalu menekan nomor lain untuk di hubungi.

“Sulit dipercaya kau menghubungi ku Roy Sharron.”

“Ada yang ingin ku bicarakan Leo. Besok malam, di club yang kemarin.” 

Panggilan pun berakhir.  Sambil memandangi lembaran riwayat Liona, Sharron tersenyum. “Jika analisa ku benar, mungkin ini akan semakin menarik.”



-Next Chapter-

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...