Cahaya matahari menembus jendela kamar Lucy. Mata nya
terbuka dengan perlahan. Ia tidak menyadari apa yang baru saja terjadi semalam.
Kini dia memandang sekitar nya dan ia tahu ia sedang berada di dalam kamarnya.
Rasa menggigil tadi malam masih sangat menikam dirinya. Ia tidak tahu bagaimana
ia bisa berada di dalam kamar nya. Lucy memegang kening nya dan terasa panas
disentuhnya, ia demam. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu, kakak Lucy masuk
kedalam kamar membawakan semangkuk bubur dan air putih hangat.
“Kau
sudah bangun?” Tanya kakak nya merasa cemas.
“Bagaimana
aku bisa disini? Bukan kah semalam aku masih di halte?”
“Jangan
banyak berpikir dulu, sebaiknya kau makan. Kenapa kau tidak menghubungi kakak
mu ini disaat kau kesulitan begitu. Aku panik sekali menunggu mu dirumah tetapi
kau tidak pulang-pulang.” Kakak Lucy menaruh bubur dan air tersebut di atas
meja rias. Ia masih berdiri memandang Lucy.
“Ponsel
ku baterai nya habis. Maafkan aku.” Ujar Lucy dengan suara parau. Mulutnya
terasa amat kering dan panas.
“Untung
saja si brengsek itu menemui mu. Jika tidak aku pasti sudah menyalahkan dia.
Karena dia kau kesulitan seperti ini.”
“Maksudmu
siapa?”
“Ya, si
Adimas. Aku menghubungi nya semalam aku pikir dia bersama mu. Namun dia sama
panik nya dengan ku. Lalu ia mencarimu kemana-mana, katanya kau sudah tidak ada
di kedai. Ternyata kau ada di halte. Dia terlihat sangat menyesal sekarang.”
“Aku
tidak ingin membicarakan nya sekarang. Aku ingin ke toilet kak.” Lucy pun
beranjak dari tempat tidurnya. Dengan perlahan ia berjalan keluar kamar, namun
apa yang dia temukan diluar membuatnya menghentikan langkah nya. Adimas sedang
duduk di sana. Penampilan nya berantakan. Wajah nya terlihat cemas dan
menyesal. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Mata nya memindai Lucy dari
atas sampai bawah lalu menatap mata Lucy kembali dengan lekat. Lucy tidak tahu
harus bersikap bagaimana. Ia ingin marah tetapi tidak bisa. Perasaan nya tidak
bisa tersirat. Lucy pun memalingkan wajah nya dan langsung melanjutkan langkah
nya ke toilet. Akan tetapi dengan cepat Adimas memanggilnya.
“Ku
mohon tunggu Lucy.” Disaat yang sama kakak Lucy keluar dari kamar.
“Jangan
menyuruh adikku harus menahan buang air kecil hanya untuk menunggu mu bicara
Adimas.” Ia tertawa jahil. Wajah Adimas merona.
“Sialan
diam kau. Baiklah Lucy aku akan menunggu mu.” Adimas kembali duduk. Lucy pun
masuk kedalam toilet.
“Sepertinya
aku harus pergi ke supermarket membeli obat demam. Kau jaga adik ku sebentar
ya.” Kakak Lucy pun pergi membawa motor nya. Ia paham bahwa adik nya dan
sahabat nya itu perlu diberi ruang berdua untuk berbicara meluruskan masalah
mereka. Tak lama kemudian Lucy keluar dari toilet. Ia tidak menatap Adimas dan
bergegas masuk kedalam kamar, namun Adimas kali ini mengikuti.
“Apa
yang kau lakukan? Mengapa kau ikut masuk? Keluar sana.” Bentak Lucy dengan
penuh emosi. Ia terbatuk. Tanpa berkata apapun, Adimas langsung memeluk Lucy
dengan sangat erat.
“Aku
takut kau kenapa-kenapa. Ya ampun Lucy aku tidak bisa tidur semalaman. Apa
jadinya aku tanpa mu.” Adimas berkata sambil menenggelamkan kepalanya pada
pundak Lucy.
“Kau
sudah sebulan tanpa aku. Dan kau bisa. Kau baik-baik saja. Berbeda dengan ku.”
Ujar Lucy mengingat rasa sakit yang sudah lama ia rasakan.
“Maafkan
aku. Aku mohon maafkan aku Lucy. Aku tidak baik-baik saja, berpisah dengan mu
adalah hal yang paling berat. Aku tidak ingin kehilangan mu.” Ujar Adimas
menyesal. Ia semakin mendekap Lucy seakan akan ia tidak ingin Lucy lepas dari
pelukan nya.
“Tapi
kau mencampakkan aku. Mengapa kau meninggalkan aku Adimas? Kau pikir sudah
berapa lama aku tersiksa dengan perasaan cinta sialan ini. Aku benci
mencintaimu.” Lucy pun menangis. Ia memukul dada Adimas yang bidang.
“Sama.
Aku juga benci mencintaimu.” Adimas mencium kening Lucy yang masih demam. “Ah,
kau panas sekali.”
“Apa?”
“Ya,
aku benci mencintaimu Lucy. Aku benci melihat kau dengan pria asing itu. Aku
benci mengetahui bahwa diriku mencintaimu. Aku benci harus menjilat ludah
sendiri. Aku benci mengakui bahwa aku kalah dengan perasaan ku sendiri. Aku
benci mematahkan pendirian ku bahwa aku tidak mungkin jatuh hati padamu. Aku
benci kau semakin dewasa dan manis. Aku benci mengakui perasaan ku, tetapi aku
lebih benci jika aku harus berpisah darimu dan melepaskan mu. Aku benci jika
aku tidak bisa membuatmu bahagia.”
Adimas menjelaskan dengan sungguh-sungguh. Berusaha agar Lucy mengerti
isi hatinya. Berusaha agar Lucy tidak menjauh darinya. Ia masih menatap lekat
Lucy, sedangkan Lucy terperangah dengan semua yang diutarakan oleh Adimas. Ia
seperti bermimpi.
“Jika
ini mimpi maka aku tidak ingin terbangun.” Ujar Lucy masih menangis.
“Tidak
Lucy, kau tidak bermimpi. Aku mencintaimu.” Ia mengecup kening Lucy. Dengan
mata masih berkaca-kaca, Adimas mendekatkan bibirnya dan mencium Lucy dengan
lembut. Mereka berpagutan selama beberapa detik, menatap kembali satu sama
lain, lalu saling mencium kembali.
“Selama
4 tahun aku menunggu mu.” Ujar Lucy bersender di pelukan Adimas.
“Aku
tahu.”
***
Malam hari ketika Liona sedang bergegas merapihkan kedai,
ponsel nya berdering memperlihatkan sebuah nomor yang tidak ia kenal.
“Halo?”
“Liona? Ini aku Sharron.”
“Ah, dokter.”
“Jangan memanggilku dokter di luar jam kerja ku Liona, aku
sudah mengingatkan mu sebelumnya.”
“Maaf, aku belum terbiasa.”
“Tidak masalah. Mmm, Liona bisakah kita bertemu? Aku telah
membaca riwayat mu dan sepertinya dengan sangat kebetulan kau akan terus
bertemu denganku setiap kontrol.”
“Kau akan menjadi dokter pribadi ku?”
“Hahaha, sepertinya itu terlalu berlebihan.” Ujar sang
dokter dari ponsel Liona. Wajah Liona seketika merona. Ia terdiam karena malu.
“Liona?”
“Ya, aku masih disini.” Jawab Liona dengan pelan. Sharron
tertawa dari sebrang.
“Nah, bisakah kita bertemu Liona? Karena aku harus mengenal
pasienku lebih dekat.”
“Sharron, penyakit ku tidak serius. Aku tidak akan sering
kontrol. Bahkan akan sangat jarang.”
“Aku tidak meminta mu mengunjungiku di rumah sakit Liona. Aku
meminta mu mengunjungiku untuk makan malam bersama ku.” Liona dengan spontan
membuka mulutnya lebar, menandakan ekspresi tidak percaya saat sang dokter
mengajak nya dinner. Tanpa menjawab ya, sang dokter telah menentukan tanggal,
jam, dan tempat dimana mereka harus bertemu. Lalu beberapa saat kemudian
panggilan pun berakhir.
Di sisi lain nya, Sharron menutup telepon. Lalu menekan
nomor lain untuk di hubungi.
“Sulit dipercaya kau menghubungi ku Roy Sharron.”
“Ada yang ingin ku bicarakan Leo. Besok malam, di club yang
kemarin.”
Panggilan pun berakhir.
Sambil memandangi lembaran riwayat Liona, Sharron tersenyum. “Jika
analisa ku benar, mungkin ini akan semakin menarik.”
-Next Chapter-
Comments
Post a Comment