Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 13



Ditengah hiruk pikuk keramaian bandara, sang wanita dengan  menggunakan mini dress bertali dan lipstick merah merona berjalan dengan angkuh. Ia menaruh koper ke dalam mobil nya. Cantik, tetapi begitu sombong.  Begitulah pendapat orang tentang dirinya.

“Selamat pagi nona Esther. Tuan sudah menunggu kehadiran anda dirumah, sebaiknya kita segera bergegas.” Ucap seorang supir pribadi wanita tersebut yang sudah menunggu di bandara sekitar 3 jam yang lalu.

“Hari ini adalah hari yang cerah Tom, bisakah setidaknya kita menemui calon suamiku terlebih dahulu? Sudah tiga tahun aku berpisah dengan nya, kau tahu betapa aku merindukan nya?” Ujar Wanita itu sambil memandang langit.

“Tapi nona, tuan..”

“Pria tua itu bisa menunggu, Tomas. Tetapi aku tidak.” Wanita itu memberikan tatapan ancaman pada supirnya. Lalu tersenyum bahagia atas kemenangan nya.

  Tepat Pukul 10.00 pagi Esther mengirimkan sebuah pesan email kepada calon suami nya.

                Aku akan datang sebentar lagi. Apa kau terkejut?
 
Beberapa menit kemudian, email balasan muncul.

                Tidak sedikitpun. 

Esther mulai membalas lagi.

                Tidak bisakah kau ramah pada calon istrimu? Apa kau tidak merindukanku?

Tidak ada balasan. Esther tertawa sambil menutup ponsel nya. Pukul  12.30 siang, ia telah sampai didepan sebuah perusahaan besar dan megah. Dengan high heels yang cukup tinggi dan percaya diri, ia berjalan mennghampiri receptionist. 

                “Aku anak pemilik perusahaan Stander. Namaku Esther Margaret. Dan saat ini aku memiliki janji pertemuan dengan atasan mu.” Ujar Esther dengan jelas.

                “Baiklah tunggu sebentar nona.” Ucap receptionist dengan ramah.

                “Kau tahu kan perusahaan Stander? Yang saat ini sedang bermain tender dengan perusahaan ini.”

                “Saya tahu perusahaan Stander nona, tetapi saya tidak tahu tentang tender nya. Itu bukan lah hak saya untuk mengetahui nya.”

                “Ya, memang sebaiknya karyawan level rendah seperti kamu tidak perlu tahu. Dikasih tahu juga tidak akan tahu.” Ujar Esther sambil tersenyum. Beberapa orang disekitar terpana melihat keanggunan dirinya. Tubuhnya yang bagaikan model dan paras nya yang cantik memang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi kata-kata yang baru saja ia keluarkan membuat sang receptionist tersinggung. 

                “Anda bisa langsung keatas diantar oleh pelayan nona, anda sudah ditunggu.” Ujar sang receptionist. Esther pun menaiki lft. Tepat di depan sebuah ruangan, ia mengisyaratkan pada pelayan agar pelayan tersebut sudah boleh meninggalkan nya. Setelah pelayan pergi, Esther membuka pintu ruangan.

                “Hai Leo, lama tidak berjumpa calon suamiku.”  Leo masih duduk di kursi hangat nya, meneliti tumpukan kertas yang ada di meja. 

                “Ada urusan apa kau datang kemari?” Tanya Leo tanpa menatap Esther. 

                “Wow, dingin sekali sikap mu. Apakah kau tidak merindukan ku Leo? Sudah tiga tahun kita tidak bertemu.” Esther menaruh tas nya di sofa tamu, dan berjalan mendekati Leo.

                “Akan lebih baik kau terus di Aussie.”

                “Mana mungkin aku meninggalkan mu, kita sudah bersama-sama dari kecil dan aku lebih suka dengan kau yang dulu.”  Esther memainkan tali mini dress nya dan mulai menduduki meja tempat dimana tumpukan kertas yang Leo teliti berada.

                “Aku tidak suka membahas masa lalu Esther. Dan baju macam apa yang kau gunakan? Ini kantor bukan diskotik atau semacam nya.

                “Kau tidak suka? Semua orang memandangiku. Mengapa kau menjadi terlalu posesif padaku?”

“Sekarang semua orang akan mengira aku menyewa pelacur.”

 Esther mulai duduk dipangkuan Leo. Dan Leo sekejap ingin menghindar akan tetapi Esther sudah lebih dulu mendekap nya. Di waktu yang sama, seorang Office girl muncul memergoki mereka berdua. 

“Mohon maaf saya tidak bermaksud mengganggu, ini hidangan yang bapak pesan. Permisi.” 

“Tunggu, lain kali budidayakan mengetuk pintu terlebih dahulu.” Ujar Leo dengan tenang.

“Mohon maaf atas kelancangan saya, tetapi pintu tadi dalam keadaan setengah terbuka dan kebetulan saya kesulitan membawa hidangan ini  sehingga tangan saya tidak cukup untuk mengetuk pintu. Saya janji hal ini tidak akan terulang lagi. Saya permisi.” Pintu pun tertutup.

“Ups.. aku lupa menutup pintu nya. Tunggu sebentar, aku akan kembali.” Esther bergegas keluar mencari Office girl tadi. Ia menghampiri gadis tersebut.

“Hei kau, tunggu sebentar.  Wajahmu terlihat familiar. Sepertinya aku mengenalmu, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Office girl tersebut berpikir sebentar lalu ia menatap wajah Esther.
Office girl tersebut menoleh dan berhenti berjalan. “Ah, sepertinya tidak nona. Mungkin nona salah melihat.Atau mungkin wajah saya yang pasaran.” Esther tertawa.

                “Kau lucu sekali. Ya, mungkin saya yang salah lihat. Lagipula selama tiga tahun saya di Aussie, tidak mungkin kan office girl sepertimu berada di Aussie.” Esther kembali tertawa. Lalu kembali keruangan Leo. Sang office girl meremas nampan yang ia bawa, merasa ingin melemparnya ke wajah Esther. Di dalam ruangan, Leo berjalan mondar-mandir dengan wajah penuh amarah.

                “Dari mana kau? Sampai kapan kau terus berulah, astaga Esther.”

                “Hanya berbincang sedikit dengan office girl tadi.” Leo terbelalak.

                “Bicara apa kau dengan nya?”

                “Tidak begitu penting. Jangan terlalu galak, aku calon istrimu Leo.” Suara Esther mulai terdengar serius.

                “Berhenti berkata begitu Esther, kau bukan calon istriku. Aku tidak akan kalah dalam tender ini percayalah, lebih baik kau mencari pria lain yang menganggapmu cantik. Kau tahu aku sangat mencintai dia. Aku tidak akan menikahimu.”

Esther tertawa sinis. Dan mulai menatap Leo dengan menantang. “Benarkah begitu? Jangan terlalu percaya diri Leo. Phoenix tidak akan seberhasil ini tanpa Stander. Jangan meremehkan Stander. Dan satu lagi, kita berdua tahu kau mencintai wanita yang telah tiada. Berhentilah meratapi nya. Kau seperti budak masa lalu” Esther pun pergi meninggalkan Leo. 

***

Didalam rumah, seseorang telah menunggu kedatangan Esther.

                “Ayah.”

                “Putriku, darimana saja kau?”

                “Aku menemui Leo dulu ayah.” 

                “Apakah Leo lebih berharga dari Ayahmu?” Tanya Ayah Esther, Antonio.

                “No, you are important more than him.” Esther memeluk ayahnya.

                “Kau tahu kenapa aku sangat menunggu mu datang? Selain rindu, aku memiliki kabar buruk. Wanita itu belum mati.”

                “Apa?! Bagaimana bisa?”  Seru Esther tidak percaya. Kabar ini adalah kabar paling terburuk dalam hidupnya.

                “Ajudan ku beberapa bulan lalu mendapati dirinya sedang berjalan di kota ini. Aku juga tidak percaya, tetapi ini beberapa foto yang mereka ambil.”

                “Sialan, gadis ini......”

                “Ya, dia adalah Julie.”
***
                Hari ini Lucy tidak pulang bersama Adimas. Ia tidak mungkin meminta Adimas mengantarkan nya, dan Adimas tidak menawarkan apapun. Maka ia harus menaiki kereta. Hingga tiba dirumah, ia melihat sepeda motor Adimas tengah bertengger. Perasaan nya langsung campur aduk. Disaat seperti ini kenapa Adimas harus bermain dirumah nya. Dan yang lebih mengecewakan, setidaknya Adimas menawarkan tumpangan jika ia akan berkunjung. Tetapi untuk saat ini memang rasanya lebih baik menjaga jarak. Entah kenapa bertemu Adimas rasanya agak menakutkan.

                Lucy berjalan masuk ke dalam rumah dimana Adimas dan kakak nya sedang bermain catur. Ia menatap Adimas dan kakak nya, lalu langsung masuk ke kamar. Kakak Lucy merasakan kejanggalan diantara mereka berdua. Lalu ia menatap Adimas lekat-lekat, menunggu Adimas menceritakan apa yang terjadi.

                “Tatapan lo menjijikan.” Ujar Adimas sambil menyentuh bidak catur.

                “Lo apain adik gue?” 

                “Bukan gue yang apa-apain dia, tapi dia yang apa-apain gue.” Kakak Lucy tersedak kacang yang dikunyah nya. 

                “Cari ribut ya Dim? Adik gue gak akan melakukan itu.”

                “Buktinya dia melakukan nya. Akhir-akhir ini setiap ketemu adik lo gue ngerasa sesak. Dan disaat kaya gitu dia malah sama cowok lain, dan ngejauhin gue.” 

                Sesak? Cowok lain?  Kakak Lucy baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hampir saja ia bersiap meninju Adimas karena kata-katanya yang cukup ambigu.  Ia tersenyum. “Lo bodoh juga ya ternyata dim. Adik gue juga bodoh kayanya.”

                “Hah? Kok lo ngatain gue sih? Lo tahu siapa cowok lain itu gak?”

                “Dim, adik gue itu susah jatuh hati. Lo kan kenal dia udah lama juga jadi seharusnya lo sadar kan akan hal itu?” Adimas terdiam sejenak. Memang benar yang dikatakan. Lucy tidak semudah itu jatuh hati pada orang lain. Dan selama ini Adimas tahu ia tidak mendekati siapapun. Sedikit demi sedikit Adimas mulai bisa menyambung rantai rumit yang berada di pikiran nya.

                “Gue gak bisa banyak kata soal hal ini. Tapi yang mau gue ingatkan ke lo dim, coba lo cari tahu kenapa lo merasa sesak Cuma pada saat Lucy hadir?” Dan kata-kata tersebut akhirnya menyambung semua rantai yang terpisah. Ia telah menemukan jawaban nya.        
 
                Sudah tiga hari Adimas tidak mengantar Lucy pulang. Entah apa yang ada dipikiran nya, tetapi semenjak Adimas bermain dirumah nya malam itu, jarak mereka semakin jauh. Adimas sama sekali tidak menyapa Lucy sedikit pun. Setiap ada moment yang mempertemukan mereka, keduanya  tidak berbicara. Lewat begitu saja seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain. Sandiwara yang dilakukan Lucy dan Juna di hari lain pun tidak mempengaruhi Adimas sama sekali. Ia berpikir apa yang salah. Apakah perbuatan nya sudah keterlaluan? Tetapi seharusnya Adimas tidak perlu bersikap seperti itu jika ia tidak menyukai Lucy. Kini dirinya hilang arah. Ia ingin menyerah.

                “Kita sudahi saja sandiwara ini Juna. Semua yang kita lakukan tidak ada guna nya. Ia tidak mencintaiku. Justru semakin memperburuk keadaan.” Ujar Lucy memaksakan senyum nya. Ia tidak bisa tersenyum.

                “Kau yakin? Kau tidak apa-apa? Apa aku perlu bicara dengan pria itu?” Tanya Juna cukup khawatir.

                “Jangan. Kumohon jangan. Aku takut sekali Juna. Aku takut kekhawatiran ku menjadi kenyataan. Aku telah kehilangan nya.” Lucy mulai terisak. Juna pun memeluk wanita itu. Lucy cukup kurus didalam pelukan nya. Ia mencoba menenangkan hati wanita itu, tetapi apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hati yang terluka? Tidak ada. Hati itulah yang akan menyembuhkan luka nya sendiri. 

                Satu bulan berlalu. Juna mulai jarang datang ke Kedai. Lucy pun semakin pendiam. Suasana kedai mulai terasa dingin. Kakak Lucy mulai mengkhawatirkan kondisi adik nya yang akhir-akhir ini menjadi berantakan. Adimas pun tidak pernah datang lagi semenjak itu. Setiap diajak bermain, Adimas selalu memiliki alasan sedang sibuk atau ingin main diluar. Tentu saja adiknya menjadi berantakan, ia sudah sering bersama Adimas beberapa tahun dan kini harus berpisah.

                “Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku kak.” Ujar Lucy di suatu malam saat sedang makan. Kakak nya sedikit terkejut mendengar adiknya berkata seolah-olah ia tahu apa yang sedang diresahkan kakak nya.

                “Aku tidak apa-apa. Ini tidak akan bertahan lama. Kau tidak perlu khawatir aku sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Lagi pula kenapasih kalian yang lebih tua selalu menganggap aku masih anak-anak? Umurku sudah 19 tahun. Kalian harusnya sadar itu. Aku muak dengan kalian.” 

Lucy tahu seharusnya ia tidak perlu mengatakan hal itu pada kakak nya. Ia hanya melampiaskan apa yang ingin disampaikan nya pada Adimas. Rasanya ia ingin memukul wajah Adimas dengan tongkat baseball. Dan untung nya, sang kakak tahu bahwa adiknya hanya perlu waktu.

                Lucy mendapat shift hingga jam malam. Akhir-akhir ini Liona jarang masuk karena ada beberapa masalah yang harus ia urus dan Liona selalu mempercayai Lucy untuk menggantikan nya sementara. Malam itu Adimas sudah pulang. Jam telah menunjukkan waktu sebelas malam. Selesai bertugas, Lucy berjalan menuju stasiun dan gerimis pun perlahan mulai turun menjadi hujan. Tangan nya merogoh tas untuk mencari payung akan tetapi rupanya ia lupa membawa payung.

                “Shit, mengapa harus disaat saat ini.” Celoteh Lucy mengeluh sendiri. Ia pun bernekat untuk menerobos hujan agar cepat sampai dirumah, akan tetapi kereta yang harusnya ia naiki mengalami gangguan. Dan kereta tersebut adalah kereta terakhir. Wajah nya mulai terlihat pucat. Ia ingin menghubungi  kakak nya akan tetapi baterai ponsel nya habis. Dengan terpaksa dan mulai lelah ia berlari menerobos hujan mencari halte. Jam telah menunjukkan pukul dua belas malam dan ia masih terjebak di halte. Bus yang mengarah ke rumahnya tidak lewat-lewat. Ia mulai berpikir seandainya saja saat ini ia masih baik-baik saja dengan Adimas , ia tidak mungkin mengalami nasib seburuk ini.

                Hujan semakin deras. Dan jalanan mulai sepi. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Sudah satu jam ia menunggu akan tetapi tidak ada bus yang mengarah kerumah nya. Ia sudah terlalu lelah, penglihatan nya mulai kabur. Ia berusaha menahan diri untuk tetap terjaga akan tetapi kesadaran nya mulai menghilang. Lucy pun terkulai di kursi halte, dan tak lama sebuah mobil berhenti di depan halte.

 
Next Chapter

***

Hai readers, karena kesibukan yang tiada hentinya, aku baru bisa lanjutin ceritanya:') Semoga cerita ini bisa selesai secepatnya yaa. Terima kasih untuk kalian yang masih membaca cerita ini - T

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...