Ditengah hiruk pikuk keramaian bandara, sang wanita dengan menggunakan mini dress bertali dan lipstick
merah merona berjalan dengan angkuh. Ia menaruh koper ke dalam mobil nya. Cantik,
tetapi begitu sombong. Begitulah
pendapat orang tentang dirinya.
“Selamat pagi nona Esther. Tuan sudah menunggu kehadiran
anda dirumah, sebaiknya kita segera bergegas.” Ucap seorang supir pribadi
wanita tersebut yang sudah menunggu di bandara sekitar 3 jam yang lalu.
“Hari ini adalah hari yang cerah Tom, bisakah setidaknya
kita menemui calon suamiku terlebih dahulu? Sudah tiga tahun aku berpisah
dengan nya, kau tahu betapa aku merindukan nya?” Ujar Wanita itu sambil
memandang langit.
“Tapi nona, tuan..”
“Pria tua itu bisa menunggu, Tomas. Tetapi aku tidak.”
Wanita itu memberikan tatapan ancaman pada supirnya. Lalu tersenyum bahagia
atas kemenangan nya.
Tepat
Pukul 10.00 pagi Esther mengirimkan sebuah pesan email kepada calon suami nya.
Aku
akan datang sebentar lagi. Apa kau terkejut?
Beberapa menit kemudian, email balasan muncul.
Tidak
sedikitpun.
Esther mulai membalas lagi.
Tidak
bisakah kau ramah pada calon istrimu? Apa kau tidak merindukanku?
Tidak ada balasan. Esther tertawa sambil menutup ponsel nya.
Pukul 12.30 siang, ia telah sampai
didepan sebuah perusahaan besar dan megah. Dengan high heels yang cukup tinggi
dan percaya diri, ia berjalan mennghampiri receptionist.
“Aku
anak pemilik perusahaan Stander. Namaku Esther Margaret. Dan saat ini aku
memiliki janji pertemuan dengan atasan mu.” Ujar Esther dengan jelas.
“Baiklah
tunggu sebentar nona.” Ucap receptionist dengan ramah.
“Kau
tahu kan perusahaan Stander? Yang saat ini sedang bermain tender dengan
perusahaan ini.”
“Saya
tahu perusahaan Stander nona, tetapi saya tidak tahu tentang tender nya. Itu
bukan lah hak saya untuk mengetahui nya.”
“Ya,
memang sebaiknya karyawan level rendah seperti kamu tidak perlu tahu. Dikasih
tahu juga tidak akan tahu.” Ujar Esther sambil tersenyum. Beberapa orang
disekitar terpana melihat keanggunan dirinya. Tubuhnya yang bagaikan model dan
paras nya yang cantik memang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi kata-kata yang
baru saja ia keluarkan membuat sang receptionist tersinggung.
“Anda
bisa langsung keatas diantar oleh pelayan nona, anda sudah ditunggu.” Ujar sang
receptionist. Esther pun menaiki lft. Tepat di depan sebuah ruangan, ia
mengisyaratkan pada pelayan agar pelayan tersebut sudah boleh meninggalkan nya.
Setelah pelayan pergi, Esther membuka pintu ruangan.
“Hai
Leo, lama tidak berjumpa calon suamiku.” Leo masih duduk di kursi hangat nya, meneliti
tumpukan kertas yang ada di meja.
“Ada
urusan apa kau datang kemari?” Tanya Leo tanpa menatap Esther.
“Wow,
dingin sekali sikap mu. Apakah kau tidak merindukan ku Leo? Sudah tiga tahun
kita tidak bertemu.” Esther menaruh tas nya di sofa tamu, dan berjalan
mendekati Leo.
“Akan
lebih baik kau terus di Aussie.”
“Mana
mungkin aku meninggalkan mu, kita sudah bersama-sama dari kecil dan aku lebih
suka dengan kau yang dulu.” Esther
memainkan tali mini dress nya dan mulai menduduki meja tempat dimana tumpukan
kertas yang Leo teliti berada.
“Aku
tidak suka membahas masa lalu Esther. Dan baju macam apa yang kau gunakan? Ini
kantor bukan diskotik atau semacam nya.
“Kau
tidak suka? Semua orang memandangiku. Mengapa kau menjadi terlalu posesif
padaku?”
“Sekarang semua orang akan
mengira aku menyewa pelacur.”
Esther mulai duduk
dipangkuan Leo. Dan Leo sekejap ingin menghindar akan tetapi Esther sudah lebih
dulu mendekap nya. Di waktu yang sama, seorang Office girl muncul memergoki
mereka berdua.
“Mohon maaf saya tidak bermaksud
mengganggu, ini hidangan yang bapak pesan. Permisi.”
“Tunggu, lain kali budidayakan
mengetuk pintu terlebih dahulu.” Ujar Leo dengan tenang.
“Mohon maaf atas kelancangan
saya, tetapi pintu tadi dalam keadaan setengah terbuka dan kebetulan saya
kesulitan membawa hidangan ini sehingga
tangan saya tidak cukup untuk mengetuk pintu. Saya janji hal ini tidak akan
terulang lagi. Saya permisi.” Pintu pun tertutup.
“Ups.. aku lupa menutup pintu
nya. Tunggu sebentar, aku akan kembali.” Esther bergegas keluar mencari Office
girl tadi. Ia menghampiri gadis tersebut.
“Hei kau, tunggu sebentar. Wajahmu terlihat familiar. Sepertinya aku
mengenalmu, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Office girl tersebut
berpikir sebentar lalu ia menatap wajah Esther.
Office girl tersebut menoleh dan berhenti berjalan. “Ah,
sepertinya tidak nona. Mungkin nona salah melihat.Atau mungkin wajah saya yang
pasaran.” Esther tertawa.
“Kau
lucu sekali. Ya, mungkin saya yang salah lihat. Lagipula selama tiga tahun saya
di Aussie, tidak mungkin kan office girl sepertimu berada di Aussie.” Esther
kembali tertawa. Lalu kembali keruangan Leo. Sang office girl meremas nampan
yang ia bawa, merasa ingin melemparnya ke wajah Esther. Di dalam ruangan, Leo
berjalan mondar-mandir dengan wajah penuh amarah.
“Dari
mana kau? Sampai kapan kau terus berulah, astaga Esther.”
“Hanya
berbincang sedikit dengan office girl tadi.” Leo terbelalak.
“Bicara
apa kau dengan nya?”
“Tidak
begitu penting. Jangan terlalu galak, aku calon istrimu Leo.” Suara Esther
mulai terdengar serius.
“Berhenti
berkata begitu Esther, kau bukan calon istriku. Aku tidak akan kalah dalam
tender ini percayalah, lebih baik kau mencari pria lain yang menganggapmu
cantik. Kau tahu aku sangat mencintai dia. Aku tidak akan menikahimu.”
Esther tertawa sinis. Dan mulai menatap Leo dengan
menantang. “Benarkah begitu? Jangan terlalu percaya diri Leo. Phoenix tidak akan
seberhasil ini tanpa Stander. Jangan meremehkan Stander. Dan satu lagi, kita
berdua tahu kau mencintai wanita yang telah tiada. Berhentilah meratapi nya.
Kau seperti budak masa lalu” Esther pun pergi meninggalkan Leo.
***
Didalam rumah, seseorang telah menunggu kedatangan Esther.
“Ayah.”
“Putriku,
darimana saja kau?”
“Aku
menemui Leo dulu ayah.”
“Apakah
Leo lebih berharga dari Ayahmu?” Tanya Ayah Esther, Antonio.
“No,
you are important more than him.” Esther memeluk ayahnya.
“Kau
tahu kenapa aku sangat menunggu mu datang? Selain rindu, aku memiliki kabar
buruk. Wanita itu belum mati.”
“Apa?!
Bagaimana bisa?” Seru Esther tidak
percaya. Kabar ini adalah kabar paling terburuk dalam hidupnya.
“Ajudan
ku beberapa bulan lalu mendapati dirinya sedang berjalan di kota ini. Aku juga
tidak percaya, tetapi ini beberapa foto yang mereka ambil.”
“Sialan,
gadis ini......”
“Ya,
dia adalah Julie.”
***
Hari
ini Lucy tidak pulang bersama Adimas. Ia tidak mungkin meminta Adimas
mengantarkan nya, dan Adimas tidak menawarkan apapun. Maka ia harus menaiki
kereta. Hingga tiba dirumah, ia melihat sepeda motor Adimas tengah bertengger.
Perasaan nya langsung campur aduk. Disaat seperti ini kenapa Adimas harus
bermain dirumah nya. Dan yang lebih mengecewakan, setidaknya Adimas menawarkan
tumpangan jika ia akan berkunjung. Tetapi untuk saat ini memang rasanya lebih
baik menjaga jarak. Entah kenapa bertemu Adimas rasanya agak menakutkan.
Lucy
berjalan masuk ke dalam rumah dimana Adimas dan kakak nya sedang bermain catur.
Ia menatap Adimas dan kakak nya, lalu langsung masuk ke kamar. Kakak Lucy
merasakan kejanggalan diantara mereka berdua. Lalu ia menatap Adimas
lekat-lekat, menunggu Adimas menceritakan apa yang terjadi.
“Tatapan
lo menjijikan.” Ujar Adimas sambil menyentuh bidak catur.
“Lo
apain adik gue?”
“Bukan
gue yang apa-apain dia, tapi dia yang apa-apain gue.” Kakak Lucy tersedak
kacang yang dikunyah nya.
“Cari
ribut ya Dim? Adik gue gak akan melakukan itu.”
“Buktinya
dia melakukan nya. Akhir-akhir ini setiap ketemu adik lo gue ngerasa sesak. Dan
disaat kaya gitu dia malah sama cowok lain, dan ngejauhin gue.”
Sesak? Cowok lain? Kakak Lucy baru mengerti apa yang sebenarnya
terjadi. Hampir saja ia bersiap meninju Adimas karena kata-katanya yang cukup
ambigu. Ia tersenyum. “Lo bodoh juga ya
ternyata dim. Adik gue juga bodoh kayanya.”
“Hah?
Kok lo ngatain gue sih? Lo tahu siapa cowok lain itu gak?”
“Dim,
adik gue itu susah jatuh hati. Lo kan kenal dia udah lama juga jadi seharusnya
lo sadar kan akan hal itu?” Adimas terdiam sejenak. Memang benar yang
dikatakan. Lucy tidak semudah itu jatuh hati pada orang lain. Dan selama ini
Adimas tahu ia tidak mendekati siapapun. Sedikit demi sedikit Adimas mulai bisa
menyambung rantai rumit yang berada di pikiran nya.
“Gue
gak bisa banyak kata soal hal ini. Tapi yang mau gue ingatkan ke lo dim, coba
lo cari tahu kenapa lo merasa sesak Cuma pada saat Lucy hadir?” Dan kata-kata
tersebut akhirnya menyambung semua rantai yang terpisah. Ia telah menemukan
jawaban nya.
Sudah
tiga hari Adimas tidak mengantar Lucy pulang. Entah apa yang ada dipikiran nya,
tetapi semenjak Adimas bermain dirumah nya malam itu, jarak mereka semakin
jauh. Adimas sama sekali tidak menyapa Lucy sedikit pun. Setiap ada moment yang
mempertemukan mereka, keduanya tidak
berbicara. Lewat begitu saja seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain.
Sandiwara yang dilakukan Lucy dan Juna di hari lain pun tidak mempengaruhi
Adimas sama sekali. Ia berpikir apa yang salah. Apakah perbuatan nya sudah
keterlaluan? Tetapi seharusnya Adimas tidak perlu bersikap seperti itu jika ia
tidak menyukai Lucy. Kini dirinya hilang arah. Ia ingin menyerah.
“Kita
sudahi saja sandiwara ini Juna. Semua yang kita lakukan tidak ada guna nya. Ia
tidak mencintaiku. Justru semakin memperburuk keadaan.” Ujar Lucy memaksakan
senyum nya. Ia tidak bisa tersenyum.
“Kau
yakin? Kau tidak apa-apa? Apa aku perlu bicara dengan pria itu?” Tanya Juna
cukup khawatir.
“Jangan.
Kumohon jangan. Aku takut sekali Juna. Aku takut kekhawatiran ku menjadi
kenyataan. Aku telah kehilangan nya.” Lucy mulai terisak. Juna pun memeluk
wanita itu. Lucy cukup kurus didalam pelukan nya. Ia mencoba menenangkan hati
wanita itu, tetapi apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hati yang terluka?
Tidak ada. Hati itulah yang akan menyembuhkan luka nya sendiri.
Satu
bulan berlalu. Juna mulai jarang datang ke Kedai. Lucy pun semakin pendiam.
Suasana kedai mulai terasa dingin. Kakak Lucy mulai mengkhawatirkan kondisi
adik nya yang akhir-akhir ini menjadi berantakan. Adimas pun tidak pernah datang
lagi semenjak itu. Setiap diajak bermain, Adimas selalu memiliki alasan sedang
sibuk atau ingin main diluar. Tentu saja adiknya menjadi berantakan, ia sudah
sering bersama Adimas beberapa tahun dan kini harus berpisah.
“Kau
tidak perlu mengkhawatirkan aku kak.” Ujar Lucy di suatu malam saat sedang
makan. Kakak nya sedikit terkejut mendengar adiknya berkata seolah-olah ia tahu
apa yang sedang diresahkan kakak nya.
“Aku
tidak apa-apa. Ini tidak akan bertahan lama. Kau tidak perlu khawatir aku sudah
dewasa bukan anak kecil lagi. Lagi pula kenapasih kalian yang lebih tua selalu
menganggap aku masih anak-anak? Umurku sudah 19 tahun. Kalian harusnya sadar
itu. Aku muak dengan kalian.”
Lucy tahu seharusnya ia tidak perlu mengatakan
hal itu pada kakak nya. Ia hanya melampiaskan apa yang ingin disampaikan nya
pada Adimas. Rasanya ia ingin memukul wajah Adimas dengan tongkat baseball. Dan
untung nya, sang kakak tahu bahwa adiknya hanya perlu waktu.
Lucy
mendapat shift hingga jam malam. Akhir-akhir ini Liona jarang masuk karena ada
beberapa masalah yang harus ia urus dan Liona selalu mempercayai Lucy untuk
menggantikan nya sementara. Malam itu Adimas sudah pulang. Jam telah menunjukkan
waktu sebelas malam. Selesai bertugas, Lucy berjalan menuju stasiun dan gerimis
pun perlahan mulai turun menjadi hujan. Tangan nya merogoh tas untuk mencari
payung akan tetapi rupanya ia lupa membawa payung.
“Shit,
mengapa harus disaat saat ini.” Celoteh Lucy mengeluh sendiri. Ia pun bernekat
untuk menerobos hujan agar cepat sampai dirumah, akan tetapi kereta yang
harusnya ia naiki mengalami gangguan. Dan kereta tersebut adalah kereta
terakhir. Wajah nya mulai terlihat pucat. Ia ingin menghubungi kakak nya akan tetapi baterai ponsel nya
habis. Dengan terpaksa dan mulai lelah ia berlari menerobos hujan mencari
halte. Jam telah menunjukkan pukul dua belas malam dan ia masih terjebak di
halte. Bus yang mengarah ke rumahnya tidak lewat-lewat. Ia mulai berpikir
seandainya saja saat ini ia masih baik-baik saja dengan Adimas , ia tidak
mungkin mengalami nasib seburuk ini.
Hujan
semakin deras. Dan jalanan mulai sepi. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan.
Sudah satu jam ia menunggu akan tetapi tidak ada bus yang mengarah kerumah nya.
Ia sudah terlalu lelah, penglihatan nya mulai kabur. Ia berusaha menahan diri
untuk tetap terjaga akan tetapi kesadaran nya mulai menghilang. Lucy pun
terkulai di kursi halte, dan tak lama sebuah mobil berhenti di depan halte.
Next Chapter
***
Hai readers, karena kesibukan yang tiada hentinya, aku baru bisa lanjutin ceritanya:') Semoga cerita ini bisa selesai secepatnya yaa. Terima kasih untuk kalian yang masih membaca cerita ini - T
Comments
Post a Comment