Aku mondar-mandir mengitari kamar
berukuran 4 x 3 cm dengan kemeja dan dress berserakan dimana-mana. Sesekali aku
memandangi diriku di depan kaca sambil menggaruk kepalaku. Aku tahu, ada yang
salah dengan diriku. Sudah hampir 2 jam aku berdandan hanya untuk menepati
janji ku dengan Leo. Astaga, ganjen sekali aku! Pikirku dalam hati. Kesadaran
ku timbul kembali ke permukaan, mengunci segala tindakan bodoh yang aku lakukan
hanya untuk terlihat baik di mata Leo. Aku mulai membentuk simpul kepang di
bagian pinggir dan membiarkan poni ku terurai.
Parfum
mangga meyelimuti tubuh ku. Aku merias wajahku dengan tipis tetapi tetap
terlihat cantik. Ah, sudah lama sekali aku tidak dandan. Dress atau lebih tepat
nya baju terusan simple bercorak bunga-bunga tulip menjadi pilihan utamaku
untuk pergi bersama Leo. Menurut ku, menggunakan baju yang paling nyaman adalah
yang terbaik. Ku kalungi syal di leher, lalu bergegas pergi kerumah Leo. Ia
mengirimkan alamat nya padaku tadi sore. Lelaki macam apa yang menyuruh seorang
wanita pergi menjemput laki-laki dirumah nya? Hanya macam Leo ku rasa.
Aku
memarkir sepedaku dihalaman rumah Leo yang tenyata besar nya amat sangat besar.
“Ini tempat parkir atau lapangan bola sih? Rumah nya saja seperti hotel.”
Celetuk ku sambil mengamati rumah tingkat tiga itu.
TING TONG
Aku membunyikan bel
rumah Leo. Tiba-tiba saja seorang pria bercelana boxer kuning membuka pintu
dengan mengelap keringat yang mengalir dari wajah ke dada nya yang saat itu
tidak menggunakan atasan. Ini benar-benar pemandangan senonoh. Aku berusaha
tidak menatap nya dan langsung memberikan tujuanku datang kemari.
“Leo ada di dalam, masuk saja.”
Ujar pria itu memamerkan senyum nya yang manis. Sepertinya wajah nya tidak
asing tetapi aku lupa siapa dia. Aku melangkah masuk dan tiba-tiba saja terpaku
ketika melihat Leo dengan celana boxer ping yang bergambar panda serta tidak
menggunakan baju atasan nya. Ia sedang berjoget diatas sofa mengayunkan pinggul
nya ke kanan dan ke kiri. Aku menelan ludah. Lalu mulai menatap Leo dan pria
yang menggunakan boxer kuning secara bergantian dan berulang, lalu aku
membelalak ketika menyadari apa yang tiba-tiba saja otakku gambarkan.
Seperti mengerti reaksi ku, pria berboxer kuning itu
langsung spontan menjawab semua pertanyaan yang muncul di otak ku.
“Astaga, tidak! Hentikan tatapan
menjijikan itu. Aku dan Leo sama sekali bukan Homo! Kau jangan berpikir yang
aneh-aneh aduh.” Gerutu pria berboxer kuning.
“Lantas?”
“Aku dan Leo adalah soulmate
sejak SMA. Kami sering bermain video game bersama dengan menggunakan boxer
saja. Ini adalah kebiasaan kami. Bagi
kami, hanya memakai boxer tanpa menggunakan baju akan menaikkan persentase
tingkat kemenangan kami. Boxer adalah salah satu pemicu semangat kami saat
bermain game. Rasanya kami tidak terkalahkan. Boxer is Champion.” Ujar pria
berboxer kuning itu sambil tertawa.
Apa hubungan nya boxer
dengan video game? Pikirku dalam hati.
“Ini adalah tempat berbahaya untuk seorang gadis
perawan sepertiku.” Ujarku sinis. Ia terkekeh.
“Kau manis juga ya Liona, pantas
saja Leo menjadi seperti ini.”
“Bagaimana kau tahu namaku? Dan
apa maksud mu dengan seperti ini?”
Kepalaku rasanya berputar-putar.
“Tentu saja aku tahu, kita pernah
bertemu nona. Lagipula Leo selalu menceritakan tentang kamu hingga aku hafal
namamu.”
“Jangan memberikan harapan omong
kosong seperti itu padaku. Teman mu yang playboy itu sudah melakukan tindakan
senonoh dengan seorang wanita
dikantornya.” Pria berboxer kuning itu memberikan mimik sangat tidak
percaya dengan perkataan ku.
“Kau salah, salah besar. Yang kau
sebut playboy itu harusnya aku. Bukan Leo. Mana mungkin seorang virgin Ambivert nekad melakukan nya.” Virgin Ambivert yang ia maksud adalah Leo. Aku masih mendengarkan nya bicara.
“Leo itu perjaka yang polos
Liona.” Mendengar kata-kata itu wajahku langsung memerah, merah padam. Aku
menutup telingaku dan ,menggelengkan kepalaku untuk mengusir bayangan yang akan
muncul.
“HENTIKAAAAN!!” Teriakkan ku
membuat Leo terkejut. Ia melepas headphone di telinga nya, dan menjatuhkan stick
PS nya. Leo baru menyadari kehadiran ku. Dengan langkah cepat ia datang
menghampiri aku dan pria berboxer kuning tersebut.
“Jangan ganggu yang satu ini
bodoh.” Perintah Leo dengan tegas kepada pria berboxer kuning.
“Astaga, ampun.. ampun. Maafkan
gue sob. Lagipula dia itu jatahmu.” Pria itu tertawa dengan puas.
“Kau ini... Seharusnya tadi aku
tidak perlu mengundangmu kesini karna aku kedatangan tamu spesial. Akan tetapi
kamu tidak mau mendengarkanku. Cepat
pergi sana!” Sentak Leo mengusir teman nya itu.
“Oke,
sampai jumpa Liona sayang. Kita pernah bertemu di kantor. Kemarin. saat kau ingin bertugas mengantarkan makanan
ke ruang direktur! Nama ku Juna!” Seru Juna lalu pergi meninggalkan aku dan Leo
sendirian. Bersamaan dengan itu, Leo menarik tangan ku dan pergi menuju ke
sebuah ruangan besar, yang ternyata ruangan itu adalah kamar Leo.
Ia mendorong ku ke sebuah sofa berukuran dua orang.
“Apa yang kau lakukan?” Sentak ku
panik.
“Apa yang aku lakukan? Hah, kau
pikir aku akan macam-macam ya? Jangan berharap, kau bukan tipe ku.” Ujarnya
ketus. Kata-kata tajam nya entah kenapa membuat dadaku sesak. Bayangan saat aku
memergoki nya dengan wanita lain kemarin kembali muncul.
“Jelas saja, selera mu adalah
wanita murahan. Dan aku bukan wanita murahan yang dengan mudah kau pangku
seperti kemarin.” Balas ku lebih tajam. Matanya membelalak saat mendengarku
yang secara tidak langsung memakinya. Syok dan merasa tidak percaya bahwa aku
akan mengatakan itu, rahang nya mengeras sesaat, lalu ia menghela napas dan
kemudian mulai mengatur kondisinya kembali stabil. Leo mulai mendekatiku,
menahan ku dibawah topangan tubuh nya.
“Kau cemburu.” Ujarnya datar.
Saat itu juga wajah ku mulai merah padam. Sial. Aku langsung menendang nya
hingga terjatuh. Ia meringis kesakitan.
“Kau pikir kau wangi? Mandi sana!
Kau terlalu bau untuk makan malam denganku.”
“Tunggu disini” Perintah nya
padaku lalu berjalan kearah kamar mandi di dalam kamar nya. Karena merasa tidak
pantas berada di kamarnya, aku pergi menunggu di ruang tamu. Aku berkeliling,
melihat rumah nya yang begitu besar. Memang beda rumah pengusaha muda dengan
rumah manajer kedai kopi. Seandainya aku bertakdir bagus seperti Leo.
Deretan foto keluarga dengan bingkai putih keemasan
menghiasi meja di pinggir dinding. Tidak sama sekali ku temukan foto ibu Leo.
“Sudah ku bilang tunggu di sofa.
Kau ini bebal sekali ya, dasar batu.” Mendengar suara Leo yang tiba-tiba saja
sudah dibelakangku membuatku terlonjak kaget. Perlahan aku menoleh kearah nya.
Ia menggunakan Sweater abu-abu hitam dan celana pendek ripped jeans. Rambutnya
tertutup dengan topi pink yang ia kenakan.
“Kenapa kau berpakaian seperti
itu?” Tanyaku heran.
“Memang nya kenapa?”
“Kita kan mau pergi dinner Leo.”
“Kau pikir ini cerita dongeng?
Novel anak SMA? Drama Korea? Yang tokoh utamanya mendapatkan hal-hal romantis
dengan kemewahan dari pengusaha kaya? Tolong jangan berkhayal Liona, aku hanya
meminta kau membayar atas tindakan ceroboh yang kau lakukan didepan klien ku.
“Hah? Siapa juga yang sedang
berkhayal. Dengar ya Leo, kau tidak keren sama sekali di mataku.” Jawab ku
kesal. Aku sudah berdandan rapih seperti ini menggunakan dress, dan ternyata
dia mengerjaiku. Dengan tidak memberitahu bahwa dinner yang dimaksud adalah
makan malam di pinggir jalan.
“Bawel. Ayo jalan, aku sudah
lapar.”
“Kita naik apa?”
“Tentu saja sepeda.” Jawab nya
dengan santai sambil memakai sendal jepit merk swallow berwarna pink. Lagi-lagi
hal yang tidak kusangka dari seorang Leo muncul. Rasanya ia seperti memiliki
kepribadian ganda. Leo saat menjadi pengusaha muda dengan Leo yang saat ini
berada didepanku amat sangat berbeda.
***
Kota sore itu terasa amat indah,
langit senja begitu jingga dengan diiringi suara pengamen jalanan yang
memainkan biola. Aku mengayuh sepedaku persis dibelakang sepeda Leo. Punggung
besar nya yang terlihat dari belakang menyadarkan ku bahwa Leo adalah pria yang
cukup gagah untuk umur sepantaran nya. Jaket nya menutupi otot-otot lengan nya.
Aku baru menyadari bahawa Leo memiliki badan yang sixpack saat aku baru saja
tiba di rumah nya dengan terperangah melihat tingkah lakunya yang terbilang
cukup tidak normal. Orang-orang tidak akan percaya bahwa pria bertopi pink ini
di kantor nya menggunakan jas mahal dengan pembawaan yang karismatik dan
cerdas.
“Kita mampir ke toko buku dulu”
Ujarnya seperti memerintah. Aku hanya mengangguk. Kami memarkir sepeda kami di
sisi jalan dan menghampiri toko buku kecil. Leo terlihat sudah sangat mengenal
pemilik toko buku tersebut. Ia mengambil semua jenis koran berita hari ini dari
sumber yang berbeda beserta sebuah buku politik.
“Kau membeli semua koran-koran
itu?” Tanyaku heran.
“Ya”
“Untuk apa? Satu saja kan cukup.
Isinya semua pasti akan sama.”
“Siapa bilang? Mereka punya sudut
pandang yang berbeda di tiap sajian berita nya.” Ujar Leo menjelaskan sambil
menngambil sepedanya.
“Tapi ini zaman modern Leo, kau
bisa mendapatkan semua itu di internet.”
“Sudah menjadi kebiasaanku
membeli koran Liona, sudah banyak tumpukan koran di ruang kerja ku asal kau
tahu. Aku mengumpulkan koran-koran itu untuk memprediksi sekaligus menganalisis
perubahan keadaan tiap tahun.” Ia menjelaskan, aku hanya menganga. Tidak
percaya dengan kebiasaan hebat orang ini.
“Lagi pula aku tidak ingin
menambah resiko minus mataku. Koran lebih sehat bagiku.” Leo mulai mengayuh
sepedanya lagi. Inilah beberapa sisi Leo yang aku kagumi. Ia terlihat seksi
saat menjadi cerdas. Aku mulai mengayuh
sepeda lebih cepat mendahului pria itu. Lalu ia tidak mau kalah. Aku
mempercepat kayuh ku tetapi mendadak berhenti karena melihat sebuah bunga tulip
tertanam di seberang taman.
“Astaga Liona kau mengagetkan ku!
Aku hampir saja menabrak sepedamu!” Serunya kesal seperti bapak-bapak
pengendara motor yang marah karena jalan nya di selak.
“Ada bunga tulip Leo! Aku ingin
memetiknya satu.” Ujarku dengan mata berbinar tanpa peduli ocehan Leo. Aku
mengarahkan sepedaku ke taman dan mengambil setangkai tulip merah yang indah.
“Dari sekian banyak bunga, kau
memilih tulip?” Tanya Leo dengan heran.
“Tentu saja, aku sangat menyukai
tulip.”
“Kau menyukai bunga yang kelopak
nya belum mekar sempurna. Bahkan masih menjadi kuncup. Apa bagusnya?”
“Kau salah besar Leo. Kau sama
sekali tidak mengerti makna dari tulip merah ini.”
“Apa makna nya?”
“Cinta Abadi, Leo.” Ujarku
tersenyum sambil menatap lekat tulip itu. Tanpa menyadari saat itu juga Leo
terdiam memperhatikan ku, matanya menunjukkan ada sesuatu di dalam dirinya yang
muncul.
***
LEO POV.
Aku sama sekali tidak mengerti
kenapa gadis dihadapan ku ini berhenti hanya untuk memetik sebuah tulip yang
menurutku bunga yang paling sederhana. Bahkan jika dia mau, aku bisa membelikan
satu rangkai bunga yang lebih indah dari itu. Mengingat diriku yang biasanya
mengirim bunga pada klien atas ungkapan terima kasih dalam kerja sama bisnis.
“Kau menyukai bunga yang kelopak
nya belum mekar sempurna. Bahkan masih menjadi kuncup. Apa bagusnya?”
“Kau salah besar Leo. Kau sama
sekali tidak mengerti makna dari tulip merah ini.”
“Apa makna nya?”
“Cinta Abadi, Leo.” Mendengarnya
berbicara seperti itu tiba-tiba saja membuat hatiku melemah. Aku tidak bisa
berkata apa-apa saat tahu bahwa arti tulip merah sangatlah penting. Dan baru
kali ini aku melihat gadis dihadapanku ini tersenyum amat sangat tulus sambil
menatapi sebuah tulip merah dengan
bahagia. Pipinya merona bagaikan seorang wanita yang sedang jatuh cinta.
Merubah suasana sore itu menjadi sangat romantis. Merubah dirinya menjadi
wanita yang paling cantik di sore itu. Membuatku sadar bahwa saat itu ia
berdandan untuk ku. Dan mengingatkan ku pada gadisku, masa laluku. Seperti dia ada di dalam dirinya yang lain.
Aku melihat gadisku.
Author POV.
Liona dan Leo berhenti, memarkirkan sepeda mereka tepat di
depan sebuah pusat jajanan kaki lima di pinggir jalan.
“Kita makan disini?” Tanya Liona
dengan syok.
“Tepat sekali”
“Astaga Leo, kau lihat tidak? Aku
pakai heels dan dress!” Seru Liona dengan kesal. Amarah nya memuncak, mengingat
ia hampir menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk tampil sepadan dengan pria kaya
di hadapan nya. Ia tahu ia tidak akan pernah sepadan. Akan tetapi tindakan Leo benar-benar
di luar ekspektasi. Membuat Liona bingung harus marah karena usaha nya sia-sia
atau harus senang karena ia tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk
meneraktir bos nya.
“Aku kan hanya ingin di teraktir
dinner. Bukan di restaurant mahal.”
“Astaga, aku pakai heels dan
dress. Benar-benar memalukan.” Ujar Liona kecewa.
“Itu salah mu.” Balas Leo tak
acuh, membuat Liona semakin kecewa. Leo dan Liona memesan nasi goreng. Selama
menunggu makanan datang, Liona diam sama sekali tidak berbicara sepatah katapun.
Rasa kecewanya itu membuat Leo sadar apa penyebab gadis di depan nya sunyi. Ia
tahu bahwa Liona sangart kecewa karena tindakan nya tidak sesuai dengan
ekspektasi Liona. Akan tetapi Liona pun tidak tahu bahwa Leo sengaja memilih
tempat makan yang low budget karena tidak ingin membebani karyawan nya itu.
Alasan Leo meminta dinner gratis bukan untuk menyusahkan gadis di hadapan nya, tetapi
karena ia hanya tergerak ingin mengetahui Liona lebih dalam. Beberapa menit
kemudian, Liona melepas heels nya.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Leo
kaget.
“Melepasnya.”
“Kenapa dilepas?”
“Ini tidak cocok dipakai untuk
makan disini Leo. Kau tahu aku terlihat bodoh sekarang. Aku tidak mau membuat
mu malu hanya karena aku salah kostum.” Ujar Liona tanpa melihat kearah Leo
sedikitpun.
“Pakai lagi.”
“Apa?”
“Ku bilang pakai lagi.” Ujar Leo
memerintah seperti biasanya.
“Aku tidak mau.”
“Aku sengaja Liona. Aku sengaja
memilih tempat ini. Aku sengaja menggunakan sepeda bukan mobil. Aku sengaja
memakai baju lusuh ini meskipun aku tahu kau sudah berdandan.” Pipi Liona merah
merona saat Leo mengucapkan nya.
“Aku sengaja melakukan semua ini,
agar kau menjadi yang paling indah di tempat ini. Aku sengaja melakukan ini,
agar kau terlihat yang paling cantik di malam ini. Agar kau yang menjadi
sorotan. Bukan aku. Bukan kemewahan restaurant mahal. Tapi kau.” Ujar Leo
dengan serius sambil menatap Liona lekat-lekat. Liona semakin menunduk malu.
“Kau tidak sadar? Sekeliling mu
pangling melihatmu.” Lanjut Leo menjelaskan dengan jujur.
“Cukup. Hentikan Leo. Sudah, aku
mengerti. Kalau begitu aku akan memakai heels ku lagi hingga kau merasa malu.”
Jawab Liona mengalihkan pembicaraan berusaha menutupi salah tingkah nya.
Setelah selesai makan, Liona mencoba membuka pembicaraan kembali.
“Maafkan aku Leo.”
“Maaf untuk apa?”
“Aku menyinggung perasaan mu
dengan berbicara bahwa kau tak pantas menjadi pemimpin. Sungguh, aku
benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud, aku tahu kau memiliki potensi yang
luar biasa.” Liona berbicara dengan sangat hati-hati. Leo tersenyum.
“Tidak apa-apa Liona, aku sudah
sering menghadapi yang seperti itu. Yang kamu katakan masih lebih baik daripada
kata orang-orang diluar sana.” Liona terdiam, masih menunggu maksud yang Leo
katakan.
“Semua orang mengira aku tidak
pantas mendapatkan jabatan ini. Semua orang meremehkan usaha ku. Bahkan om ku
sekali pun, menghinaku dengan berbicara didepan rapat umum bahwa aku tidak bisa
apa-apa. Katanya anak kemarin sore sepertiku ini hanya akan merusak perusahaan.
Kau pikir, mereka semua percaya padaku? Tidak Liona. Kalau bukan karena
keputusan ayahku, karyawan-karyawan lain tidak akan mau menghormatiku. Mereka
semua fake. Aku hanya tidak mengerti apa yang ada dipikiran ayahku hingga ia
bersikeras menyuruhku mengambil alih perusahaan. Pria yang aneh bukan?” Raut
wajah Leo berubah setelah menjelaskan nya pada Liona.
“Itu karena ia mempercayai mu
Leo. Ayahmu bisa melihat potensi mu. Dan aku rasa, aku tahu apa yang ayahmu
lihat dari dalam dirimu.” Liona tersenyum mencoba menenangkan.
“Apa?”
“Tekadmu Leo. Niatmu. Usaha mu
yang dari 0. Kemampuan mu. Aku yakin suatu saat akan ada yang mengakui
kehebatan mu. Maka dari itu, tujukkan lah pada mereka bahwa anak kemarin sore
bisa merubah siang menjadi malam.” Kata-kata Liona membuat Leo takjub dan entah
kenapa Leo merasa senang. Lalu tiba-tiba
saja Liona teringat pada kejadian yang dilihat nya di dalam ruangan bos nya.
“Apa kau juga sering dinner
disini dengan wanita itu?” Tanya Liona membuat arah pembicaraan berbeda.
“Wanita itu?”
“Tidak usah pura-pura lupa Leo.
Wanita yang kau pangku kemarin.” Leo tertawa.
“Tidak Liona.”
“Kenapa tidak?”
“Ia
tidak akan mau diajak ketempat seperti ini. Lagi pula, aku memiliki gadis yang sangat
aku cintai sejak kecil. Jadi, aku tidak akan berpaling pada siapapun. Dan kau
Liona, jangan sampai menyukaiku ya.” Ujar Leo menjelaskan sambil memberikan
tawa hangat. Tetapi tawa hangat Leo saat itu membuat Liona jatuh di dalam
jurang nya. Hatinya hancur berantakan.
Comments
Post a Comment