Skip to main content

Ingatan Abu-Abu - Chapter 7



Aku mondar-mandir mengitari kamar berukuran 4 x 3 cm dengan kemeja dan dress berserakan dimana-mana. Sesekali aku memandangi diriku di depan kaca sambil menggaruk kepalaku. Aku tahu, ada yang salah dengan diriku. Sudah hampir 2 jam aku berdandan hanya untuk menepati janji ku dengan Leo. Astaga, ganjen sekali aku! Pikirku dalam hati. Kesadaran ku timbul kembali ke permukaan, mengunci segala tindakan bodoh yang aku lakukan hanya untuk terlihat baik di mata Leo. Aku mulai membentuk simpul kepang di bagian pinggir dan membiarkan poni ku terurai.

                Parfum mangga meyelimuti tubuh ku. Aku merias wajahku dengan tipis tetapi tetap terlihat cantik. Ah, sudah lama sekali aku tidak dandan. Dress atau lebih tepat nya baju terusan simple bercorak bunga-bunga tulip menjadi pilihan utamaku untuk pergi bersama Leo. Menurut ku, menggunakan baju yang paling nyaman adalah yang terbaik. Ku kalungi syal di leher, lalu bergegas pergi kerumah Leo. Ia mengirimkan alamat nya padaku tadi sore. Lelaki macam apa yang menyuruh seorang wanita pergi menjemput laki-laki dirumah nya? Hanya macam Leo ku rasa. 
                Aku memarkir sepedaku dihalaman rumah Leo yang tenyata besar nya amat sangat besar. “Ini tempat parkir atau lapangan bola sih? Rumah nya saja seperti hotel.” Celetuk ku sambil mengamati rumah tingkat tiga itu. 

TING TONG

 Aku membunyikan bel rumah Leo. Tiba-tiba saja seorang pria bercelana boxer kuning membuka pintu dengan mengelap keringat yang mengalir dari wajah ke dada nya yang saat itu tidak menggunakan atasan. Ini benar-benar pemandangan senonoh. Aku berusaha tidak menatap nya dan langsung memberikan tujuanku datang kemari.

“Leo ada di dalam, masuk saja.” Ujar pria itu memamerkan senyum nya yang manis. Sepertinya wajah nya tidak asing tetapi aku lupa siapa dia. Aku melangkah masuk dan tiba-tiba saja terpaku ketika melihat Leo dengan celana boxer ping yang bergambar panda serta tidak menggunakan baju atasan nya. Ia sedang berjoget diatas sofa mengayunkan pinggul nya ke kanan dan ke kiri. Aku menelan ludah. Lalu mulai menatap Leo dan pria yang menggunakan boxer kuning secara bergantian dan berulang, lalu aku membelalak ketika menyadari apa yang tiba-tiba saja otakku gambarkan.

Seperti mengerti reaksi ku, pria berboxer kuning itu langsung spontan menjawab semua pertanyaan yang muncul di otak ku.

“Astaga, tidak! Hentikan tatapan menjijikan itu. Aku dan Leo sama sekali bukan Homo! Kau jangan berpikir yang aneh-aneh aduh.” Gerutu pria berboxer kuning.

“Lantas?”

“Aku dan Leo adalah soulmate sejak SMA. Kami sering bermain video game bersama dengan menggunakan boxer saja. Ini adalah kebiasaan kami.  Bagi kami, hanya memakai boxer tanpa menggunakan baju akan menaikkan persentase tingkat kemenangan kami. Boxer adalah salah satu pemicu semangat kami saat bermain game. Rasanya kami tidak terkalahkan. Boxer is Champion.” Ujar pria berboxer kuning itu sambil tertawa.

Apa hubungan nya boxer dengan video game? Pikirku dalam hati.
 
“Ini  adalah tempat berbahaya untuk seorang gadis perawan sepertiku.” Ujarku sinis. Ia terkekeh.

“Kau manis juga ya Liona, pantas saja Leo menjadi seperti ini.”

“Bagaimana kau tahu namaku? Dan apa maksud mu dengan seperti ini?” Kepalaku rasanya berputar-putar.

“Tentu saja aku tahu, kita pernah bertemu nona. Lagipula Leo selalu menceritakan tentang kamu hingga aku hafal namamu.” 

“Jangan memberikan harapan omong kosong seperti itu padaku. Teman mu yang playboy itu sudah melakukan tindakan senonoh dengan seorang wanita  dikantornya.” Pria berboxer kuning itu memberikan mimik sangat tidak percaya dengan perkataan ku.

“Kau salah, salah besar. Yang kau sebut playboy itu harusnya aku. Bukan Leo. Mana mungkin seorang virgin Ambivert nekad  melakukan nya.” Virgin Ambivert yang ia maksud adalah Leo. Aku masih mendengarkan nya bicara.

“Leo itu perjaka yang polos Liona.” Mendengar kata-kata itu wajahku langsung memerah, merah padam. Aku menutup telingaku dan ,menggelengkan kepalaku untuk mengusir bayangan yang akan muncul.

“HENTIKAAAAN!!” Teriakkan ku membuat Leo terkejut. Ia melepas headphone di telinga nya, dan menjatuhkan stick PS nya. Leo baru menyadari kehadiran ku. Dengan langkah cepat ia datang menghampiri aku dan pria berboxer kuning tersebut. 

“Jangan ganggu yang satu ini bodoh.” Perintah Leo dengan tegas kepada pria berboxer kuning.
“Astaga, ampun.. ampun. Maafkan gue sob. Lagipula dia itu jatahmu.” Pria itu tertawa dengan puas.
“Kau ini... Seharusnya tadi aku tidak perlu mengundangmu kesini karna aku kedatangan tamu spesial. Akan tetapi kamu tidak mau mendengarkanku.  Cepat pergi sana!” Sentak Leo mengusir teman nya itu.

“Oke, sampai jumpa Liona sayang. Kita pernah bertemu di kantor. Kemarin.  saat kau ingin bertugas mengantarkan makanan ke ruang direktur! Nama ku Juna!” Seru Juna lalu pergi meninggalkan aku dan Leo sendirian. Bersamaan dengan itu, Leo menarik tangan ku dan pergi menuju ke sebuah ruangan besar, yang ternyata ruangan itu adalah kamar Leo.


Ia mendorong ku ke sebuah sofa berukuran dua orang.

“Apa yang kau lakukan?” Sentak ku panik.

“Apa yang aku lakukan? Hah, kau pikir aku akan macam-macam ya? Jangan berharap, kau bukan tipe ku.” Ujarnya ketus. Kata-kata tajam nya entah kenapa membuat dadaku sesak. Bayangan saat aku memergoki nya dengan wanita lain kemarin kembali muncul.

“Jelas saja, selera mu adalah wanita murahan. Dan aku bukan wanita murahan yang dengan mudah kau pangku seperti kemarin.” Balas ku lebih tajam. Matanya membelalak saat mendengarku yang secara tidak langsung memakinya. Syok dan merasa tidak percaya bahwa aku akan mengatakan itu, rahang nya mengeras sesaat, lalu ia menghela napas dan kemudian mulai mengatur kondisinya kembali stabil. Leo mulai mendekatiku, menahan ku dibawah topangan tubuh nya. 

“Kau cemburu.” Ujarnya datar. Saat itu juga wajah ku mulai merah padam. Sial. Aku langsung menendang nya hingga terjatuh. Ia meringis kesakitan.
 
“Kau pikir kau wangi? Mandi sana! Kau terlalu bau untuk makan malam denganku.” 

“Tunggu disini” Perintah nya padaku lalu berjalan kearah kamar mandi di dalam kamar nya. Karena merasa tidak pantas berada di kamarnya, aku pergi menunggu di ruang tamu. Aku berkeliling, melihat rumah nya yang begitu besar. Memang beda rumah pengusaha muda dengan rumah manajer kedai kopi. Seandainya aku bertakdir bagus seperti Leo. 

Deretan foto keluarga dengan bingkai putih keemasan menghiasi meja di pinggir dinding. Tidak sama sekali ku temukan foto ibu Leo.

“Sudah ku bilang tunggu di sofa. Kau ini bebal sekali ya, dasar batu.” Mendengar suara Leo yang tiba-tiba saja sudah dibelakangku membuatku terlonjak kaget. Perlahan aku menoleh kearah nya. Ia menggunakan Sweater abu-abu hitam dan celana pendek ripped jeans. Rambutnya tertutup dengan topi pink yang ia kenakan. 

“Kenapa kau berpakaian seperti itu?” Tanyaku heran.

“Memang nya kenapa?”

“Kita kan mau pergi dinner Leo.”

“Kau pikir ini cerita dongeng? Novel anak SMA? Drama Korea? Yang tokoh utamanya mendapatkan hal-hal romantis dengan kemewahan dari pengusaha kaya? Tolong jangan berkhayal Liona, aku hanya meminta kau membayar atas tindakan ceroboh yang kau lakukan didepan klien ku.

“Hah? Siapa juga yang sedang berkhayal. Dengar ya Leo, kau tidak keren sama sekali di mataku.” Jawab ku kesal. Aku sudah berdandan rapih seperti ini menggunakan dress, dan ternyata dia mengerjaiku. Dengan tidak memberitahu bahwa dinner yang dimaksud adalah makan malam di pinggir jalan.

“Bawel. Ayo jalan, aku sudah lapar.”

“Kita naik apa?”

“Tentu saja sepeda.” Jawab nya dengan santai sambil memakai sendal jepit merk swallow berwarna pink. Lagi-lagi hal yang tidak kusangka dari seorang Leo muncul. Rasanya ia seperti memiliki kepribadian ganda. Leo saat menjadi pengusaha muda dengan Leo yang saat ini berada didepanku amat sangat berbeda. 

***
Kota sore itu terasa amat indah, langit senja begitu jingga dengan diiringi suara pengamen jalanan yang memainkan biola. Aku mengayuh sepedaku persis dibelakang sepeda Leo. Punggung besar nya yang terlihat dari belakang menyadarkan ku bahwa Leo adalah pria yang cukup gagah untuk umur sepantaran nya. Jaket nya menutupi otot-otot lengan nya. Aku baru menyadari bahawa Leo memiliki badan yang sixpack saat aku baru saja tiba di rumah nya dengan terperangah melihat tingkah lakunya yang terbilang cukup tidak normal. Orang-orang tidak akan percaya bahwa pria bertopi pink ini di kantor nya menggunakan jas mahal dengan pembawaan yang karismatik dan cerdas.

“Kita mampir ke toko buku dulu” Ujarnya seperti memerintah. Aku hanya mengangguk. Kami memarkir sepeda kami di sisi jalan dan menghampiri toko buku kecil. Leo terlihat sudah sangat mengenal pemilik toko buku tersebut. Ia mengambil semua jenis koran berita hari ini dari sumber yang berbeda beserta sebuah buku politik.

“Kau membeli semua koran-koran itu?” Tanyaku heran.

“Ya”

“Untuk apa? Satu saja kan cukup. Isinya semua pasti akan sama.”

“Siapa bilang? Mereka punya sudut pandang yang berbeda di tiap sajian berita nya.” Ujar Leo menjelaskan sambil menngambil sepedanya.

“Tapi ini zaman modern Leo, kau bisa mendapatkan semua itu di internet.”

“Sudah menjadi kebiasaanku membeli koran Liona, sudah banyak tumpukan koran di ruang kerja ku asal kau tahu. Aku mengumpulkan koran-koran itu untuk memprediksi sekaligus menganalisis perubahan keadaan tiap tahun.” Ia menjelaskan, aku hanya menganga. Tidak percaya dengan kebiasaan hebat orang ini.

“Lagi pula aku tidak ingin menambah resiko minus mataku. Koran lebih sehat bagiku.” Leo mulai mengayuh sepedanya lagi. Inilah beberapa sisi Leo yang aku kagumi. Ia terlihat seksi saat menjadi cerdas.  Aku mulai mengayuh sepeda lebih cepat mendahului pria itu. Lalu ia tidak mau kalah. Aku mempercepat kayuh ku tetapi mendadak berhenti karena melihat sebuah bunga tulip tertanam di seberang taman. 

“Astaga Liona kau mengagetkan ku! Aku hampir saja menabrak sepedamu!” Serunya kesal seperti bapak-bapak pengendara motor yang marah karena jalan nya di selak. 

“Ada bunga tulip Leo! Aku ingin memetiknya satu.” Ujarku dengan mata berbinar tanpa peduli ocehan Leo. Aku mengarahkan sepedaku ke taman dan mengambil setangkai tulip merah yang indah.

“Dari sekian banyak bunga, kau memilih tulip?” Tanya Leo dengan heran.

“Tentu saja, aku sangat menyukai tulip.”

“Kau menyukai bunga yang kelopak nya belum mekar sempurna. Bahkan masih menjadi kuncup.  Apa bagusnya?”

“Kau salah besar Leo. Kau sama sekali tidak mengerti makna dari tulip merah ini.”

“Apa makna nya?”

“Cinta Abadi, Leo.” Ujarku tersenyum sambil menatap lekat tulip itu. Tanpa menyadari saat itu juga Leo terdiam memperhatikan ku, matanya menunjukkan ada sesuatu di dalam dirinya yang muncul.

***

LEO POV.

Aku sama sekali tidak mengerti kenapa gadis dihadapan ku ini berhenti hanya untuk memetik sebuah tulip yang menurutku bunga yang paling sederhana. Bahkan jika dia mau, aku bisa membelikan satu rangkai bunga yang lebih indah dari itu. Mengingat diriku yang biasanya mengirim bunga pada klien atas ungkapan terima kasih dalam kerja sama bisnis. 

“Kau menyukai bunga yang kelopak nya belum mekar sempurna. Bahkan masih menjadi kuncup.  Apa bagusnya?”

“Kau salah besar Leo. Kau sama sekali tidak mengerti makna dari tulip merah ini.”

“Apa makna nya?”

“Cinta Abadi, Leo.” Mendengarnya berbicara seperti itu tiba-tiba saja membuat hatiku melemah. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat tahu bahwa arti tulip merah sangatlah penting. Dan baru kali ini aku melihat gadis dihadapanku ini tersenyum amat sangat tulus sambil menatapi  sebuah tulip merah dengan bahagia. Pipinya merona bagaikan seorang wanita yang sedang jatuh cinta. Merubah suasana sore itu menjadi sangat romantis. Merubah dirinya menjadi wanita yang paling cantik di sore itu. Membuatku sadar bahwa saat itu ia berdandan untuk ku. Dan mengingatkan ku pada gadisku, masa laluku. Seperti dia ada di dalam dirinya yang lain. Aku melihat gadisku.

***

Author POV. 

Liona dan Leo berhenti, memarkirkan sepeda mereka tepat di depan sebuah pusat jajanan kaki lima di pinggir jalan.

“Kita makan disini?” Tanya Liona dengan syok.

“Tepat sekali”

“Astaga Leo, kau lihat tidak? Aku pakai heels dan dress!” Seru Liona dengan kesal. Amarah nya memuncak, mengingat ia hampir menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk tampil sepadan dengan pria kaya di hadapan nya. Ia tahu ia tidak akan pernah sepadan. Akan tetapi tindakan Leo benar-benar di luar ekspektasi. Membuat Liona bingung harus marah karena usaha nya sia-sia atau harus senang karena ia tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk meneraktir bos nya.

“Aku kan hanya ingin di teraktir dinner. Bukan di restaurant mahal.”

“Astaga, aku pakai heels dan dress. Benar-benar memalukan.” Ujar Liona kecewa.

“Itu salah mu.” Balas Leo tak acuh, membuat Liona semakin kecewa. Leo dan Liona memesan nasi goreng. Selama menunggu makanan datang, Liona diam sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Rasa kecewanya itu membuat Leo sadar apa penyebab gadis di depan nya sunyi. Ia tahu bahwa Liona sangart kecewa karena tindakan nya tidak sesuai dengan ekspektasi Liona. Akan tetapi Liona pun tidak tahu bahwa Leo sengaja memilih tempat makan yang low budget karena tidak ingin membebani karyawan nya itu. Alasan Leo meminta dinner gratis bukan untuk menyusahkan gadis di hadapan nya, tetapi karena ia hanya tergerak ingin mengetahui Liona lebih dalam. Beberapa menit kemudian, Liona melepas heels nya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Leo kaget.

“Melepasnya.”

“Kenapa dilepas?”

“Ini tidak cocok dipakai untuk makan disini Leo. Kau tahu aku terlihat bodoh sekarang. Aku tidak mau membuat mu malu hanya karena aku salah kostum.” Ujar Liona tanpa melihat kearah Leo sedikitpun.

“Pakai lagi.”

“Apa?”

“Ku bilang pakai lagi.” Ujar Leo memerintah seperti biasanya.

“Aku tidak mau.”

“Aku sengaja Liona. Aku sengaja memilih tempat ini. Aku sengaja menggunakan sepeda bukan mobil. Aku sengaja memakai baju lusuh ini meskipun aku tahu kau sudah berdandan.” Pipi Liona merah merona saat  Leo mengucapkan nya.

“Aku sengaja melakukan semua ini, agar kau menjadi yang paling indah di tempat ini. Aku sengaja melakukan ini, agar kau terlihat yang paling cantik di malam ini. Agar kau yang menjadi sorotan. Bukan aku. Bukan kemewahan restaurant mahal. Tapi kau.” Ujar Leo dengan serius sambil menatap Liona lekat-lekat. Liona semakin menunduk malu.

“Kau tidak sadar? Sekeliling mu pangling melihatmu.” Lanjut Leo menjelaskan dengan jujur.

“Cukup. Hentikan Leo. Sudah, aku mengerti. Kalau begitu aku akan memakai heels ku lagi hingga kau merasa malu.” Jawab Liona mengalihkan pembicaraan berusaha menutupi salah tingkah nya. Setelah selesai makan, Liona mencoba membuka pembicaraan kembali.

“Maafkan aku Leo.”

“Maaf untuk apa?”

“Aku menyinggung perasaan mu dengan berbicara bahwa kau tak pantas menjadi pemimpin. Sungguh, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud, aku tahu kau memiliki potensi yang luar biasa.” Liona berbicara dengan sangat hati-hati. Leo tersenyum. 

“Tidak apa-apa Liona, aku sudah sering menghadapi yang seperti itu. Yang kamu katakan masih lebih baik daripada kata orang-orang diluar sana.” Liona terdiam, masih menunggu maksud yang Leo katakan.

“Semua orang mengira aku tidak pantas mendapatkan jabatan ini. Semua orang meremehkan usaha ku. Bahkan om ku sekali pun, menghinaku dengan berbicara didepan rapat umum bahwa aku tidak bisa apa-apa. Katanya anak kemarin sore sepertiku ini hanya akan merusak perusahaan. Kau pikir, mereka semua percaya padaku? Tidak Liona. Kalau bukan karena keputusan ayahku, karyawan-karyawan lain tidak akan mau menghormatiku. Mereka semua fake. Aku hanya tidak mengerti apa yang ada dipikiran ayahku hingga ia bersikeras menyuruhku mengambil alih perusahaan. Pria yang aneh bukan?” Raut wajah Leo berubah setelah menjelaskan nya pada Liona.

“Itu karena ia mempercayai mu Leo. Ayahmu bisa melihat potensi mu. Dan aku rasa, aku tahu apa yang ayahmu lihat dari dalam dirimu.” Liona tersenyum mencoba menenangkan.

“Apa?”

“Tekadmu Leo. Niatmu. Usaha mu yang dari 0. Kemampuan mu. Aku yakin suatu saat akan ada yang mengakui kehebatan mu. Maka dari itu, tujukkan lah pada mereka bahwa anak kemarin sore bisa merubah siang menjadi malam.” Kata-kata Liona membuat Leo takjub dan entah kenapa Leo merasa senang.  Lalu tiba-tiba saja Liona teringat pada kejadian yang dilihat nya di dalam ruangan bos nya.

“Apa kau juga sering dinner disini dengan wanita itu?” Tanya Liona membuat arah pembicaraan berbeda.

“Wanita itu?”

“Tidak usah pura-pura lupa Leo. Wanita yang kau pangku kemarin.” Leo tertawa. 

“Tidak Liona.”

“Kenapa tidak?”

“Ia tidak akan mau diajak ketempat seperti ini. Lagi pula, aku memiliki gadis yang sangat aku cintai sejak kecil. Jadi, aku tidak akan berpaling pada siapapun. Dan kau Liona, jangan sampai menyukaiku ya.” Ujar Leo menjelaskan sambil memberikan tawa hangat. Tetapi tawa hangat Leo saat itu membuat Liona jatuh di dalam jurang nya. Hatinya hancur berantakan.

Comments

Popular posts from this blog

This Is Love or Not? (Part 1)

Aku melihat pria itu menatapku tanpa kata. Dia hanya diam melihat kedatangan ku. Penampilan nya berantakan, wajahnya muram, rambutnya tidak tersisir rapih seperti seseorang yang amat frustasi. Sangat berbeda dengan pria yang aku lihat dua tahun lalu. *back to memories*             Aku melihat seorang pria tampan dengan mata emas nya yang indah. terlarut dalam musik di headsetnya. Dia menoleh kepadaku sejenak lalu pergi menghampiri sekumpulan orang-orang kaya bertampang angkuh, teman-teman nya. Pria itu adalah orang yang sangat ku cintai. Tetapi aku sadar diri, dia memiliki dunia nya sendiri dan aku tidak mungkin memasuki dunianya itu. Dia saja tidak mengenaliku. Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sampai suatu “kebetulan” mempertemukan kami. Bukan takdir.             Aku memasukkan ipod kedalam saku jaket sambil mencari kelas baru ku. Suasana begitu asing, teta...

Can't or Not intention? (MOVE ON)

Banyak orang-orang sering mengeluh "gak bisa move on" atau "move on itu susah" dsb. Apalagi kalo gak bisa move on nya sampe 2 tahun lebih. What the hell are u?! Gue tau banget kalo move on emang susah banget, pake banget! Gue akuin itu. Tapi pendapat gue berubah ketika suatu saat gue menghadapi berbagai masalah. Bukan cuma masalah "gak bisa move on" gue aja, tapi juga masalah "gak bisa move on" temen-temen gue dan orang lain. Sampai suatu saat di tengah kesepian melanda dan gue duduk sendirian bersama pensil dan secarik kertas, berkutik, mencari-cari jawaban dan solusi dari masalah ini. Sampai akhirnya gue menemukan jawaban nya. Ya, jawaban nya adalah "NIAT". Sering sekali kita lupa dengan kata "NIAT" di dalam hidup kita ini. Wahai pembaca sekalian, sejak dulu kita telah diajarkan bahwa semua hal yang kita lakukan harus diawali dan didasari dengan sebuah "NIAT". Apapun yang kita lakukan, asalkan itu didasari denga...

Kisah Matahari dan Bulan, Bukan kisah ku.

Sedikit ingin ku, sesekali untuk menceritakan sebuah kisah. Entah kisah siapa dan apa ini. Hanya saja aku ingin menulisnya. Ini bukan kisah ku. Ini hanyalah kisah antara Matahari dan Bulan. Bukan kisah ku. Perkenalkan aku adalah matahari, matahari yang menyinari manusia di muka bumi. Tugasku adalah bersinar sendiri di tata surya yang gelap ini dan ketahuilah bahwa aku harus menyinari tanpa tahu caranya bersinar. Terkadang aku berpikir, aku tidak bisa menyinari diri ku sendiri, begitulah aku sampai suatu saat aku mendengar percakapan manusia di muka bumi saat itu. Ada beberapa dari miliyaran manusia ini membicarakan tentang “Yin dan Yang”. Aku mulai bertanya-tanya, apa itu?  Mereka meyebutku “Yang” lalu siapa yang mereka sebut “Yin”? Selama ini aku tidak pernah melihat sekeliling karena yang aku tahu, aku sedang sendiri. Lalu seorang anak manusia di muka bumi menyuruh ku untuk menoleh, ia menunjukkan tangan nya pada sebuah objek ciptaan Tuhan. Dan begitu aku menoleh...