Sore itu aku memandang tiga wanita cantik sedang memakan parfait dan asik mengobrol sambil tertawa. Pakaian mereka sangat fashionable dan wajah mereka seperti model. Kapan ya aku bisa seperti mereka? Gumamku dalam hati. Perasaan iri itu muncul lagi. “Kamu sudah cantik kok.” Tiba-tiba Adimas sudah berada di samping ku sambil mengusap-usap kepala ku. “Bagaimana kau tahu aku sedang memikirkan itu?” “Kau tahu kita berdua ini bisa telepati dari hati ke hati bukan?” Ia terkekeh. “Cih, rayuan maut lagi.” Tanpa kami sadari, Leo sedang berada di depan pintu masuk kedai sambil memandangi kami yang bercanda. Selain itu, seorang wanita dari arah dapur tampak sedang memperhatikan kami dari belakang sejak awal. “Sudah sana lanjutkan pekerjaan mu atau aku akan memberi tahu nenek agar gaji mu di potong.” Perintah ku kepada Adimas. “Baik, baik bos.” Adimas masih saja tertawa hingga masuk ke dalam dapur dan berpapasan dengan Lucy. “Eh, Lucy. Mau ku buatkan p...