Upik abu itu hampir menemukan cahaya nya,
tetapi cahaya itu mulai menjauh,
Mengapa?
Karena ia adalah upik abu.
Sendiri. Ia sendiri.
Hampa. Ia terlalu hampa.
Mana cerita dongengku? Tanya nya pada sang peri.
Sang peri berkata, tegarlah, ini bukan dongeng.
Maka ia tegar.
Kabut itu datang. Menyelimuti ruangan hampa.
Ruangan hampa di dekat jantung.
Gelap. Hatinya gelap.
Cahaya. Ia butuh cahaya.
Aku takut ibu peri, ketakutan ku adalah kegelapan ini. Ujar sang Upik abu.
Tahan, kamu dirancang sekuat tameng. Kata sang peri. Perlukah aku menggunakan sihir ku?
Jangan. Jangan sang peri. Aku tidak butuh itu.
Biar aku yang menempuhnya sendiri.
Cahaya itu pergi atas keputusan nya.
Maka tidak ada sesuatu yang bisa di tahan.
Itu kemerdekaan nya. Biarlah.
Mengapa suara mu sesak? Tanya sang peri.
Dingin. Malam ini terlalu dingin.
Peri, bolehkah aku menitikkan air mata? Mataku pedih sekali.
Kamu menangis. Kamu benar benar menangis.
Peri, bagaimana ini? Aku membeli semua korek api ini untuknya, agar dia "sang cahaya" semakin bersinar.
Maka berikanlah..
Upik abu melangkah, lalu terhenti.
Ada apa upik abu?
Terlambat,
Dinding itu menebal
Dinding itu semakin tinggi
Aku tidak bisa melewati dinding ini.
Mustahil. Semuanya mustahil.
Sambil tersenyum ia mencoba menghapus air mata di pipinya.
Aku menyerah ibu peri.
Aku menyerah.
Aku usai.
Ucapkan selamat tinggal untuk cahaya.
Biarkan korek api ini berada disisi ku hingga kisah ku tamat.
tetapi cahaya itu mulai menjauh,
Mengapa?
Karena ia adalah upik abu.
Sendiri. Ia sendiri.
Hampa. Ia terlalu hampa.
Mana cerita dongengku? Tanya nya pada sang peri.
Sang peri berkata, tegarlah, ini bukan dongeng.
Maka ia tegar.
Kabut itu datang. Menyelimuti ruangan hampa.
Ruangan hampa di dekat jantung.
Gelap. Hatinya gelap.
Cahaya. Ia butuh cahaya.
Aku takut ibu peri, ketakutan ku adalah kegelapan ini. Ujar sang Upik abu.
Tahan, kamu dirancang sekuat tameng. Kata sang peri. Perlukah aku menggunakan sihir ku?
Jangan. Jangan sang peri. Aku tidak butuh itu.
Biar aku yang menempuhnya sendiri.
Cahaya itu pergi atas keputusan nya.
Maka tidak ada sesuatu yang bisa di tahan.
Itu kemerdekaan nya. Biarlah.
Mengapa suara mu sesak? Tanya sang peri.
Dingin. Malam ini terlalu dingin.
Peri, bolehkah aku menitikkan air mata? Mataku pedih sekali.
Kamu menangis. Kamu benar benar menangis.
Peri, bagaimana ini? Aku membeli semua korek api ini untuknya, agar dia "sang cahaya" semakin bersinar.
Maka berikanlah..
Upik abu melangkah, lalu terhenti.
Ada apa upik abu?
Terlambat,
Dinding itu menebal
Dinding itu semakin tinggi
Aku tidak bisa melewati dinding ini.
Mustahil. Semuanya mustahil.
Sambil tersenyum ia mencoba menghapus air mata di pipinya.
Aku menyerah ibu peri.
Aku menyerah.
Aku usai.
Ucapkan selamat tinggal untuk cahaya.
Biarkan korek api ini berada disisi ku hingga kisah ku tamat.
Comments
Post a Comment